Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Review

Realita kelam di balik atraksi megah sang raksasa hitam

Sebuah sajian film dokumenter lawas tahun 2013 tentang realita di balik kemeriahan pertunjukan atraksi binatang laut. Pertunjukan binatang laut memang dulu menjadi tontonan yang menyenangkan apalagi bagi dunia anak-anak. Semakin dewasa dimana era informasi kian gencar, masyarakat mulai disuguhkan edukasi penyeimbang tentang dunia hiburan yang menampilkan hewan. Bagaimana atraksi yang dipertunjukkan di muka publik, atau apa saja tragedi di balik pertunjukan atraksi yang menampilkan killer whale atau paus hitam, mungkin bisa dicari di area youtube. Karena disitu akan lumayan banyak video yang dipublikasikan. Yang diceritakan disini adalah sudut pandang dari para pendamping ikan paus sirkus dan sejumlah saksi mata.Salah satu tragedi yang diangkat di film ini adalah tragedi yang dialami oleh Dawn Brancheau. Dawn Bracheau adalah seorang pelatih ikan paus senior sekaligus bintang pertunjukan yang harus meregang nyawa oleh ikan paus didikannya sendiri.Tragedi yang dialami Dawn Bracheau ini m

Kisah Alexander Supertramp

Lagi-lagi Movielitas mendapatkan film based on true story . Akhirnya, Movielitas kesampaian menonton film ini. Dulu Movielitas sering melihat cover film ini di rak persewaan film, hanya belum tertarik hingga saat ini. Dan tiba-tiba film ini muncul di playlist. Film kali ini mengangkat kisah hidup dari seorang Chris McCandless.  Kalau boleh membandingkan, film ini mirip dengan film Wild 2014. Bagi Movielitas dua film ini banyak kesamaannya. Baik film ini maupun Wild, sama-sama diangkat dari kisah nyata. Hanya berbeda jenis kelamin. Di sini mengangkat kisah seorang pria yang baru lulus dan memilih jalan hidup ke alam. Sedangkan di Wild, berjenis kelamin wanita. Dua film tersebut juga berkisah tentang perjalanan seorang diri menelusuri alam terbuka. Sama-sama punya masa lalu. Gaya alur ceritanya-pun juga hampir-hampir mirip. Past-present-past-present dan seterusnya. Awalnya Movielitas mengira film biographical ini bakal berjalan ringan lurus. Hanya bercerita tentang kebebasan yang dike

Berawal dari salah sambung hingga mengacak-acak garis takdir

Kali ini sedikit berbeda dimana film Korea kali ini mengadaptasi dari film non Hollywood. Dan boleh dikatakan film ini mengalahkan ekspektasi Movielitas. Bila dilihat sekilas dari poster ataupun judulnya yang mengingatkan Movielitas pada film horor Jepang dulunya, The Phone . Dalam benak berkata mungkin film ini akan jatuh sama dengan genre seputar horor tentang "terima" kutukan lewat telepon. Ternyata salah dan jauh di atas ekspektasi. Berkisah tentang karakter utama Seo-Yeon yang balik ke rumah setelah diceritakan lama pergi dari kampung halaman. Setibanya di rumah nya, Seo Yeon menerima panggilan telepon yang terasa asing dan aneh alias salah sambung. Sekali dua kali Seo Yeon menanggapi panggilan telepon salah sambung tersebut hingga berkali-kali dan terjadilah inti konfliknya. Alur cerita disini sebenarnya kompleks hanya saja bila mengikuti secara baik dan detail runtun masih bisa dicerna dan diikuti. Dari sisi konfliknya, cukup menarik. Konflik dari film garapan sutradar

