Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2022

Tentang Maywand District Murders

Based on true story -nya membuat penasaran tapi jatuhnya film ini masuk di golongan film miss-expectation alias meleset dari ekspektasi. Berkisah tentang pengalaman seorang Andrew Briggman yang mendapatkan kesempatan bertugas militer di daerah konflik. Ada rasa bangga besar yang terbesit dari dalam jiwa Andrew Briggman saat mendapat kesempatan bertugas di Afghanistan. Sayangnya, di sana Andrew Briggman harus mendapatkan pengalaman di luar harapannya. Film ini diangkat dari kisah nyata tentang se-pasukan tentara Amerika yang bertugas di daerah konflik Afghanistan. Mugkin secara dokumenter aslinya, akan lebih menarik. Entah karena faktor akting, atau plot cerita, yang pasti drama militer di sini kurang begitu menarik untuk Movielitas. Faktor lain yang meleset dari ekspektasi Movielitas adalah film ini bukan film yang berisi adegan seru perang-perangan. Bahkan sangat amat minim sekali adegan baku tembak. Justru yang ada hanya konflik batin seorang militer yang melihat aksi rekan-rekannya

Perfluorooctanoic Acid (PFOA)/C-8 di balik slogan anti lengket

Jauh sebelum muncul pandemi Covid-19 yang menggemparkan dunia, bukan berarti tidak ada virus mematikan di muka bumi ini. Seperti yang terjadi di film garapan sutradara Todd Haynes ini. Mengangkat kisah seputar rahasia gelap kelam di balik kesuksesan sebuah produk yang pernah hits pada jamannya. Untuk Movielitas yang memang sangat kurang update urusan berita sejak jaman dulu, film dengan tag based on true story semacam ini bisa menjadi alat menambah pengetahuan meski terlambat. Menonton film ini ada tiga judul film lainnya yang paling sering muncul di kepala. Pertama, Dark Water versi Jepang tahun 2002 silam. Hanya sebatas persamaan judul semata, kalau soal konflik benar-benar jauh berbeda. Kedua, A Civil ACtion (1998) dengan aktor John Travolta, kurang lebih konfliknya sama. Dan, film The Insider dengan aktor Russell Crowe nya. Film ini berkisah tentang perjuangan seorang pengacara biasa, Robert Bilott, yang mendapatkan seorang klien istimewa yang datang dengan awal perkenalan tida

Welcome to Harlow

Selang kurang lebih tujuh tahun lalu dari sekarang adalah Movielitas menikmati sajian sejarah Texas Chainsaw Massacre. Seorang pembunuh sadis yang dikenal dengan julukan Leatherface dengan trademark topeng wajah dari kulit manuasia dan sejata gergaji mesinnya. Sudah banyak remake yang dibuat untuk Texas Chainsaw Massacre ini, terakhir Movielitas menonton versi tahun 2006 . Dan tahun ini lagi-lagi di- remake lagi dengan menyesuaikan kondisi terkini antara lain sudah ada penggunaan ponsel, internet, dan media sosial di dalam alur ceritanya. Jadi, seolah-oleh sang Letaherface ini "terus hidup" dari masa ke masa.  Versi 2022, tetap sama. Plot dan alur ceritanya tidak mengalami perubahan. Gaya thriller-nya hampir seragam dengan gaya thriller Hollywood pada umumnya. Dari awal film bergulir, tugas penonton hanya menebak siapa yang akan menjadi lakon utamanya akan mendapat porsi sorot kamera lebih banyak. Lalu, selanjutnya tinggal menunggu detik-detik dentuman kemunculan sang Leat

Pelajaran tentang aliran dana untuk belajar mengajar

Uang. Ingin punya uang, masih tetap jadi salah satu akar permasalahan dalam hidup manusia selain nafsu perut dan bawahnya. Juga based on true story, masih jadi favorit Movielitas dalam menonton film yang kadang salah tapi kadang banyak benarnya cerita film based on true story itu bisa menarik minat tonton. Kali ini berkesempatan menonton film garapan sutradara Cory Finley yang mengangkat kisah nyata seputar dunia pendidikan di Amerika Serikat. Tanpa membaca sinopsis nya terlebih dahulu, alur cerita di film pada bagian awal terasa sangat membosankan. Entah arah ceritanya akan dibawa kemana. Apalagi ketika dimunculkan konflik seputar "orientasi seksual", Movielitas mulai sedikit kurang tertarik melanjutkan acara menonton film. Movielitas berpikir bahwa mungkin arah film ini akan bercerita seputar kehidupan dan konflik seksual yang dihadapi oleh pejabat teras di salah satu sekolah tinggi di Amerika sana. Tapi ternyata Movielitas tertipu. Ternyata konflik utama film ini jauh lebi

