Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2022

Ketika Lisa McVey mencari orang yang mau percaya kepadanya

Sajian kali ini mengangkat kisah nyata sebuah tragedi kekerasan seksual yang dialami oleh Lisa McVey di masa kecilnya. Sangat miris sekali pengalaman yang dialami oleh Lisa Mcvey tidak hanya mengalami kekerasan seksual oleh seorang pembunuh berantai tapi juga dialami di dalam lingkaran keluarganya sendiri. Sekilas mengetahui sejarah kekerasan yang dialami oleh Lisa McVey ini, Movielitas ikut merasa prihatin dan miris. Terutama di sisi kekerasan yang dialami di dalam keluarga sendiri. Tapi, bagi Movielitas ketika tragedi Lisa McVey ini diterjemahkan ke dalam sebuah plot cerita film, terasa kurang mengena. Di sini Movielitas hanya menilai dari sisi film. Beberapa hal yang membuat film ini kurang begitu "kuat" dalam mewakili tragedi yang dialami Lisa Mcvey ini. Akting, di beberapa scene kurang begitu maksimal. Alur cerita memakai gaya lompat-melompat yang akhirnya seperti "sangat sedikit" menggali lebih dalam karakter Lisa McVey ataupun seputar tragedi.  Begitu pula d

Suara teror yang tak terdengar

Sebenarnya Movielitas menyukai gaya film seperti ini. Tidak banyak basa-basi dalam menuju inti konflik-nya. Tidak banyak tokoh yang dimainkan. One night story . Konfliknya ringan. Bukan berarti konflik berat tidak menarik, meski berat atau kompleks asalkan "mudah" dipahami atau dalam ber-musik ada istilah easy listening , tetap saja menarik. Tapi, ada kalanya gaya film seperti ini juga ada terasa konyol. Demi mengisi durasi, kadang ada adegan yang sebenarnya simple saja tapi karena namanya juga film, mau tidak mau harus ada ceritanya. Film garapan sutradara Mike Flanagan ini bergaya horor-teror. Diproduksi oleh Blumhouse. Kalau sudah Blumhouse Prod. , bisa dibayangkan film Paranormal Activity atau Insidious . Gaya opening-nya saja mirip dengan Insidious. Dan, gaya horor kejat-kejut alias jumpscare masih jadi senjata andalan.  Berkisah tentang seorang wanita, Maddie, yang sejak muda mengalami gangguan bicara dan pendengaran. Maddie secara luar biasa berani tinggal sendirian

Forum anonim di dalam aplikasi Twitter

Akhir-akhir ini sering buka aplikasi Twitter. Baca-baca rentetan scrolling   Timeline . Ada keseruan tersendiri baca-baca timeline . Ribuan orang saling bersahut-sahutan men- tweet isi pikiran. Hingga Movielitas menemukan satu dua tweet yang menarik perhatian.  Ada banyak akun berseliweran yang Movielitas lihat memiliki tweet di timelinenya dengan satu kata yang seragam kemudian disambung dengan aneka cuitan bermacam-macam yang dalam satu jam bisa mencapai puluhan tweet atau lebih mungkin. Kesamaan nama akunnya mengandung kata " menfess ". Kalau secara baku, arti menfess diambil dari kata " mention confess " atau kurang lebih pesan kaleng alias anonim. Kalau ada satu akun menfess, kurang lebih berarti akun tersebut berisikan sederetan tweet yang dikirimkan oleh banyak akun twitter personal yang mungkin ingin menyampaikan sesuatu secara anonim di luat akun pribadinya. Istilahnya akun bot ( robot / automated ) Kurang lebihnya begitu. Menurut seorang kawan, sebenarn

