Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2015

Koboi tak termaafkan

Ceritanya berat. Penulis belum bisa menyamakan irama cerita-nya. Sering kehilangan link cerita antar segmen. Padahal nilai film ini terbilang sangat bagus. Entah, mungkin lagi pusing jadi film sebagus ini sulit dicerna. Unforgiven (1992) - 6/10

Bangkit dan terbang dari debu pasir gurun Gobi

Film ini langsung mengingatkan pada film klasik Alive . Tentang sebuah kecelakaan pesawat terbang dan terdampar di daerah yang jauh dari jangkauan pertolongan. Alurnya ceritanya kurang lebih sama, tentang survival . Disini juga ada persahabatan dan beda pendapat antar penumpang yang selamat. Hanya saja beda dalam konfliknya. Bila di Alive, para penumpang mendapatkan konflik cuaca dingin ekstrim, disini konfliknya dengan cuaca panas ekstrim. Tepatnya di somewhere in Gobi Desert. Mongolia. Bila di Alive merupakan kisah nyata, disini fiksi. Di Alive, para korban yang selamat lebih menunggu pertolongan, disini para korban justru membuat pesawat baru untuk menyelamatkan diri. Yang sedikit mengganjal disini adalah konflik dengan penduduk Mongolia. Karena meski tanpa konflik dengan penduduk Mongol pun, sepertinya berjuang di tengah gurun badai tanpa pertolongan apapun siapapun daya cerita film sudah cukup kuat. Satu catatan lagi adalah untuk permainan akting yang menarik dar

Duri dalam juri

Karena bukan warga Amerika dan tidak paham soal hukum, penulis hanya meraba bagian luar sistem hukum di negara tersebut. Ada saksi, bukti, dan juri. Ketiga hal inilah yang akan menentukan putusan sidang soal kasus. Dan, di film ini mengangkat elemen juri dalam sebuah pengadilan. Menariknya adalah lipatan konflik yang dihadirkan sangat manis dan cerdas. Di segmen pertama, akan terasa konflik membela hukum yang berbeda. Yang satu, Rohr memakai gaya konvensional dalam membela kebenaran dan keadilan. Yang lain, Fitch, bekerja secara modern dan profesional, tak peduli benar atau salah, bayaran adalah utama. Dan, ketiga adalah "duri" dalam juri, Nick Easter, yang memiliki misi awal jual-beli suara, siapa yang mau membayar tinggi maka akan menang di dalam pengadilan. Seru. Persaingan pembela penuntut Rohr-pengacara terdakwa diketuai Fitch dalam "memilih" juri berlangsung seru. Di satu sisi, kocak melihat Nick yang "menyetir" para juri sekaligus R

Monster Sungai Han

Korea jago buat film romantis, biasa. Korea jago buat film misteri berliku tajam, juga biasa. Kali ini, Korea punya suguhan yang sedikit berbeda, yaitu menampilkan drama animasi. Konfliknya serius, yaitu tentang pembuangan limbah besar-besaran ke aliran sungai Han, yang berakibat pada tumbuhnya seekor monster sungai. Dramanya juga serius. Tentang satu keluarga yang terkena imbas pada aksi monster. Seorang Hyang Seo yang masih belasan tahun tinggal sederhana di sebuah warung kecil bersama ayah penjaga toko dan kakeknya. Hyang Seo secara tak sengaja "diculik" oleh sang monster sungai. Mengetahui bahwa Hyang Seo masih hidup, ayah Hyang Seo - Gang Du- bersama kakek dan paman pengangguran plus pemabuk, serta bibi atlet pemanah kemudian mencari dan menuntaskan sang monster. Drama yang ditampilkan sangat luar biasa. Indah . Babak pencarian Hyang Seo disini cukup menarik diikuti tanpa harus berbelit-belit. Ada drama manis sekaligus drama pahit. Campuran manis-pah

Perjalanan panjang menuju Playboy Mansion milik Hugh Hefner

Suka dengan majalah Playboy ? Mungkin film ini bisa menjadi salah satu alternatif menikmati Playboy namun tidak secara vulgar. Kisah film ini sederhana saja. Adalah Eugene yang jatuh hati kepada Cindi. Di tengah pesta perpisahan, Eugene mendapatkan "kecelakaan" yang berujung pada kondisi koma selama bertahun-tahun. Setelah siuman dari koma panjang, Eugene mendapati bahwa kekesihnya Cindi kini telah menjadi bunny milik Hugh Hefner di majalah Playboy. Dikemas dalam nada humor komedi. Namun kurang begitu mantab. Berusaha konyol namun tak termunculkan dengan sempurna. Komedinya datar saja kadang juga gross. Kalau dari segi visual, tentu saja seksi apalagi temanya seputar majalah pria dewasa. Sisi konfliknya sejalan dengan alur cerita, yang seharusnya simple dibuat serumit mungkin. Kesannya biasa , datar dan ringan saja. Miss March (2009) - 5/10

Dicari seseorang yang ingin berpetualang lintas ruang dan waktu

Meski nilai kritik film ini terbilang bagus di berbagai media internet, namun penulis kurang begitu menikmati. Lebih tepatnya sedikit "berat" alur dan maksud konfliknya. Sejauh yang bisa penulis raba film ini berkisah tentang perjalanan para jurnalis menyelidiki sebuah iklan aneh. Iklan tersebut mencari travel-mate yang akan diajak berpetualang ke masa lain. Center cerita ada pada karakter Darius sang jurnalis dan Kenneth sang pembuat iklan sekaligus sang ilmuwan. Di kanan-kiri diselipkan kisah cinta lama Jeff dan computer nerd Arnau yang masih virgin - teman jurnalis Darius. Alur ceritanya biasa saja. Konfliknya yang membuat "bingung". Menurut penulis alur akting pemainnya pun kadang terasa kaku. Komedinya di beberapa moment terasa seperti nuansa Mr.Bean. Mungkin perlu beberapa kali lagi menyimak film ini agar bisa lebih meresapi jalan cerita sebenarnya. Safety Not Guaranteed (2012) - 6/10

