Skip to main content

Posts

Tetap Berkarya Meski Tidak Harus Berjaya

Di era yang serba canggih saat ini harus diakui mempermudah dalam beberapa hal. Salah satunya berkarya. Saat ini siapa saja bisa berkarya melalui banyak instrumen media. Yang merasa berwajah tampan atau cantik bisa berkarya lewat media foto-foto ala-ala Instagram. Yang merasa memiliki skill photografi bisa berkarya lebih luas dan menjual karya nya lintas negara. Kurang lebih itu contoh saja. Selain di saat ini setiap orang bisa seolah "memiliki" stasiun televisinya sendiri ( atau istilahnya channel ) untuk ditonton jutaan umat manusia di bumi. Dimana dulu, untuk berjaya sebagai artis harus masuk melalui ala-ala seleksi ajang-ajang ini itu. Salah satu yang menarik perhatian Movielitas adalah gebrakan era internet digital di dunia per-musik-an. Di era saat ini, untuk masuk dapur rekaman mungkin bisa lebih mudah dan terjangkau dibandingkan era musik jaman dahulu. Siapapun yang merasa berbakat di dunia tarik melodi bisa berkarya melalui media nya sendiri bahkan bisa publishing se
Recent posts

It Ain't Over 'till It's Over

Kali ini sajian dari negara Korea. Berkisah tentang kasus sebuah penculikan berakhir dengan pembunuhan seorang anak kecil yang belum terpecahkan kemudian kasus tersebut dijadikan sebuah film. Salah satu penonton film kasus penculikan dan pembunuhan tersebut adalah Da Eun yang tidak lama lagi akan menjadi seorang wartawati. Dalam salah satu adegan film tersebut menampilkan pembicaraan telepon asli dari sang penculik dan suara serta quote dari sang penculik tersebut mengingatkan Da Eun kepada sosok yang sangat dikenalinya selama ini. Film Korea kali ini cukup menarik. Khas Korea dengan konsep misteri pembunuhan yang berlapis-lapis. Plot cerita dengan konflik yang tidak datar berjalan naik-turun. Penonton akan digiring untuk menebak salah satu karakter tersangka yang kemudian dimentahkan terlebih dahulu untuk kemudian diakhiri dengan plot twist. Overall, beruntung kali ini Movielitas bisa menikmati sajian Korea yang kerap kali "membingungkan" dengan nama karakter dan tampilan fi

Sejarah Yarnell Hill Fire

Film yang disutradarai oleh Joseph Kosinski ini berkisah tentang sebuah grup pemadam kebakaran yang bernama Granite Mountains Hotshots. Salah satu yang menarik dan membuat penasaran di awal adalah tag based on true story . Mengangkat tentang tragedi kebakaran hutan yang terjadi di Bukit Yarnell, Amerika Serikat. Beberapa hal yang membuat film ini terasa berat bagi Movielitas adalah plot cerita. Intisari cerita film ini mengangkat kisah tragedi kebakaran hutan, sedangkan untuk menuju ke intisari cerita ini seakan perlu membutuhkan waktu yang sangat lama dan panjang. Di satu sisi gaya plot cerita yang "panjang" ini mungkin untuk membangun chemistry agar tidak hanya menyorot tragedi kebakaran saja, tapi juga konflik ego personal yang dialami oleh masing-masing karakter tokoh di dalamnya. Alur cerita dibuat bercabang sedemikian rupa untuk membangun kesan adanya tali persaudaraan yang kental di dalam grup Granite Mountains Hotshots ini. Menurut Movielitas juga akan lebih bisa meni

Bila kita tidak mencurangi hidup, maka hidup lah yang akan mencurangi kita

Ini namanya film berkualitas. Yang paling menarik perhatian Movielitas sejak film dimulai hingga akhir adalah, kalau benar istilahnya, sinematografi. Keren. Berbeda dan modern. Tidak kalah dengan Hollywood punya. Konflik ceritanya, konon menurut wikipedia diinspirasi dari kejadian nyata, pun sangat sederhana sebenarnya. Konflik yang diangkat sangat lumrah terjadi di dunia nyata, yaitu contek-mencontek antara siswa. Bila terjadi aktifitas contek-menyontek dalam lingkup sekolah, mungkin masih biasa. Namun menjadi luar biasa ketika mulai menyentuh level ruang lingkup internasional. Konflik drama per-sekolahan ini juga sedikit melenceng dari ekspektasi Movielitas. Tidak ada adegan romantis percintaan kisah kasih di sekolah. Dan, bagi Movielitas, film ini mungkin akan lebih menarik bila ruang lingkup cerita hanya sebatas sekolah. Karena menurut Movielitas, konflik cerita menjadi agak "berlebihan" ketika memasuki babak ujian masuk kampus Amerika. Sampai berbekal percetakan barcode