Necrofungus psilocybelis

Kali ini sebuah sajian negara Jerman. Berkisah tentang seorang anak muda yang besar dengan trauma masa kecil menyaksikan dan terlibat dalam kematian kakaknya. Alur cerita dalam sajian horor kali ini menurut Movielitas terasa kaku. Plot cerita juga kurang menarik. Horor yang disajikan hanya bermain di area spesial efek dan mengandalkan adegan kejut (jumpscare) yang bertebaran di banyak sesi. Movielitas semakin tidak bisa menikmati jalan cerita saat harus menonton adegan horor yang dilanjutkan dengan adegan bercinta tiga orang alias threesome. Bukan tidak suka dengan adegan panas-nya, melainkan tidak cocok saja antara adegan threesome dengan adegan horor sebelumnya. Overall, sebuah sajian horor yang kurang menarik, kaku, dan tidak jelas konflik ceritanya. The Privilege (2022) – 4/10

Kisah kelam saudara tiri Bruce Wayne

Kesan pertama seusai menonton film ini, keren. Memang patut diacungi dua jempol . Movielitas mengetahui kualitas film ini sebelumnya dari berbagai review dan cuplikan sepotong-potong adegan yang dijadikan berbagai macam propaganda di aneka media sosial.Dan, baru kali ini mendapat kesempatan menonton dan menilai sendiri kualitas film garapan Todd Phillips. Film ini kalau dinilai berdasarkan plot cerita, versi Movielitas, sebenarnya biasa saja. Meskipun kita mengenal siapa Joker sebelumnya, tapi film ini bukan seperti layaknya film superhero umumnya yang penuh dinamis aksi laga dan pernak-perniknya. Justru disini lebih dominan drama. Yang membuat film ini menarik, setidaknya film ini mampu membuka dimensi baru terhadap latar belakang sosok musuh Batman ini. Sebelumnya Movielitas hanya tahu sosok Joker, sebagai musuh Batman. Itu saja. Dan, disini baru ada semacam pencerahan mengapa Joker menjadi musuh Batman. Apakah latar belakang Joker memang benar adanya seperti yang diceritakan disini?

Train To Busan

Film dari Korea. Seingat Movielitas, film The Host adalah salah satu film Korea yang berkesan dalam ingatan karena faktor permainan spesial efek yang tidak kalah dengan Hollywood. Sementara yang bisa Movielitas ingat dalah film The Host... Film ini juga kembali memantapkan Korea tidak hanya jago dalam mendramatisasi film genre apapun, disini kembali dipertunjukkan permainan spesial efek yangtidak kalah canggih nya dengan The Host. Meski levelnya, versi Movielitas, sedikit di bawah The Host. Sedikittt saja... Mengikuti jalan cerita film ini, mudah saja. Plot nya sederhana sekali. Alur cerita juga mainstream banyak dipakai. Satu demi satu tokoh utama dimunculkan, ditempatkan dalam satu wadah, kereta. Lalu konflik utama dimainkan. Tidak ribet. Tetapi tetap saja, Korea pasti menelusupkan unsur tangis menangis dramatisir mendalam di jalan ceritanya. Bagaiman pun juga harus mengharu biru...  Overall, lumayan bagi pecinta film Korea. Bagi Movielitas yang menonjol adalah penampilan Don Lee. Se

