Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Unboxing Hail,Caesar! Movie

Tidak banyak yang bisa Movielitas tulis untuk film garapan Cohen Brothers ini. Berat. Dan, sudah 2x menontonnya masih tetap sulit menangkap inti cerita, menghapal masing-masing karakter dan kaitannya satu sama lain, serta konflik utama-nya (penculikan?). Akhirnya, kembali ke selera masing-masing. Yang pasti film ini memiliki banyak peran karakter dan bintang yang ditampilkan. Mulai dari George Clooney, Josh Brolin, Scarlett Johansson, Tilda Swinton, dan Channing Tatum. Menariknya, bila melihat Cohen Brothers kolaborasi dengan Clooney, Tilda Swinton, dan Frances McDormand, kira-kira apa yang terlintas? Kalau Movielitas sendiri, langsung teringat pada Burn After Reading . Ya, bisa jadi komentar singkat untuk film, yang bertemakan seputar industri film, ini adalah kurang lebih bergaya drama black comedy seperti Burn After Reading. Tapi, Movielitas memilih lebih enjoy dengan gaya film Burn After Reading. Hail, Caesar! (2016) - 6/10

Mencari jejak Angel Of Death

Dulu, pas jaman stasiun televisi swasta berjaya (pra-internet) film-film seperti ini sangat "mewah" sebagai hiburan di kala senggang. Movielitas sendiri gemar menonton film "layar emas" seperti film ini. Beruntung Movielitas bisa mendapatkan film klasik ini, meski saat ini sulit untuk mendapatkan film lawas. Terlepas dari bobot cerita, Movielitas sendiri lebih ke sisi memancing nostalgia dengan atmosfir film era 80-90an seperti ini. Genre film ini lebih ke film laga dengan bumbu komedi. Topik utamanya seputar misteri pembunuhan bos dari Jepang. Jet Li, sebagai karakter tokoh utama pastinya masih muda belia dan powerfull, dan memang gaya laga Jet Li punya warna sendiri yang terpisah dari gaya laga-komedi ala Jackie Chan. Keseluruhan, film yang cocok untuk mengenang indahnya masa lalu dimana hiburan yang sekarang sangat mudah didapat bisa jadi merupakan hal mewah di jaman pra internet. Ow ya, sekaligus juga film yang cocok untuk para penggemar film-fi

Reuni yang bermasalah

Menikmati hiburan komedi dengan memasang Dwayne Johnson memang punya citarasa sendiri. Komedinya biasanya fresh , seperti disini. Meski memiliki bobot tubuh yang bisa dipastikan sangat "berat", tapi di cerita komedi kali ini, alur ceritanya tidak berat seperti tubuh Dwayne. Konflik-nya lumayan, memainkan dugaan penonton untuk menebak posisi Dwayne apakah memang jahat atau karakter yang baik. Partner Dwayne dalam menampilkan hiburan kocak disini adalah Kevin Hart, yang kurang lebih mirip dengan gaya Chris Tucker di Rush Hour. Sedangkan Dwayne memainkan gaya yang kurang lebih mirip dengan karakternya di The Rundown. Kejutan paling segar disini adalah penampilan guest star favorit Movielitas yaitu Melissa McCarthy yang hanya tampil sekejap. Dan, bintang pendukung favorit adalah Agent "Pornhub" yang bergaya serius tapi kocak. Keseluruhan, sebagai hiburan kualitas film ini cukup fresh . Akting dan chemistry antara Dwayne Johnson dan Kevin Hart juga t

Eksekusi di Minnie's Haberdashery

Kesan pertama, ini adalah salah satu film yang paling susah ditaklukan. Sudah, entah, berapa kali mencoba "bertarung" menonton film ini tapi tak pernah tuntas hingga semalam, akhirnya tuntas juga hingga credit scene dikeluarkan. Mengikuti irama cerita film ini, bagi Movielitas, ibarat berjalan di terowongan gelap. Meraba-raba arah alur cerita. Lalu di setengah perjalanan barulah menemukan titik terang. Bisa jadi merupakan gaya atau style dari sutradara Quentin Tarantino dalam mengarahkan drama misteri. Movielitas sendiri "kesulitan" menangkap inti cerita di setengah durasi awal film. Baru setelah cerita tentang kedatangan rombongan 5 orang yang diketuai oleh Jody sebelum rombongan John Ruth, mulai ada pemahaman arah ceritanya. Tergantung selera masing-masing, bisa jadi gaya cerita seperti film ini memiliki fan base tersendiri. Hal lain yang sedikit mengganggu bagi Movielitas adalah momen kekerasannya yang "kasar". Seperti menembak kepala

