Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2015

Adu panas polisi-penjahat

Apa yang penulis suka dari film ini? Film ini jujur saja memberatkan. Selain durasinya yang hampir 180 menitan, juga ceritanya. Terutama bagian betrayal nya. Siapa mengkhianat siapa. Tapi, semua hilang melihat gaya Al Pacino dan Robert De Niro. Penampilan mereka benar-benar "panas" membara. Gaya khas Pacino disini sangat berkesan. Dan, gaya brotherhood in crime yang ditampilkan Robert De Niro-Val Kilmer- dan Tom Sizemore disini adalah yang berkesan lainnya. (Suka dengan gaya cool Tom Sizemore disini). Sebenarnya ada brother keempat yaitu Trejo, namun porsinya sangat minimalis. Alur ceritanya sebenarnya sederhana, polisi memburu kriminalitas dan pelakunya. Hanya saja pelebaran ceritanya memang harus fokus agar tak banyak hole . Penulis membutuhkan repeat film beberapa kali untuk menyambung hole di tengah film. Belum lagi di luar masalah polisi-penjahat, film ini juga menampilkan sisi kehidupan penjahat serta polisinya. Cinta, rumah tangga dan perselingkuhan.

Rape Files

Konfliknya biasa saja. Kesan revenge justru terasa kabur karena terlalu bertele-tele. Di awal, paling menggebu-gebu melakukan balas dendam adalah karakter Alice. Sedangkan sang pacar yang masih daun muda malah kurang berkenan balas dendam. Semakin ke dalam cerita hingga terakhir justru di balik. Straighteads (2007) - 5/10

Mimpi besar si Rudy kecil

Film ini cocok ditonton kala kehilangan atau patah semangat. Meski klasik namun masih menarik disimak. Temanya sederhana. Nothing to something . From nobody to somebody . From zero to hero . Mirip dengan gaya film Invicible dengan Mark Walhberg. Meski mirip namun disini lebih terasa emosionalnya. Bila Vincent Papale di Invicible digambarkan zero to hero dengan bekal fisik yang memang mumpuni sebagai atlet khususnya american footballer . Tapi disini lebih merakyat, Rudy Ruettiger bukanlah siapa-siapa. Jauh dari kemungkinan. Jauh dari sempurna. Impossible . Rudy kecil memiliki cita-cita untuk bersekolah dan masuk ke tim football Notre Dame . Salah universitas yang memiliki tim football favorit di Amerika. Namun, kenyataan hampir tak berpihak pada Rudy kecil. Fisik Rudy jauh dari fisik atletis. Terlalu kecil. Begitu pula dengan keluarga Rudy yang seperti kurang mendukung impian Rudy.  Sejak kecil, Rudy ditanamkan prinsip " apa mana yang dapat dan tidak dapat Rudy la

Gema Piala Dunia

Mendengar nama Tibet, yang sekilas muncul di kepala adalah Dalai Lama. Berikutnya adalah negara terisolasi, terkecilkan, negara yang dulu belum merdeka, dan negara yang sepertinya damai sejuk tenang dengan kebijakan para biksu. Status Tibet dulu akhirnya membuat Tibet seperti negara "tertutup". Atau mungkin memang dibuat seperti itu, penulis kurang memahami betul sejarahnya. Film ini ingin memberikan gambaran bahwa ada yang dapat menembus status sosial Tibet, yaitu dengan sepakbola. Demam sepakbola melalui event World Cup berhasil menembus "status" Tibet. Itulah gema Piala Dunia yang memang membius seluruh dunia untuk memusatkan perhatian pada salah satu perhelatan olahraga terbesar di dunia. Gema Piala Dunia itu kemudian menjadi konflik disini. Demi Piala Dunia, mereka menjadi sedikit berkurang dalam disiplin karena beberapa pertandingan justru berlangsung di saat mereka harus istirahat malam. Temanya menarik. Unik. Sayangnya, setelah ditampil

Mengetahui dan membiarkan kejahatan adalah kejahatan

Alasan utama mengambil film ini adalah Jodie Foster. Penasaran ingin melihat gaya akting Jodie ketika masih belia. Hasilnya, menarik. Berbeda sekali dengan gaya Jodie di Flightplan atau Panic Room . Di sini, Jodie tampil "meledak-ledak" dan sedikit "berani". Alur ceritanya simple saja. Hanya konfliknya yang dibuat sedikit rumit dan panjang. Mengangkat tema seputar kasus perkosaan yang dialami karakter Sarah. Namun oleh karena penampilan seksi Sarah, baik kasus maupun hukum yang berlaku tersebut menjadi "layu". Tema seperti ini juga dipakai seperti di No One Killed Jessica meski beda konflik kasus. Susah sekali mendapatkan hukum yang adil. Hanya saja, konflik sulitnya hukum berlaku adil disini tidak memakai jurus anak politikus atau anak orang kaya seperti di No One Killed Jessica, melainkan karena faktor penampilan serta gaya karakter korban Sarah Tobias sendiri. Di dalam cerita film ini juga tidak menyimpan karakter jahatnya. Namun, ko

