Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2022

Realita kelam di balik atraksi megah sang raksasa hitam

Sebuah sajian film dokumenter lawas tahun 2013 tentang realita di balik kemeriahan pertunjukan atraksi binatang laut. Pertunjukan binatang laut memang dulu menjadi tontonan yang menyenangkan apalagi bagi dunia anak-anak. Semakin dewasa dimana era informasi kian gencar, masyarakat mulai disuguhkan edukasi penyeimbang tentang dunia hiburan yang menampilkan hewan. Bagaimana atraksi yang dipertunjukkan di muka publik, atau apa saja tragedi di balik pertunjukan atraksi yang menampilkan killer whale atau paus hitam, mungkin bisa dicari di area youtube. Karena disitu akan lumayan banyak video yang dipublikasikan. Yang diceritakan disini adalah sudut pandang dari para pendamping ikan paus sirkus dan sejumlah saksi mata.Salah satu tragedi yang diangkat di film ini adalah tragedi yang dialami oleh Dawn Brancheau. Dawn Bracheau adalah seorang pelatih ikan paus senior sekaligus bintang pertunjukan yang harus meregang nyawa oleh ikan paus didikannya sendiri.Tragedi yang dialami Dawn Bracheau ini m

Kisah Alexander Supertramp

Lagi-lagi Movielitas mendapatkan film based on true story . Akhirnya, Movielitas kesampaian menonton film ini. Dulu Movielitas sering melihat cover film ini di rak persewaan film, hanya belum tertarik hingga saat ini. Dan tiba-tiba film ini muncul di playlist. Film kali ini mengangkat kisah hidup dari seorang Chris McCandless.  Kalau boleh membandingkan, film ini mirip dengan film Wild 2014. Bagi Movielitas dua film ini banyak kesamaannya. Baik film ini maupun Wild, sama-sama diangkat dari kisah nyata. Hanya berbeda jenis kelamin. Di sini mengangkat kisah seorang pria yang baru lulus dan memilih jalan hidup ke alam. Sedangkan di Wild, berjenis kelamin wanita. Dua film tersebut juga berkisah tentang perjalanan seorang diri menelusuri alam terbuka. Sama-sama punya masa lalu. Gaya alur ceritanya-pun juga hampir-hampir mirip. Past-present-past-present dan seterusnya. Awalnya Movielitas mengira film biographical ini bakal berjalan ringan lurus. Hanya bercerita tentang kebebasan yang dike

Berawal dari salah sambung hingga mengacak-acak garis takdir

Kali ini sedikit berbeda dimana film Korea kali ini mengadaptasi dari film non Hollywood. Dan boleh dikatakan film ini mengalahkan ekspektasi Movielitas. Bila dilihat sekilas dari poster ataupun judulnya yang mengingatkan Movielitas pada film horor Jepang dulunya, The Phone . Dalam benak berkata mungkin film ini akan jatuh sama dengan genre seputar horor tentang "terima" kutukan lewat telepon. Ternyata salah dan jauh di atas ekspektasi. Berkisah tentang karakter utama Seo-Yeon yang balik ke rumah setelah diceritakan lama pergi dari kampung halaman. Setibanya di rumah nya, Seo Yeon menerima panggilan telepon yang terasa asing dan aneh alias salah sambung. Sekali dua kali Seo Yeon menanggapi panggilan telepon salah sambung tersebut hingga berkali-kali dan terjadilah inti konfliknya. Alur cerita disini sebenarnya kompleks hanya saja bila mengikuti secara baik dan detail runtun masih bisa dicerna dan diikuti. Dari sisi konfliknya, cukup menarik. Konflik dari film garapan sutradar