Super-man with no need to hide identity

Beberapa yang Movielitas temukan perbedaan antara Superman dan Hancock: - Superman dipuja orang, Hancock dihujat. - Superman bekerja sebagai wartawan, Hancok jobless - Superman berkostum, Hancock tidak - Superman menyembunyikan identitasnya, Hancock tidak - Superman ramah, Hancock kasar - Superman membantu penegak hukum, Hancock malah dipenjara - Superman anti mabok, Hancock doyan. Mungkin itu sisi komedi-nya seputar film superhero nyleneh ini. Gayanya memutar balik seputar superhero yang terkenal "positif" dalam bersikap. Aroma komedinya hanya sekitar setengah durasi, ketika konflik utama dimunculkan seputar jati diri Hancock, aroma film mulai agak drama serius. Keseluruhan, film dengan storyline yang ringan saja. Tidak hanya seputar komedi superhero tapi juga ada dramatisasinya. Gaya Will Smith cukup menghibur. Hancock (2008) - 6/10

Tersengat anugerah sesaat

Pertama, singkirkan tentang cerita komedi ceria di dalam film ini. Movielitas lebih banyak fokus kepada 2 bintang di dalamnya. Mel Gibson dan Helen Hunt. Mel Gibson, bisa dikatakan aktor yang identik dengan film crime dikarenakan faktor Lethal Weapon yang juga bergaya semi komedi sebenarnya. Dan, disini murni komedi. Tidak ada baku pukul antara tokoh-tokohnya dan konflik utamanya tentang cinta. Helen Hunt, wow ... Movielitas like her so much . Benar-benar tipe wanita idaman ( physically ). Berambut panjang, mancung, manis, senyuman manis, dan suara seksi. Almost perfect . Apalagi bermain dengan film bergenre seperti ini, hmmm membuat betah mata ini memandang. Meskipun sudah berumur, tapi tetap terlihat aakkhh ... Konflik utama film ini adalah tentang anugerah sesaat yang dialami oleh Nick Marshall. Anugerah sesaat itu membuat Nick menjadi mengerti bagaimana menjadi pria yang mengerti keinginan para wanita luar dalam. Konflik utama di atas ditambahi dengan konflik k

Under influence of something demonic

Berbeda dengan seri Conjuring sebelumnya , disini tanpa basa-basi langsung membuka cerita dengan pembukaan horor. Mengikuti gaya tanpa basa-basi, Movielitas pun memilih mana yang lebih enak disimak antara Conjuring perdana atau Conjuring yang seri kedua ini. Jawaban Movielitas adalah, Conjuring...perdana!! Yyeyy.. Alasannya, sederhana saja, lebih original horornya. Disini horor yang digunakan sudah sangat umum. Bermain-main dengan adegan-adegan horor yang mengagetkan dan menampilkan sosok-sosok horor dengan kualitas make-up tebal menyeramkan. Dari sisi cerita pun, Movielitas memilih Conjuring pertama lebih terasa horor karena di seri kedua ini terkesan hanya "mengikuti" pertama. Jadi, tidak (belum) ada yang fresh dari seri kedua ini. Keseluruhan, meskipun sudah ditambahi tag based on true event , namun film ini belum atau tidak setara dengan kualitas Conjuring perdana-nya. Dan, menurut Movielitas, Conjuring akan lebih memorable dengan satu episode (perdan

Kerasnya kehidupan seorang anggota gangster

Sebuah drama Korea yang menceritakan tentang kehidupan keras anggota gangster yang saling tikung-menikung demi keuntungan pribadi. Dan, seperti biasa, drama Korea ini juga tidak mengusung satu konflik melainkan 3 konflik besar yang ditampilkan bersamaan. Konflik karir di organisasi gangster, konflik pertemanan, dan konflik percintaan. Menurut Movielitas, film ini masih "berat" karena banyak-nya tokoh karakter yang dimunculkan dalam satu cerita dengan satu karakter pusat. Terutama dengan konflik dalam tubuh gangster yang terasa "sulit" mengingat nama-nama tokoh dan perannya. Keseluruhan, untuk Movielitas, drama Korea kali ini cukup "berat" jalan ceritanya. Kurang simple. Kalau dibuat drama romantis mungkin lebih kental dan manis atau cukup fokus pada drama gangster. A Dirty Carnival (2006) - 6/10

Bermain cinta yang berakibat fatal

Kali ini sebuah film klasik yang muncul di era sebelum 90an. Tepatnya tahun 1987. Pemainnya Michael Douglas, Glenn Close, dan Anne Archer. Kesan pertama saat menonton film ini, this movie released 30 years ago !! Awesome . Itu saja kesan awalnya. Usia film ini 30 tahun. Menurut Movielitas, meskipun berusia 30 tahun, film ini mengangkat tema yang abadi alias konflik utamanya bisa terjadi di era manapun. Bisa juga dengan teknologi digital saat ini membuat film bertema sama persis dengan film ini pun bisa. Konflik utamanya adalah bermain api dengan orang yang salah dan berakibat fatal. Film garapan sutradara Adrian Lyne ini alur ceritanya sederhana. Tidak berat. Juga menampilkan teknik visual yang tidak klasik. Versi Movielitas adalah alur cerita dan konflik-nya tidak "kaku". Kalau dari sisi akting siapa yang tidak kenal Michael Douglas atau Glenn Close. Hal lain yang menarik adalah jika dicek sejarah film ini masuk dalam salah satu kategori di ajang Academy