Legenda Hercules

Apa yang membuat film ini begitu "memikat" dan menarik rasa penasaran dalam buat penulis tak lain adalah pengaruh Dwayne Johnson. Nama besarnya serta beberapa filmnya terdahulu memiliki rasa tersendiri. Kini, Dwayne menjadi new Kevin Sorbo dengan karakter Hercules putra Zeus. Separuh manusia separuh dewa. Dan memburu film ini bukan hal mudah. Sayangnya, konflik dalam film ini terasa biasa saja. Payah. Kurang greget. Beberapa momen penulis harapkan menyimpan hook ternyata datar saja. Hercules yang kuat berpihak pada yang lemah namun ternyata "salah". Konflik tersebut terasa biasa saja. Momen pertempuran pertama, penulis berharap akan ada kejutan bala bantuan atau koloni baru, ternyata tak ada. Dalam pertempuran pertama, kemenangan Hercules terasa janggal apabila melihat tidak imbangnya jumlah kekuatan pasukan, namun ternyata menang. Samar-samar penampilan manusia setengah kuda dimunculkan, memberi harapan akan muncul karakter kejutan, namun lagi-lag

Get your freak on

Film ini sebenarnya menghibur. Santai. Renyah. Cerah. Ringan. Fresh. Tapi unsur komedinya tidak dapat membuat tertawa lepas, selain tidak konyol sekali juga penulis sebenarnya berada di posisi Andy bahkan lebih parah. Jadi, akan bodoh sekali menertawakan karakter Andy disini karena sama saja menertawakan diri sendiri. Posisi Andy disini lebih beruntung. Diapit oleh keberadaan dua wanita hot, ada Trish dan Beth. Well , penulis lebih memilih Beth tapi ternyata seperti kata Andy, Beth terlalu "menakutkan". Gaya kalem sendu suram Steve Carell disini cukup meyakinkan dan sangat menjiwai. Meski tidak sekocak ala Ben Stiller namun tetap menghibur. Adegan paling konyol disini adalah cukur bulu dada yang ternyata tak bisa sempurna. The 40 Years Old Virgin (2005) - 7/10

Black, a key with no lock

Film ini mengingatkan pada gaya Nicole Kidman dalam Rabbit Hole . Mengalami masa-masa kehilangan orang yang sangat dicintai. Disini yang menjadi sentral adalah karakter bocah Oskar Schell yang kehilangan ayahnya secara tragis dalam peritiwa 9/11 silam. Setelah setahun, Oskar menemukan sebuah kunci dari barang-barang peninggalan sang ayah dengan sebuah petunjuk Black. Paling menonjol dalam film ini adalah Thomas Horn yang berperan sebagai Oskar. Penampilannya memang sangat bagus memerankan seorang bocah yang terlena dalam emosional kesedihan duka yang mendalam. Menjadi trauma dan terluka. Menariknya lagi, menurut sumber bahwa Thomas Horn adalah seorang bintang baru. Alur ceritanya memang berkaitan dengan selera masing-masing. Tentu saja film ini akan cocok bagi pecinta drama yang mengalun lembut namun emosional. Bagi penulis sendiri, ikut larut dan ikut masuk merasakan efek antusiasme Oskar ketika berkomitmen dalam melakukan perjalanan mencari jawaban atas sebuah kunci.

Memori di Saint Anna

Entah sudah berapa kali menyimak film ini dan tidak pernah connect betul. Selalu missing story . Awalnya menarik, dan ada misteri di balik penembakan di tempat umum. Kemudian masuk ke babak perang. Dan awalnya juga, pendapat penulis bakal ada kisah tentang patung kepala Budha yang bernilai mahal. Namun, sayangnya perjalanan cerita tidak berlangsung demikian. Ada kisah tentang sebuah peleton serdadu Amerika, rasisme, perang, dan seorang anak yatim. Patung yang di awal film bahkan tak banyak bercerita. Jalan cerita pun lebih jatuh ke drama daripada film perang. Terlalu banyak cabang konflik dalam film ini menjadikan kurang menarik bagi penulis. Miracle At Saint Anna (2008) - 6/10

Kemenangan itu tak mengenal warna kulit

Memang suguhan yang menarik. Konfliknya juga tak jauh berbeda dengan film-film sport lainnya. Tapi disini olahan konfliknya cukup terasa emosional dan ditata rapi untuk menciptakan rasa tontonan apik. Yang menarik lagi adalah kisah nyata dan Walt Disney. Dengan nama besar Denzel Washington dan Will Patton sebagai bintangnya, film ini memiliki kekuatan pesan nyata di dalam ceritanya tentang persaudaraan lintas " semua yang dianggap beda " dalam kehidupan manusia. Ada momen konflik ada momen klimaks, semua tertata rapi dan memiliki warna kuat. Ras menjadi tema utama di film ini. Dengan memakai isu warna kulit pada jaman dulu di Amerika memang menjadi hal sensitif. Tema besar berikutnya adalah football America . Melalui tim olahraga tabrak-menabrak tersebut, gesekan demi gesekan masalah kulit berwarna akhirnya berbuah manisnya persahabatan dan indahnya kebersamaan untuk satu tujuan kemenangan. Paling berkesan dari film ini adalah bukan saja mereka akan menging

