Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Gara-gara rekaman rahasia

Segar. Menghibur. Kocak. Komplit. Gagal bergaya gangster, gagal romantis pula. Sederhana inti ceritanya, pengembangannya yang luar biasa. Kesan serius di bagian awal, diputar balik penuh kekonyolan BoneHead dan Fencer. Belum lagi gaya gagal romantis ala Dong Moo yang tak berdosa. Who's Got The Tape (2004) - 7/10

Menyalahkan kebenaran demi buah hati

Pertanyaannya selalu sama tiap habis menyimak film Korea ini, kenapa harus minta tebusan "pembebasan" kalau tahu pembunuhnya? Mengapa pula pisau pahat itu disembunyikan? Film ini memuat konflik yang berlika-liku dan menarik, meski penulis juga alami missing link story -nya. Diputar balik masih tetap sama. Yang paling berkesan disini adalah sesi opening case-nya. Film berjalan biasa, ceria, lomba maraton, lalu tiba-tiba suasana film berganti....hilang,lenyap,dan misteri. Twist -nya sendiri bagus, tapi kembali lagi, mengapa minta "tebusan" pembebasan tersangka? Mungkin, versi penulis, adalah untuk membuktikan bahwa Yoo-Ji Yeon ini adalah pengacara spesialis. Pengacara sukses spesialis membebaskan "penjahat". Pesan film ini adalah jangan lupakan anak sesibuk apapun. Bila dibuat pepatah, you don't know what you get until it's gone. Seven Days (2007) - 7/10

Sebelumnya di kediaman Kristi...

Judulnya memang memakai angka 2. Namun ceritanya justru "terbalik". Disini justru menceritakan apa yang terjadi atau kaitan kejadian sebelum kematian Micah. Menyambung dari yang pertama tentang kakak Katie Sloat. Ini adalah sedikit film yang mampu menggebrak seri pertamanya . Disini horor yang ditampilkan lebih menggigit dan melebihi pertamanya. Paling berkesan bagi penulis antara lain, Abby. Sumpah, anjing ini keren sekali. Membuat iri hati untuk ikut memiliki. Sangat terlatih. Anjing ini seolah "menjaga" si bayi keluarga Kristi. Nice dog . Gaya dan konsep ceritanya memang memakai gaya yang pertama. Kemudian, karakter sentral disini adalah Kristi yang merupakan saudara kandung Katie di seri pertama. Hanya saja dengan tambahan Abby dan Hunter disini bagi penulis horornya jauh lebih terasa. Karena tentu saja, Abby adalah seekor anjing dan Hunter adalah balita, yang notabene akan "sulit" untuk diajak berakting horor. Namun, penampilan "

Cintaku bukan taruhanmu

Klasik. Masih asyik. Cerah. Renyah. Musik dan gaya cerita dinamis. Seputar cinta-cintaan para remaja di sekolah. Sepasang kakak-adik, Kat dan Bianca, yang memiliki sifat bertolak belakang. Konfliknya sederhana saja, Bianca memiliki banyak penggemar dan gaul, namun keinginannya untuk gaul lebih lanjut terhalangi oleh sikap aneh sang kakak yang tertutup. Untuk alasan gaul lebih lanjut, Bianca memberi tugas pada salah satu fans nya, Joey, untuk mencarikan pacar jalan untuk Kat. Konsepnya standar. Senang-senang dulu. Cerah-cerah dulu. Kemudian, taruhan dipasang. Dapat. Mesra. Ketahuan. Patah hatiku mencintaimu. Naik lagi. Komedinya menjual hal-hal freak , aneh, dan tidak wajar yang kemudian dikontraskan dengan hal lazim. Mungkin untuk jaman film ini beredar akan terasa "dapat" komedinya. Tapi, bila dinikmati saat ini, kurang begitu mengena. Paling berkesan di film ini adalah gaya romantis Heath "Joker" Ledger yang bernyanyi " Can't Take My

Driver tanpa kompromi

Apa bagian endingnya memang begitu ya? Hening. Gelap. Tanpa ending credit ? Atau emang kena yang " ra jangkep "? Karena memang pada durasi 1 jam menit sekian terasa ada yang janggal. *Sekejap moodless Kalau dari konsepnya terasa biasa saja. Perkenalan intro dulu tentang karakter yang berprofesi banyak. Supir ala Transporter , stuntman, dan mekanik. Baru masuk bumbu manisnya romantika jatuh cinta lalu konflik. Konfliknya seputar hutang dan mencintai wanita yang telah bersuami namun lagi-lagi terkena virus hutang. Alur cerita berjalan persis dengan tema sang karakter utama. Dingin, kalem, datar. Aksi laga yang dimunculkan dalam beberapa momen terasa lamban dan kaku. Yang unik disini, isi film boleh dikatakan cerita jantan, namun opening credit -nya justru memakai warna pinky . Penulis terkesan dengan gaya unik Ryan Gosling sebagai driver . Dingin. Irit wicara. Datar kala dialog. Kesan dingin yang dibawakan Gosling cukup bagus. Dingin namun memiliki kema

Perang lokal sang marinir

Konflik yang ada di dalam film ini mengingatkan pada gaya Walking Tall . Marine come back to home . Tapi tentu saja beda tema. Come back -nya dibedakan. Disini dilengkapi isu disorientasi seksual yang mengakibatkan gugur tugas. Lainnya yang membuat senada dengan Walking Tall adalah bermasalah dengan lokal. Hanya saja disini konfliknya terlalu lebar. Banyak konflik jadi satu. Konflik sepele adu panco, konflik sosial dengan troublemaker lokal, konflik militer, konflik seksualitas. Dibandingkan dengan Walking Tall, jelas disini lebih feminim. Lebih soft dalam aksi hanya mengandalkan sisi drama dilemanya. Lepas masalah satu untuk mendapatkan masalah lainnya. Yang paling penulis suka disini adalah landscape rumah Everett yang benar-benar luar biasa pemandangannya. Perfect. Perbukitan. Jauh dari keramaian kota. A Marine Story (2010) - 5/10