Ingatan sang pembunuh

Lagi-lagi mendapatkan kisah film Korea yang cukup bagus. Konfliknya menarik dan membuat ikut berpikir dan penasaran sepanjang jalan ceritanya. Berkisah tentang seorang Kim Byung Su yang tinggal bersama putrinya. Di balik sosok nya yang tua dan mengalami penyakit demensia ternyata Kim Byung Su menyimpan rahasia besar dalam hidupnya. Bahkan putrinya semata wayang, Eun Hee, pun tak tahu siapa sebenarnya ayahnya di masa lalu. Konflik film baru dimulai ketika Kim Byung Su tanpa sengaja menabrak sebuah mobil milik anggota kepolisian. Berdasarkan pengalaman dan keahliannya, Kim Byung Su meyakini bahwa polisi yang dia tabrak adalah seorang pembunuh berantai. Alur ceritanya tidak begitu sulit. Bisa diikuti. Untuk film Korea kali ini, Movielitas masih mudah mengikuti jalan cerita dikarenakan tidak terlalu banyak tokoh yang dihadirkan. Dan pastinya karena faktor dilema dalam konfliknya yang mebuat menarik. Konflik dalam film ini seakan-akan terus membujuk penonton untuk terus melawan keyakinan me

Lubang donat di dalam lubang donat

Kali ini mencoba menonton film yang banyak di-review bagus salah satunya karena unsur plot twist.Dan Movielitas pun penasaran seperti apa drama di film ini. Hasilnya di bawah ekspektasi. Berkisah tentang keluarga kaya raya Harlan Thrombey dengan keluarga besarnya. Di suatu pagi sehari setelah merayakan pesta ulang tahun, tanpa diduga Harlan Thrombey ditemukan tewas dengan dugaan bunuh diri di ruangan pribadinya. Yang menjadi misteri adalah siapa pembunuh Harlan Thrombey mengingat malam sebelum kematian Harlan diadakan pesta ulang tahun yang dihadiri keluarga besar kerabatnya sendiri.  Unsur misterinya sendiri menarik dengan banyak tokoh yang dimunculkan bersama motif sendiri-sendiri yang bisa menjadikan tersangka. Penonton diajak bersama-sama menebak mana yang menjadi pembunuh Harlan Thrombey. Hanya saja karena daya tangkap lemah membuat Movielitas kurang begitu tertarik. Gaya urai cerita yang silih berganti dengan cepat seolah tanpa memberi kesempatan dari masing-masing tokoh tersangk

Misteri sang bintang yang diredupkan

Kali ini mencoba sajian dokumenter Netflix yang memang di beberapa kesempatan sejauh yang Movielitas bisa simak hingga saat ini, dokumenter versi Netflix agak sedikit berbeda. Lumayan bagus ulasannya. Seperti dokumenter satu ini, yaitu tentang mega bintang era tahun 1950-1960an. Movielitas sendiri hanya mendengar nama besar Marylin Monroe. Tidak besar di era kejayaan sang mega bintang tersebut. Sejauh yang Movielitas tentang nama besar Marylin Monroe adalah aktris cantik, sexy, super hot, sensual, dan "panas". Singkatnya, aktris yang meraih simbol seks pada era-nya. Dan kelirunya adalah Movielitas awalnya mengira Marilyn Monroe ini adalah mega bintang bidang tarik vokal alias penyanyi.  Selama ini Movielitas sendiri belum pernah menonton dokumenter apapun tentang Marylin Monroe. Dan, baru kali ini berkesempatan menyimak sebuah dokumenter garapan sutradara Emma Cooper. Sudut pandang yang dipakai dalam dokumenter ini adalah hasil investigasi dari seorang penulis buku asal Iraln

Loyalitas Tae-Gu yang dilukai

Film yang digarap sutradara Park Hoon Jung ini bergenre drama. Salah satu drama yang menurut Movielitas berjalan sangat lamban untuk menuju klimaks. Berkisah tentang Tae-Gu yang mempunyai kharisma sebagai anggota gangster Korea. Kharisma Tae-Gu membuat dirinya seperti diperebutkan dua kelompok gangster besar di Korea. Harga kharisma Tae-Gu tersebut ternyata dibayar mahal dengan kematian sang kakak dan ponakan kesayangan Tae-Gu. Tak berpikir panjang, Tae-Gu langsung menargetkan sosok dalang kematian sang kakak dan ponakan. Aksi balas dendam Tae-gu ternyata berbuntut pelik dan panjang. Plot cerita yang ditampilkan khas Korea. Tidak hanya satu konflik, melainkan berlapis. Hanya saja menurut Movielitas, tempo cerita nya berjalan sangat lambat sekali.Paling menonjol disini adalah akting Jeon Yeo Been sebagai Jae Yeon yang merupakan karakter wanita mengidap penyakit ganas dengan backgroud masa lalu yang kelam. Dan, scene paling berkesan sepanjang film ini mungkin justru di 15-20 menit akhir