Ketika hidup "dimakan" usia

Drama yang menarik. Drama tentang tiga wanita tiga generasi yang sama-sama sedang mencari dan mengalami kegalauan. Sutradara Sylvia Chang yang juga sekaligus ikut bermain, paling tidak berhasil menyajikan olahan 3 cerita kehampaan yang terpisah, serempak, namun tetap terjaga iramanya tanpa harus membuat bingung. Usia 20. Ditampilkan melalui karakter Xiau Ji. Muda, masih gembira mencari dunia baru. Berpetualang. Usia 30. Usia matang. Berkarir. Namun, terlalu berkarier menyebabkan sisi hidup Xiang menjadi hampa. Menjalin hubungan dengan beberapa pria tetap saja hidup Xiang hampa. Usia 40. Usia dewasa. Namun, sayangnya Lily harus terpuruk karena rumah tangga yang terpecah. Mengalami krisis kesendirian. Apakah menggambarkan realita? Entah. Bisa jadi demikian memang kenyataannya. Mereka bertiga sebenarnya sama sedang "mencari...". Kisah mereka berjalan sendiri-sendiri, namun sebenarnya saling berdekatan. Sajian yang unik dengan citarasa drama cinta

Peninggalan sejarah terjajah perang antar saudara sendiri

Film milik HBO yang menceritakan tentang sejarah satu pembantaian terhebat yang pernah ada. Tepatnya di Rwanda. Dan, semua terjadi akibat peninggalan penjajahan jaman dahulu kala. Antara Hutu dan Tutsi. Mereka bersaudara namun "dipecahkan" oleh penjajahan bangsa Eropa. Alur ceritanya sedikit "berat" karena jalan cerita maju-mundur. Setting tahun 2004 menceritakan pengalaman seorang guru, Muganza, yang pada tahun 1994 mengalami masa-masa perih akibat harus terpisah dari keluarga hanya karena beristrikan lain suku. Tak hanya pengalaman Muganza sebagai tokoh sentral tetapi juga pengalaman dan cerita karakter lainnya juga dilebur dalam alur cerita Muganza ini. Kalau konflik, HBO sudah cukup bagus mengambil sisi perih sebuah peperangan. Mereka yang tidak terlibat, mau tidak mau ikut bersimbah darah kehilangan segalanya. Pesan moral film ini, bahwa tak ada yang baik dari sebuah peperangan. Hanya melahirkan penderitaan ketidaktenangan serta hidup dalam pen

Sadako dan video

Kesekian kalinya menyimak The Ring seri kedua ini, masih tetap saja belum "dapat". Masih berat. Masih sulit dicerna maksud arah jalan cerita serta horornya. Salah satu yang membuat berat adalah nama karakternya yang membingungkan dilengkapi dengan kaitan cerita antar karakternya dan kaitan cerita dengan seri pertamanya. Gaya horor dengan untaian rambut panjang-jubah putih-berjalan pelan-mendelik-wajah putih pucat, lama-lama memunculkan rasa bosan daripada rasa horor. Terlalu umum. Dibandingkan yang pertama, tampilan horor dan arah cerita disini kurang menarik lagi. Aroma Sadako disini memang ada tetapi tidak sekuat yang pertama. Ring 2 (1999) - 5/10

Saat sang iblis melawan keadilan yang buta

Superhero dari komik. Menariknya, masih memberi kesempatan bagi yang belum familiar dengan superhero satu ini. Dan, bagian perkenalannya dibuat seringkas mungkin tanpa harus memberatkan jalan cerita. Dan, penulis adalah salah satu yang kurang familiar dengan karakter superhero DareDevil ini. Durasinya lumayan panjang. Alur ceritanya berliku. Konfliknya lumayan cerdas. Tidak dangkal juga tidak terlalu bertele. Ada sedikit selipan-selipan kecil rasa komedi ringan. Gaya aksi tarungnya lumayan enak dinikmati dengan gaya slow-mo dan komputerisasi. Penampilan Ben Affleck cukup lumayan membawakan karakter Matt. Begitu pula dengan gaya Colin Farrell yang cukup gagah membawakan karakter Bull's eye. Lagu soundtrack-nya keren. Baru tahu ternyata lagu Evanescene yang jadi soundtrack-nya. Benar-benar menyihir momen duka dan momen pra-revenge menjadi sangar. Daredevil (2003) - 6/10

Cerita tentang film Jodoh Boleh Diatur

Nostalgia. Ini adalah film Warkop DKI lawas yang setidaknya beraroma drama cukup kuat. Alur ceritanya panjang, berjalan dan terjaga dengan satu topik hingga akhir. Yaitu mencari jodoh. Dono, Kasino, Indro bertiga kompak ikut biro jodoh. Dan, masing-masing menemukan "jodoh"nya masing-masing. Namun, sayangnya semua berakhir dengan patah hati. Dan, paling parah adalah Dono karena jodohnya berada di Malaysie. Mungkin karena kepopuleran Warkop kala itu sedang berada di puncak, di film ini syuting pun dilakukan di Malaysie. Bagian drama perjodohan ditampilkan cukup menarik. Meski beraroma drama, tetapi tak ketinggalan rasa komedi juga menjadi bagian yang juga berasa cukup segar menghibur. Yang menarik lainnya adalah musik pengiringnya. Pas dengan momen alur ceritanya dan beda dengan ke-khas-an musik pengiring Warkop DKI umumnya. Jodoh Boleh Diatur (1988) - 6/10

Kisah Henry Hill

Gaya drama disini kurang lebih sama dengan biografi Frank Lucas di American Gangster . Sama-sama kisah nyata. Sama-sama besar di dunia kriminal. Sama-sama di dunia gangster. Sama-sama panjang dan padat. Hanya saja dibandingkan dengan American Gangster disini lebih berat sedikit. Bila tak fokus sedikit bisa kehilangan link story . Kepadatan durasi dan cerita di American Gangster lebih ringan dan gampang dicerna. Tapi di keluarga besar mafia Italia disini, lebih luas konfliknya. Lebih berat. Lebih banyak karakter yang ditumpahkan dalam film ini. Ada konflik Henry Hill dan Jimmy. Ada konflik Tommy. Konflik dengan Paulie. Konflik percintaan, narkoba, rumah tangga, dan kriminal. Goodfellas (1990) - 6/10

Tetangga koq gitu sih?

