Skip to main content

Tahun baruan


Kalau sudah pernah menyaksikan epic-nya Love Actually, tentunya tak akan sulit mencerna alur cerita film ini. Kurang lebih "menyamai".

Banyak bintang. Sebut saja, Hillary Swank, Josh Duhamel, Abigail Breslin, Ashton Kutcher, Katherine Heigl, Halle Berry, Michelle Pfeiffer, hingga Robert De Niro. Semua dicampur aduk dengan cerita fantasi masing untuk menjadi satu rasa di kota New York saat bola lampu raksasa akan dijatuhkan pada malam pergantian tahun.

Konflik, ada cinta. Ada yang kesepian di masa tua, ada yang ingin merasakan first kiss, ada yang sedang menyiapkan acara tahun baru, ada cinta yang kandas, ada yang terjebak di lift lalu jatuh cinta tanpa melihat status ekonomi padahal yang wanita merupakan artis latar belakang yang kemudian secara dramatis "dipaksa" bernyanyi solo, semua dipecah dengan konflik cinta masing-masing lalu dipertemukan oleh cinta jua. Klasik.

Komedi. Ada beberapa moment yang bisa menarik tawa kecil. Namun cuma beberapa saja. Tak banyak.

Penantian utama film ini tentu saja ada pada Jon Bon Jovi. Sang maestro yang terkenal dengan lagu-lagu abadi seputar cinta. Namun, sayangnya menurut penulis kehadiran Bon Jovi kurang ekslusif. Karena Bon Jovi tampil dengan shoot pertama sebuah sasaran untuk ditampar. Dua kali. Benar-benar "menghilangkan" kesan ekslusif rocker-nya. Kurang pas.

Jika harus dibandingkan dengan saudara tuanya Love Actually, bungkus sama namun rasa beda. Daya tarik cerita Love Actually lebih natural, lebih kuat, dan lebih manis. Disini jauh sekali kualitasnya. Terasa biasa. Bisa ditebak arah cerita. Memaksa romantis. Memaksa haru biru dengan kelembutan cinta menyentuh tanpa melihat uang. Mustahil.

Semangat Tahun Baru yang ditampilkan juga kurang berdaya pikat kuat seperti daya Natal di Love Actually. Lainnya, film ini juga kurang musikal seperti Love Actually yang easy watching sekaligus easy listening dengan lagu-lagu topnya. Jauh, sangat jauh kualitasnya.

Alhasil, film ini terasa hanya sebagai tempat ajang epic semata, berkumpulnya para bintang besar dengan cerita cinta yang sedikit memaksa romantis dan mengharukan. Selain itu, juga menjadi ajang promosi bagi Phillips dan Nivea serta tentunya kota New York.

Ada satu yang menonjol dari film ini. Sekaligus membanggakan sebagai penduduk lokal, yaitu Bali. Ya, Bali beberapa kali disebut sebagai destinasi impian salah satu karakter disini. Bangga sekali rasanya pesona Bali dikenal hingga di New York sana.

New Year's Eve (2011) - 6/10

Popular posts from this blog

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10