Cinta tanpa syarat dan pengorbanan terbaik untuk keluarga tuan kecil

Sebuah sajian yang sangat family friendly kali ini. Sangat aman untuk tontonan bersama keluarga di waktu senggang. Berkisah tentang seekor anjing liar yang tanpa sengaja harus terpisahkan dari sang induknya. Waktu berlalu ketika sang anjing bertemu dengan tuan barunya yang masih berusia anak-anak. Dan, seperti seekor anjing kebanyakan yang memang terkenal akan kesetiaan dan cinta kasihnya, Benji demikian sang anjing tersebut kemudian diberi nama oleh Carter, berusaha keras memberi cinta dan pengorbanan terbaik untuk keluarga tuan kecil baru nya. Ada sedikit behind the scene di bagian akhir, dan Movielitas merasa bahwa membuat film dengan aktor utama seekor hewan seperti ini memang sangat tidak mudah. Bisa menjadi sebuah film seperti ini sudah sangat bagus sekali. Overall, film ini sangat cocok bagi pecinta hewan khususnya anjing. Drama film ini memang "sangat fiksi" khas hiburan untuk anak-anak. Plot ceritanya ringan dengan konflik yang juga tidak rumit dicerna.. Pesan moraln

Kesempatan kedua dibalik penculikan

Sebuah film yang awalnya terasa sangat menarik. Misteri hilangnya seorang anak di tengah pemandangan hutan sungai dan pegunungan yang terhampar indah. Misteri dibangun dengan konflik dugaan penculikan dan yang menjadi tersangka utama pertama adalah sang ayah kandung sendiri. Movielitas menyukai gaya misteri yang dibangun di film garapan sutradara Christian Carion ini. Pelan tapi cukup bertenaga memancing rasa penasaran. Dugaan demi dugaan terhadap karakter yang muncul satu per satu membuat film ini penuh tebakan. Sayangnya, alur cerita film ini seperti naik gunung turun gunung. Semakin ke dalam, semakin turun rasa penasaran ini. Misteri penculikan yang sudah dibangun di awal cerita pelan-pelan mulai menemukan titik terang berakhir dengan kesan "oww begitu saja..." Overall, film ini tidak begitu istimewa. Misteri di awal dengan ending yang mengecewakan. Konflik tentang seorang ayah yang terpisahkan jarak dengan sang anak pun tidak berkesan apa-apa. My Son (2021) - 6/10

When silence is not enough

Untuk seri pertamanya, keren. Dan, kali ini mencoba menyimak seri keduanya. Apakah film yang masih digarap oleh sutradara John Krasinski ini juga terkena sindrom flop di sekuel? Ternyata, tidak. Hasilnya masih lumayan menarik.  Masih berkisah tentang petualangan keluarga kecil Abbott, yang kini tersisa ibu dan dua anaknya, bertahan untuk "diam" dari intaian monster. Di seri kali ini, karena tuntutan sukses di seri perdananya, dilengkapi dengan sedikit latar belakang pra kejadian invasi monster ke bumi. Movielitas suka dengan gaya horor film ini. Menarik dan tidak bisa ditebak arah ceritanya. Meskipun sudah diketahui siapa musuh dan konflik utamanya, tapi dikemas dengan baik hingga tidak mematikan rasa penasaran penonton. Mungkin yang membuat menarik di film ini dari sisi selera Movielitas adalah 'minimalis' nya. Minimalis dalam konflik, dialog, dan pemain. Alasan lainnya yang membuat Movielitas bisa menilai bahwa film ini tidak kalah seru dengan seri pertamanya adala