Bekerja untuk perusahaan berdarah dingin

Kalau dari ceritanya, seperti terasa biasa saja. Tidak jelek tapi juga tidak terlalu bagus. Standar saja. Tapi, gaya So Ji-sub sebagai Hitman memang harus penulis akui sangat pas. Dingin sekaligus mematikan. Gaya aksi laga baik tangan kosong maupun dengan senjata api ala Korea ternyata memang tidak kalah dengan Mandarin ala Jackie Chan. Dan, memang terasa taste actionnya berbeda. Memiliki gaya tersendiri. A Company Man (2012) - 6/10

Backpacker murder

Yang menarik disini adalah karena diinsparasi kisah nyata tentang pembunuh serial . Digambarkan bergaya koboi dan berdarah dingin. Keep it simple line story . Dari alur cerita standard saja. Umum. Travelling muda-mudi. Chit chat flirt seksi kemudian bloody hell . Menarik lainnya, sempat tertipu dengan tebakan siapa kiranya yang bakal survive. Unpredictable . Wolf Creek (2005) - 6/10

Pahitnya cinta manisnya takdir

Salut. Luar biasa. Salah satu film Korea favorit. Kisahnya luar biasa unik. Digambarkan dalam 3 babak besar. Babak pertama disebut cinta. Dimana babak ini digulirkan dengan cerah namun ada sisi menyakitkan. Kemudian disambung dengan kisah takdir mengiris menyayat selaput hati yang merupakan "penjelasan" babak cinta. Dan terakhir, babak terakhir, babak ketika cinta dan takdir bertemu. Manis. Kocak. Antara babak indahnya cinta, pahitnya cinta , dan manisnya takdir ditampilkan dengan rasa dan kualitas baik. Tak sembarang film komedi romantis bisa menciptakan rasa tersendiri seperti disini. Kwang-Sik. Di karakter ini, penulis melihat manisnya masa-masa jatuh cinta kepada karakter Yoong Yung. Asli tingkah polah Kwang-Sik dalam memendam rasa disini menimbulkan greget tersendiri. Hidup di dalam cinta bertepuk sebelah tangan. Manis di masa jumpa dan memendam rasa, namun pahit saat tahu cinta tak terbalas oleh karena takdir konyol. Kwang-Tae. Adalah adik dari karakter

Kembali Ke Bali

Dulu sekitar tahun 2005 adalah awal "berlibur" ke Bali selama hampir saja empat tahun lamanya. Sebelumnya, yang penulis mampu ingat adalah Liburan ke Bali pertama sekitar tahun 1990. Tepat saat Piala Dunia Itali. Tak banyak yang bisa penulis download memori saat itu. Kedua, sekitar tahun 1999. Saat itu murni berlibur juga. Masih sama, tak banyak memori yang bisa penulis ingat karena saat itu belum ada handphone dan sebagainya sebagai penyimpan memori. Ketiga, sekitar tahun 2000. Saat itu adalah saat menentukan masa depan suram. Pendaftaran masuk Perguruan Tinggi. Kala itu penulis mengambil pilihan mendaftar di dua perguruan tinggi terkenal di Bali. Pulang dengan tangan kosong alias sukses ditolak semua. Keempat, sekitar tahun 2001. Dengan perjuangan keras, penulis menorehkan sejarah saat itu. Akhirnya berhasil merampungkan semester tiga dengan bekerja magang di Kuta Paradiso Bali. Wow. It's miracle . Kisah magang ini terlalu panjang, namun me

Misi Natal mencari Turbo Man

Klasik. Namun masih cukup menghibur. Cerah dan konfliknya ringan. Memasang nama kekar Arnold Schwarzenegger sebagai sentral cerita dan dipugar menghilangkan kesan sangarnya memang menjadi senjata andalan film ini. Cukup bagus sebagai hiburan liburan Natal bersama keluarga. Hampir sepanjang durasinya, film ini "menyembunyikan" otot dan kesan action Arnold meski konflik cerita berwarna running and fighting namun masih ramah sebagai hiburan keluarga. Dan, akting Arnold sendiri cukup mampu berbaur dalam alur cerita menanggalkan kesan Terminator atau Predator-nya. Pesan moral film ini adalah bahwa keluarga bukanlah pelanggan nomor satu melainkan segalanya. Dan, Natal adalah waktu berbahagia bersama orang-orang tercinta, masa keajaiban tiba dan saatnya untuk berbagi dengan sesama. Jingle All The Way (1996) - 6/10

Napak tilas Natal

Bila di Hari Paskah, mungkin akan ada film Passion Of Christ dari Mel Gibson dan di Hari Natal maka ada film ini. Tentang perjalanan awal bertemunya dua insan manusia dari Nazareth, Yusuf dan Maria, yang kemudian menerima anugerah mengandung buah hati dan diberi nama Yesus. Dan, sejauh yang penulis simak, keseluruhan film ini seperti memvisualkan apa yang telah tertulis. Memang film ini terasa hanya untuk kalangan tertentu, namun tak ada salahnya bila disimak oleh siapapun. Sekedar menambah wawasan dan perenungan. Salah satu pesan moral disini adalah keajaiban untuk yang percaya. The Nativity Story (2006)