Terculik

Kurang jelas arah film ini. Seorang selebriti diculik kemudian diisolasi lalu "disiksa" sekaligus bercinta. Masih sempat bercinta dalam keadaan diculik? Untuk kemudian insaf. Horornya cuka sekedar kaget-kagetan saja. Twist kisahnya pun biasa. Keseluruhan tak ada istimewa. Yang paling menonjol adalah sepanjang film dominan gelap. Minim cahaya. Captivity (2007) - 5/10

Welcome in the hell of the mess

Yang membuat "meloncati" serial Fast n Furious langsung ke seri lima ini adalah nama Dwayne Johnson. Raksasa pegulat ramah yang bermain komedi di Game Plan atau komedi laga Rundown atau juga dalam Faster membuat penulis "jatuh cinta" pada penampilan Dwayne. Karakter akting Dwayne tak kalah dengan aktor yang murni di bidang perfilman. Dan berbagai akting telah dilakoni Dwayne termasuk gayanya sebagai raksasa petugas DEA yang tak pakai basa-basi disini. Sebelumnya penulis sudah mendapatkan gambaran dasar tentang serial Fast n Furious ini. Seputar balap mobil. Namun disini tak ada aksi balapnya. Lebih ke permainan skill ber-mobil balap. Yang berkesan disini adalah aksi laganya. Melengkapi sisi konfliknya yang boleh dibilang tak sederhana namun ringan dicerna. Dimulai dari momen aksi di kereta api, penulis merasakan hantaman aksi laganya cukup mantap. Seperti menegaskan satu konsep cerita, aksinya tidak setengah hati. Yang kedua yang berkesan pas

Room mate yang rumit

Sebuah drama horor psikologi dimana sebuah karakter berlaku "menakutkan" dengan posesifitasme nya. Konfliknya biasa. Alur ceritanya juga datar-datar saja. Pengembangan cerita thriller yang dilakukan karakter Rebecca terhadap Sara berjalan pelan menanjak dengan tensi biasa saja. Visualnya lumayan segar. The Roommate (2011) - 5/10

Rabbit's Foot

Sepertinya film seri Misi Mustahil ini memang seperti memakai konsep bergilir. Karena setiap seri ditangani sutradara berkelas yang berbeda. Setelah Brian de Palma, lalu John Woo, kali ini J.J Abrams yang penulis kenali karyanya di Regarding Henry , Cloverfield , dan Super 8 . Diantara ketiganya tersambung ciri khas adegan Ethan Hunt lompat ke bawah dengan seutas tali kemudian sepersekian detik tergantung tertahan layaknya penerjun. Dan, di antar ketiga seri yang telah penulis simak, disini yang menonjol adalah aksi laganya. Tidak banyak, hanya atmosfirnya lebih laga ketimbang dua seri sebelumnya yang lebih seperti drama. Aksi laga disini memang hampir sama gayanya dengan gaya Cloverfield, terutama dengan aksi laga di bagian beranda dimana kejar-kejaran helikopter membuat baling-baling pembangkit "terjun" menghujam seperti kepala patung Liberty yang terbanting di jalanan New York. Alur ceritanya tak ada hubungan dengan seri kedua namun anggota tim masih sama,

Diperindah lewat musibah

Ada sebuah drama manis yang patut direnungkan di film ini melalui karakter Henry yang terkena musibah. Sebelum musibah menimpa, Henry adalah seorang pengacara sukses kaya dan makmur. Ekonomi gengsi dan profesinya membuat Henry menjadi pribadi yang angkuh. Setelah penembakan itu, Henry menjadi pribadi yang berbeda. Lewat musibah, semua diperindah. Mulai dari sikap angkuh Henry yang mau tidak mau menjadi "melunak", menjadi lebih ramah bersahabat, masalah rumah tangga yang dulunya penuh intrik menjadi lebih terbuka, dan masalah profesi yang profesional (tak peduli benar salah yang penting bayarannya bila perlu membela yang salah). Bagaimanapun akhirnya musibah tersebut membuat nurani berbicara. Ada pesan indah di film ini, bahwa kadang profesi, harta, dan uang memang mengaburkan nurani. Film ini berpendapat bahwa untuk kembali ke nurani putih (kadang) perlu ada sebuah moment untuk kembali ke bawah. Film ini juga mengajak merenung bahwa karakter Henry setelah musibah

Alice in Lilian

Ada dua kisah besar yang diangkat di film karya JJ Abrams ini. Satu, tentang kisah cinta bocah yang malu-malu kucing. Dua, tentang bad thing . Di antara keduanya, penulis paling suka dengan tema pertama. Kisah cinta sepasang bocah. Luar biasa manis. Chemistry akting yang dibangun karakter Joe Lamb dan Alice Dainard sangat terasa. Mengingatkan penulis dengan mantan yang juga dulu malu-malu kucing. Namun minus acara kunjungan tengah malam lewat jendela kamar (sial, Alice memang sukses membuat iri). Dan, Elle Fanning, adalah kesegaran utama film ini. Cantik. Kecantikan mudanya sangat sadis. Tajam. (Entah dulu dikasih makan apa hingga menjadi cantik sekali seperti ini) Mirip mantan dulu (mimpi). Biarpun didandani ala zombie sekalipun, Elle masih cantik dan memikat (sudilah tuk digigitnya). Joel Courtney, he's so so lucky . Penampilan Elle memang membuat betah menonton film ini. Momen paling manis adalah momen ketika para sineas cilik melakukan shooting di stasiun kere