Teknologi masa depan untuk sang raja

Untuk kali ini, Movielitas kurang begitu terkesan dengan penampilan Tom Hanks. Sebuah film drama, yang dicampur dengan sedikit komedi dan romantisme. Sepertinya tidak ada yang begitu istimewa dari drama disini. Konflik terasa biasa saja dengan storyline yang sedikit "aneh". Satu-satunya yang membuat Movielitas tertarik adalah lokasi film yang banyak menampilkan wajah padang gurun luas. Keren pemandangannya. Keseluruhan, kurang menarik dan datar. A Hologram For The King (2016) - 6/10

Random Call

Kalau di Hollywood, tema film seperti ini pernah ada dan (kalau tidak keliru) bergenre komedi. Tapi, memang Korea selalu hadir dengan tema umum yang di-dramatisasi-kan. Seperti film ini, tema body changed experience ditampilkan dengan genre drama yang serius. Permainan distorsi dari genre (yang bisa jadi pas-nya ber-genre komedi) tidak serius menjadi serius ini awalnya dirasakan cukup berhasil. Permainan drama perpindahan jiwa dari tua ke muda dan sebaliknya berjalan cukup menarik. Tapi semakin ke dalam, kurang begitu menarik lagi bagi Movielitas. Satu hal yang menarik perhatian Movielitas, adalah film ini otomatis menjadi panggung duel akting antara dua aktor yaitu Shin Ha Kyun dan Byun Hee Bong. Ha Kyun bermain sebagai pemuda yang (lagi-lagi uang menjadi dasar segala masalah di dunia) menerima tantangan konyol dari konglomerat. Sedangkan Hee Bong bermain sebagai konglomerat sekarat yang ingin kembali muda. Dan, keduanya tampil dengan kualitas akting yang apik. Sebena

Leo di antara karir dan kasus

Menonton film ini rasanya seperti bertanding tinju. Bolak-balik "gagal" kalah sampai tuntas. Penuh perjuangan. Kalau tidak ketiduran, ada gangguan lain, sampai kurang paham ceritanya. Akhirnya berhasil tuntas hingga credit scene . Sekali, masih belum paham. Coba lagi, dan memang hasilnya cukup "berat" ceritanya. Jika disederhanakan film ini garis besarnya berkisah tentang seorang mantan anak panti asuhan yang besar menjadi seorang tentara Uni Soviet (Rusia). Karakter ini "diberi" nama Leo. Karir seorang Leo ternyata cukup bersinar dan mulai membawa masalah. Di tengah masalah Leo dalam karir, ada kasus pembunuhan anak-anak muncul di permukaan. Yang cukup "memberatkan" bagi Movielitas adalah hubungan storyline antara gangguan karir Leo dengan misteri pembunuhan yang disebutkan bahwa " not random " alias terencana dan menemukan sang dalang pembunuhan. Meskipun sudah diketahui siapa dalangnya, tapi titik balik menemukan

Fate of The Fast and Furious

Sekali lagi, serial Fast Furious muncul dengan kisah yang, menurut Movielitas, tidak berbeda gaya dengan serial sebelumnya. Mengandalkan aksi laga, sedikit komedi, dan kerjasama tim. Gaya yang selalu ada di beberapa seri Fast Furious, - aksi laga yang mewah dan megah. - yang dulu lawan, di seri berikutnya menjadi kawan - dan pastinya, mobil. Dari sisi cerita, menurut Movielitas, tidak terlalu istimewa konfliknya. Hanya saja penambahan karakter bayi lucu, bisa memberikan sedikit kesegaran. Dan, untuk seri ini, scene komedi-nya lebih banyak. Dari sisi aksi, masih sama. Mewah dan megah. Mobil-mobil dibuat seperti mainan yang "diterbangkan" kesana kemari lalu diledakkan. Dan, momen paling Movielitas suka adalah momen zombie time dan hujan mobil. Keseluruhan, masih tetap menghibur dan keren. Mungkin di seri kesembilan ada sedikit "penyegaran" baru. The Fate of The Furious (2017) - 6/10