Keep Silent, Keep Alive

Sebuah sajian yang sangat menarik. Bagus dan tidak rugi menonton film garapan sutradara John Krasinski. Luar biasa meski gaya film ini pernah Movielitas tonton dulu sekali yaitu di film Thailand, 4Bia . Di film Thailand tersebut, berisi empat segmen kisah horor dan paling menarik perhatian Movielitas adalah gaya horor di segmen pertama. No dialog, minimalis dalam hal lokasi cerita dan pemain. Disini berbeda. Hampir sama, minimalis dalam dialog karena konflik utamanya adalah diam bila ingin tetap hidup, didukung dengan skenario nya berkisah sebuah keluarga kecil dengan anak yang memang tuli-bisu. Perbedaan lainnya, di film ini gaya horor nya bukan horor dunia lain melainkan lebih ke gaya horor, sebut saja, makhluk non manusia. Juga setting tempat dan waktu cerita berbeda, kalau disini bermain di era post apocalyptic dan rentang cerita-nya selang tahunan. Movielitas menyukai gaya film yang berbeda seperti ini. Meski minim dialog, konflik juga tidak bercabang-cabang alias sangat sederhan

Mayat penyelamat

Inti ceritanya Movielitas tidak paham. Tapi jika menengok rating film ini di IMDB, sepertinya cukup bagus. Cuma Movielitas kurang begitu paham makna cerita di balik film garapan sutradara Daniel Kwan and Daniel Scheinert ini.. Konflik dasarnya jelas, yaitu penyelamatan diri dari seorang Hank Thompson. Di tengah keputus-asaannya, Hank bertemu dengan sesosok mayat yang kemudian menjadi teman seperjalanan dan menjadi alat menyelamatkan diri. Film ini akhirnya terasa seperti ajang perang akting dua aktor, Paul Dano dan Daniel Radcliffe. Paul lebih banyak berakting tunggal ala teaterikal, sedangkan Daniel berakting mayat hidup. Overall, Movielitas menyebut film ini sebagai drama fantasi saja. Mau dibilang drama survival tapi kok jatuhnya begini. Kurang bisa menangkap poin utama dari film ini. Dan kurang masuk dengan selera Movielitas.  Swiss Army Man (2016) - 4/10

Antara berduka, ambisi, dan kenangan di kampung halaman

Sajian kali ini berupa drama Korea. Karena baru-baru ini Movielitas menonton penampilan Ma Dong Seok atau Don Lee, pilihan jatuh menonton film ini karena faktor tersebut. Hasilnya, lumayan. Plot cerita dan konfliknya khas Korea. Berkisah tentang dua karakter, Seok Bong dan Joo Bong. Kedua orang ini adalah kakak-beradik yang masing-masing telah memiliki kehidupan dan pekerjaan berbeda. Hingga satu waktu, mereka "dipaksa" untuk pulang dan bertemu satu sama lain di kampung halaman oleh kejadian meninggalnya sang ayah. Momen berduka tersebut akhirnya menjadi momen berharga bagi mereka berdua untuk lebih mengetahui serta memahami background orang tua sebelum mereka menjadi dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Plot ceritanya, memang berlika-liku. Konflik yang dilempar awalnya terasa bercabang di sana-sini. Baik karakter Seok Bong maupun Joo Bong masing-masing memiliki konflik sendiri. Belum lagi konflik budaya di kampung halaman dan konflik latar belakang keluarga mereka sendiri.

Jumanji dan dunia permainannya

Dulu, dulu sekali tahun 1995 pernah ada film Jumanji dengan Robin William sebagai aktor utamanya. Kala itu Movielitas hanya melihat trailer dan review di televisi, tidak menonton di bioskop. Kali ini di remake dengan versi modern dan bintang milenial.  Movielitas penasaran dengan film ini karena unsur Dwayne Johnson nya. Pasangan Dwayne ada Kevin Hart dan Jack Black. Dari sisi konflik, film ini memang diarahkan ke hiburan bersama anak atau keluarga. Tidak berat juga tidak "dewasa". Tepatnya seperti dunia fantasi. Karena kisahnya sendiri seputar dunia permainan Jumanji yang dilihat dari bentuknya seperti Nitendo jaman klasik dulu. Dari tampilan spesial efek, tentunya sangat luar biasa dengan garapan Hollywood. Tidak perlu diragukan. Hanya soal akting yang menurut Movielitas agak kurang menarik. Dwayne Johnson meskipun pernah bermain di film Disney, terasa kurang komedi membawakan karakter Bravestone karena plot nya yang mengharuskan Dwayne berperan sebagai pemeran lain (Spence