Supernatural barang obral

Yang membuat penasaran besar adalah tag berdasarkan kisah nyata dan dituliskan bahwa dialami oleh sebuah keluarga selama 29 hari. Masuk beranda awal grafik cerita pelan menanjak. Gaya sudut ambil gambarnya terlihat modern dan berkelas. Horornya juga terasa kental. Namun menurut penulis kekuatan horor di film ini masih banyak terbantu oleh komputerisasi. Memasuki babak ke penghujung terutama di segmen pengusiran, terasa kurang menarik. Terlalu beraroma "film" dan kurang terlihat natural. Konflik pemanis tambahan yaitu konflik keluarga disini juga tak berpengaruh banyak. Tanpa bertikai atau bercerai pun sepertinya tak berpengaruh terhadap inti cerita. The Possession (2012) - 6/10

Chimera

Di seri kedua, ada kejutan kecil. Pertama, John Woo. Langsung terbayang bakal ada aksi laga yang megah dan ada aksi saling todong pistol di wajah. Sayang sekali, aksi laga yang diharapkan kurang begitu banyak. Lebih dominan drama intrik. Paling sering dimainkan moment pakai topeng wajah yang menipu khas serial televisinya dulu. Aksi laganya seperti "tertutup" oleh nuansa drama. Hanya beberapa bagian kecil aksi laga dipadu dengan slow-mo terlihat menarik. Kemudian, aksi laga yang sebenarnya disimpan di pamungkas film. Cukup megah terutama di bagian mengendarai motor. Saling tembak saling kejar. Disini, penampilan Tom Cruise, lebih dewasa dan lebih elegan dibandingkan dengan seri pertamanya. Aksi laga untuk porsi Tom juga lebih modern apalagi dipadu dengan aksi bela diri yang lumayan-tak kalah dengan aksi silat Asia. Yang ditarik sebagai adegan khas dari seri pertama adalah menahan diri gaya terjun payung dengan seutas tali. Kejutan lain, bagi penulis di sini

Pengkhianatan dalam misi mustahil

Entah kenapa melihat film rasanya kurang begitu menarik. Padahal untuk serial televisi-nya dulu, penulis termasuk suka dengan serial ini. Aksi laganya boleh, berbeda dengan laga ala serial televisi. Hanya konfliknya punya tingkat bahasan yang level cukup rumit. Menyerah. Ini mengkhianati ini, yang ini terlihat bukan pengkhianat tapi akhirnya mengkhianati, mencari tim baru yang ternyata pengkhianat juga, yang mati hidup lagi, dan sebagainya. Mungkin perlu lebih dari sekali menonton aksi Tom Cruise menjalankan misi mustahil ini. Sedikit lengah membaca dialognya menjadi sulit dan berat jalan ceritanya. Yang bisa penulis tangkap hanya masalah pengkhianatan teman satu tim. Mission Impossible (1996) - 6/10

Our battle will be legendary

Andaikan sebuah masakan, film ini menghadirkan citarasa baru yang berbeda. Sederhana dalam cerita, ada pesan bijak, dihadirkan dengan teknologi kualitas tinggi. Pas. Seperti masakan yang enak dinikmati, bumbu pembentuknya menjadi dasar untuk menciptakan citarasa tinggi. Disini, ada panda yang memang aslinya merupakan binatang khas Cina, gemuk, lucu, bergaya bos saat makan, menggemaskan. Dipadu dengan animasi yang lebih modern dari kartun klasik. 3 dimensi. Diisi dengan suara pas ala Jack Black. Kemudian dihadirkan dalam bentuk pendekar kungfu. Konsep ceritanya mudah dicerna. Tentang karakter Po, yang sangat jauh sekali dari kesan pendekar kungfu, namun ditunjuk dan ditakdirkan sebagai Dragon Warrior yang bakal dikaruniai sebuah rahasia besar tentang ilmu kungfu dalam skroll di mulut naga. Rahasia tersebut ternyata juga menjadi incaran macan jahat, Tai Lung, yang sangat kuat perkasa dan menurut kepercayaan Shifu, hanya Dragon Warrior lah yang mampu mengalahkan Tai Lung. Pan

Menutupi kebrutalan

Film ini mengingatkan pada gaya In The Valley of Elah , tidak seratus persen mirip hanya temanya hampir senada. Ada sebuah kematian yang berhubungan dengan profesi sebagai tentara yang berdinas di Iraq. Gaya ceritanya, sekarang- flashback -sekarang lalu flashback lagi. Ada clue yang memakai media handphone. Tapi, di In The Valley of Ela, ceritanya lebih ringan dan mudah diikuti. Tidak disini, agak lebih berat dan kurang simple. Kurang menarik. Banyak cabang banyak karakter, harus lebih dari sekali menonton untuk mengerti film ini. Route Irish (2010) - 6/10