Tak semua yang bernapas, bergerak, ataupun berbicara adalah makhluk hidup

Awalnya berangkat dari rasa penasaran karena beberapa kali melihat rekomendasi film-film yang di-label-i bagus, ada nama film ini. Genre-nya horor namun lebih bermain juga ke drama, tidak asal gelap-musik seram- atau make-up seram. Yang menarik saat memutar film ini adalah dimulai dengan pembukaan ikonik dari 20th Century Fox . Wow , pastinya bukan kualitas film yang asal-asalan horor tentunya. Kesan pertama, film ini cukup menarik di durasi awal hingga tengah. Tapi, untuk Movielitas sendiri, selepas durasi pertengahan, agak terasa membingungkan jalan ceritanya. Fokus cerita yang awalnya tentang seorang anak gadis kecil yang kerasukan dan orang tuanya yang resah melihat anaknya, agak mulai terganggu dengan mem-paralel-kan kaitan antara The Jap (karakter pria tua dari Jepang), gadis aneh pelempar batu, dan Shaman (karakter pengusir setan khas Korea). Dan, terus berlanjut hingga akhir. Dan, bisa jadi memang itu kekuatan misteri dari film ini, yaitu pemirsa dibiarkan meng

Keindahan yang menggigit tajam

Sebuah film dengan lingkaran cerita yang sangat sederhana, dan Movielitas gemar dengan film bernada seperti ini karena tidak banyak "belokan" yang terlalu dalam dalam mencerna cerita. Film ini berkisah tentang seorang wanita yang "lari" sejenak dari kehidupannya berlibur di sebuah "pantai rahasia" atau a secret beach di daratan Meksiko. Namun, akhirnya liburan yang diisi dengan kegiatan surfing itu menjadi tragedi berdarah tidak jauh dari bibir pantai indah itu. Sebenarnya ada beberapa spot cerita yang memunculkan pertanyaan, bagaimana bisa begini atau bagaimana bisa begitu. Atau dengan kata lain, bagi Movielitas, susah di-logika. Satu hal yang pasti, alam pantai-nya keren. Indah sekali. Lalu, meskipun tema film seperti ini sudah pernah ada sejak dulu, tapi disini pandai memainkan visual yang apik kekinian. Ketegangan yang ditampilkan pun tersampaikan dengan baik. Movielitas juga suka dengan pengambilan gambar-nya. Terutama dengan pengamb

Another story of Ip Man

Film ini ternyata berbicara soal legenda seni beladiri Wing Chun yang dipopulerkan oleh Master Ip Man. Dilihat dari tahun rilisnya, film ini baru muncul setelah film Ip Man dengan aktor Donnie Yen . Entah mengapa dibuat versi Ip Man yang satu ini. Dan, kali ini yang didapuk sebagai Ip Man adalah Tony Leung. Bagi Movielitas, film ini secara garis besar memiliki alur kisah yang sama dengan versi Ip Man. Secara khusus, ada beberapa perbedaan yang membuat bingung antara mana yang benar dan salah dengan sejarah legenda Ip Man ini. Secara visual film ini jauh berbeda dengan versi Donnie Yen. Atmosfir film lebih banyak bermain dengan warna dark gold. Film terasa dark, suram, muram. Hampir tidak ada warna "cerah". Dialognya terasa beda. Story line pun tidak seringan Ip Man versi Donnie Yen, tapi terbagi dua antara kisah guru Ip Man pada era kejayaannya sebagai ahli beladiri dan kisah konflik keluarga Gong Er yang sedikit banyak juga melibatkan Ip Man. Lalu, dalam beberap

Pengalaman tetaplah guru terbaik, bukan teknologi.

Absolutely awesome. Sully, Clint Eastwood, and Tom Hanks. Sekali lagi, Movielitas memang menyukai gaya film dengan sutradara Clint Eastwood. Drama-nya selalu bukan drama biasa. Ada citarasa lain yang selalu bisa dihadirkan pada karya Clint Eastwood sebagai sutradara berkualitas tinggi. Sebelumnya, Movielitas masih samar mengingat bahwa Movielitas pernah membaca berita tragedi di sungai Hudson pada tanggal 15 Januari 2009 silam. Hanya saja, Movielitas tak bisa ingat di media apa membaca berita kecelakaan pesawat Cactus 1549 (US Airways Flight 1549) ini, pastinya bukan televisi sebab saat itu Movielitas masih merantau di "pulau orang". Dari sudut pandang penikmat berita, yang dapat Movielitas capai adalah atmosfir kepahlawanan seorang pilot. Dan, pastinya cakupan cerita surat kabar bagi Movielitas yang penikmat berita awam, hanya sebatas "luarnya". Heroik. Sudah selesai, begitu saja. Lewat karya film memori tahun 2009 dibawa kembali. Tapi, dengan c

Nostalgia dengan karakter Dick Tracy

Menurut data karakter Dick Tracy merupakan karakter komik, tapi Movielitas sendiri mengenal karakter Dick Tracy ini dari console Sega. Video game lawas, dan kaset yang Movielitas beli adalah Dick Tracy. Beberapa game lain-nya adalah Shinobi (ninja), Basket NBA 96 , Rambo 3 . Wah, luar biasa film ini kembali membawa ke masa kanak-kanak yang ceria tiada beban hidup. Meski sederhana dan kalah jauh dalam urusan kecanggihan dengan Playstation atau X-Box, tapi momen keceriaan dan lika-liku perjuangan dalam game-game itu sangat luar biasa bagi Movielitas. Film ini sukses untuk Movielitas kembali memutar, tak hanya film-nya, tapi juga kenangannya. By the way , sejak tahun kemunculannya film ini, Movielitas justru pertama kali menontonnya saat ini. Keren. Tidak banyak yang bisa Movielitas ingat dari Dick Tracy ini, console game hingga beberapa kaset permainannya pun entah dimana sekarang berada. Jubah kuning. Tommy Gun. Itu yang bisa Movielitas ingat dalam game lawas 2 di