Pertumbuhan fisik yang menjadi bencana

Alasan utama memilih film garapan sutradara Brad Peyton untuk dijadikan tontonan malam ini adalah karena nama Dwayne Johnson. Movielitas menyukai gaya akting Dwayne Johnson yang sebelumnya dikenal dengan nama The Rock ini. Kali ini Dwayne Johnson berperan sebagai Davis Okoye seorang pemerhati sekaligus pengasuh primata gorila albino yang dinamai George. Dikarenakan sebuah penelitian yang berakhir fatal mengakibatkan sebuah "bencana" di kawasan tempat habitat binatang liar berkumpul. Bencana yang terjadi sebuat saja bencana genetika dimana para tiga binatang liar yang terkenal buas menjadi bertumbuh tak terkendalikan. Jujur saja, menonton film ini jatuhnya sangat jauh di bawah ekspektasi. Konflik besarnya sangat sederhana tapi dengan alur cerita dan penempatan akting yang sangat kurang menarik bagi Movielitas. Penampilan Dwayne disini sendiri sebenarnya sudah sangat umum sekali sama dengan di film-film Dwayne lainnya, tapi sering terasa kurang pas dengan adegan yang ditampilka

Dipertemukan di hutan yang terbakar

Sebuah sajian yang berkonsep piramida terbalik. Di awal film dilempar beberapa konflik yang nanti kemudian dipertemukan menuju satu titik. Seorang petugas pemadam kebakaran yang sibuk menyesali dan menyalahkan diri sendiri, seorang akuntan yang ketakutan, polisi yang menunggu kelahiran putri, dan dua orang tokoh jahat berdarah dingin dengan kemampuan taktis. Alur ceritanya mungkin akan membuat kewalahan dan membingungkan di awal. Tapi ketika semua bertemu di hutan, pelan-pelan menjadi jelas konflik utamanya. Bagi Movielitas, konsepnya bagus. Hanya konfliknya yang kurang menarik. Konsep ke-tidak sengaja-an yang akhirnya bertemu di satu poin cerita, kurang masuk. Yang "menonjol" di luar nalar adalah tokoh yang diperankan oleh aktris senior Angelina Jolie yaitu Hannah. Kalau diperhatikan, karakter Hannah ini tergolong karakter yang sangat kuat alias super woman. Terjatuh dari menara, hampir tersambar petir (sebuah adegan yang kurang paham maksud dan tujuannya), hingga dipukuli b

Wajib militer yang memang sudah wajib

Sebuah sajian film dari negara Singapura. Kalau dilihat dari posternya sudah bisa diterka bahwa film ini mengangkat genre komedi. Dan film ini berkisah seputar pengalaman tokoh utamanya, Ken Chow, yang harus mau tidak mau mengkuti Wajib Militer yang diwajibkan pemerintah Singapura. Bagi Movielitas, film ini kurang menarik. Dari akting pemain-pemain di dalamnya, alur ceritanya, serta komedinya terasa kaku. Tidak berkesan apa-apa. Penampilan fisik sebagai tentara kurang cocok. Yang menarik perhatian hanya di bagian awal saja, film ini terasa seperti unjuk gigi kecanggihan spesial efek suasana perang ala sineas Singapura. Dan untuk tampilan suasana chaos gegara perang, cukup bagus dan megah. Tidak kalah dengan Hollywood. Overall, kurang menarik.  Ah Boys To Men (2012) - 5/10

