Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Sebuah cahaya lampu kecil di antara gelapnya pesta olahraga bergengsi

Film yang membuat diam. Tidak ada komentar. Kecuali miris dan perih. Football (versi Amerika) adalah olahraga yang sangat polpuler tentunya di Amerika. Tidak sedikit penggemar dan tidak sedikit yang bermimpi menjadi bintang football. Namun, di balik hingar bingar olahraga tersebut ada sebuah kenyataan bahwa olahraga football merupakan olahraga yang keras. Saling membenturkan diri. Sekujur tubuh adalah senjata untuk meraih angka dan menang. Pada saat kemenangan tiba, nama besar, harta, kemewahan, penghargaan, dan kebanggaan didapat. Dan saat semua itu berlalu, sebuah akibat telah menunggu. Salah satu akibat yang ditemukan adalah penyakit "gegar otak". Penulis kurang paham soal medis, jadi hanya mengambil secara umum. Sepertinya tidak ada kejutan, karena melihat gaya olahraga football tersebut, memang mendekati resiko sakit seperti gegar otak. Yang menarik adalah, hanya sedikit orang yang ternyata baru menyadari. Dan, semakin sedikit orang yang setidaknya p

Talenta yang melangkah gontai di tepi jurang

Selama ini penulis lebih mengenal nama Amy Winehouse daripada karyanya. Dan, melalui film ini kita diajak untuk jauh lebih mengenal salah satu sosok bintang musik dari daratan Inggris Raya. Berbicara tentang Amy Winehouse dibalik nama besar dan tragedinya, dokumenter yang berisi video rekaman, foto, dan pendapat dari orang terdekat, sosok Amy dikenal sebagai wanita muda berbakat di bidang musik khususnya jazz. Bagi penulis, mendengar suara Amy mengingatkan pada suara Janice di serial Friends. Tapi lebih melodius dan serius tanpa... Ohhh my goddd... Suara khas dan bakat Amy di dunia jazz dengan usia sangat muda diakui oleh banyak pihak bahkan penyanyi jazz senior dunia. Sayangnya, talenta seorang Amy sepertinya beriringan dengan kebiasaan yang kurang baik. Disini diceritakan bahwa pencapaian seorang Amy digerogoti oleh obat terlarang dan kecanduan alkohol tingkat tinggi. Menjadi ironis, salah satu lagu Amy yang menjadi hits adalah Rehab. Amy yang berhasil meraih pe

Negara yang besar adalah negara yang tahu cara menghargai musuhnya

Yang menarik pertama kali untuk disimak adalah jajaran pendukung film. Ada nama Steven Spielberg dan Tom Hanks. Ketika Tom Hanks sudah "memilih" peran, maka hampir bisa dipastikan cerita film tersebut berbobot dan berkualitas. Kedua, film ini based on true events. Merupakan kisah nyata dari seorang James B.Donovan yang berprofesi sebagai pengacara. Inti ceritanya adalah tentang perang dingin antara musuh bebuyutan jaman dulu, Amerika dan Uni Soviet. Salah satu perang yang dilakukan adalah dengan saling mengirim mata-mata menyusup daerah masing-masing. Dan, kisah pun bergulir ketika Rudolf Abel, mata-mata Uni Soviet, tertangkap oleh pemerintah Amerika. Ketika mata-mata Rusia tertangkap dan harus diadili dengan pengadilan negara Amerika, apa yang diharuskan? Meminta Uni Soviet mengirimkan salah satu pengacara terbaiknya ke pengadilan yang dilakukan di Amerika? Tentu saja akan aneh dan sulit diterima oleh nalar masyarakat Amerika saat itu. Langkah yang diamb