Mari kita rebut uang kita kembali

Kali ini ada sajian hiburan komedi ringan. Berkisah tentang tiga orang manula yang bersahabat. Hingga satu waktu karena himpitan ekonomi memaksa salah satu dari mereka memunculkan ide untuk berbuat nekat yaitu merampok sebuah bank. Konflik dalam film ini sederhana sekali.Irama dan tempo jalan ceritanya pun sangat santai. Komedinya tidak istimewa sekali. Setidaknya bisa menghibur di saat santai. Soal akting, Movielitas tidak perlu membahas kualitas para aktor gaek senior. Morgan Freeman pastinya sudah sangat dikenal. Penggemar serial film Batman juga pastinya tahu karakter Alfred. Overall, film garapan sutradara Zach Braff ini lumayan menghibur dengan komedi ringannya. Secara tidak langsung pula, film ini mengandung pesan moral bagi penonton bahwa semua manusia pasti akan menua pada waktunya. Bisa jadi kita akan mengalami hal yang sama dengan apa yang dialami oleh salah satu karakter utama di film ini. Sendirian dan uang akan menjadi akar dari semua permasalahan di muka bumi ini sedangk

Imajinasi anak kecil yang membasahi tanah

Kali ini pilihan kembali jatuh ke genre favorit Movielitas yaitu based on true story alias kisah nyata. Mengambil kisah dari tanah Afrika tentang perjuangan seorang bocah yang terlahir dari keluarga miskin keluar dari kesulitan ekonomi akibat kondisi cuaca dan politik di kampung halamannya. Film yang disutradarai aktor Chiwetel Ejiofor yang juga ikut bermain sebagai Trywell berkisah tentang seorang anakWilliam Kamkwamba yang memiliki bakat serta ketertarikan di dunia elektrik. Kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya membuat William kesulitan untuk mendapatkan pendidikan. Meskipun keluarga Trywell memiliki tanah namun tidak produktif dikarenakan watak Trywell dan kondisi cuaca yang tidak mendukung. Keingintahuan serta bakat yang dimiliki oleh William membawa ke sebuah penemuan kecil dan sederhana namun setidaknya bisa berdampak positif bagi warga di kampungnya. Dari segi plot cerita, bisa dikatakan biasa saja. Meskipun mungkin dibintangi oleh sederet artis yang kurang familiar namun

Melarikan diri kembali ke masa lalu

Bicara soal film tidak lepas dengan yang namanya selera. Kembali ke selera masing-masing. Kali ini Movielitas memilih menikmati sajian dari rak merah Netflix, yang banyak dinilai bagus. Dan, Movielitas pun penasaran. Awalnya Movielitas sudah tahu bahwa film ini bergenre fantasy (science fiction). Sebuah genre yang agak "berat" bagi Movielitas yang gemar film-film based on true story . Berkisah tentang seorang pria dari tahun 2050 yang melarikan diri dan kembali ke tahun 2022. Di tahun tersebut, pria itu - Adam Reed - menemukan dirinya sendiri di usia dua belas tahun.Melarikan diri kembali ke masa lalu bukan berarti menyelesaikan masalah, namun justru ada masalah yang harus diselesaikan di tahun 2018. Plot ceritanya bagi Movielitas agak "berat". Setidaknya harus mengulang beberapa kali agar bisa memahami. Konflik utama nya pun kurang begitu paham. Antara menyelamatkan dunia, atau menyelamatkan pujaan hati sang Adam, atau bertemu dengan pencipta proyek Adam. Ada sedik