Menjadi anak nakal selamanya

Kali ini film ketiga dari film aksi laga campur komedi yang dibintangi oleh duet Will Smith dan Martin Lawrence, Bad Boys . Kisah utamanya adalah petualangan sepasang detektif kompak dan kocak dalam menangkap penjahat. Di seri ketiga ini, sesuai dengan usia, pasangan detektif ini harus mau bekerja sama dengan pasukan yang lebih segar atau muda. Dari segi plot cerita, lumayan ada sisi dramatis nya. Dari sisi alur cerita, sedikit kakau di beberapa bagian.  Soal humor yang diangkat, lumayan sedikit menghibur meski tidak sekonyol duet detektif di The Other Guys . Pusat komedi masih tetap pada gaya kalem Martin Lawrence yang bertolak belakang dengan gaya koboi gila-gilaan Will Smith. Dari sisi aksi laga, entah karena memang faktor usia atau memang gaya laga Hollywood yang mengandalkan aksi laga mewah ledak-ledakan, kurang begitu maksimal. Di beberapa bagian masih bagus, tapi sebagian besar aksi laga yang ditampilkan kurang menarik bagi Movielitas. Overall, yang pasti film ini cocok untuk pe

Pelanggaran yang belum terbayarkan

Film dari Taiwan garapan sutradara Kevin Ko ini diklaim berdasarkan kisah nyata. Namun sejauh ini Movielitas belum menemukan validasi nya. Dan, kali ini berkesempatan untuk menontonnya. Bergenre horor, yang menurut Movielitas, gaya horor yang dipakai sudah bukan gaya baru. Bergaya vlog pribadi lengkap dengan kamera shaking -nya. Juga dengan gaya ala dokumenter dengan dialog ala-ala daily vlog. Berkisah tentang seorang wanita bernama Ronan yang merasa sedang hidup dalam sebuah kutukan akibat pelanggaran yang dilakukannya enam tahun sebelumnya.Secara sederhana, inti konfliknya adalah siapapun yang berinteraksi dekat dengan Ronan akan mengalami kemalangan. Dan kemalangan itu dipercaya sebagai buah akibat dari pelanggaran enam tahun silam. Konsep jalan cerita yang diusung disini memakai gaya timeline maju-mundur dari jaman sekarang ke masa lalu, kemudian kembali lagi ke jaman sekarang dan seterusnya. Pengisian nuansa horor nya pun hampir sembilan puluh persen dari keseluruhan cerita. Hampi

Norwegia 22 Juli 2011

Sebuah film yang terlihat seperti non Hollywood tapi digarap oleh sutradara Hollywood. Awalnya Movielitas tidak mengetahui, tapi setelah masuk ke dalam cerita, baru tahu ternyata film ini digarap oleh sutradara Paul Greengrass. Dan, film garapan Paul Greengrass bila berbicara based on true story sudah ada beberapa sebelumnya dan memang cukup bagus karya beliau. Film ini berkisah seputar tragedi yang terjadi di Norwegia tahun 2011 silam pada tanggal sesuai dengan judul film. Tapi, film ini tidak berkisah seputar detik-detik atau seputra tragedi tersebut, mungkin lebih tepanya seputar dampak-nya.  Alur cerita di film yang ber tagline based on true story, tinggal menilai sejauh mana film tersebut mampu membangun atau menggambarkan suasana kejadian dan bisa tersampaikan dengan baik atau tidak. Disini, dengan tangan dingin Paul Greengrass, menurut Movielitas film ini cukup bagus. Bahkan tidak tanggung-tanggung, meskipun alur cerita terasa sepotong-potong dan berjalan dinamis cepat, mengangk

Tanggung jawab besar yang tertinggal dari perbatasan negara

Sebuah sajian film drama dengan aktor gaek Liam Nesson. Berkisah tentang seorang mantan marinir, Jim, yang tanpa disengaja berjumpa dengan 2 orang imigran gelap dari Meksiko di daerah perbatasan Arizona, Amerika. Pertemuan antara Jim dengan ibu-anak ini ternyata berbuntut panjang. Kelompok kartel dari Meksiko rupanya juga sedang mengejar ibu-anak tersebut. Plot cerita nya sebenarnya sederhana saja. Tidak sulit untuk mengikuti alur cerita film garapan sutradara Robert Lavenz ini. Bagi Movielitas standar saja plot sisi drama-nya. Tidak istimewa. Hanya saja kalau dibandingkan dengan Taken, tentu saja masih kalah jauh. Disini sisi aksi laga tidak terlalu memiliki porsi besar.  Overall, sebuah tampilan drama kriminal yang standar saja.  The Marksman (2021) - 6/10