Masalah dalam kembalinya sang buah hati

Sebuah sajian drama kriminal yang menimpa anak perempuan dari seorang seniman tato. Bisa dikatakan bila film ini diluar ekspektasi. Diceritakan bahwa sang seniman tato kehilangan anak perempuannya yang masih kecil. Bagian bagaimana dan kapan ayah-anak ini dipertemukan dalam cerita ini yang membuat sedikit kurang begitu antusias lagi. Keseluruhan, jalur ceritanya juga bisa ditebak cepat. Tidak terlalu istimewa jika dibandingkan dengan Mel Gibson berada di kursi sutradara Apocalypto. Blood Father (2016) - 6/10

Lone Wolf in Nam

Justru yang menarik dari film ini adalah sosok Rambo-nya. Sedangkan dari storyline dan pernak-pernik dalam film, sudah pastinya hampir sama dengan gaya one man show di seri pertama First Blood . Harus diakui memang bahwa Sylvester Stallone adalah salah satu aktor yang "berhasil" identik dengan satu karakter dalam film. Berbeda dengan karakter superhero seperti Batman atau Superman, karakter Rambo oleh Stallone ini dapat dibilang sebagai salah satu karakter yang irreplaceable . Tak tergantikan. Dan, hanya Stallone yang memang cocok membawakan karakter Rambo. Sejauh Movielitas amati dari awal muncul hingga akhir cerita, sosok Stallone terutama wajah, memang mampu membentuk sosok Rambo versi film (entah versi novel-nya). Dengan mimik wajah hard-tough dan potongan rambut yang "sangar", gaya utama Stallone adalah menampilkan karakter mantan militer dengan keahlian perang kelas predator, nyaris tanpa senyum, datar, dan dialog serba minimalis. Pas sekali.

Mematahkan ambisi mantan biksu yang keliru

Dulu, sebelum jaman internet seperti saat ini, hiburan paling menyenangkan adalah televisi yang saluran stasiun hanya satu saja. Lalu, pelan demi pelan, pihak swasta bermunculan mendirikan stasiun televisi baru. Film ini termasuk hiburan mewah pada jamannya. Begitu pula untuk Movielitas yang pada saat film ini tayang (merujuk pada tahun produksi-nya), saat itu Movielitas masih ingat bagaimana bahagianya bisa "mencuri" ikut saluran parabola orang lain (tetangga) dan stasiun televisi swasta yang saat itu masih free sinetron, bisa tampil di layar televisi secara jernih. Kalau salah ingat, film ini dulu juga pernah ditayangkan saat era televisi swasta masih "sulit" dinikmati selain dengan parabola. Dan, berkesempatan menikmati film kungfu klasik ini menjadi momen nostalgia sejenak untuk Movielitas. Pesan moral film ini menurut Movielitas adalah tentang materi dan ambisi. Hidup akan terasa damai bila tidak mengukur segala sesuatu dengan materi, setidaknya

One of twelve manifestations tracked in Korea

Sejauh ini yang bisa Movielitas ingat ada judul Exorcist (ini yang paling fenomenal), kemudian The Rite (ada Anthony Hopkins), dan The Exorcism of Emily Rose . Film-film tersebut bertopik seputar pengusiran roh jahat dari tubuh manusia. Sebenarnya ada beberapa lagi judul seputar kerasukan dan ritual-nya, hanya ketiga film di atas sedikit istimewa buat Movielitas. Sekarang, sekali lagi, Korea tidak mau kalah dengan karya Hollywood di atas. Menariknya adalah selalu punya ciri khas. Ada sisi dramatis dalam alur cerita yang sebenarnya sudah umum. Ini yang kerap kali Movielitas suka dari film Korea. Di film ini, ada 2 momen yang menarik. Pertama "penipuan" yang dilakukan oleh roh jahat. Kedua, ritual pembuangan roh jahat. Kedua momen itu khas dramatis ala Korea. Alur ceritanya menarik. Selalu ada misteri baru di setiap bagian. Momen horor-nya tidak "berdesakan" dipaksa ada di setiap scene, tapi ada selang waktu yang tepat. Untuk visual efek-nya sendiri

Setelah Superman tak bisa lagi terbang...