Pencarian 13 tahun yang menjadi sia-sia

Kesan pertama yang muncul seusai menyimak film ini adalah bayangkan apa jadinya film ini bila Denzel Washington mengisi karakter Ray Kasten. Pasti akan menjadi trisula yang menyenangkan Denzel-Julia Roberts-Nicole Kidman. Yang paling menarik dari film ini adalah lipatan konfliknya dan alur ceritanya. Gaya alur cerita yang dipakai adalah gaya cerita maju-mundur ( flashback ), tapi tidak terlalu membingungkan. Masih bisa diikuti dengan santai. Dari sisi konflik sebenarnya menarik disimak. Misteri kasus pembunuhan Caroline Cobb yang berlarut-larut, pembalasan yang dianggap belum usai, dan bumbu cinta bertepuk sebelah tangan, silih berganti mengisi dan membangun cerita yang menarik terus diikuti. Tapi, bagian akhirnya sedikit membuat minus buat penulis. Karena terasa ganjil melihat karakter bad boy Marzin ternyata hanya "dihabisi" dengan cara dikurung selama 13 tahun... Secret In Their Eyes (2015) - 6/10

Hantu-hantu dari masa lalu yang menyapa dari dalam hutan

Meski bila dilihat dari poin polling IMDB, film The Haunting in Connecticut masih rata-rata. Kalau menyimak seri pertamanya, sepertinya "menang" pada bagian box office. Tidak heran bila berikutnya seri kedua diluncurkan. Masih tetap mengandalkan tag based on true story sebagai nilai jual. Akan tetapi, kurang begitu menarik. Alur cerita dan gaya horor yang disajikan masih standard. Masih mengandalkan adegan tiba-tiba, penampakan bayangan, make-up menyeramkan. Arah adegan horornya juga dapat ditebak. Tidak ada yang istimewa. The Haunting In Connecticut 2 : Ghosts Of Georgia (2013) - 6/10

Memilih reputasi untuk eksistensi dalam era globalisasi

Dalam jaman serba teknologi sekarang ini, seperti "diwajibkan" bahwa setiap orang yang ingin berpartisipasi dalam ber-teknologi harus memiliki akun. Setelah akun dimiliki, entah membuat sendiri atau dibuatkan orang lain, barulah memiliki tiket kesempatan, yang mungkin di jaman sebelum smartphone , terasa sangat mahal dan mewah. Yaitu tiket menjadi terkenal. Menjadi dikenal di dunia internet tidak semewah atau sesulit di televisi konvensional, atau pun audisi idol yang hakim juri-nya seperti dewa-dewi yang bisa men- judge sana-sini. Asalkan konsisten, kreatif, dan be yourself , siapapun bisa terkenal di dunia online. Siapapun dengan latar belakang apapun bisa menjadi terkenal di dunia online dengan berbagai media yang disediakan. Lewat sosial media, lewat youtube, atau juga media tulis menulis di dunia blog. Dan, menjadi famous erat kaitannya dengan hal reputasi. Reputasi, versi penulis, adalah pilihan. Mengapa demikian? Karena reputasi dibentuk dari hal yang d

Tetap sahabat dalam persahabatan yang terluka

Sebuah film dari Denmark yang berbicara tentang persahabatan. Hanya saja tema persahabatan di sini mungkin tidak "cocok" untuk budaya ke-timur-an. Dari sisi alur cerita, biasa. Dari sisi konflik, juga biasa. Dari sisi komedi, tidak terlalu konyol. Tapi bagaimana pun juga ini hanyalah hiburan. Mungkin pesan moral yang ingin dibawa lewat persahabatan Frank dan Casper adalah kadang bagaimanapun tersakiti, sahabat mungkin bisa menjadi orang yang paling mengerti dan ada di samping kita, menerima kita apa adanya. Klown Forever (2015) - 6/10