Satu lagi komedi yang cukup menghibur di siang liburan. Gabungan trio Danny De Vito sebagai sutradara dan Ben Stiller sebagai Alex suami dari Nancy oleh Drew Barrymore. Alur ceritanya cerah dengan grafik konflik yang menanjak mulai dari dasar perkenalan sebagai tetangga baru sampai menjelma menjadi killer flu (pembunuh dengan senjata supernya yaitu penyakit flu). Masih gagal, menanjak lagi kali ini menyewa seorang pembunuh bayaran. Kocak. Gaya Ben dan Drew yang dibully oleh kelakuan Ny.Connely sangat pas dan menghibur. Duplex (2003) - 7/10

Keyser Soze

Alur cerita film ini sebenarnya menarik dengan twist manisnya. Dalam. Perlu konsentrasi agar tak kehilangan link cerita Verbal. Sayangnya, terlalu kompleks. Rumit. Tapi, hal ini tentu tak berlaku bagi para penggemar genre seperti disini. Kasusnya seputar penembakan serta kebakaran di kapal, diceritakan jauh sekali ke belakang ( flashback ). Konfliknya adalah mencari pelaku sesungguhnya. Kalau dari sisi twistnya cukup cerdas menipu dan mantap. The Usual Suspect (1995) - 6/10

Hadir untuk mengambil manusia

Sisi horornya lumayan. Selipan horornya cukup baik, tidak memaksa menjejali jalan cerita. Kalau yang biasa ada sesi korban jatuh satu demi satu, tapi disini diolah sedikit berbeda, tanpa korban jatuh satu demi satu melainkan dari sekedar mengganggu beranjak menjadi penjemputan paksa. Setelah sesi konsultasi, alur cerita mulai kehilangan daya tarik karena sudah diketahui apa konfliknya. Rata-rata. Tidak terlalu bagus juga tidak buruk. Dark Skies (2013) - 6/10

Jalan kembali untuk menemukan cinta

Ketika menyaksikan film ini teringat gaya film Hugh Grant yang senada dengan konsep film ini yaitu Notting Hill . Disana Grant bermain sebagai pria biasa yang dijatuhihati oleh seorang pesohor, Julia Robert. Hanya bedanya, disini dibalik. Kini, Grant menjadi pesohor atau tepatnya mantan pesohor sebuah grup band bernama PoP!, Alex Fletcher, yang jatuh hati kepada seorang wanita biasa, Sophie. Kali ini duet Grant adalah Drew Barrymore. Disini sama juga konsep ceritanya. Pesohor jatuh cinta kepada rakyat jelata. Cocok. Lalu selisih paham. Cocok lagi. Tema yang diangkat sebagai simbol bahwa lirik tanpa musik akan terasa kurang, juga sebaliknya. Dan, keindahan perjuangan perpaduan lirik dan musik itulah yang tercermin pada sebuah lagu yang dikerjakan oleh Alex dan Sophie. Disini lebih musikal ketimbang Notting Hill. Lagu utamanya sangat renyah dan easy listening . Sekali dengar langsung terasa akrab. Jika dibandingkan, penulis lebih menyukai keromantisan Notting Hill

Kisah cinta tanpa mengobral kata

Film ini menawarkan konsep cerita menarik sekaligus berbahaya. Caranya adalah menempelkan selebaran iklan ke pintu atau pagar depan rumah. Tunggu beberapa hari, bila masih tertempel maka bisa dikatakan rumah itu sedang kosong atau ditinggali. Karena logika dasarnya, bila sang penghuni rumah mencintai keindahan atau kebersihan, maka selebaran iklan tersebut pastinya akan dilepas. Film ini lebih ke arah unik. Karakter utamanya adalah seorang pengembara dari satu rumah ke rumah yang lain yang ditinggali oleh pemiliknya. Di rumah "sementara kosong' itu karakter utama ini tidak mencuri melainkan makan, mandi dan malah membereskan rumah. Dan, mengakhiri aksinya dengan selfie (kalau diadaptasi oleh sineas lokal peniru kelas berat sejati di sini pasti akan ditambahi momen upload di Path, Instagram, Twitter, Facebook, Kakao, Line , dll) Unik. Karena sepanjang film ada dua karakter utama yang minim dialognya. Bahkan untuk karakter pria-nya tidak ada dialog sama sekali. Dan

A Frozen Second

Sendu. Menyatu dengan perjalanan petualangan karakter Ben setelah broken heart dengan kekasihnya. Sendu. Kelam. Muram. Suram. Hingga suatu ketika Ben bertemu dengan Sharon. Manis. Sedikit vulgar namun dikemas terpadu menyatu dengan kisah karakter Ben yang memang pelukis. Ada aroma drama ditaburi fantasi frozen time lalu dicampuri beberapa sexy scene yang cukup "apa adanya" dan komedi. Gaya film ini unik. Apalagi gaya bergerak di antara frozen scene seperti video klip lagu. Berseni. Ini yang membuat sisi vulgar film tidak terlihat kasar. *bikin iri bisa membuat waktu membeku* Cashback (2006) - 7/10