Film yang diangkat dari komik. Movielitas sendiri sayangnya bukan penggemar komik, jadi tidak tahu tentang komiknya. Menariknya tema komik bukanlah superhero melainkan antihero. Yang membuat penasaran dari film ini awalnya adalah nama besar Will Smith, ada karakter Joker musuh bebuyutan Batman (dibawakan oleh Jared Leto), dan Harley Quinn. Di luar faktor-faktor itu juga banyak berita-berita tentang "hebohnya" film ini di sosial media yang sedikit banyak ikut membuat penasaran seperti apa film ini. Storyline -nya agak membingungkan menurut Movielitas. Dikisahkan awal mula misi cerita adalah ketika Superman tidak bisa lagi terbang. Lalu muncul para pengganti Superman. Yang membuat bingung adalah misi para pengganti Superman dan musuh utamanya siapa. Ekspektasi awalnya adalah menghadapi Joker, tapi ternyata bukan. Melainkan melawan kekuatan sihir ala Enchantress yang masuk ke tubuh June Moone. Jika disimak, kekuatan El Diablo dengan tangan apinya, sepertinya suda

Pembalasan dendam dari dalam kubur

Yang membuat fim ini menjadi "fenomenal" pada jaman rilisnya adalah tragedi di balik layar. Film ini dibintangi oleh putra mendiang aktor sekaligus praktisi beladiri kungfu Bruce Lee, yaitu Brandon Lee. Tragedi di balik layar film ini adalah kecelakaan syuting yang mengakibatkan Brandon Lee meninggal dunia. Menurut data, kecelakaan menimpa Brandon terjadi pada adegan yang diletakkan di permulaan film. Di luar penggunaan stunt-man dan visual efek untuk "melapisi" karakter Eric Draven yang "ditinggalkan" oleh Brandon, sebenarnya menurut Movielitas, bisa dikatakan tidak "seberat" pada film Fast & Furious yang juga tertimpa tragedi di balik layarnya. Aktor utama dalam film tersebut juga meninggal dunia dalam kecelakaan namun kejadiannya di luar acara syuting. Mengapa bisa lebih mudah, karena disini karakter utama, Eric Draven, digambarkan sebagai pria yang bangkit dari kubur untuk balas dendam. Dan, dikisahkan juga bahwa Eric Dra

Memburu matador tanpa banteng

Usia bisa jadi bukan halangan bagi seorang seniman kelas dunia Jackie Chan untuk tetap terus melahirkan karya sinema. Kali ini Jackie Chan berkarya dengan sebuah film yang disutradarai oleh Renny Harlin. Dan gaya ceritanya kurang lebih mirip dengan gaya film-film Jackie yang diproduksi Hollywood sebelumnya yaitu berduet dengan aktor Hollywood (sebelumnya antara lain dengan Owen Wilson atau Chris Rock). Disini yang didapuk menjadi duet Jackie adalah Johny Knoxville yang terkenal lewat aksi-aksi nekatnya di Jackass. Nama Renny Harlin sendiri ternyata bukanlah nama baru di dunia sinema Hollywood, dan salah satu karya besar dari sutradara Renny Harlin ini adalah Die Hard 2 . Bagi Movielitas, arah film ini lebih ke genre travel-action-comedy . Untuk genre action , memang tidak perlu dibuat penasaran, karena umumnya film dengan memakai Jackie Chan sebagai bintang utama adalah genre aksi laga yang dicampur dengan unsur komedi. Bila pernah menyimak film Rush Hour , sepertinya t

Teror di hotel internasional

Sebuah sajian film yang merupakan kolaborasi antara Cina, Hongkong dan Korea. Genre nya mengarah ke komedi-romantis-aksi laga. Kisahnya berputar pada konflik perburuan teroris yang meneror hotel berbintang. Bagi Movielitas, storyline film ini standard saja, belum ada yang istimewa. Ciri khas storyline ala Korea, harus "rela berbagi" style dengan gaya film Mandarin. Keseluruhan, menghibur. Baik dari sisi komedi maupun romantisnya. Begitu juga dengan aksi laganya. Cocok sekali untuk hiburan bagi pecinta bintang-bintang "pop" masa kekinian. Bounty Hunters (2016) - 6/10

Selalu ada jalan lain

Nostalgia kembali ke salah satu film Disney yang fenomenal yaitu Finding Nemo . Disini yang dibahas bukan lagi si Nemo yang masih ditampilkan, melainkan Dory. Kalau bagi Movielitas, bobot cerita Finding Dory ini lebih berat di storyline ketimbang mencari Nemo terdahulu. Meski demikian, tetap Disney memiliki ciri khas di setiap produksi filmnya. Tak sekedar menghibur dengan visual cantik nan elegan tapi juga mengandung pesan kehidupan yang indah. Pesan moral yang terbungkus di dalam kisah "mencari ikan" ini masih tetap sama kualitasnya dengan versi Nemo. Bila di Nemo, menyampaikan pesan moral tentang kisah cinta ayah-anak, disini lebih universal tentang keajaiban yang bakal ada bila kita pantang menyerah dan yang terpenting adalah tetap percaya. Lewat perjuangan Dory, penonton akan disajikan inspirasi untuk direnungkan. Meskipun Dory memiliki kelemahan namun keajaiban tidak memilih untuk dialami. Perjuangan Dory dengan "kelupaannya" adalah simbol man