Dilema setelah desing peluru

Sebuah sajian dari negara Denmark yang mengisahkan tentang kisah seorang Claus Michael Pedersen. Claus adalah seorang ayah sekaligus seorang pemimpin di satuan militer Denmark yang bertugas di Afghanistan. Awalnya, harapan penulis dari film ini ada sajian baku tembak peperangan yang seru, namun semakin ke dalam cerita, ternyata film ini hanyalah sebuah drama. Sisi yang menarik dari film ini baru terasa ketika pertengahan film. Inti dari kisah film ini adalah menyuguhkan sebuah dilema besar yang dialami oleh karakter Claus yang tidak mengira bahwa sebuah keputusan darurat di tengah baku tembak dengan pasukan terduga kubu Taliban, akhirnya berbuah kasus hukum. Tone drama yang dihadirkan juga tidak terlalu ramai. Kalem. Tidak menggebu-gebu. Bagi penulis, kasus yang dialami oleh Claus, tidak ada yang salah juga tidak ada yang benar. Seorang Claus hanyalah prajurit yang "diperintahkan" oleh negara berada di Afghanistan. Keputusannya untuk mendaratkan bom di r

Seharusnya Anna berada di pemakaman saudaranya...

Film drama kejahatan yang bernasib keliru. Maksud hati ingin merampok rumah kosong, yang ada ternyata memancing macan tidur... Keseluruhan, gaya drama film ini biasa saja. Tidak terlalu menarik sekali. Daya tarik konflik cerita-nya masih lemah. Berapa kali pun disimak, hasilnya tetap sama, biasa saja... Shut In (2015) - 6/10

Perang dalam lingkaran obat terlarang

Film dokumenter yang disutradarai oleh Matthew Heineman ini mengambil tema seputar bisnis drug atau obat terlarang di daerah Michoacan, Meksiko. Film ini menurut data telah meraih banyak penghargaan, dan menurut penulis cukup wajar karena dokumenter yang disajikan sangat gamblang dan membuat miris. Miris karena begitu kompleksnya dunia bisnis drug yang terjadi di kota itu, dan secara berani film ini menyajikan cerita serta kejadian dari pihak narasumber yang terlibat langsung. Film ini dibuka dengan adegan pembuatan obat terlarang serta sedikit wawancara. Kemudian berlanjut dengan cerita dari pihak yang setidaknya "terlihat" sebagai pihak kontra drugs. Ada 2 tokoh utama yang di posisi kontra drugs ini, yaitu Jose Mireles pejuang lokal dan Tim Foley sebagai penjaga perbatasan Amerika-Meksiko. Drug tidak hanya melahirkan kenikmatan dan uang semata tapi juga kondisi lingkungan kota yang menjadi neraka perang antar saudara sendiri. Senjata dengan sangat mudah

Alice hanya ingin bayinya

Film ini memiliki rekor khusus. Dicoba menonton berkali-kali tidak pernah sampai tamat. Entah untuk ke berapa kalinya, akhirnya sanggup menyimak hingga ending credit . Yaayyy... Kalau buat penulis pribadi, mendengar nama Dakota Fanning, spontan teringat pada film Man Of Fire . Karena penampilan Dakota disitu memang on fire . Meski masih usia anak-anak namun tidak kalah kualitas aktingnya kala itu dengan lawan mainnya yang tidak main-main, Denzel Washington. Dan, yang membuat penasaran dari film ini tentu saja nama besar Dakota Fanning. Tapi, ternyata untuk kali ini, keliru. Kisah yang diangkat berupaya untuk menciptakan misteri siapa pelaku sesungguhnya di antara Ronnie Fuller atau Alice Manning. Alur ceritanya sedikit membingungkan. Yang pasti daya konflik cerita yang ditampilkan disini kurang begitu menarik. Every Secret Thing (2014) - 6/10

Mencari keberadaan Bunga Ekuinoks di dalam perut bumi

Sebuah sajian film aksi Mandarin. Tentang tiga orang yang berprofesi sebagai pemburu harta dalam makam. Citarasa aksi disini banyak ditambahi dengan efek-efek komputer yang bisa dibilang cukup megah dan halus. Hiburan lainnya, Shu Qi.... yayyy!!! Cantikz bangetz... Soal cerita? Ya begitulah... agak rumit karena juga dicampur dengan misteri  kisah cinta masa lalu. Penulis kurang begitu paham dengan kecepatan teka-teki misteri shio dan arah mata angin sepanjang jalan menuju Ekuinox. Mojin : The Lost Legend (2015) - 6/10