Welcome To Hamburger Hill

Satu lagi sebuah kisah nyata tentang perang klasik antara serdadu Amerika melawan Vietnam. Alasan pertama memilih film ini adalah efek setelah melihat Saving Private Ryan seperti ada kesukaan tersendiri menyimak war movie , kemudian ber-hunting mencari film-film bersetting perang. Alur cerita serta dramanya biasa saja. Separuh babak tentang drama serdadu di kamp, separuh babak di medan tempur. Yang menjadi konflik lebih ke internal antar pasukan Amerika menjelang dan selama pertempuran Hamburger Hill selama kurang lebih 10 hari. Segmen perangnya juga biasa saja. Chaos tembak sana dan sini, bom, terluka, teriak sana sini. Yang menarik disini ada kesamaan peristiwa friendly fire seperti di We Were Soldiers . Dan aktor Don James sebagai Elliot McDaniel sekilas "menipu" karena mirip sekali dengan Terrance Howard. Hamburger Hill (1987) - 6/10

Bermain api sendiri terbakar sendiri

Dramanya kurang power. Kurang menggigit. Tentang pengalaman seorang Allison yang berada di posisi anak gadis tunggal dari keluarga kaya raya. Allison hidup kesepian dan sempat salah gaul. Pergaulan bebasnya membawa sebuah konflik kasus bermain api terbakar. Alur ceritanya biasa saja. Drama bermain api sendiri kemudian terbakar sendiri sepertinya tidak ada twist atau segmen hook apa-apa. Datar. Havoc (2005) - 5/10

Saat Uni Soviet dan Amerika berjabat tangan demi keluarga ikan paus disaksikan oleh dunia

Yang menarik dari film ini adalah, indahnya kebersamaan. Dan kisahnya nyata. Berkisah tentang sekeluarga kecil 3 ekor paus malang yang terperangkap di lautan es. Ada paus jantan, paus betina, yang sedang melindungi sang bayi mereka yang terluka. Namun, malangnya mereka terperangkap di lautan beku dan terpisah jauh dari lautan air. Keberadaan mereka diketahui oleh penduduk Eskimo yang kemudian menjalar hingga menjadi berita internasional. Tak ketinggalan bersama penduduk Eskimo, ada Greenpeace, ada National Guard, hingga Washington pun turun tangan membantu menyelamatkan nyawa 3 paus ini. Hingga akhirnya diketahui ada penghalang besar yang menutupi jalan keluar para paus ini menuju lautan lepas, akhirnya Uni Soviet - yang saat itu masih berseteru dengan Amerika - terpanggil untuk bersama-sama membebaskan ketiga paus malang ini. Tidak hanya antar pihak di sekutu Amerika, melainkan mereka yang awalnya saling mengepalkan tangan membela kepentingannya sendiri-sendiri, b

Jam sibuk di Paris

Setelah bertarung di jam sibuk Amerika , lalu terbang liburan sibuk ke Hongkong , dan kini berada di kesibukan Paris, Perancis. Duet Tucker-Jackie masih kompak menghibur dengan gaya masing-masing. Masih tetap ramai dan menghibur. Ceritanya menyambungkan tentang Konsul Han yang pernah ditangani opsir Lee di seri pertama. Tucker masih mengandalkan gaya mulut yang tak bisa diam dan nyaring. Tak lupa, sebagai khas menyelipkan unsur Michael Jackson namun kali ini minus lagu Don't Stop Till You Get Enough -nya. Jackie masih menghibur dengan aksi laganya yang baru dan segar. Dibandingkan dengan seri pertama,kedua,dan yang ini dari segi alur cerita, masih lebih ringan dinikmati pada seri pertama. Yang kedua dan ketiga ini, alur cerita dan konfliknya sedikit lebih berlipat-lipat. Rush Hour 3 (2007) - 6/10

Kebetulan dalam 2 hari

Beberapa menit mencoba mengingat-ingat film yang berkonsep mirip dengan film ini. Yang sejauh penulis dapat ingat adalah 11:14 . Konsepnya beberapa karakter memiliki jalan ceritanya masing-masing lalu diketemukan menjadi satu oleh satu kejadian. Setidaknya seperti itu gambaran besar film ini. Bedanya, di 11:14 lebih menarik dan mudah dicerna meskipun dengan gaya timeline story yang mundur. Disini di beranda, timeline nya dipicu oleh pembunuhan Roy. Sementara itu di tempat lain ada karakter lain yang memiliki konfliknya sendiri kemudian secara kebetulan mereka dipertemukan. Bagus konsepnya. Unik. Mungkin di beranda akan terasa random namun bila sabar menanti akan mulai terlihat jalan ceritanya. Penulis sendiri baru "tersadar" dan bisa mulai jelas menangkap maksud cerita ketika karakter Becky Foxx bertemu dengan Helga. 2 Days In The Valley (1996) - 6/10

Mencari bayangan Bobby Fischer

Berbicara tentang film genre sport atau olahraga yang pernah penulis saksikan, antara lain basket, sepakbola, tinju, rugby amerika. Sekarang satu genre cabang olahraga baru bagi penulis dalam film yaitu catur. Menariknya berdasarkan kisah nyata . Menariknya lagi adalah bintang utamanya adalah seorang bocah berusia 7 tahun. Memiliki minat serta bakat di atas papan catur. Alur ceritanya menarik juga. Tidak terlalu berat perlu berpikir seperti layaknya permainan catur. Ada taste drama keluarga, dramatisasi kejuaraan, dramatisasi sayang anak, guru-murid. Ada juga sedikit kelucuan tingkah lugu bocah. Konfliknya tentu saja grafik naik turun dalam kompetisi catur. Dan film ini dipengaruhi secara dominan oleh akting bintang ciliknya, Max Pomeranc . Cukup bagus kualitas akting Max membawakan karakter nyata Joshua Waitzkin. Disini dikisahkan perjalanan karir Joshua dipengaruhi oleh kasih sayang orang tua yang mendukung penuh minat bakat Joshua memainkan bidak-bidak catur sec