Rasa penasaran yang tidak dipercaya

Kalau versi film ini, Movielitas terjebak oleh trailer. Sekilas sepertinya versi trailer, film ini akan menjadi tontonan yang bakal menarik. Ternyata masih salah ekspektasi lagi. Berkisah tentang seorang psikolog Ana Fox yang tinggal di sendirian di rumahnya yang cukup besar. Suami dan anak dikabarkan telah berpisah dengannya. Ana Fox sendiri mengalami penyakit agrophobia yang mengharuskan dia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Tetangga baru di depan rumah Ana Fox membawa pengalaman baru sekaligus membingungkan untuk Ana Fox. Sebenarnya di bagian awal misteri yang diangkat cukup menarik bagi Movielitas. Meskipun misteri standard, tiba-tiba pembunuhan-lenyap-tidak ada yang percaya. Konsepnya seperti itu sudah cukup. Entah kenapa semakin masuk ke dalam, jalan cerita dan konflik di dalamnya menjadi kurang menarik.  Overall, standard. Kurang menarik. The Woman In The Window (2021) - 5/10

It Ain't Over 'till It's Over

Kali ini sajian dari negara Korea. Berkisah tentang kasus sebuah penculikan berakhir dengan pembunuhan seorang anak kecil yang belum terpecahkan kemudian kasus tersebut dijadikan sebuah film. Salah satu penonton film kasus penculikan dan pembunuhan tersebut adalah Da Eun yang tidak lama lagi akan menjadi seorang wartawati. Dalam salah satu adegan film tersebut menampilkan pembicaraan telepon asli dari sang penculik dan suara serta quote dari sang penculik tersebut mengingatkan Da Eun kepada sosok yang sangat dikenalinya selama ini. Film Korea kali ini cukup menarik. Khas Korea dengan konsep misteri pembunuhan yang berlapis-lapis. Plot cerita dengan konflik yang tidak datar berjalan naik-turun. Penonton akan digiring untuk menebak salah satu karakter tersangka yang kemudian dimentahkan terlebih dahulu untuk kemudian diakhiri dengan plot twist. Overall, beruntung kali ini Movielitas bisa menikmati sajian Korea yang kerap kali "membingungkan" dengan nama karakter dan tampilan fi

Sejarah Yarnell Hill Fire

Film yang disutradarai oleh Joseph Kosinski ini berkisah tentang sebuah grup pemadam kebakaran yang bernama Granite Mountains Hotshots. Salah satu yang menarik dan membuat penasaran di awal adalah tag based on true story . Mengangkat tentang tragedi kebakaran hutan yang terjadi di Bukit Yarnell, Amerika Serikat. Beberapa hal yang membuat film ini terasa berat bagi Movielitas adalah plot cerita. Intisari cerita film ini mengangkat kisah tragedi kebakaran hutan, sedangkan untuk menuju ke intisari cerita ini seakan perlu membutuhkan waktu yang sangat lama dan panjang. Di satu sisi gaya plot cerita yang "panjang" ini mungkin untuk membangun chemistry agar tidak hanya menyorot tragedi kebakaran saja, tapi juga konflik ego personal yang dialami oleh masing-masing karakter tokoh di dalamnya. Alur cerita dibuat bercabang sedemikian rupa untuk membangun kesan adanya tali persaudaraan yang kental di dalam grup Granite Mountains Hotshots ini. Menurut Movielitas juga akan lebih bisa meni