New York yang menggairahkan

Sebelumnya, bingung ini film bercerita tentang apa. Bintang-bintang aktor aktris kenamaan dari segala benua dilebur jadi satu dalam satu film. Bila diibaratkan makanan, persis rujak buah. Segala aneka buah dicampur lalu dikasih bumbu. Kalau kesan yang penulis tangkap, film ini ingin menunjukkan eksotisme kota New York dengan peradaban gaya hidupnya serta keindahan landscape-nya. Disitu bertemunya segala budaya dunia. Ada Asia, Amerika, Eropa, bahkan India. Dan, pertemuan disini seputar cinta-cintaan belaka. Baru tahu setelah membuka sumbernya, ternyata film ini merupakan beberapa film pendek, dengan berbagai sutradara. Pantas saja, film seperti berjalan sendiri-sendiri tanpa kaitan jelas. Sederet nama Bradley Cooper, Shia LaBeouf, Natalie Portman, Hayden Christensen, Orlando Bloom, Irfan Khan, Chris Cooper, Andy GarcĂ­a, Christina Ricci, Maggie Q, Ethan Hawke, sampai Shu Qi. Pelangi. Hanya saja yang penulis tangkap, disini lebih ke indahnya bercinta di New York. Apalagi

Pembunuh bergergaji mesin

Yang menarik disini adalah based on true events . Kejadian di dalam film ini berdasarkan kejadian nyata. Tetapi tentu saja dengan konsep film thriller slasher pada umumnya. Grafik cerita juga umum. Konsep roller coaster dimulai dengan suasana cerah, flirt , pemainnya bening dan fresh , seksi di awal. Kemudian ditarik ke atas yang kemudian diputar-putar dengan semburat darah serta teriakan histeris. Dari sisi teror cukup menarik. Meski tentu saja disini menampilkan kekerasan yang brutal demi penggambaran keadaan nyata pada saat kejadian terjadi. The Texas Chainsaw Massacre : The Beginning (2006) - 6/10

Tabir misteri hilangnya Harriet

Film ini memang bukan film yang langsung klik buat penulis. Terlalu berat. Penulis hanya bisa menangkap tema besarnya saja yaitu mengungkap misteri hilangnya seorang gadis belasan tahun, putri dari seorang kaya raya Henrik Vanger. Tema film ini, sejauh yang penulis ingat, seperti tema 8MM atau Blood Work . Seorang investigator atau pencari fakta disewa untuk membuka kasus kriminal yang telah terjadi. Karena faktor cerita, keluarga Vanger disini adalah keluarga besar, akhirnya banyak "karakter" yang dipajang membuat tema yang seharusnya sederhana menjadi tampak rumit. Belum lagi, nama-nama karakter yang berbau Jerman-Swedia. Penulis juga merasa sedikit bingung dengan judul yang mengarah pada karakter Lisbeth. Di beranda, film dilempar dengan 2 aliran cerita. Bergantian. Porsi seimbang. Blomkvist mencari fakta, Lisbeth "bertarung" sendiri dengan keadaan hidupnya yang tercabik-cabik ekonomi maupun fisiknya. Ekspektasi awal, penulis menganggap gadis de

Misi membangun jembatan Tsavo

Yang membuat menarik disini adalah berdasarkan kisah nyata. Apalagi penulis juga memang menyukai tema singa dan jenisnya. Kini, giliran film garapan Stephen Hopkins dengan bintang Val Kilmer dan Michael Douglas. Alur ceritanya simple saja. John Patterson dikirim ke Tsavo, Afrika untuk memimpin pembangunan sebuah jembatan. Misinya ternyata menjadi tidak sederhana ketika pembangunan jembatan itu mendapatkan gangguan. Mulai dari epidemi penyakit malaria hingga man eater yang dijuluki The Ghost and The Darkness . Kalau versi penulis, man eater yang dipercaya sebagai makhluk jadi-jadian ini sepertinya tertarik memangsa warga karena bau luka dan darah dari penampungan kesehatan. Bukan karena berjiwa namun karena memang naluri man eater yang memburu mangsa apalagi banyak yang terluka akibat malaria. Kalau dari segi tampilan man eater -nya dalam beberapa momen terasa kaku. Hanya di bagian ending saja yang terlihat cukup "halus" dan natural. The Ghost and The Da

Misteri apartemen 13B

Sedang mencoba taste horor dari India. Penasaran. Thailand ataupun Jepang atau Korea, masing-masing memiliki taste horor yang khas. Thailand lebih mirip ke lokal. Jepang dan Korea biasanya unggul dalam hal cerita kreatif. Hollywood sendiri juga memiliki taste horor yang berbeda. Dari beranda, terlihat menarik. Namun ke dalam ada beberapa yang membuat film ini terasa mendatar. Durasi, hampir senada dengan umumnya film India, lumayan panjang. Terlalu berpanjang-lebar. Konfliknya terlalu panjang dan kurang simple. Dimulai dari foto selfie yang aneh, lift, serial tv, berlanjut ke temuan foto 30 tahun silam, rahasia keluarga pendahulu yang tewas, misteri siapa pelaku sebenarnya. Terlalu panjang. Kurang sederhana. Ditengah-tengah film yang bernada horor, ternyata masih sempat ada selipan tarian dan nyanyian romantis.Kejar-kejaran di pantai dan taman. Aneh saja. Terasa kurang pas. Tapi memang dengan begitu, India memiliki taste horor yang berbeda dengan olahan konfliknya