Because a man's happiest moment is also his weakest

Judulnya sudah kebayang. Ada organisasi yang dipimpin wanita cantik-pastiii,seksi-pastiii, sedang mengadakan kontes got talent dengan "menculik" para bocah perempuan untuk dilatih menjadi pembunuh pro. Waktupun berlalu, mereka para gadis cilik berubah menjadi "matang" dan "segar". Hasil latihan "perang" selama di pulau rahasia merubah baik mental maupun fisik menjadi membesar dan menarik. Segar. Alur ceritanya biasa saja. Konsepnya biasa. Sebelum masuk ke konflik utama, penikmat cerita disodorkan hidangan pembuka, Tank top plus hot pants everywhere everytime. Wow. Selalu menjual keseksian bahkan di saat aksi baku tembak sekalipun. Kisah adultnya tak sevulgar yang diharapkan. Ada namun "setengah-setengah". Memaksa seksi di setiap segmen. Maggie Q tampil anggun cantik manis indah jagoan segar keren. Laganya lumayan meski di beberapa segmen terasa didramatisir hingga kaku dan tidak natural alias berlebihan. Apalagi segme

Hanya kecurangan dan keluarga yang mampu menjatuhkan Mo Chuisle

Yang membuat penulis penasaran dengan film ini awalnya adalah nama besar para pendukungnya. Sebut saja Clint Eastwood, Morgan Freeman, Hillary Swank, dan ada juga Anthony Mackey yang hanya supported role saja. Dramanya menarik. Seorang petinju wanita bersikeras untuk berlatih dan menjadi petinju pro meski usianya memasuki kepala 3. Namun sayangnya sang petinju wanita ini memiliki keluarga yang "sakit". Grafik emosional film ini cukup bagus. Dimulai dengan datar, lalu momen berlatih keras, terbuai kemenangan demi kemenangan ala Tyson yang "gemar" meng-KO lawan di ronde pertama, drama keluarga yang pahit, lalu dihantam oleh kecurangan. Dan, momen paling emosional memang pada momen dicurangi. Di ronde ini, penulis ikut merasakan bagaimana hancurnya hati Maggie bertubi-tubi. Di ronde inilah penonton ikut digiring pada pukulan telak demi pukulan bukan ke wajah, namun langsung ke hati. Lebih menyakitkan lagi adalah Maggie secara tegar masih bisa ters

Jelang pertarungan di atap sekolah

Alasan utama memilih film ini adalah Bong Tae Gyu yang penulis kenal lewat akting tak berdosanya di When Romance Meet Destiny . Disini menceritakan pengalaman Dahl yang ditantang berkelahi oleh murid berandalan nomor satu di sekolah seusai jam pelajaran di atap gedung sekolah. Kekocakan film ini biasa saja. Alur ceritanya lebih kurang memakai gaya kisah sehari namun dipanjang-panjangkan. Paling tidak menghibur. Tapi memang gaya Bong dengan mimik khasnya tidak bisa tidak lucu. See You After School (2006) - 6/10

Ada cerita sebelum melompat

Ada Gavin yang sedang berencana untuk bunuh diri dari atap gedung tinggi. Seorang negotiator kepolisian, Hollis, didatangkan untuk menggagalkan aksi nekat Gavin. Alur cerita film ini terasa suram. Lamban. Yang terjadi adalah percakapan panjang antara karakter polisi Hollis dan Gavin. Gavin bercerita alasan ingin bunuh diri, tak mau kalah Hollis pun menyimpan masalah dalam rumah tangganya. Konfliknya terlalu banyak. Belum lagi konflik Gavin yang jatuh cinta terlarang. Lalu ditambah bumbu masalah agama. Dengan alur lamban, konflik melebar, dan atmosfir suram membuat film ini terasa hambar dalam daya pikat. The Ledge (2011) - 5/10

Terowongan Merah

+18++ Kesan pertama begitu sampai di beranda, adalah membingungkan. Semua serba dibalik bagaikan harus membawa layar komputer ini ke kaca agar bisa sempurna menikmati tayangan. Gaya ceritanya awalnya terasa "rumit". Tidak mainstream . Bercerita mundur. Pertama, terasa sulit dicerna. Kalau bagi penulis baru setelah segmen terowongan merah, merasakan kesegaran tersendiri ketika menyadari letak kreatifitas film ini. Yang berkesan lagi adalah gaya adegannya. Seperti hanya sekali " take ". Satu segmen berjalan tanpa "jeda" scene . Tidak ada sorot karakter per dialog. Melainkan dalam satu scene, kamera seolah dibopong berjalan mengikuti karakter dan tanpa henti terus menyorot berpindah sudut. Baru setelah satu segmen selesai, kamera akan berputar seperti terguling-guling membuat pusing. Selain gaya alur yang unik, film ini juga dikenal "panas". Tidak rapat juga tidak banyak adult scene , hanya saja penampilan Monica Bellucci dan Vi

Demi kejantanan

+18!! Tentu saja film ini bukan untuk kalangan anak kecil, jiwa labil, dan peniru akut. Tidak ada hal lain selain tentang keintiman. Kisahnya berawal dari kasus " I blinked and its over ". Tampilannya berani. Vulgar. Segar. Adult scene nya ditebar banyak. Hanya sedikit ganjil dengan gaya genit serta rintihan stereo-nya. Terlalu dibuat-buat. 3D Sex And Zen : Extreme Ecstasy (2011) - 6/10

Mimpi buruk yang basah

+18 Dari judulnya tentu saja terlihat gaya film ini akan kemana. Tentu saja erotis menjadi jualan utamanya. Alur cerita juga seputar fenomena erotisme. Tidak ada istimewa. Beberapa segmen terasa "kocak" dengan gaya akting yang kaku. Bekal utamanya adalah badan langsing, putih bersih, genit, meliuk-liuk, mimik wajah serta desahan eksotis. Heran saja melihat ada Anthony Wong disini. Erotic Nightmare (1999) - 5/10

Jembatan untuk kembali ke masa usia 17 tahun

Filmnya biasa saja. Komedi ringan dengan konflik rumitnya "menyamar" menjadi orang lain. Drama keluarga. Tentang seorang ayah yang "lupa" pada keluarga, dan diberi kesempatan kedua mengingat cinta keluarganya. Uniknya kesempatan kedua itu diberikan dalam bentuk transformasi usia kembali ke 17 tahun. Yang menarik ide ceritanya. Membuat iri sekaligus berandai-andai bila memang kesempatan seperti itu benar-benar ada, maka akan sangat menyenangkan bisa "kembali" ke masa-masa usia 17 tahun. 17 Again (2009) - 6/10