Sebuah kebanggaan di atas ketidakadilan

”Jika seseorang terpanggil untuk menjadi penyapu jalan, hendaklah ia menyapu jalan sama seperti Michaelangelo melukis, Beethoven bermain musik, atau Shakespeare menulis puisi.  Ia harus menyapu jalan dengan begitu baik sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk berkata, ’Di sini tinggal penyapu jalan hebat yang melakukan pekerjaannya dengan baik.’” Ini adalah kata-kata Marthin Luther King Jr.,  pejuang hak sipil dan antidiskriminasi di Amerika Serikat dan penerima Nobel untuk perdamaian pada 1964.   Saat menonton film ini yang ada di kepala Movielitas adalah ingatan seputar kalimat di atas. Entah dimana pastinya Movielitas pernah membaca kalimat di atas. Movielitas lupa tapi itu kurang lebih menggambarakn sedikit dengan apa yang ada di film ini. Dan terjadi lagi... Terhanyut oleh sajian berkualitas tinggi dari aktor dan sutradara gaek, Clint Eastwood. Terutama seperti di film ini, based on true event, benar-benar mengena. Luar biasa. Film ini berkisah tentang ki

Melepas prahara masa lalu di tengah pandemi

Mungkin kalau tidak keliru, ini adalah film pertama yang Movielitas tonton dan berlatar belakang pandemi Covid-19. Bukan sebagai konflik utama ataupun tema besar dalam film, pandemi Covid hanya digunakan sebagai background saja. Dan film nya keren. Sangat bagus. Berkisah tentang seorang ibu,Pin-Wen, yang hidup mewah bersama seorang anaknya, WangJing. Pin Wen merupakan janda yang ditinggal suaminya untuk menikah dengan wanita lain. Namun, dikarenakan situasi pandemi serta kondisi psikologis Pin Wen sendiri sejak ditinggal suami serta kondisi finansial, menimbulkan prahara antara ibu dan anak. Alur ceritanya unik. Di awal seperti ada masalah yang semi-horor dan fokusnya lebih ke sang anak, Wang Jin, yang tampil cantik imut manis menggemaskan berponi kuda. Tapi di tengah alur, situasi cerita berubah drastis. Minimalis. Itu yang Movielitas favoritkan dari film ini. Tidak banyak tokoh yang dipasang. Meski minimalis bisa menarik rasa penasaran dan ikut hanyut dalam drama ibu-anak. Akting Aly

5 Judul Film Bertema Zombie

Photo Romolo Tavani Zombie. Zombie adalah karakter jadi-jadian yang identik dengan mayat hidup. Orang yang sudah mati hidup kembali dan setiap terkena gigitan mereka maka yang tergigit akan menjadi zombie juga. Itu gampangnya mengartikan zombie. Ada beberapa film tema zombie yang pernah Movielitas tonton. Agak sedikit lupa-lupa ingat. Pastinya Movielitas coba rangkum film-film bertema zombie dengan berbagai macam genre. 1. World War Z (2013) Berkisah tentang karakter Gerry Lane dan keluarga yang terjebak di kepungan zombie-zombie. Film ini lebih ke arah permainan drama dan kecanggihan spesial efek yang megah. Lumayan menarik film ini. 2. I Am Legend (2007) Sesuai judulnya, mungkin ini salah satu film yang paling legend di kelas per-zombie-an. Film ini dulu bagi Movielitas cukup fenomenal. Karena yang Movielitas bisa ingat dan kalau tidak keliru, yang membuat film ini menjadi hits adalah sesi kota mati nya. Tidak tanggung-tanggung kota mati yang dipilih adalah New York. Dan memang film

Hal-hal kecil yang berakibat tidak kecil

Alasan utama memilih untuk menonton film ini sudah pasti adalah Denzel Washington. Movielitas adalah penggemar karya film yang dibintangi Denzel. Kalau dulu banyak karya yang memorable dari Denzel, seperti Man Of Fire , American Gangster , Inside Man , atau John Q . Kali ini Denzel bermain sebagai seorang polisi senior, Joe Deacon, dengan background hitam di karirnya. Muncullah sebuah kasus pembunuhan yang masih belum terpecahkan dan memaksa Deacon kembali beraksi. Film Denzel kali ini bagi Movielitas termasuk kategori "berat abu-abu". Berat karena sepertinya tidak cukup sekali memahami konflik misteri pembunuhan disini. Tak semudah memahami konflik dalam film Man Of Fire. Terutama bagian awal pelacakan tokoh Albert Sparma. Di bagian itu Movielitas sudah loss story, tiba-tiba muncul tersangka. Kalau di bagian awalnya sudah bagus untuk Movielitas. Kemampuan Deacon melihat hal-hal kecil membuat karakter Deacon ini seperti memiliki keahlian pemecah kasus kriminal yang menarik un