Monte Carlo

Tentunya film ini cocok bagi para kawula muda belia yang excited melihat dunia luar. Konflik di film ini biasa saja. Hanya jauh-jauh ke negeri seberang untuk (awalnya) berlibur namun tak berjalan lancar dan membawa ke petualangan cinta. Cerita cinta yang blink mengkilap, cerah, mewah dan imut. Inti cerita disini bila tak mendapatkan cinta di negara sendiri, pergilah berlibur (Paris atau Monte Carlo). Dengan catatan, kalau punya dana. Kalau tidak punya, bersabarlah sebab tak ada yang gratis di dunia kini Monte Carlo (2011) - 6/10

Petaka di negeri seberang

Konsep cerita film ini kurang lebih mirip dengan Turistas . Hanya disini konon berdasarkan kisah nyata. Mereka berlibur namun berujung petaka neraka di negeri seberang. Borderland (2007) - 6/10

Hidup dan mati demi antelop Tibet

Sebuah film yang tenang, syahdu, dan menarik minat sedalam pasir hisap di daerah Kekexili. Film dengan tema latar belakang daerah Tibet. Lokasi di padang gurun dan pegunungan dengan musim ekstrim. Nama aktor pemeran di sini, bagi penulis kurang familiar. Yang menarik? Penulis "setuju" dengan Columbia Pictures. Tentu tidak main-main sekelas Columbia Pictures harus ikut urun nama besar dalam film yang memakai bintang para Tibetan dan bahasa lokal. Sangat menarik memang. Jalan ceritanya sederhana. Meskipun nama aktor kurang familiar namun tak menjadi pengaruh besar dalam alur cerita. Setidaknya akting mereka bisa se-natural mungkin. Lainnya? Kurang lebih durasi film 100 menit dan dalam durasi tersebut film ini sudah cukup mampu mengisi cerita sederhana dengan alur yang enak diikuti. Paling berkesan dari film ini adalah kebersamaan dan pengorbanan para sukarelawan demi menjaga satwa. Alam lokasi film yang megah. Luar biasa megah. Penulis selalu suka suguhan film

Petualangan membunuh dalam kenikmatan

| untuk kalangan +18 ! | Korea. Seperti ada selera pasar lokal dimana mencampurkan unsur horor dan sensualitas. Setidaknya jenis ini masih ada alur cerita meski terasa lemah dibandingkan unsur sensualnya. Dari alur ceritanya sendiri kurang lebih sama dengan lokal, penampilan para pemainnya terasa biasa saja hanya berani itu saja. Temanya sendiri seputar petualangan iblis yang masuk ke tubuh seorang ibu dan "memburu" mangsanya melalui hubungan intim. Tidak lupa untuk menebalkan unsur horor tentu saja berujung kematian misterius. Pembunuhannya dibuat berantai agar berkelanjutan, alhasil sepanjang film cukup banyak bertebaran adegan-adegan khusus jiwa dewasa dan bukan untuk jiwa labil yang gemar meniru. Namun, jika dibandingkan dengan lokal-an punya, disini lebih berani dan seksi klasik. Tak hanya sekedar desahan semata dan pamer badan, tapi juga dalam beberapa momen terasa seperti pelajaran Kamasutra. Memberi solusi inspirasi tentang posisi. Contohnya momen

Dewa Judi

Salah satu film klasik Hongkong yang paling berkesan. Bagaimana tidak berkesan, karena film ini pertama kali penulis tonton saat masih Sekolah Dasar. Dan, langsung terpikat sekaligus tak lupa meniru gaya cool Dewa Judi. Salah duanya, bermain kartu ala poker meski tak tahu aturan resminya, pokoknya 2 kartu tertutup lalu dibuka pelan pelan pelan sekali. Tak lupa gaya makan coklatnya, yang alhasil langsung batuk-batuk akibat kebanyakan coklat. Rambut? Sayang tak bisa menirunya. Apa saja yang berkesan dari film lawas ini? Segudang momen berkesan dari sini. Mulai Chow Yun Fat, pasti. Karena karakter Chun Dewa Judi ini melekat pada diri Chow Yun Fat, bahkan saat Chow bermain untuk Hollywood bersama Mark Wahlberg, masih sempat menyelipkan karakter Dewa Judi. Cool, calm, confident , selalu tersenyum, menghabiskan banyak minyak rambut. Andy Lau. Ya, film ini juga dibintangi Andy Lau yang bermain dengan gaya kocak. Dan memang konflik film ini lebih mengarah ke komedi aksi.