Fenomena menghentikan nafas kehidupan sendiri

Entah kenapa film ini sebenarnya biasa saja malah cenderung kalem ceritanya. Tidak ada yang istimewa dari kisah di dalamnya. Hanya saja secara tidak direncana sebelumnya, Movielitas menonton film ini setelah tragedi kehilangan idola yang kurang lebih memakai gaya di film ini. Film ini menceritakan tentang seorang gadis, yang hidup bersama sang ayah, lebih tepatnya seperti kembali ke kota Bridgend County. Sepenangkapan Movielitas dari dialog seperti "kembali" ke kota Bridgend County setelah sekian waktu yang lama. Baru tapi lama - kurang lebih begitu istilahnya. Konflik utamanya adalah pergaulan anak muda di Bridgend yang "kurang sehat". Pergaulan kurang sehat tersebut akhirnya melahirkan sebuah fenomena yang tidak masuk akal. Dan, gadis baru ini, Sara, ikut hanyut dalam pusaran fenomena tersebut. Filmnya biasa saja. Bahkan cenderung "boring", karena Movielitas harus sedikit berjuang menghabiskan film ini hingga akhir. Beberapa kali itu sem

Hukum bisa jadi terasa cacat, tapi tanpa hukum bisa jadi kiamat

Kali ini Movielitas berkesempatan menikmati sajian film drama (bisa dikatakan demikian), dicampur aroma aksi laga, thriller psikologi. Istilah-istilah itu versi Movielitas sendiri. Sebenarnya film ini merupakan urutan ketiga dari film perdana The Purge . Untuk The Purge sendiri, Movielitas sudah menonton. Sedangkan seri kedua, Anarchy , belum Movielitas dapatkan, justru mendapatkan yang seri ketiga ini. Di bagian awal, memang ada kesan keterkaitan antara seri ini dengan sebelumnya. Tapi, bagi Movielitas tidak terlalu berpengaruh banyak alias, tanpa menonton seri kedua, tidak kehilangan storyline . Dari judulnya, tentu ada sangkut paut dengan drama politik. Election yang artinya pemilihan. Storyline utama, masih sama dengan gaya The Purge, dimana mengisahkan sebuah hari atau lebih tepatnya malam hari yang ditetapkan secara nasional sebagai "hari pembersihan". Di malam hari tersebut, orang-orang bebas "menghakimi" siapapun dengan cara apapun. Inti

Jangan pernah mencuri

Wow....this is cool movie . Dan, Movielitas pun terkecoh. Awalnya mengira akan ada sajian horor (dunia lain) standard namun ternyata di luar dugaan. Tidak heran ketika menyaksikan hingga detik tamat cerita, ada nama Sam Riami di balik layar. Film ini "hanya" menampilkan kisah pencurian oleh dua pria dan satu wanita. Keputusan untuk merampok rumah sasaran adalah karena tidak ada "kehidupan" di sekitar rumah target dan sang pemilik rumah adalah "hanya" seorang lelaki tua dan buta yang tinggal bersama anjingnya. Yang terjadi berikutnya adalah ketegangan demi ketegangan. Dan disitulah poin menariknya. Film ini ternyata bernada seperti horor-thriller standard Hollywood yang umunya bermain simple. Karakter lelaki tua yang harusnya menjadi korban pencurian malah secara mengejutkan berubah menjadi poros teror. Keseluruhan, film ini berbeda. Meski alur ceritanya bisa dibilang sangat sangat sederhana sekali namun punya kesegaran dalam menampilkan

Tebusan berhadiah

Film klasik yang membuat Movielitas cukup penasaran karena unsur Mel Gibson-nya. Selain itu juga memiliki rating kolektif di IMDB cukup bagus. Dan, memang kesan pertama film ini menarik. Unsur misteri drama penculikan anak seorang jutawan, dikelola dengan baik. Meskipun pihak penculik sudah dimunculkan tapi tidak kehilangan citarasa misterinya karena yang menjadi persoalan bukan siapa yang menculik, melainkan alasan penculikan dan hubungan di balik penculik dan korban. Skema ceritanya tidak berat atau mudah diikuti karena porsi konflik utama yaitu penculikan tidak dicampur aduk dengan konflik lain. Lapisan konflik bila dibuat grafik, seperti membentuk kurva U. Dari titik awal kemudian berlarut-larut menjadi rumit lalu pelan-pelan menemui titik terang klimaks. Keseluruhan, Movielitas menyukai pola cerita seperti drama kriminal di sini. Simple tapi mampu menjaga rasa penasaran untuk menonton hingga akhir. Jadi meskipun klasik tapi masih tetap menarik. Ransom (1996) - 7