Hari ini adalah kesempatan kedua memperbaiki hari kemarin untuk masa depan lebih indah

Kesan yang muncul menikmati film ini mirip dengan film Super 8 . Sekumpulan pemuda yang memiliki passion yang sama di bidang ilmu pengetahuan. Passion mereka membawa ke sebuah pengalaman travelling yang tidak umum. Mereka menciptakan sebuah "pintu" ke masa lalu. Dari sisi bahasa ke-ilmu-an, penulis kurang paham. Tapi secara keseluruhan, alur ceritanya masih bisa diikuti meski harus rewind beberapa kali di beberapa titik cerita. Seru juga menikmati petualangan melintasi ruang dan waktu yang dilakukan oleh David dan kawan-kawannya. Yang menjadi perhatian penulis adalah pesan moral film ini bahwa masa lalu adalah baik adanya. Masa lalu itu tercipta dari apa yang kita lakukan hari ini. Dan, hari ini adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, bukan dengan "memperbaiki" kisah masa lalu. Lalu, apa yang terjadi ketika memaksa memperbaiki masa lalu? Yang terjadi menurut versi film ini adalah chaos di masa depan. Project Almanac (

Dokumenter krisis rumah tangga

Mendengar nama Ben Stiller memang terpancing berharap pada sajian hiburan kisah komedi yang kocak. Tapi tidak demikian dengan yang satu ini. Disini total drama. Dan, buat penulis, kadar dramanya terbilang cukup berat. Sangat drama. Bila dirangkum film ini berkisah tentang suami-istri yang sedang mengalami krisis rumah tangga biasa. Karir, keinginan punya keturunan, bersosialisasi, dan hubungan dengan mertua. Keseluruhan, menikmati drama Ben Stiller duet dengan Naomi Watts ini berpengaruh pada selera masing-masing. While We're Young (2014) - 6/10

Tips Menulis Kreatif ala Movielitas

Membuat video itu ternyata melelahkan. Tapi tetap harus dicoba. Kali ini penulis mencoba membuat video dengan tema Menulis Kreatif. Soal tema, intinya untuk memulai menulis kreatif (atau bisa juga mengatasi kebuntuan saat menulis) versi sendiri adalah mencari inspirasi dari hal sekitar (pengalaman) dengan memanfaatkan indera sendiri. Menulis dari apa yang kita dengar, lihat atau rasakan. Setelah mendapatkan inspirasi bahan tulisan, lalu bisa dikembangkan dengan rumus 5W+H , apa-kapan-siapa-dimana- atau bagaimana. Kadang, penulis juga mengalami kejenuhan total, beberapa cara untuk memecahkannya antara lain, mendengarkan musik atau menonton film. Bisa juga dengan melakukan rekreasi untuk membuka wawasan baru. Tidak lupa juga, untuk mengendurkan ketegangan mencari inspirasi dengan beristirahat. Soal video, karena keterbatasan alat rekam, sementara ini hanya bisa memakai cerita gambar (dibuat sendiri dan 1 gambar dari free stock milik youtube ). Diolah dengan alat editor m

Bullying caught on video journal thing

Film ini meraih nilai yang cukup bagus di imdb. Bagi penulis, faktor menarik dari film adalah kisahnya yang berbicara seputar realita. Realita yang mungkin akan terus selalu ada khususnya di dunia sekolah yaitu bully -ing. Dari film ini paling tidak bisa ditangkap perbedaan antara mem-bully laki-laki dan wanita. Kalau versi bully ala lelaki lebih ke fisik, sedangkan bully versi waniya lebih ke sisi psikis. Seperti yang disajikan di film ini yang berbicara seputar bully-ing di sebuah sekolah. Kondisi bully yang dialami oleh Jessica Burns ini mengakibatkan kehebohan di sekolah. Jessica Burns memilih cara overdosis sebagai jalan keluar dari tekanan bully yang dialaminya. Gaya cerita memakai gaya yang sekarang masih trend, yaitu bergaya dokumentasi pribadi atau live story . Penampilan yang menonjol adalah karakter Brian oleh Jeremy Bennet dan Avery oleh Hunter King. Nilai moral film ini membawa pesan sosialisasi bahwa keadaan bully khususnya di lingkungan sekolah mungk