Mimpi indah Ebenezer

Di tangan Disney, sebuah kisah Natal tidak harus dengan kisah mewah. Tidak harus dengan kisah romantis di sebuah apartemen dengan desain minimalis mahal, tidak harus dilengkapi kisah cinta dewa dan dewi di istana surga dengan mobil mewah. Tidak harus dengan kisah Santaklaus atau juga tidak harus dihiasi dengan pohon Natal atau juga dengan keajaiban super dramatis. Lewat film ini, Disney ingin menyampaikan pesan pertamanya, bahwa Natal itu tentang kehidupan sehari-hari. Dan siapapun bisa meraih Natal tanpa harus membelinya. Karena Natal bukanlah cinta jaman sekarang yang harus dibeli. Tapi, Natal for everyone . Tidak akan ada istilah jomblo dalam merayakan Natal. Film ini bercerita tentang sindiran kepada kita melalui karakter Ebenezer Scrooge. Scrooge disini digambarkan tidak mengenal kasih. Apalagi kasih Natal. Scrooge adalah seorang lelaki tua yang selalu muram, kasar, menakutkan, tidak ramah, tidak berperasaan, dan kikir. Sayangnya, Scrooge bernasib baik menjadi lelaki tua

Cinta harga mati

Sebuah perjanjian sejak jaman mereka masih bayi bahwa suatu saat mereka akan bersatu dalam ikatan cinta. Cinta gilak . Gilak sekali . Cinta itu buta. Membabi buta. Akting emosional dan jatuh cinta gilak tingkat langit Cha Tae Yun disini cukup menawan dan kocak. Meski tingkat kegilaannya kadang terasa komik atau berlebihan. Tapi memang Korea memiliki taste berbeda dalam menampilkan karya filmnya. Untuk hal romantis seperti disini, memang ditampilkan gilak . Mengejar cinta mati. Dari skala kecil kemudian berjenjang naik seperti kurva grafik naik-turun-naik. Tapi mungkin film ini sedang menyindir kenyataan, bahwa memang ketika ada cinta melanda, maka akan "berada" pada posisi karakter Tae-il di sini. Crazy First Love (2003) - 6/10

Menolak Ganush, Lamia bertindak

Menyaksikan horor di garapan sutradara Sam Riami ini memang terasa beda dari horor yang umum. Dari alur ceritanya biasa. Cuma ada sedikit taste humor dalam horornya. Kental sekali dengan pengisian suara secara tiba-tiba dengan kapasitas volume yang cukup besar sebagai pengiring efek kejutannya. Seperti aum-an harimau, scream , growling , screech . Lainnya yang menonjol adalah horor dengan tempelan visual efek yang fresh. Drag Me To Hell (2009) - 7/10

Hantu rumah sakit jiwa

Dari awal sebenarnya menggelikan melihat ceritanya. Ada 5 wanita menjadi penghuni rumah sakit jiwa. Cantik-cantik. Mau deh jadi penjaganya. Cantik-cantik pasien sakit jiwa. Kompak. Mereka joget bersama, ada yang joget seksi ada pula yang joget ga jelas. Mereka mandi bersama juga kompak menghadap tembok shower masing-masing. Diantara kelimanya yang paling cantik jatuh kepada...Sarah. She's the hottest one. Konsep horornya sebenarnya jatuh standard di bagian awal. Sedikit jenuh. Satu per satu menjadi korban lalu hilang. Tetapi, bila memang disimak hingga akhir, yang menarik di film ini adalah bagian twist-nya. Meski sedikit meninggalkan tanya tentang Dr.Harris yang "bisa" meng-absen penghuni rumah sakit. Penulis juga salah menebak twist film ini dan itulah sisi menariknya, unpredictable . The Ward (2010) - 6/10

Sumpah Jerry untuk Ginny

Awalnya menarik. Di opening act nya muncul beberapa nama kawakan, mulai dari Jack Nicholson , Aaron Eckhart , Benecio Del Toro , dan sang sutradara Sean Penn . Kisah awal tentang ditemukannya seorang bocah wanita yang tewas mengenaskan bernama Ginny. Jerry Black kemudian disumpah oleh orang tua Ginny untuk memecahkan kasus tersebut dan menangkap pelakunya. Sampai disitu, sepertinya bakal ada cerita yang menarik kemudian. Tetapi semakin masuk ke dalam cerita, konfliknya semakin kurang memikat. Kurang fokus. Atau mungkin bukan tipe penulis. Crime mistery seolah berubah menjadi drama kegalauan karakter Jerry yang menjadi pensiunan polisi setempat. Hidup sendiri. The Pledge (2001) - 5/10

Rahasia gelap dalam rumah gelap

Yang menarik dari film latin ini adalah ke-minimalisannya. Unik. Serba minimalis. Begitu film dibuka, sedikit saja dialog. Minim. Karakter pemain yang diluncurkan ke dalam alur cerita pun minim. Konflik cerita juga terasa minim. Sebenarnya ada konflik keluarga, namun kurang begitu jelas maksudnya. Dan yang menonjol dari film ini adalah juga minim cahaya. Minim kamera. Sepanjang film terasa hanya ada satu kamera yang dipanggul atau dibawa mengikuti gerak kegelisahan Laura menelusuri rumah gelap tanpa penghuni di tengah hutan. Tanpa sebab tanpa alasan dan tanpa penjelasan, Wilson dan anaknya Laura, memasuki sebuah rumah tua. Kemudian cerita berubah suasana menjadi misteri. Horor yang dimunculkan dalam beberapa scene memang terasa "kurang ajar". Boleh, menarik dan cukup mengejutkan. Paling berkesan bagi penulis adalah adegan Laura yang terjebak dalam sebuah ruangan gelap dan hanya mengandalkan pencahayaan dari sebuah kamera polaroid. Kilatan flash demi flash kam

L'immortel

Kesan pertama dari film ini awalnya menarik. Jean Reno sebagai karakter Charlie Mattei ditembak dengan puluhan peluru namun masih bertahan. Kemudian cerita diekspetasikan akan berjalan cepat dengan nuansa revenge yang kental. Tetapi semakin ke dalam, semakin kurang menarik lagi. Meski ada nama Luc Besson di jajaran film, tapi tidak seperti gaya film Luc yang kadang bermain dengan aksi cepat dan simple. Disini kisah balas dendamnya kurang simple, konfliknya terlalu besar dan berjalan pelan. Kurang easy watching. Mungkin perlu 2-3 kali menontonnya untuk memahami alur ceritanya. 22 Bullets (2010) - 5/10