The Judas Killer

Film ini sebenarnya menarik awalnya. Horornya dibangun cukup "seram" dan misterius. Adegan kejutannya juga mengena. Yang kurang mengena, masalah denah rumah. Agak sulit mencerna denah rumah Annie Barlow ini. Kemudian, hingga sampai pada momen "komunikasi dengan Glick". Entah mengapa penulis merasa aneh pada momen komunikasi dengan alam lain, dan melihat bahwa alam lain menguasai permainan huruf dan kata. Dan, "permainan" kecil tersebut sukses mendowngrade daya tarik pada cerita selanjutnya. Belum selesai, lagi-lagi dikejutkan dengan "sesuatu" di bawah rumah. Konsep misteri "ada yang hidup" dibawah lantai, penulis merasa sudah pernah "dipakai" di film lain. Tapi, seingat penulis, bukan di bawah melainkan di balik tembok rumah. Penulis susah mengingat judulnya. Pendapat penulis, film ini "kurang" begitu menjaga irama cerita. Andai saja lebih fokus pada satu jenis. Mungkin akan lebih menarik bila alur c

Menolong dan berkorban dalam api

Film yang bercerita seputar tentang resiko sekaligus pengorbanan besar seorang pemadam kebakaran. Dari sisi pesan cukup bagus. Hanya dari sisi alur cerita terlalu panjang dan melebar. Konflik yang dimunculkan tak hanya sekedar profesi namun juga tentang rumah tangga dan korelasi antar rekan kerja. Mungkin akan lebih menarik dengan durasi lebih pendek dan konflik yang mengerucut seputar profesi dan pengorbanan. Ladder 49 (2004) - 6/10

Malam Natal berapi di puncak kemewahan Sky Tower

Awalnya, terasa seperti drama komedi romantis. Berkisah tentang sebuah gedung apartemen mewah menjulang ke angkasa. Sekilas teringat gaya "angkuh" ambisi manusia dalam Titanic. Drama cinta, drama keluarga, pemadam kebakaran, semua diaduk jadi satu. Sedangkan di gedung apartemen (hotel?) Atau mall? Kurang dimengerti. Tak lupa aroma komedi ikut dalam adonan cerita. Sedangkan di dalam gedung tinggi tersebut, banyak departemen yang akhirnya alur cerita film pun kemudian berjalan terpecah ke berbagai cerita banyak karakter dan konfliknya masing-masing. Kemudian konflik utama mulai digulirkan. Dan, "mirip" Titanic, dimana konflik utama tercetus akibat kesombongan manusia melawan alam. Akibatnya adalah disaster. Drama komedi romantis di awal berubah menjadi drama ledak api di sana-sini. Meski begitu, alur cerita tetap dipecah ke berbagai karakter namun masih satu nasib yaitu menyelamatkan diri. Kesan yang diperoleh dari film Korea kali ini adalah sedikit b

Banting membanting demi meraih kembali sabuk juara

Bagi penggemar WCW atau gulat bebas tapi yang versi sedikit klasik, film ini mungkin akan menghibur. Berhubung penulis bukan penggemar gulat bebas baik klasik maupun modern, tentu saja film ini hanya sebatas hiburan biasa. Komedi tapi jatuhnya juga biasa. Seputar dunia gulat bebas dengan mengusung karakter Jimmy King yang sedang terpuruk akibat kekalahan di atas ring. 2 orang penggemar beratnya, yang bekerja sebagai tenaga sedot tinja, akhirnya datang untuk memotivasi bintang pujaan mereka mengambil kembali sabuk juara gulat bebas. Karena (mungkin) diplot sebagai hiburan komedi, karakter utama sang pegulat ditampilkan tak berotot. Bahkan masuk kategori gemuk biasa. Baru kemudian, untuk lawan-lawannya ditampilkan bintang gulat sesungguhnya. Tinggi besar kekar berotot. Mengkomedikan kekontrasan fisik. Alur ceritanya biasa dengan rasa komedi yang juga biasa. Tak ada yang istimewa. Ready To Rumble (2000) - 5/10

Tiga gaya cerita tentang Adolf Hitler

Ada tiga film yang sudah penulis simak sejauh ini tentang Adolf Hitler. Dan, semuanya berkelas. Yang menarik bagi penulis selain cerita juga "bagaimana" menghentikan kekuasaan Hitler dan karakter Hitler yang ditampilkan. Pertama, ada Tom Cruise dengan Valkyrie -nya arahan Bryan Singer. Gaya filmnya mengambil cerita dari sisi bawahan Hitler yang membangkang. Disini Hitler diceritakan "dihabisi" di sebuah ruang rapat besama bawahannya. Sosok Hitler diperankan oleh David Bamber tidak terlalu mendapatkan porsi besar dalam film ini. Kedua, tepuk tangan untuk gaya Brad Pitt dengan Inglorious Basterds -nya yang cukup sadis menghabisi Nazi. Kelebihannya bukan sekedar cerita namun juga tampilannya yang fiksional. Di karya Tarantino ini sosok Hitler dihabisi di sebuah gedung bioskop dan Hitler yang diperankan oleh Martin Wuttke tidak terlalu mendapat porsi besar. Justru yang mendapatkan porsi besar adalah bawahan Hitler, Hanz Landa. Ketiga, adalah Downfall .