Tiket sakit melihat dunia lain

Melihat film ini terasa " sakit " dan " horor ". Nuansa horornya ada namun tidak besar. Hanya sedikit itupun bukan horor dunia lain melainkan lebih ke halusinasi. Mengapa " horor "? Ketika penulis melihat gaya Lucie Jurin disini, langsung bertanya sendiri dalam hati. Bila melihat orang berbicara sendiri, pasti spontan akan langsung memberi cap " gila ". Pertanyaannya, apakah benar-benar gila? Ataukah memang orang tersebut lagi berhadapan dan berbicara dengan " yang lain "? Dan itulah dunia yang dialami karakter Lucie Jurin disini. " Sakit ". Tidak hanya film ini yang menceritakan tentang Lucie yang " kesakitan " namun juga yang menyakiti sepertinya juga " sakit ". Tanpa banyak basa-basi, film ini langsung menggebrak dengan momen-momen adegan yang sakit sekaligus membuat " sakit " saat menonton, setidaknya bagi penulis. !! Menurut penulis, film ini TIDAK DISARANKAN bagi mereka yang

Komputerisasi legenda cinta ular putih

Dulu tahun 90an penulis juga termasuk penikmat sinetron fenomenal antara Pai Su Cen dan Han Wen dalam White Snake Legend. Sangat terkenal dengan tag " suamiku....istriku... " Kini, disini legenda Ular Putih dibuat lebih modern. Computerized . Lengkap dengan animasi. Lebih tepatnya mengkomputerisasi legenda. Kisah besarnya tetap sama, kisah cinta terlarang namun manis antara siluman dan manusia. Bedanya disini memakai nama Susu dan Xu Xian. Lengkap. Ada ras komedi. Mengingat ini adalah legenda jaman dahulu, pemakaian animasi yang super, seperti menggelora samdera dan sebagainya, memang terasa berlebihan. Ada rasa romantisme tangis menangis cinta terlarang. Penampilan Jet Li disini kurang "terasa" sebagai peran sentral. Suara Jet Li terasa seperti di-dubbing dan aksi natural laganya tertutup oleh megahnya animasi. Dan, Charlene Choi masih tetap menarik coyyy dan Eva Huang sebagai Pai Su Cen modern alias Susu woww amboy cantiknya . The Sorcerer

Eksekusi di luar skenario

Sempat beberapa kali terpaksa mengulang, bukan karena film ini "berat" melainkan karena hari yang melelahkan. Film ini mengingatkan pada film Frances Macdormand lainnya yang hampir senada. Sebenarnya film ini bertema serius. Kriminal dan berdasarkan kejadian nyata. Sepele (harusnya) menjadi rumit. Dan penampilan mimik serta gaya kalem William H.Macy membuat rasa kriminal film ini menjadi soft. Begitu pula dengan penampilan Frances yang "santai" sebagai petugas kepolisian daerah yang sedang hamil tua. Konfliknya cukup bagus. Alur salah paham dan salah prediksi dalam mengatur penculikan masih bisa diikuti. Gabungan serta kaitan karakter satu dengan lainnya terjalin menarik. Klasik masih tetap memiliki daya tarik. #nasib koper uang itu selanjutnya bagaimana ya? Fargo (1996) - 7/10

act of valor

Kesan pertama yang muncul dari film ini adalah ada suara berat ala Optimus Prime. Sepanjang film, hanya bagian pembebasan Morales saja yang menarik. Sisanya, kurang begitu terpikat lebih jauh, alasannya karena terlalu banyak setting-an lokasi. Filipina, Ukraina, Somalia, Amerika, Mexico. Kurang fokus. Akhirnya menikmati alur ceritanya menjadi kurang sederhana. Seanadainya saja bercerita tentang satu tim elite di sebuah misi di satu daerah, contohnya Tear Of The Sun . Tapi, mungkin juga ini adalah tema kreatif dimana satuan tim elite bertugas di mana-mana. Alasan berikutnya adalah karena penulis juga kurang bisa konsentrasi menikmati jalan film diakibatkan oleh sinyal salah satu provider ternama. Tak sesuai dengan iklannya di tv atau media massal lainnya. Benar-benar carut marut. Melayangkan keluhan pun percuma. Aksi laga dan aksi satuan elite disini cukup bagus. Apalagi dalam beberapa scene dibuat seperti layaknya video game one shoot person . Act Of Valor (2012)

Petualangan di antara pernikahan, prostitusi, dan hidup pecandu bercinta

!!! [+18 y.o] Cuci mata. Terbang ke Spanyol. Tidak kasar hanya memang cukup padat dengan momen dewasa. Berkisah tentang jatuh bangun Valerie sebagai pecandu bercinta. Dari sudut cerita cukup bagus. Rapi. Kehidupan Valerie ditata rapi babak per babak. Diawali dengan kisah pertama mengenal pria di usia 15 tahun kemudian menyadari tingkat kecanduan, tertipu oleh kekayaan, jatuh ke lubang prostitusi, dan live . Alur ceritanya cukup terasa emosional ketika menyelami catatan hidup seorang pecandu. Terutama ketika harus menerima kenyataan pahit setelah menikah. Hancurnya rumah tangga menyeret Val ke dalam jurang prostitusi yang keras. Bergelimang harta namun tak menemukan kebahagiaan sejati hidup. ! Sarat dengan hal-hal khusus dewasa dan bukan untuk jiwa yang masih labil apalagi di bawah umur. Diary Of Nymphomaniac (2008) - 6/10

NTGUILTY

Nice nice nice. Kesan pertama dari beranda film ini adalah gaya Matthew McConaughey yang sangat elegan dan membuat iri pada profesi pengacara. Rapi dan bersih sekaligus kaya tentunya. Lagu pengiring film ini mulai dari awal hingga ending selalu berirama hip hop pas dengan dengan gaya alur cerita yang rumit namun menarik. Konflik kasus Roulet yang ditangani Lincoln kali ini memang rumit. Antara membela yang salah dan tahu yang benar. Ada dilema sulit dalam kasus Roulet ini. Paling berkesan dari film ini selain alur ceritanya yang berlipat-lipat serta dinamis adalah momen para pengendara harley davidson yang akhirnya harus memberi pelajaran pada Roulet si pemuda kaya yang seolah uang bisa membeli segalanya. The Lincoln Lawyer (2011) - 7/10