Tak ada masalah dengan rumah tetapi penghuninya

Setidaknya untuk saat ini, horor minimalis versi Oran Peli ini adalah yang paling berkualitas dalam minimalitas. Ada yang bilang, film ini adalah ekor dari gaya film The Blair Witch Project. Apa yang membuat penulis suka adalah beda. Unik. Menjadi beda itu biasa. Banyak film yang bertampil beda, dalam konteks horor, namun ujung-nya jatuh standar saja. Film ini menampilkan gaya kamera handy cam. Gaya ini seakan "membunuh" bahwa ini adalah sebuah film, kesan yang muncul memang terasa seperti dokumenter atau found footage. Minimalis. Lokasi di satu tempat saja. Minim pemain, sepengamatan penulis, 2 karakter utama, Micah dan Katie. Lalu, karakter rekan Katie dan seorang cenayang. Natural. Terutama horornya. Horor yang ditampilkan disini sangat natural. Mengalir seperti kehidupan rumah tangga sehari-hari. Konflik suami-istri terasa natural. Horor yang dimunculkan tidak rapat dijejalkan pada alur cerita. Tetapi sedikit demi sedikit dengan skala yang berurutan m

Satu malam saling menggigit saling menulari

Konsepnya sederhana saja. Ceritanya bersetting one night story . Chit-chat seputar remaja dalam 1/4 bagian kemudian 3/4 diisi dengan bloody hell teror dalam rumah. Sebagai selingan penambah durasi ada tampilan cantik+seksi dan konflik keluarga. Dari 7 karakter muda kemudian jatuh satu per satu "menunggu" siapa survivor -nya dan siapa pelakunya. 13 Jam disini mungkin menunjukkan lamanya survive dalam cengkeraman teror. Penampilan botak Sarah terasa "kurang halus" lapisan topeng disamarkan dengan darah dan nude -nya juga separuh nanggung. Setelah sampai di penghujung, penulis spontan teringat cerita keluarga bertaring tajam di Twilight. 13 Hours (2010) - 6/10

Sebuah sore yang merubah hidup

Film yang menarik. Komplit dengan campuran rasa yang renyah. Cocok untuk penambah wawasan sedikit perenungan bagi penonton dari remaja usia 13 tahun ke atas hingga para dewasa. Ada rasa drama good deeds , ada konflik selfish , ada rasa komedi, ada romantis remaja, ada rasa mistis juga namun tidak dalam kerangka bloody horror tetapi comfort touched by an angel . Yang menjadi pesan moral utama dalam film ini adalah jangan menjadi pribadi yang egois. Mengerti orang lain mungkin sulit namun akan jauh lebih sulit bila "disentuh" malaikat seperti di film ini. Karena jauh di bawah masih banyak yang kurang beruntung. Bagi para orang tua, mungkin yang bisa diambil pesan dari film ini adalah tentang anak bahwa tidak selamanya apa yang kita harapkan kepada anak bukanlah yang terbaik bagi mereka. ***Satu lagi, seandainya saja memang ada angel yang cantik seperti ini kemudian bisa memindahkan jiwa ini ke keluarga kaya raya...... A Walk In My Shoes (2010) - 7/10

Pengalaman perih Tipton Three

Penampilan film dokumenter karya sutradara Michael Winterbottom ini memang sangat "menonjok". Sangat dekat dalam memberikan gambaran realita yang dulu ada. Alur cerita pun "memperparah" realita tersebut. Tentang pengalaman 3 orang keturunan Pakistan yang justru hidup di Inggris namun akibat dari tragedi 11 September 2001 ikut merasakan "getahnya". Mereka ditangkap,disiksa,diperbudak, serta dipaksa untuk mengaku. Kehidupan mereka dirampas selama beberapa bulan untuk hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh pihak militer AS. Selain kisahnya sendiri, hal yang lain yang berkesan bagi penulis adalah masa perjalan sekawanan dari Inggris ini. Hanya demi pulang kampung, mereka "berjibaku" dengan terik matahari dan jalanan berdebu. Berpindah dari satu angkutan ke angkutan lain. Diperparah dengan aksi "salah tangkap paksa" mereka diterbangkan ke Kuba, untuk kemudian disiksa dipaksa mengaku. Mungkin yang dikisahkan dalam film

Bad Boys

Salah satu film yang cocok sebagai hiburan fresh. Alur cerita, konflik polisi-penjahat-narkoba-pembunuhan-nya tidak terlalu fresh, hanya duet komedi Will Smith dan Martin Lawrence yang membuat film ini menghibur. Bad Boys (1995) - 6/10

Imajinasi dan angka

Film ini awalnya terasa berat dan berat dicerna. Kurang menarik minat. Tetapi itu hanya sekitar satu jam setelah film berjalan. Atau sekitar hampir 50% dari durasi film utuhnya. Berikutnya baru film terasa indah. Seolah awan mendung tersingkap dan keluar sinar matahari. Algoritma. Aljabar. Matematika. Rumus. Fisika. Kimia. Persamaan. Perkalian. Pembagian. Equilibrium. Teori Governing Dynamics. Enkripsi kode. Berat. Kejeniusan membawa John kepada dunianya sendiri. Kejeniusan John membawa kepada predikat aneh. Kejeniusan John membawa pada bahan olok-olok. Kejeniusan John banyak melahirkan pandangan pemikiran baru. Kejeniusan John menarik hati seorang wanita hebat, Alicia. Kejeniusan John membawanya pada dunia delusi. Kejeniusan membawa John kepada dunia paranoid. Kejeniusan John membawa John pada dunia top secret confedential negara. Kejeniusan John dicap sebagai penyakit schizophernia . Kejeniusan John membawa kepada kefrustasian. Kejeniusan John membawa kepada duni