Menguji nyali demi nirwana dengan The Ozaki Eight

Film action yang berfokus pada aksi menantang alam. Gaya awalnya memang terlihat seperti film crime dicampur dengan rasa action . Semakin ke dalam, film terasa hanya menjual aksi poli ekstrim ketimbang berbicara soal kejahatan. Dan, memang untuk aksi-aksi poli ekstrimnya disajikan dengan apik, halus, dan keren. Tidak habis pikir bagaimana cara film ini melakukan segala aksinya... (Atau mungkin dengan bantuan sentuhan efek komputer). Yang pasti, bagus. Dari delapan aksi wajib untuk menuju nirwana, penulis suka dengan aksi surfing di Perancis, terjun bebas dengan jaket parasut, dan aksi mengebom bukit tebing, keren. Tapi soal template plot cerita dan konfliknya, biasa saja. Datar. Point Break (2015) - 6/10

Bughuul from the Oswalt thing

Setelah habis menyimak, komentarnya....ya begitulah.... Film ini mungkin masuk dalam kategori film yang gagal melanjutkan kesuksesan seri perdananya . Plot ceritanya biasa saja. Tidak terlalu istimewa. Gaya horornya juga masih umum. Mengandalkan adegan kejutan yang membuat kaget. Dari sisi horornya, penampilan hantu dewasa-nya lumayan menakutkan dengan topeng ala Slipknot. Tapi, untuk bagian hantu anak-anak, sepertinya menjadi nilai minus buat penulis. Dari sekian banyak menu horor yang ditampilkan, yang paling berkesan adalah adegan bayang-bayang anak kecil di lorong yang tidak nampak ketika disorot dengan senter. Lainnya, biasa. Sinister 2 (2015) - 6/10

Panggung berjalan pembalasan dari El Desconocido

*Bayangkan bila kita mengendarai mobil bersama orang terdekat, lalu sebuah panggilan telepon memberitahukan bahwa ada bom aktif yang terpasang tepat di bawah tempat duduk kita....* Ini baru film yang keren buat penulis. Mantab. Penulis suka dengan template cerita yang simple tapi emosional. Tidak perlu menampilkan konflik berliku tapi menarik. Film ini mengingatkan pada gaya "mati gaya" ala Phonebooth. Tapi perbedaannya, bila di Phonebooth, sisi misterinya dijaga hingga akhir. Sedangkan disini tidak sampai ada sisi misteriusnya. Paling suka adalah momen ketika inspektur penjinak bom Belen naik "panggung". Pergerakan kameranya keren. Mirip dengan gaya kamera berjalan ala War Of The Worlds . Retribution (2015) - 7/10

Masa melepaskan diri dari ikatan kecanduan dan penyanderaan

Tag based on true story -nya yang membuat penasaran dengan film ini. Berkisah tentang seorang tahanan Brian Nichols yang melarikan diri dengan beberapa pembunuhan. Kemudian, dalam pelariannya, Brian Nichols juga menyandera Ashley Smith selama 7 jam lebih sebelum akhirnya ditangkap. Dari segi drama, film ini terasa biasa saja. Konfliknya pun demikian. Namun, dari segi pesan moral film ini cukup menarik bagi penulis. Bisa jadi, Brian Nichols adalah "malaikat" yang dikirim oleh Tuhan untuk seorang mantan pecandu drugs, Ashley Smith, yang sedang berjuang melepaskan diri dari kecanduannya. Captive (2015) - 6/10

Jika kau mencoba berkomunikasi dengan dunia orang yang sudah mati,....