Mencari yang tak hanya untuk fun

Film ini memang isinya membahas hal-hal yang menyerempet ke seksualitas dan membuatnya dengan rasa komedi. Segar dan lucu. Penampilan tiga wanita sensual Cameroon Diaz, Christina Applegate, dan Selma Blair disini terasa kompak dengan berangkat dari satu pengantar ada apa dengan Christina Walter. Memang tema pengantarnya adalah Christina Walter, namun yang menjadi bintang kocaknya adalah karakter Jane Burns yang lugu dan polos. Tema seluruhnya adalah menemukan pasangan bagi masing-masing karakter. Alur ceritanya simple saja dengan konflik seputar mencari pasangan serta bercinta. Komedi yang ditawarkan adalah komedi kelas dewasa. Beberapa momen yang berkesan disini adalah menyetir dalam keadaan setengah telanjang kemudian "terlihat" sedang "melakukan sesuatu di bawah sana". Adegan ini pernah penulis lihat di sebuah film lokal alias meniru, sayang lupa judulnya. Bila tak salah ingat lagi, film kualitas lokal yang hanya bisa jual fisik tersebut akhirnya

Tebak wajah Jack si pembunuh cengeng

Konsep misteri who's the killer disini sudah umum. Disimpan dengan muncul karakter demi karakter baru untuk membiarkan penonton menebak siapa pelakunya. Mungkin sebagai pewarna unik adalah isu penyakit face blindness yang dialami Anna disini. Penulis juga sampai bingung menghapal wajah demi wajah Bryce yang selalu baru. Sebenarnya tanpa isu penyakit prosopagnosia face blindness disini, tema mencari pelaku sudah bisa jalan sendirinya. Tergantung bagaimana improvisasi alur cerita, disini biasa saja. Hanya menjual twist saja. Kejadiannya begini kemudian disimpan sampai akhir untuk memberi kejutan pelakunya teryata si ini. Faces In The Crowd (2011) - 6/10

Seseorang di luar sana memiliki uang yang sangat banyak

Yang menarik minat dari film ini tak lain adalah nama bintang Dwayne Johnson dan tag based on true story nya. Tentang perampokan jutaan dolar dari sebuah tempat yang disebut Empire. Sayang, penampilan Dwayne disini terasa kurang total. Terasa kurang powerfull. Tampilan fisik Dwayne yang berotot kurang pas dengan karakter drama Jerry Ransome. Porsi Dwayne sendiri masih kalah dominan dengan Liam. Alur cerita film ini tidak berat. Dilema konflik karakter Chris dengan Eddie sebenarnya menarik hanya terasa biasa saja pengembangannya. Empire State (2013) - 6/10

Berburu harta di Sahara

Kali ini menikmati film aksi lawas klasik karya tangan Jackie Chan. Konsep ceritanya menurut data wiki seperti Indiana Jones. Penulis sendiri belum kesampaian menikmati seri Indiana Jones. Yang penulis tahu seperti pemburu harta karun yang tangguh. Disini jelas sekali fokus cerita ada pada Jackie sendiri. Terutama atraksi akrobatiknya. Dan, memang pada jaman masa film ini memang terasa masih powerfull karena faktor usia Jackie yang masih muda. Kalau dari ceritanya kurang begitu menarik minat. Karena memang daya pikat utama film Jackie adalah akrobatik disamping rasa komedinya. Hal lain yang membuat kurang menarik adalah subtitlenya yang "kebetulan" mendapatkan VCD dengan teks melayu yang sangat aneh pengertian kalimatnya. Dan, satu-satunya bagian yang paling terasa emosinya adalah bagian ending credit- nya yang memang ciri khas Jackie menyelipkan secuil behind the scene . Disitu terasa dan tertangkap bagaimana etos kerja seorang Jackie Chan yang berani terluk

Memerlukan tubuh manusia untuk hidup

Film Korea kali ini mengangkat tema horor dengan konsep plot yang biasa. Ada evil yang berada di tengah-tengah sekumpulan siswi-siswi cantik. Sepanjang film, jalan cerita dibangun untuk memberi tekanan pada twist yang telah dipersiapkan dan dibuka pada mendekati sesi ending. Sayangnya, penulis kali ini kurang mood, apalagi ada banyak karakter-karakter ini dan itu dengan nama yang membingungkan. Akhirnya lemparan twist "siapa sebenarnya" dari film ini kurang begitu mengena. Datar. Gaya horor yang dipakai mengandalkan uraian rambut panjang yang menutupi wajah menyisakan sepotong bola mata tajam mengerikan. Dilengkapi dengan kualitas lengkingan jeritan histeris para gadis yang memekakkan telinga. Belum lagi diperkuat oleh selaan adegan kejutan yang cukup rapat selama film dengan kualitas sound musik pendukung pengejut yang cukup keras. Dead Friend (2004) - 5/10