Perjuangan hidup di tanah asing

Nama Jackie Chan memang identik dengan aksi laga dicampur komedi. Awalnya, ekspektasi film ini memang begitu. Namun, ternyata keliru besar. Entah memang kejadian nyata atau bukan, tapi film ini menceritakan tentang imigran Cina yang mencari hidup baru di daratan Jepang. Keberadaan mereka ternyata menimbulkan gesekan terutama dengan geng mafia terkenal dari Jepang, Yakuza. Lumayan, cerita berjalan berkembang dengan konflik yang menarik. Ada konflik persaudaraan, ada konflik percintaan, dan konflik geng. Paling emosional buat penulis adalah cerita tangan dibayar tangan. Jackie Chan sendiri juga tampil menawan dengan akting dramanya. Ekspektasi melihat jurus-jurus aksi Jackie ternyata tidak ada disini. Yang ada hanya akting pure Jackie yang drama. Meski begitu dengan tema cerita disini akting Jackie sangat bagus. The Shinjuku Incident (2009) - 8/10

Bersalah atau tak bersalah?

Film ini menarik bila konflik yang diangkat hanya seputar Berlin. Misalkan, misteri pembunuhan Berlin. Tetapi tidak begitu, karena film ini juga mengangkat kisah misteri kematian yang lain yang dikaitkan dengan sistem hukum di Texas. Drama yang cukup berat. Sedangkan yang masih berat dicerna adalah, tujuan kematian Constance. Kaitan kasus Berlin. Dustin Wright yang tidak tersentuh hukum. Dan video rekaman Constance yang long version . The Life Of David Gale (2003) - 6/10

Musuh itu masih di dalam selimut

Memang sengaja belum memilih seri keduanya . Alasannya karena tiada nama Andy Lau di jajaran cast nya. Juga minus Tony Leung. Di seri ketiganya, memang ada Andy Lau dan Tony Leung. Ditambah lagi karakter baru oleh Leon Lai. Kisahnya pun masih seputar intrik Lau Kin Ming dan Chan Wing Yan yang "saling" bertukar profesi. Inti cerita yang penulis tangkap disini adalah kisah selipan di Infernal Affair perdana. Namun, penulis paling kesulitan mencerna mengikuti timeline alur cerita di film ini. Melompat-lompat. Dari tahun 2002 lalu 2003, sebelum Wing Yan gugur dan sesudahnya. Membingungkan. Apalagi bila suasana hati kala menonton tidaklah mendukung. Semakin membingungkan. Dan, bila harus dibandingkan dengan seri perdananya, tentu saja kisah seri ketiga ini masih di bawah Infernal Affairs yang "asli". Infernal Affairs III (2003) - 6/10

Revenge's Game

Film aksi yang bercerita seputar balas dendam kesumat dengan gaya teka-teki babak demi babak. Hanya saja aksi dan teka-teki yang ditampilkan terasa datar saja. Hanya menang di aksi ledak-ledakan yang besar. Teka-tekinya kepanjangan, clue 12 babak menjadi gampang ditebak bagaimana akhirnya menjadi standard lakon selalu menang pada babak akhir. Tanpa twist apapun menyebabkan film aksi ini menjadi datar saja. 12 Rounds (2009) - 5/10

Masih berani. Masih bertugas. Masih tidak tahu apa-apa.

Masih bertugas. Masih diberi tugas. Hampir senada dengan yang pertama . Baik alur cerita maupun gaya failed James Bond -nya. Gaya Rowan sekilas mirip George Clooney. Masih menghibur. Johnny English Reborn (2011) - 6/10

Pukul 03.15 pagi ketika rumah itu "berbicara"

Sebuah horor yang boleh dikatakan menarik. Tentang sebuah keluarga kecil pasangan George dan Kathy Lutz yang menempati rumah baru mereka. Konfliknya seputar pengalaman mereka berada di rumah yang menyimpan misteri pembunuhan. Porsi jalan cerita dan horor ditampilkan berimbang. Jadi tidak terlalu memaksakan horor juga tidak terlalu jatuh ke sebuah drama. Kejutan demi kejutan horor diselipkan pas dan setidaknya tidak asal menyeramkan. Selain itu akting horor Ryan Renolds juga membantu membangun nuansa horor film ini. Lainnya yang menarik adalah film ini based on true event . The Amityville Horror (2005) - 7/10

Wing Chun yang tak sekedar cantik

Sepertinya ada salah paham. Pertama melihat judulnya terpikir bahwa akan ada film aksi laga mengenai aliran beladiri Wing Chun. Paling tidak akan bersaing dengan film Ip Man yang sangat menawan dalam aksi laganya. Tapi, ternyata keliru. Wing Chun disini memang menggambarkan aliran beladiri yang sejenis Ip Man, setidaknya itu yang penulis lihat. Dari segi gaya beladiri dan balok kayu sebagai latihan beladiri. Disini lebih menonjolkan taste komedi melalui karakter wanita ahli beladiri bernama Wing Chun yang bergaya tomboy. Kemudian dijodohkan dengan lelaki yang "lembut". Hampir separuh awal film memang bernuansa cerah komedi. Baru setengahnya lagi digarap dengan konflik yang meluas dan lebih serius. Keseluruhan film ini biasa saja. Ceritanya dari segi alur juga terasa biasa. Aksi laganya ada yang kaku tetapi juga ada yang digarap maksimal. Penampilan karakter wanita (Jing Bai) sebagai ahli beladiri utama dalam film ini terbilang cukup mumpuni. KungFu Wing Ch