Menyaksikan instalasi ketiga dari seri Insidious ini akan kembali ke selera masing-masing pemirsanya. Bagi yang memang berselera dengan citarasa horor seperti disini, tentu akan menikmati gaya kejutan dan momen kaget-kagetannya. Bagi penulis, film yang didapuk sebagai prekuel sebelum Insidious ini, terasa sudah umum. Alur ceritanya berfokus pada latar belakang karakter Elise, sang cenayang yang tampil di Insidious . Gaya horornya masih seputar berjalan di lorong dunia mimpi. Karakter horor dengan penampilan yang menyeramkan. Dan mengandalkan kejutan tiba-tiba dengan iringan dentuman musik yang menggelegar. Keseluruhan, sebagai hiburan di malam hari, cukup menyeramkan menunggu momen "tiba-tiba" nya. Insidous 3 (2015) - 6/10

Suara realita dalam alunan rap

Film biografi sebuah grup rapper gangsta yang berisi 5 orang personel. Nama grup itu adalah N.W.A yang merupakan singkatan dari Nigga With Attitude . Dari 5 orang personel, hanya dua nama yang bisa penulis kenali. Ice Cube dan Dr.Dre. Keunggulan grup rap N.W.A pada jamannya adalah pada liriknya yang jujur secara brutal tentang kondisi kehidupan kulit hitam di sekitar mereka. Lirik yang ditulis oleh Ice Cube bahkan sampai "dilirik" dan diancam oleh FBI karena menyuarakan suara minoritas (kulit hitam) yang ditindas oleh polisi. Konflik yang diangkat adalah seputar cikal bakal terbentuknya N.W.A, kiprah N.W.A di dunia musik rap yang bercerita realita kehidupan, serta manajemen yang bermasalah hingga pecahnya grup N.W.A. Secara keseluruhan, film ini menarik hanya saja rentang waktu kisahnya terlalu lebar. Mungkin bila berfokus pada kisah di rentang waktu yang lebih kecil akan lebih menarik. Straight Outta Compton (2015) - 6/10

Atraksi Kota Biru

Bicara soal agenda kota sebenarnya penulis kurang begitu update. Hanya sekilas membaca info-info nya di sosial media. Soal agenda dalam kota, penulis memakai dua acuan website sebagai dasar info nya, yaitu halomalang.com dan malang.go.id khususnya budpar (dinas budaya pariwisata). Di sana ada banyak info acara dalam kota terbaru yang akan datang (halomalang) dan liputan acara yang telah berlangsung (budpar). source : budpar.malang.go.id Yang paling sering berkesan adalah setiap acara kirab/karnival. Biasanya parade budaya atau karnival kendaraan hias. Berkesan karena sedikit lebih "ramai" dibicarakan seputar info lalu-lintas khususnya sebelum hari H. Dan, menurut sumber yang daerah kediamannya sering dilewati acara kirab budaya, acaranya cukup meriah dan mendapat respon positif terbukti dengan antusias warga yang rela berdiri berlama-lama melihat parade hingga barisan terakhir, meski kalau hujan biasanya menimbulkan rasa haru karena melihat peserta dengan make

Politik air yang keruh

Yang membuat penasaran di awal adalah nama Owen Wilson dan Pierce Brosman. Gambaran awal bakal ada sajian action laga duel antara Wilson dan Bosman. Tapi, ternyata keliru... Jauh dari ekspektasi... Kurang menarik Lokasi film mengambil di Thailand dan konfliknya adalah seputar kecamuk politik air yang mengancam warga negara Amerika di Thailand. Dan salah satunya adalah keluarga Jack Dwyer. Keseluruhan, biasa saja. Alur cerita dan konflik yang diangkat tidak ada yang istimewa. Peran Pierce Brosman ada atau tidak ada sepertinya tidak banyak berpengaruh. No Escape (2015) - 6/10