Detik-detik terakhir seorang Hitler

Satu lagi film tentang Hitler. Dan kali ini, bagus. Menarik sekali karena penulis kurang "akrab" dengan sejarah Hitler, melalui versi film ini paling tidak bisa mempelajari sekelumit sejarah tentang gaya seorang Hitler dan detik-detik terakhir masa Hitler berjaya. Yang bisa penulis tangkap dari kisah film ini adalah banyak yang "membangkang" dari Hitler ketika Berlin mulai tersudut oleh serangan Rusia. Hitler pun dipindahkan ke dalam sebuah bunker bawah tanah. Akting. Drama yang disajikan menurut penulis sangat bagus karena dipengaruhi besar oleh kualitas akting para pemainnya. Alur ceritanya bisa menarik daya menonton ke dalam bunker. Suasana mendekati detik-detik pasukan musuh mendekati bunker tempat Hitler bersembunyi dapat terasa dengan baik. Lokasi. Apalagi pemilihan lokasi cerita juga menarik, karena 90% sepanjang film menampilkan suasana dalam bunker. Konflik. Konfliknya tentu saja keteguhan Hitler untuk pantang dengan kata menyerah a

Lethal Weapon 4 the gang's all here

Diantara 3 seri sebelumnya, seri keempat ini favorit penulis. Lebih menggigit. Alur ceritanya dan konfliknya lebih simple. Komedinya terasa lebih "lebar" dan lebih santai. Gaya Mel Gibson dan Danny Glover juga semakin melengkapi. Semakin tidak serius dalam menanggapi kejahatan. Perdebatan mereka sedikit diperparah dengan kehadiran cerita keluarga, Chris Rock, dan Joe Pesci. Menghibur. Yang membuat pembeda sekaligus penyegar dalam seri keempat Lethal Weapon ini tidak lain tidak bukan, ladies and gentelemen please stand up .... Jet Li!!! *tepuk tangan buat aktor Asia ini. Dua thumbs.* Tidak bisa dipungkiri aroma film ini terpengaruh juga oleh gaya dingin Jet Li. Justru penampilan sadis Jet Li memang pas dengan gaya Jet Li. Lebih mantab. Keunggulan Jet Li setelah menyimak film ini dan beberapa film lainnya, ada satu ciri khas Jet Li yaitu meski menjadi jagoan, penampilannya lebih banyak "tertutup" dalam hal busana. Jarang memamerkan otot leng

Misi proyek film Argo

Kualitas penyutradaraan oleh Ben Affleck ternyata tidak main-main. Salah satunya di film ini yang mengangkat dari kisah nyata pelarian 6 warga Amerika dari Iran. Kala itu diceritakan bahwa Iran sedang bergejolak dan yang menjadi sasaran adalah gedung kedutaan Amerika beserta isinya termasuk para pegawai. Kalau dari sisi historisnya memang terasa agak berat bagi penulis. Kurang begitu memahami benar. Sejauh yang bisa penulis terjemahkan adalah mereka berenam sedang diburu oleh polisi Iran dan kesulitan untuk menembus keluar dari Iran. Hingga datanglah Harkins dengan proyek film Argo-nya. Yang menarik disini adalah film ini bisa "membangun" menampilkan keadaan masa lalu. Meski tidak seratus persen sama namun usaha film ini setidaknya mampu menghadirkan suasana tempo doeloe . Baik dari sisi kolosal demo, isi gedung CIA lengkap dengan televisi jaman dulu, rambut dan penampilan para karakternya juga mampu membentuk atmosfir era 80an. Sepanjang durasi film, gr

If my team need me to bleed, then I'll we bleed for my team

Based on true story - ini sudah menarik. Sean William Scott. Ini juga menarik. Awalnya kesan film ini (seperti) bakal terpengaruh oleh gaya konyol Sean di American Pie. Namun ternyata tidak. Akting Sean disini berbeda. Lebih serius. Juga fisiknya. Film ini bercerita seputar perjalanan karier Doug Glatt yang dimulai sebagai tenaga security. Kekuatan fisiknya boleh dikatakan di atas rata-rata pria biasa. Bakat kekuatan fisik Doug tercium oleh liga hoki es dan direkrut oleh tim Halifax Highlanders. Film ini juga menuturkan bagaimana prinsip profesionalisme ala Doug kepada tim yang merekrutnya. Bila diperlukan meraih kemenangan dengan berdarah-darah dalam arti berdarah sungguhan dengan mata lebam dan tulang bergemeretakan. Dramanya lumayan. Ada sedikit komedi dengan gaya lugu Sean sebagai Doug. Namun tak terlalu diumbar banyak. Hoki es. Kurang begitu familiar. Namun sedikit absurd juga dengan jenis sport ini. Secara terbuka membiarkan para player-nya bertinju one-on

Rumah yang penuh dengan kebencian dari masa lalu

Based on true story -nya membuat penasaran. Apalagi genrenya horor. Tapi, sayang terlalu dipaksa untuk horor. Horor disini mengandalkan make-up mengerikan dan darah. Dan penempatan segmen horor juga terlalu padat ditebar di sepanjang durasi film. Apalagi diperparah dengan kondisi film status rental-an, banyak scratch di tengah film yang mengurangi kenyamanan menonton. Segmen lain yang membuat horor terasa kurang menarik adalah segmen wawancara ala talkshow dengan nona Nounchawee yang pernah mengalami tindakan asusila di rumah kayu. The House (2007) - 6/10

After Life

Alur cerita film ini seperti pelan dan sisi horornya kurang menggigit. Biasa saja. Sepanjang film hanya dipermainkan antara memilih mana yang benar antara dunia mata Liam Neeson atau Christina Ricci. Beberapa segmen akting Ricci atau Long terasa aneh. Gaya Liam juga kurang cocok dengan peran funeral director yang sepertinya digiring ke arah karakter jahat. Konfliknya juga terlalu lambat dan bertele-tele. Idenya akan lebih menarik bila ada twist yang menjungkirkan opini sejak awal film. After Life (2009) - 6/10