Bumi, Udara, Api, Air, dan Misteri

Pertama, penulis lupa cerita Da Vinci Code. Film nya pun tidak sempat terdokumentasi di media library. Mengapa jadi penting karena disebutkan bahwa film ini merupakan sekuel The Da Vinci. Kedua, film ini mengingatkan gaya misteri Se7en dimana ada Brad Pitt berduet dengan Morgan Freeman memecahkan kasus pembunuhan berantai dengan clue demi clue yang dibuka lewat korban pembunuhan. Disini, juga seperti itu. Hanya saja tidak "seringan" cerita di Se7en yang masih mudah diikuti. Disini pembahasannya lebih berat seputar keberadaan struktur keagamaan di Vatikan dan diikuti serial pembunuhan dengan kode yang harus dipecahkan. Bahasa dialognya pun juga masih berat bagi penulis. Ditambah dengan beberapa poin sejarah berat tentang Illuminati dan konflik yang seperti nuklir. Jadi, hanya bisa meraba bagian permukaan "air" tentang ambisi ( demon ) menjadi pemimpin agama dunia ( angel ). Angels and Demons (2009) - 6/10

Brandless tire killer

Seperti yang dikatakan berulang kali di opening film ini bahwa segala film berisi elemen no reason . Ladies and gentlemen, a film that you're watching today is an homage to the "no reason" Ceritanya absurd. Siluman ban yang membunuh. Kasar. Karena binatang "diledakkan" tak cuma itu tetapi juga kepala bahkan manusia. Entah bermaksud komedi atau horror. Kurang jelas. Rubber (2010) - 4/10

Takdir sayap cinta hingga nafas terakhir

Dimulai dengan seorang lelaki berumur yang membacakan cerita cinta antara lelaki muda, Noah, dan wanita muda nan cantik, Allie. Lika-liku kisah cinta putus-sambung manis-pahit suka-duka antara Noah dan Allie disini digambarkan dengan suasana mengharu biru yang bisa saja menguras air mata. Film yang cocok bagi mereka yang sedang berpacaran, baru pacaran, atau patah hati karena terserang gaya Siti Nurbaya. Bisa juga menjadi obat penyejuk bagi mereka yang sudah menikah. Karena cerita film ini memang berkisah tentang takdir cinta. Sayangnya, clue dalam film ini terlalu cepat dikeluarkan di tengah film. Mungkin akan lebih menarik sekaligus menjadi dramatis manis bila identitas Noah dan Allie dibungkus hingga akhir film. The Notebook (2004) - 6/10

Kekasih Hongkong Gangster Korea

Kalau di seri pertama memang ada unsur istri dan gangsternya. Yang kedua pun juga masih ada. Di seri kedua, kemunculan Zhang Ziyi seperti memberi clue bahwa seri berikutnya bakal ada pertemuan Mandarin-Korea. Dan, memang benar. Namun, yang muncul bukan lagi Shin Eun-kyung dengan gaya killer cantik nya lagi. Bukan juga Zhang Ziyi, melainkan Shu Qi. Kesan yang muncul di seri ketiga ini justru tidak sekuat seri pertama dan kedua-nya. Kehilangan gaya. Kehilangan trademark Shin Eun-kyung. Kehilangan geng gunting. Kehilangan karakter wanita dikelilingi anak buah yang setia mati. Cerita istri dan gangster pun tidak ada lagi. Kemunculan Shu Qi memang cool dengan gaya beladiri dan kecantikan dinginnya. Tapi bukan sebagai gangster. Lawan mainnya yang justru dibuat gangster, Lee Beom-Su. Yang menonjol disini tentu saja Shu Qi yang menarik perhatian dengan wajah cantik, komedi beda bahasa, romantisme serta gaya gangster kocak ala Lee Beom-Su. Dari segi komedi masih kuat tap

Petualangan Kumal dan Sangha

Sependapat bila dikatakan film ini adalah film keluarga. Ceritanya memang banyak pesan moral yang menurut penulis bisa sedikit direnungkan. Di satu sisi lainnya, penulis juga menyukai menonton film harimau yang tercipta sebagai predator "cantik". Kumal dan Sangha adalah saudara yang dibesarkan dengan konsep dan pribadi berbeda. Mereka sama-sama berasal dari perut hutan liar di Cambodia. Sesi kehidupan masa kecil Kumal-Sangha adalah bagian yang paling menarik bagi penulis. Diasuh oleh orang tua mereka yang ternyata juga memiliki kasih sayang layaknya manusia. Menggigit namun tak mematikan. Tingkah pola Kumal-Sangha kecil itu manja sangat menggemaskan. Bermain dengan ekor sang ibu atau juga bermain bola kelapa. Bahkan ketika kecil nafsu predator mereka belum nampak, jadi ketika diasuh oleh manusia, tingkah mereka hampir sama dengan tingkah hewan peliharaan seperti anjing atau kucing. Tentu saja,film ini juga berpesan bahwa mungkin saja Kumal-Sangha bisa ber

Kesendirian menjelang Natal

Ada 3 konflik dari 3 karakter dengan 3 kisah berbeda berjalan masing-masing seputar menjelang Natal. Memang dari ketiga cerita, semua menitikberatkan pada esensi Natal yaitu kasih dan keajaiban kasih. Semua kisah disini berbicara hampir senada yaitu kesendirian menjelang Natal. Tapi, diantara ketiganya yang paling menarik bagi penulis adalah konflik karakter Rose, karena lebih natural dan dapat diterima. Sedangkan konflik Mike disini awalnya terasa supranatural meski akhirnya kembali ke masalah kesendirian. Sedangkan konflik Cuppert yang memilih untuk memaksa ber-Natal di UGD terasa biasa. Memorable scene disini tentu saja kejutan sang bintang yang telah pergi, Robin Williams , dan sebagai memori penampilan Paul Walker . Noel (2004) - 6/10