Sebuah Perjalanan

Karena mental dan mood serta energi yang berantakan, kegiatan menonton film sedang terganggu. Di sela lelah, mencoba merangkai nada meskipun aslinya buta nada. Biarpun tak terdengar indah tapi hati tak meresah. Dengan alat seadanya jadilah single instrumental digital untuk kesekian kalinya. Dan kali ini diberi judul Journey. Latar belakang memilih judul Journey untuk menggambarkan sebuah perjalanan hidup yang sangat flat dan simple, bahkan mungkin membosankan. Durasi musik menggambarkan perjalanan hidup yang entah sampai dimana titik akhir-nya. Perjalanan hidup yang telah dilalui ada beberapa kelokan yang mungkin terdengar sumbang atau bahkan tidak menarik tergambar lewat progesi chord. Naik turun nada yang flat dan berulang-ulang hingga menjemukan menggambarkan hidup yang dijalani, suka duka ceria menangis histeris frustasi, waktu kemarin dan hari ini. Nothing special.    Dari komposisi susunan nada nya pun sangat too simple . Diulang-ulang. Progresi chord nya juga pakem dan bukan ch

Cinta tanpa syarat dan pengorbanan terbaik untuk keluarga tuan kecil

Sebuah sajian yang sangat family friendly kali ini. Sangat aman untuk tontonan bersama keluarga di waktu senggang. Berkisah tentang seekor anjing liar yang tanpa sengaja harus terpisahkan dari sang induknya. Waktu berlalu ketika sang anjing bertemu dengan tuan barunya yang masih berusia anak-anak. Dan, seperti seekor anjing kebanyakan yang memang terkenal akan kesetiaan dan cinta kasihnya, Benji demikian sang anjing tersebut kemudian diberi nama oleh Carter, berusaha keras memberi cinta dan pengorbanan terbaik untuk keluarga tuan kecil baru nya. Ada sedikit behind the scene di bagian akhir, dan Movielitas merasa bahwa membuat film dengan aktor utama seekor hewan seperti ini memang sangat tidak mudah. Bisa menjadi sebuah film seperti ini sudah sangat bagus sekali. Overall, film ini sangat cocok bagi pecinta hewan khususnya anjing. Drama film ini memang "sangat fiksi" khas hiburan untuk anak-anak. Plot ceritanya ringan dengan konflik yang juga tidak rumit dicerna.. Pesan moraln

Kesempatan kedua dibalik penculikan

Sebuah film yang awalnya terasa sangat menarik. Misteri hilangnya seorang anak di tengah pemandangan hutan sungai dan pegunungan yang terhampar indah. Misteri dibangun dengan konflik dugaan penculikan dan yang menjadi tersangka utama pertama adalah sang ayah kandung sendiri. Movielitas menyukai gaya misteri yang dibangun di film garapan sutradara Christian Carion ini. Pelan tapi cukup bertenaga memancing rasa penasaran. Dugaan demi dugaan terhadap karakter yang muncul satu per satu membuat film ini penuh tebakan. Sayangnya, alur cerita film ini seperti naik gunung turun gunung. Semakin ke dalam, semakin turun rasa penasaran ini. Misteri penculikan yang sudah dibangun di awal cerita pelan-pelan mulai menemukan titik terang berakhir dengan kesan "oww begitu saja..." Overall, film ini tidak begitu istimewa. Misteri di awal dengan ending yang mengecewakan. Konflik tentang seorang ayah yang terpisahkan jarak dengan sang anak pun tidak berkesan apa-apa. My Son (2021) - 6/10

When silence is not enough

Untuk seri pertamanya, keren. Dan, kali ini mencoba menyimak seri keduanya. Apakah film yang masih digarap oleh sutradara John Krasinski ini juga terkena sindrom flop di sekuel? Ternyata, tidak. Hasilnya masih lumayan menarik.  Masih berkisah tentang petualangan keluarga kecil Abbott, yang kini tersisa ibu dan dua anaknya, bertahan untuk "diam" dari intaian monster. Di seri kali ini, karena tuntutan sukses di seri perdananya, dilengkapi dengan sedikit latar belakang pra kejadian invasi monster ke bumi. Movielitas suka dengan gaya horor film ini. Menarik dan tidak bisa ditebak arah ceritanya. Meskipun sudah diketahui siapa musuh dan konflik utamanya, tapi dikemas dengan baik hingga tidak mematikan rasa penasaran penonton. Mungkin yang membuat menarik di film ini dari sisi selera Movielitas adalah 'minimalis' nya. Minimalis dalam konflik, dialog, dan pemain. Alasan lainnya yang membuat Movielitas bisa menilai bahwa film ini tidak kalah seru dengan seri pertamanya adala