Bertahan di dalam tungku negara musuh

Film ini seperti project solo Paul Gross mulai dari sutradara, produser, naskah, dan dibintangi oleh Paul Gross. Pembukaan, menarik. Dan selanjutnya khususnya momen action laga perang-nya memang digarap cukup apik. Hanya dari segi konfliknya yang buat penulis kurang se-menarik aksi perangnya. Terlalu rumit. Urusan Singa Gurun yang dinamakan Ghost dan memang terasa seperti film perang dengan citarasa misteri. Urusan BDK, ditambah dengan urusan asmara terlarang antara prajurit. Keseluruhan, aksi perang film ini cukup menarik hanya kurang menggigit di konfliknya. Kurang simple. Hyena Road (2015) - 6/10

Harga sebuah kebebasan

Yang membuat penasaran adalah tag Based On True Events -nya. Tentang seorang turis Amerika, Wayne Montgomery, yang "terpenjara" di Peru karena urusan visa. Dari sisi konfliknya, terasa datar. Kurang menarik. Sisi perjuangan Wayne untuk bisa keluar dari jerat hukum pidana Peru kurang emosional. 186 Dollars To Freedom (2012) - 5/10

Bermain-main dengan mitos di pedalaman Panama

Film yang di plot horor. Tapi, sayangnya genre horor yang dipakai sudah umum. Begitu pula dengan template alur ceritanya, sangat umum. Film ini spontan mengingatkan penulis pada gaya The Ruin atau Turistas. Dimana sekumpulan pemuda-pemudi melakukan perjalanan wisata di tanah asing. Seksi? Jelas. Bumbu-bumbu pedas panas disajikan sebelum babak bloody hell. Satu per satu karakter ditumbangkan oleh makhluk hutan.... ** Horor yang tercipta akibat ulah cari gara-gara sendiri Indigenous (2014) - 5/10

Love In The Wind

Keren! Two Thumbs Up!! Film Korea dengan campuran aneka rasa yang pas dan tepat mengena. Ada drama romantis, tragedi mengharu biru, dan pastinya komedi. Dan, bisa dikatakan film ini justru menjadi prekuel dari film My Sassy Girl. Alur ceritanya, enak diikuti. Tidak berat. Konfliknya berliku tapi tidak membingungkan. Jung Ji-Hyun, cantik. Keren. Kocak. Masih di plot sebagai wanita perkasa yang dominan terhadap kekasihnya seperti yang terjadi di My Sassy Girl. Dan, memang pas Jung Ji-Hyun bermain genre seperti ini. Karakter Cha Tae Yun di My Sassy Girl disini "digantikan" oleh Jang Hyuk sebagai seorang guru sekolah. Chemistry sempurna antara akting Jung Ji-Hyun dan Jang Hyuk inilah yang akhirnya menjadikan film ini menjadi drama romantis yang tragis, manis, dan kocak. Semakin indah dilengkapi dengan pemilihan lagu-lagu soundtrack yang sangat pas dipasangkan dengan adegan-adegan dalam film. Kalau di My Sassy Girl ada lagu yang penulis suka, " I Be

Fight for equality

Film yang mengangkat tentang kisah cinta sesama jenis. Kalau di Love Is Strange disajikan kisah cinta dua manusia berkelamin pria, maka disini adalah "lawannya" yaitu wanita. Film ini menjadi lebih menarik karena berdasarkan kejadian nyata. Film ini bukan menceritakan bagaimana panasnya percintaan antara detektif wanita dan seorang wanita pekerja montir. Melainkan sebuah drama perjuangan hak hubungan sejenis di mata hukum. Khususnya mengenai hukum warisan. Alur cerita film terasa melompat cepat. Serba "tiba-tiba". Tiba-tiba mereka bertemu, tiba-tiba mereka bercinta, tiba-tiba setahun kemudian, tiba-tiba mereka tinggal bersama di sebuah rumah baru, dan tiba-tiba vonis sakit. Dari sisi konflik, tidak terlalu berat, hanya mungkin karena penggunaan alur cerita yang "cepat" dari masa ke masa, akhirnya sisi perjuangan Laurel Hester hingga klimaksnya kurang begitu emosional. Tapi, soal akting, tidak perlu diragukan lagi. Kualitas akting Ellen