Saat Abalam benar-benar belum mau pergi

" Sangat aneh bila mendengar judul The Last Exorcism atau pengusiran setan Terakhir menjadi sekuel. Bila ada "terakhir" kenapa dibuat sekuel? Mungkin karena faktor edisi sebelumnya cukup sukses di pasaran, akhirnya mau tidak mau secara bisnis harus ada sekuelnya. Kali ini Movielitas berkesempatan menonton sekuelnya yang ternyata masih tersimpan di rak daftar tayang Netflix. Karena lupa dan benar-benar sangat lupa detail seri pertamanya, awal menyimak cerita film ini memang terasa hambar dan bingung. Film ini masih menyambung dari seri sebelumnya, yaitu seputar tokoh Nell Sweetzer, yang dikisah sebelumnya mengalami kerasukan. Kali ini Nell diceritakan tinggal di sebuah penampungan. Merasa bahwa bayangan kegelapan yang hinggap di diri Nell telah pergi, namun dugaan tersebut salah. Nell kembali mengalami gangguan-gangguan selama di penampungan. Gaya horor film garapan Ed Gass Donnelly ini masih standard saja. Lebih bermain di adegan jumpscare atau adegan kejut dengan dentum

Keluar dari Dunkirk

Kali ini dapat jatah film berlatar belakang perang Jerman lawan Inggris. Dan, Movielitas yang sedikit lemah geografinya, baru tahu kalau ternyata Dunkirk ini adalah nama tempat. Kalau di literasi resmi, Dunkirk ada di Perancis sana. Bagi Movielitas, film ini berat di alur cerita. Merajuk pada rating IMDB, film ini cukup bagus. Namun, Movielitas kurang bisa mendapatkan yang menarik dari film garapan sutradara kenamaan Christopher Nolan ini.  Di awal film, hal yang membingungkan untuk Movielitas adalah nama karakter dan sepintas terlihat mirip susah membedakan. Alur film ini, yang Movielitas lihat, seperti berjalan dengan tiga sudut pandang dengan masing-masing konfliknya.  Pertama, dari sudut pandang tentara Inggris, yang nama karakter-nya kurang begitu jelas, menyelamatkan diri dari kejaran tentara Jerman, lalu dilanjutkan dengan konflik perjuangan melarikan diri dari Dunkirk. Kedua, dari sudut pandang dua orang pilot. Pilot ini bertugas menghalau pesawat Jerman yang berusaha menghancu

Drama penyanderaan yang "ganjil"

Kalau membaca dari ulasan singkat yang tertera, lumayan menarik rasa penasaran. Sebuah film dokumenter yang berisi rekaman asli langsung dari Tempat Kejadian Perkara. Tepatnya kejadian perampokan disertai penyanderaan yang terjadi di Jerman Barat pada 16 Agustus 1988. Perampokan dan drama penyanderaan ini dilakukan oleh tiga orang (dua pria dan satu wanita) dimulai dari sebuah bank di pagi hari yang sangat cerah. Drama penyanderaan selanjutnya berlangsung selama 54 jam lamanya dan memakan korban dari pihak sandera. Entah karena pada era tersebut, teknologi belum secanggih saat ini atau bagaimana, kesan yang muncul saat menonton dokumenter ini ada sedikit rasa aneh sekaligus "menggelikan". Drama penyanderaan yang berlangsung di bank kemudian berlanjut di sebuah bus umum, berhasil diliput oleh banyak media baik cetak maupun televisi dan radio. Tidak tanggung-tanggung, para awak media ini berhasil meliput dari jarak yang sangat dekat bahkan seperti disambut hangat oleh pelaku de