Berlibur versi Bean

Bila dibandingkan dengan seri pertamanya, cerita Bean disini masih kalah menarik. Di seri pertama , kisah Bean lebih natural atau lebih masuk akal untuk dikomedikan ala Bean. Sisi dramatisnya bagus, dan kocak. Disini konflik berjalan dengan lompatan cerita yang cepat dan kurang natural. Entah konflik mana yang mau dijadikan tema utama, liburan, atau pencarian ayah, atau konflik sutradara Carson Clay. Komedi Bean masih tetap gayanya, hanya saja semakin ke dalam sisi usil Bean terasa biasa-biasa saja. Selain itu juga seperti berjalan sendiri di luar cerita. Kurang bisa berbaur dalam alur cerita seperti di seri sebelumnya. Mr.Bean's Holiday (2007) - 6/10

Kisah kasus di sekolah

Dulu, dulu sekali, film ini keren sekali. Apalagi ketika menonton di sebuah bioskop yang pas jaman itu sudah mewah di kota Sidoarjo. Keren karena waktu itu masih di Sekolah Dasar. Masih gemar meniru menjadi jagoan di sekolah meski tak mirip Stephen Chow disini. Puluhan tahun berlalu, keberadaan film ini terasa sulit dideteksi setidaknya buat penulis. Setelah ke sana dan sana tidak ada keping VCD film ini. Setelah lama menyerah mencari, akhirnya penulis beruntung dapat menemukan film ini juga. Meski harus dengan kualitas yang cukup memprihatinkan, namun setidaknya masih bisa ditonton dan teks terbaca. Gaya Stephen Chow memang unik. Gaya serius-nya mengundang tawa. Apalagi pas adegan "balapan nyontek" masih saja membuat terbahak lepas. Film lawas yang masih menghibur dan mahal untuk dilupakan. Fight Back To School (1991) - 7/10

Memburu duri dalam daging

Kalau sudah melihat versi originalnya mungkin akan lebih "mudah" menikmati karya Martin Scorsese ini. Memang tidak 100% mengadaptasi Infernal Affair . Ada beberapa bagian yang dibedakan, tapi secara garis besar hampir senada. Meski disini dikatakan berdasarkan karakter nyata. Banyak bintang hadir disini, Leonardo Di Caprio, Matt Damon, Mark Wahlberg, Martin Sheen, Jack Nicholson, Vera Farmiga, dan Alec Baldwin. Beberapa fragmen yang berbeda antara lain gaya mata-mata dalam kepolisian yaitu Collin "kehilangan" ciri khas yang dilakukan Andy Lau yaitu kebiasaan kecil menepuk-nepuk paha. Lainnya, keberadaan karakter Sersan Dignam yang tidak ada di Infernal Affair. Chemistry antara Leonardo dengan Jack Nicholson juga terasa beda dengan Tony Leung yang bergaya kalem di hadapan Eric Tsang. Persamaannya antara lain, pemakaian gips. Tony Leung sebagai mata-mata kepolisian dalam mafia juga memakai gips sebagai media penyampaian informasi kepada atasan, tapi

Berusaha

Seusai menyaksikan kisah Liz Gilbert, ada satu yang tertinggal dan masih terngiang. Secuplik penggalan dialog atau tepatnya narasi oleh Liz sendiri. Narasi itu terletak di bagian cerita karakter Liz ketika tiba di Italy. Diceritakan ada sebuah joke yang bermakna dalam untuk direnungkan. Penulis mencoba menguraikan dengan versi bebas. Alkisah suatu hari yang cerah, seorang lelaki datang menemui sebuah patung saint (penulis lupa persis nama patungnya), kemudian berlutut,: Ucap lelaki itu,"oh dewa, tolonglah hambamu ini, hamba mu ini ingin kaya (memenangkan lotere)" Mungkin, frekuensi doa lelaki tersebut terlampau sering, hingga suatu malam patung saint tersebut benar-benar mendatangi lelaki tersebut lewat mimpinya Ucap sang dewa,"oh lelaki, tolonglah dewamu ini, belilah tiket lotere..."

His soul is damned

Kurang bisa mengikuti jalan ceritanya. Kurang bisa menarik minat lebih dalam. Tentang setan yang terperangkap dalam kaca. Setting yang dipakai jaman dahulu kala tahun 1600an dengan polesan animasi yang modern. Solomon Kane (2009) - 5/10

Sedangkan di atas pesawat....

Di bawah sana, di sebuah gedung apartemen sedang terjadi peng-karantina-an akibat sebuah virus ganas yang ber-epidemi secara terstuktur dan masif. Sedangkan, pada saat hampir bersamaan, di atas sana, di dalam pesawat dengan kode terbang Flight 318.... Hampir sama konsepnya dengan seri sebelumnya. Ramai-ramai, terkurung, lalu satu per satu dijangkiti, kemudian datang medis, namun petugas medisnya pun akhirnya kena, dan seterusnya. Mungkin pembedanya hanya di ending . Meski disini, epidemi nya virus ditampilkan lebih sering dan rapat dalam durasi film, tapi menurut penulis masih lebih fresh di Quarantine . Quarantine II - Terminal (2011) - 6/10

Menjemput The Last Ryan

Sebuah film perang yang memorable hingga kini. Alur cerita, konflik, tema misi, situasi, serta akting pemainnya semua mendukung menjadi sebuah kesatuan film yang menarik. Sekilas teringat PC game favorit penulis yaitu Call Of Duty . Melawan rezim Hitler. Beberapa war scene serta lokasinya memang mirip dengan babak misi Normandy yang ada di COD. Temanya sederhana. Ada seorang ibu di kota Iowa, yang secara besar hati melepas keempat anak lelakinya untuk menjadi prajurit kemudian dikirim ke medan perang. Sebuah berita naas melaporkan bahwa ketiganya sudah gugur dan tersisa tinggal satu yang masih bertahan hidup. James Francis Ryan. Kabar duka tersebut sampai ke meja pucuk pimpinan angkatan bersenjata tertinggi. Misinya sederhana, menjemput James Ryan untuk kemudian dibawa pulang. Misi tersebut diembankan pada Kapten John Miller dan anak buahnya. Di atas kertas, misi tersebut sederhana, namun di medan perang tentu saja tidak semudah itu. Mencari seorang prajurit di medan