Obsesi dunia peran dari seorang waitress seksi

Film ini dimasukkan ke dalam kategori horor, mungkin karena suasana karakter Sarah yang kelam dan begitu terobsesi pada karir peran. Bagi penulis, horornya kurang menggigit. Datar. Tidak ada efek apa-apa baik dari cerita maupun horornya. Alur ceritanya berjalan lamban. Konflik nya biasa saja. Kurang menarik. Starry Eyes (2014) - 5/10

Pembalasan selingkuhan

Tema jebakan ranjau yang disiapkan hanya karena cemburu, boleh. Tapi, selanjutnya sedikit membosankan. Terasa berputar-putar bertele-tele dalam meminta sebuah pertolongan yang sebenarnya sudah dapat ditebak arahnya, ke arah adegan dewasa. Selanjutnya lagi, arah konflik utama film terasa ingin seperti I Spit On Your Grave .... Keseluruhan, kisah pembalasan yang biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Landmine Goes Click (2015) - 5/10

Dia yang ditunjuk dengan petunjuk-Nya

Sebuah sajian film yang diangkat dari kisah nabi. Karena penulis bukan termasuk kalangan yang taat ber-religius, apa yang tersirat dari dalam cerita tergantung dari penangkapan masing-masing. Dan, kadang, bila menyangkut soal kepercayaan akan menjadi hal yang sensitif. Sejauh yang bisa penulis ingat seputar kisah nabi Musa, adalah perjalanan Musa dan kaumnya keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian. Seingat penulis, kisah perjalanan Musa membutuhkan waktu yang lama dan banyak mujizat. Buat penulis, film yang mengambil cerita dari masa pra modern, yang membuat penasaran adalah bagaimana menampilkan masa pra modern tersebut. Disini, penampilan mulai dari kota hingga adegan kolosal-nya digarap dengan apik dan rapi. Dengan bantuan teknologi modern, kisah jaman nabi dulu bisa disajikan dengan megah disini. Yang paling penulis tunggu adalah momen menyebrangi lautan. Sepanjang pengamatan, versi "terbelahnya" lautan, kurang nampak jelas. Tiba-tiba sudah mengering. B

Hunt for Ethan Hunt

##Sekian lama absen update blog....coz there's something "annoying" .... Kali ini mendapat kesempatan menonton film Tom Cruise dengan serial televisi lawas, Mission Impossible. Kesan pertama yang penulis tangkap, alur ceritanya berat, harus ekstra fokus untuk bisa dicerna. Konfliknya rumit, urusan negara hingga "tusuk menusuk,khianat-mengkhianati". Tapi, dari segi aksi laga, memang keren. Bagus. Gagah dan megah. Mission Impossible : Rogue Nation (2015) - 6/10

Kerasnya persaingan Ayah Kandung dan Ayah Tiri

Hiburan segar di hari libur. Dan, film ini cocok. Sangat menghibur. Sebelumnya mereka juga sudah menyajikan hiburan komedi bersama-sama dalam The Other Guys . Mereka bereuni kembali dengan posisi sebagai Ayah Kandung dan Ayah Tiri. Konfliknya ringan saja. Komedinya lumayan menghibur. Duet Mark dan Will terjalin apik dalam menebar kompetisi ketat memperebutkan seorang ibu dan dua anak yang lucu-lucu. Daddy's Home (2015) - 6/10

Akibat salah mengambil arah

Film thriller yang masih mengandalkan kalimat jualan " dari produser film ini itu... " Gaya thriller nya masih sangat umum. Bisa ditebak. Alur ceritanya simple. Konfliknya juga masih simple. Tidak sulit mengikuti film gaya ini. Curve (2015) - 6/10