Hutan minta tumbal

Sebenarnya film garapan Lou Simon ini cukup menarik bila disimak melalui ide dasar cerita. Seolah mengajak pemirsa-nya untuk membayangkan tentang acara reuni yang diisi dengan aktifitas hiking di sebuah hutan. Tanpa disadari, hutan, yang seharusnya menjadi kenangan acara reuni berubah menjadi mimpi buruk, ternyata meminta tumbal nyawa pengunjungnya. Sedangkan yang berhasil selamat, harus kembali dengan tumbal baru....? Sayangnya kualitas akting, storyline , dan efek visual-nya kurang begitu menarik. Kaku untuk ukuran sebuah film. Contohnya, mati tertumpuk daun? Mungkin Movielitas sempat missing story dengan momen mati tertumpuk daun kering. Momen beruang. Menurut Movielitas, ekspektasinya adalah memunculkan beruang dewasa, tapi jika dilihat sepertinya anak beruang dan pengambilan gambarnya aneh. Otomatis, suasana horor yang ditampilkan pun jadi kurang maksimal. All Girls Weekend (2016) - 4/10

You. Will. Get. Rich.

Opening scene-nya keren. Melissa McCarthy. Movielitas suka dengan gaya aktris satu ini. Penampilannya dan gaya komedinya memang khas. Segar. Dan, gaya Melissa memang cocok dengan gaya film drama komedi ringan semacam ini. Ringan dan menghibur. Dan film ini dapat dikatakan proyek "keluarga" karena disutradarai oleh suami Mellisa yaitu Ben Falcone. Alur ceritanya simple. Mudah diikuti. Konfliknya seputar sepak terjang seorang wanita bernama Michelle Darnell yang kaya dan sukses berwirausaha. Kemudian, jatuh terpuruk dipenjara karena saling sikut di dunia bisnis. Jadi, bila di-grafik-kan, sukses-jatuh-merintis-sukses-jatuh-sukses. Kisah Darnell ini juga mungkin sekaligus bisa menjadi cerita motivasi bagi semangat wirausaha. Dimana selalu ada kesempatan di setiap momen kehidupan. Meskipun hanya sekedar film, tapi paling tidak bisa diserap sedikit inspirasi dari kisah Michelle Darnell ini. Movielitas sendiri suka dengan gaya film seperti ini. Ringan. Fresh. Dan

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10

Tribute To Chester Bennington

And you're angry, and you should be, it's not fair. Just 'cause you can't see it, doesn't mean it isn't there Who cares if one more light goes out In the sky of a million stars? I do. One More Lights by Linkin Park

Kembali ke hutan

Sisi yang membuat film ini penasaran untuk disimak adalah Tarzan. Karena nama Tarzan ini adalah karakter legenda yang lintas generasi. Movielitas ingat bahwa dulu juga pernah ada versi lokal. Di era digital saat ini tentu saja ingin tahu bagaimana karakter cerita jaman yang sudah ada di jaman sebelum internet ini disajikan. Sedikit bisa menebak dan benar yaitu film ini bermain canggih dengan teknik komputerisasinya. Dari segi cerita, bagian awalnya yang "sulit" untuk Movielitas. Terlalu tinggi bahasannya. Kalau dulu ada tema Tarzan masuk kota, ini tinggal dibalik dengan Tarzan balik ke hutan. Bagi Movielitas pribadi, film ini masih "kurang" citarasa Tarzan. Karena konotasi Tarzan bagi Movielitas harusnya menonjolkan sisi atmosfir hutan rimba dan "kelebihan" Tarzan dalam ber-sosialisasi dengan para hewan di dalamnya. Sedangkan disini memang ada porsi cerita dalam hutan rimba, tapi lebih besar porsi sisi drama Tarzan dengan manusia. Dan,

Keinginan kembali yang tersingkirkan

Sajian film drama yang berkisah tentang seorang Walter. Baru saja menjalani hukuman dan berusaha kembali normal dalam kehidupan sebagai warga bebas. Apa yang menjadi latar belakang Walter hingga harus dihukum penjara, menjadi inti cerita dalam film ini. Sebenarnya menikmati film, pastinya akan kembali ke selera. Film ini berjalan dengan irama pelan dan lembut. Murni drama biasa. Tidak ada letupan emosi berlebihan. Dan paling menonjol dari film ini adalah peran Kevin Bacon yang bermain apik menguasai panggung dengan kualitas aktingnya sebagai Walter yang memiliki kelainan. Keseluruhan, semua kembali ke selera masing-masing. Bagi Movielitas film ini merupakan panggung drama aktor Kevin Bacon yang menarik (kurang lebih berirama sama dengan film Kevin Bacon dalam Taking Chance ) dalam membawakan peran seorang yang ingin kembali normal dan memiliki kehidupan lebih baik pasca menjalani hukuman. The Woodsman (2004) - 6/10