Kutukan keluarga Saeki yang terus berkembang

Menata film Ju-on ini memang memiliki kesulitan tersendiri. Disini penulis dapatkan lagi satu seri lagi tentang kutukan rumah keluarga Takeo Saeki . Bila dilihat dari alur ceritanya, masih "dekat" dengan kisah yang pertama. Dimana disini diulas pembunuhan sadis yang dilakukan oleh Takeo. Selanjutnya, konsep cerita bergulir seperti seri Juon yang lain. Terbagi dalam beberapa segmen. Dan gaya horornya masih mengusung gaya yang sama. Suara menggemeretak, karakter Toshio yang putih dan mungil, kemunculan horornya mengandalkan gaya merangkak atau mengurai rambut panjang menutupi wajah. Kesamaan gaya ini sedikit banyak membuat nilai horor di seri ini menjadi biasa saja. Begitu pula dengan skema jalan cerita yang selalu terbagi dalam beberapa segmen namun memiliki garis penghubung yaitu kutukan Takeo. Mungkin akan terasa berbeda bila baru menonton pertama kali atau tidak mengikuti seri Juon sebelumnya. Juon The Grudge (2002) - 6/10

Harus ada seseorang yang berani membuat handbreak

Konfliknya lumayan. Simple saja. Tidak banyak cabang konflik. Sekelompok orang terjebak sebagai penumpang kereta. Kereta yang berjalan dengan kecepatan tinggi dan "tak mau" berhenti di tempat yang disediakan (stasiun). Konfliknya tentu saja seputar perjuangan "memberhentikan" kereta. Lalu siapa yang berulah? Motifnya apa? Hanya terlihat tangan memegang kendali kereta malam dan sebuah helm. Di titik ini lah yang menjadi nilai penurun. Karena dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Atau memang gaya baru? Misteri tetap menjadi misteri? Entahlah, yang pasti bagi penulis di titik misteri ini kurang daya pikatnya. Terlalu mengambang. Mungkin akan lebih memikat bila ada plot twist yang disimpan. Misal salah satu penumpang yang berulah, atau motif balas dendam terhadap karakter utama. Last Passenger (2013) - 6/10

Pukul 23 lewat 14 menit di Middleton

Film ini seperti mengajak untuk merenung sejenak. Mungkin ada benarnya, bahwa di detik yang sama akan ada banyak kejadian. Ada kejadian yang tak terkoneksi atau juga berkaitan. Ide cerita film ini bagus dan unik. Tak terpikirkan sebelumnya. Ada banyak karakter yang bermain pada segmen masing-masing namun sebenarnya saling terkait satu sama lain. Meskipun alur ceritanya berjalan mundur namun tak sampai memberatkan. Masih enak diikuti. Paling suka pada segmen Duffy yang merayu teman kerjanya di minimarket. Kocak melihat Duffy yang ketakutan sekaligus tidak tega dengan ide Buzzy agar terlihat seperti perampokan. Dan, memang yang menjadi rantai utama film ini sepengamatan penulis adalah Cherry-Aaron-Duffy dan Jack. Ulah mereka membuat mereka dipertemukan pada pukul 23 lewat 14 menit. 11:14 (2003) - 7/10

Creating a siamese triplet connected by the gastrci system

Film ini kuat di pemikiran ide cerita. Kemudian berani mengangkat pemikiran tersebut ke media film. Namun, terasa "sakit". Mungkin setiap orang memiliki pemikiran "sakit" tentang manusia lain. Film ini berkisah tentang dokter bedah kembar siam. Kemudian melakukan proyek bedah yang tak lazim dan jahat yaitu menyambung tiga manusia menjadi satu. Tidak vulgar hanya ketika proyek itu jadi baru terlihat "nyeri" dan gila. The Human Centipede (2009) - 5/10

Watch your destiny

Sudah 11 tahun berlalu sejak tragedi pesawat 180. Sudah sampai di seri kelima. Namun masih belum final meski judulnya Final Destination . Masih sama gaya dan skema ceritanya. Masih memakai bintang muda, segar, seksi. Masih menggunakan konsep cerita-kejadian-cerita lagi-kejadian lagi. Masih memakai gaya horor "penglihatan" dan serba kebetulan. Masih berjualan sadisme tingkat tinggi dengan tusukan cipratan dan potongan tubuh. Yang paling berkesan disini bagi penulis adalah momen pertama di jembatan gantung. Teknologi komputerisasinya cukup lumayan apik. Final Destination 5 (2011) - 6/10

Rame-rame bertarung laga di atas panggung The Expendables

Aksi laganya dimulai di bagian awal. Namun setelah itu senyap. Baru ada lagi laga-laga skala kecil dan besar lagi di bagian akhir. Alur ceritanya biasa. Karena film ini memang just for fun . Lebih terasa ke hiburan semata dimana mengumpulkan banyak bintang laga di dalam satu wadah film. Ditaburi sedikit komedi saling "olok" trademark antar karakter. Yang mengecewakan adalah Jet Li hanya ditampilkan sedikit sekali. Porsinya kecil. Kemudian digantikan oleh Yu Nan sebagai wakil Asia. Sebagai tambahan amunisi daripada seri pertama , ada tambahan Van Damme yang luar biasa otot tricep nya. Ada Chuck Norris. Ada Arnold dan Bruce Willis yang tampil agak banyak. Keseluruhan, cukup menghibur. Mungkin ada yang kurang yaitu Jackie Chan, Dwayne Johnson, Vin Diessel, John Travolta, Will Smith. The Expendables 2 (2012) - 6/10

Niat mencuri yang terhalang pembunuh

Filmnya bergaya horor. Ada seorang pria yang berniat mencuri namun niatnya itu justru membawanya bertemu dengan pembunuh bertopeng. Kurang menarik. Kurang daya pikat. Konfliknya kurang terang maklum hampir 95 persen film ini divisualkan dalam kondisi malam, minim penerangan lampu. Dan, sepertinya minimalis cahaya disini dijadikan sasaran empuk untuk genre horornya. Selain itu, andalan film ini adalah darah, histeria, dan sedikit bumbu seksi. Sayangnya, horornya kurang menegangkan. Pemeran utama oleh Josh Stewart yang sekilas mirip dengan Sean Penn. The Collector (2009) - 5/10