Membayar hutang masa lalu di negara baru

Kali ini sajian horor dari negara Inggris. Kisahnya seputar "keluarga kecil" yang terdiri dari, Bol (ayah), Rial (ibu) dan Nyagak (anak) yang lari dari negara Afrika untuk kemudian mencari perlindungan suaka di negara Inggris. Di tengah perjuangan menuju Inggris, tragedi dialami oleh keluarga Bol. Nyagak sang putri diceritakan terjatuh dari perahu yang mereka tumpangi dan tidak terselamatkan nyawanya.  Seperti layaknya mendapatkan undian jackpot, Bol dan Rial yang berhasil sampai di Inggris, mendapatkan kesempatan bebas dan bisa tinggal di Inggris. Tidak hanya kebebasan, Bol dan Rial juga langsung mendapatkan sebuah rumah untuk mereka tinggal. Namun, untuk kebebasan dan tempat tinggal selama di Inggris, mereka harus menerima sekian persyaratan yang harus ditaati, antara lain dilarang untuk berpindah rumah. Sejak awal, film ini cukup bisa menarik perhatian. Horor seputar rumah juga lumayan bagus. Tidak memaksa dijejali dengan adegan jumpscare. Chemistry akting antara Sope Diri

Saat Ghostface kehilangan reputasi seramnya

Selama ini Movielitas hanya baru menonton versi kelima dari film berantai Scary Movie . Kali ini mendapat kesempatan menonton versi perdana-nya. Dan ya begitulah... Sepanjang yang Movielitas ingat dulu, film ini cukup fenomenal karena berani memparodikan film yang juga fenomenal pada jamannya yaitu Scream. Menurut pendapat Movielitas, untuk bisa lebih menikmati parodi Scream di film ini memang seharusnya menikmati dulu film Scream.  Plot ceritanya pastinya sama dengan alur cerita Scream . Tentang pembunuh berantai bertopeng tengkorak yang berkeliaran membunuh para kawula muda. Sama sekali tidak menegangkan apalagi menyeramkan. Gaya parodinya terasa sangat kasar dan vulgar hampir di setiap scene.  Menikmati film parodi ala Scary Movie ini memang kembali ke selera masing-masing penonton. Pastinya ada yang suka dan ada yang kurang cocok. Overall, film ini cocok sebagai hiburan ringan alternatif dari ketegangan film Scream. Hanya saja untuk usia memang harus di atas 21 tahun agar tidak gam

Menghindar dari Wolf-Beiderman

Kalau dilihat dari tahun produksinya, film ini hampir berbarengan dengan film Armageddon saat itu. Hanya Movielitas lupa pada saat itu kenapa tidak menonton film ini di bioskop. Memang hampir sama konfliknya, seputar meteor yang siap menghantam bumi. Bisa dibilang ini versi klasik dari film Dont Look Up. Hampir sama dengan Armageddon, film ini berbumbu roman cinta-cintaan, namun soal porsi nya berbeda. Kalau di film ini, konflik yang diangkat selain meteor ada juga konflik cinta antara dua remaja, dan konflik keluarga sang repoter televisi. Dan, memang karakter utama sepertinya diletakkan pada mereka meski tidak berkaitan langsung di dalam cerita. Seorang remaja yang sedang kasmaran, Leo Beiderman, tanpa disengaja menemukan tanda aneh di langit. Yang ternyata kemudian, tanda aneh berupa cahaya tersebut dinamakan dengan Wolf-Beiderman, merupakan sebuah meteor raksasa yang siap menabrak bumi. Tokoh utama kedua adalah sang reporter televisi, Jenny Lerner, yang memiliki konflik keluarga. B

Malaikat yang terpidana mati

Sebuah film klasik yang diproduksi tahun 1999. Kala itu Movielitas masih jaman bersekolah. Dan, tidak berkesempatan menonton hanya tahu judul film ini dari koran saat itu. Seingat Movielitas film ini diberitakan positif dan banyak yang bilang bagus. Bahkan sampai dewasa, Movielitas tahu judul filmnya namun tidak pernah berkesempatan menonton karena tidak berhasil mendapat film ini. Hingga Movielitas tahu di salah satu penyedia layanan streaming "plat merah" masih menyediakan film ini. Dan, akhirnya Movielitas berhasil menyimak film yang digarap oleh sutradara Frank Darabont hingga selesai. Ada beberapa hal yang membuat sedikit terkejut, bagi Movielitas yang terlambat menonton, dari melihat catatan di balik film ini. Pertama, film ini ternyata diangkat dari novel maestro Stephen King yang Movielitas justru mengenal sebagai penulis novel genre horor. Kedua, tentang durasi yang ternyata memakan waktu tiga jam lebih. Ketiga, Movielitas salah menduga bahwasanya film ini "terl