Cinta untuk semua, kapanpun, dan dimana-mana

Richard Curtis menyutradarai sebuah film yang berkesan. Tema Natal. Tentang cinta yang terjadi dimana-mana dan bertepatan dengan Natal dimana Natal adalah saat berkata sebenarnya. Pesan moral film ini sebenarnya ditaruh di awal. Bahwa sesungguhnya bila kita benar-benar mau mencarinya, akan sadari bahwa sebenarnya cinta ada dimana-mana. Tak ada sekat ruang waktu atau kasta untuk cinta. Cinta untuk siapa saja dan cinta ada dimana-mana. Entah mengapa, film ini sangat berkesan. Selain ceritanya menarik ringan renyah ramah sekaligus kocak. Banyak memori yang seperti menjadi "teman" bagi kehidupan di dunia nyata. Selain bertebaran bintang, yang paling berkesan bagi penulis adalah kisah cinta tak berbalas Mark (Andrew Lincoln) dengan Juliet (Kiera Knightley). Tak berbalas. Bertepuk sebelah tangan. Paling memorable adalah adegan ketika Juliet memaksa menonton video perkawinannya dengan Peter yang notabene adalah sahabat Mark. Seketika ketika itu juga rahasia cinta Mark

Petualangan Liss mencari kata-katanya

Tidak ada alasan lain penasaran dengan isi film ini adalah Bali. Sejauh mana pulau yang indah natural-nya ini diletakkan dalam posisi film Hollywood dengan bintang sekelas Julia Robert, James Franco, dan Javier Bardem ini. Bangga juga menonton Bali disini. Porsi Bali disiniboleh dibilang cukup besar. Kehadiran Christine Hakim dan Hadi Subiyanto semakin membuat bangga. Paling suka adalah pemandangan sawahnya yang menakjubkan mata. Eat Pray Love . 3 kata. Makan. Doa. Cinta. Seperti judulnya film ini juga terdiri dari 3 babak besar. Dimulai dari New York karakter Liss Gilbert mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dan sebagai obat untuk perubahan itu, petualangan Liss dimulai dari Italy kemudian India dan terakhir Bali. Selain Bali, yang menonjol disini adalah sesi makan-makan di Italy yang benar-benar menggugah selera. Apalagi spaghetti-nya nyamm . Kalau dari alur cerita dan isi ceritanya kurang begitu mengena minat penulis. Topik penyembuhan dari perceraian Liss

Masih keliru memilih jalan

Dibandingkan dengan seri sebelumnya, disini jauh ke bawah kualitas ceritanya. Kalah menarik sangat jauh. Di seri pertamanya, terlihat lebih natural dan lebih mencekam konfliknya. Tapi, disini terlihat digarap asal berdarah, asal sadis, dan tentunya lebih menjual keseksian aktris pendukungnya semata. Wrong Turn 2 (2007) - 5/10

Perjuangan di dalam nafsu

Kesan pertama usai menyimak adalah memuaskan. Durasinya panjang. Jalan cerita berliku dengan hook di luar dugaan. Bagus menarik. Ang Lee, Tony Leung, dan Tang Wei adalah bintangnya disini. Dalam satu film jalan cerita selain berliku juga padat. Karena banyak tema yang terpancar. Cinta, ada cinta tak sampai dan cinta terlarang. Memburu pengkhianat atas nama negara, ini pun harus dijalankan dalam dua kali misi. Mr. Yee diketahui sebagai sekutu Jepang dan dicap pengkhianat oleh kaum pelajar China. Adalah Kuang Yumin sang "sutradara" yang menyusun rencana membunuh pengkhianat negara dengan menyusupkan Wong Chia Chi ke dalam kehidupan pribadi Mr.Yee. Tema diatas kemudian diolah dengan durasi hampir 160 menit atau 2 setengah jam dengan alur yang menarik tidak membosankan. Apalagi tentunya dengan "hiburan" panas Tony Leung - Tang Wei. Akting tentu memegang peran vital. Paling berkesan adalah gaya serta gestur Tony Leung disini. Tak banyak aksi, tapi d

Beban dibalik insiden friendly fire

Melihat film ini mengingatkan pada gaya 2 film yang lebih baru namun ditonton lebih dulu. Gaya film ini seperti gaya John Travolta di film Basic dengan Samuel L.Jackson. Jadi ada sebuah kasus dalam tugas kemiliteran yang kemudian berbuntut menjadi misteri. Misterinya kemudian dibuka satu-per satu melalui kesaksian demi kesaksian. Kekuatan cerita dalam film terletak pada kesaksian yang ternyata berbeda satu sama lain. Hanya saja bagi penulis, konflik misteri dalam film ini masih kalah dibandingkan dengan Basic. Kedua, sejauh perhatian penulis gaya seorang militer kembali ke rumah. Berseragam lengkap. Membawa tas besar. Berjalan menuju pintu rumah. Kemudian sejenak membenarkan posisi sepeda anak-anak yang tergeletak di halaman. Adegan kecil tersebut mengingatkan pada gaya Kevin Bacon seusai tugas mengantar Private Chance di Taking Chance . Lainnya yang menarik di film ini adalah penampilan Matt Damon. Terutama fisiknya. Sangat jauh berbeda dengan karakternya sebagai