Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2015

Terkenang di lautan yang buas

Bagus. India-Amerika punya cerita. Tentang perjuangan hidup korban kapal yang karam terkena badai. Selama berbulan-bulan, Pi, terlunta-lunta di tengah laut dengan sekoci kecil bersama seekor macan dewasa. Bagaimanakah rasanya? Coba letakkan posisi diri pada posisi karakter Pi. Kisah nyata? Fantasi? Entahlah. Keduanya sama menariknya. Sama segarnya. Ide cerita benar-benar baru. Gaya petualangan yang belum pernah ada. Pilih cerita mana yang Anda suka, fantasi atau nyata? Baik fantasi atau kisah nyata, keduanya tak merubah cerita sebenarnya, Pi kehilangan keluarga dan segalanya di laut itu. Lagu-lagu pengiringnya bagus. Easy listening . Langsung mengena. Ceritanya mudah saja. Konfliknya bagus sekaligus juga ada rasa menegangkan. Entah animasi atau memang hewan sebenarnya. Sangat tipis membedakan bagi mata awam seperti penulis. Yang pasti, sebagai tontonan, film ini sangat menarik. Life of Pi (2012) - 7/10

Bom Pizza Boy

30 minutes or less ini adalah slogan sebuah restoran pizza dalam mengirim pesanan antar ke rumah pelanggan ( delivery service ) diwakilkan oleh karakter Nick. Kemudian di seberang sana, ada sepasang pemuda yang memiliki ide gila untuk menjadi kaya dengan merampok bank. Di tengah-tengah mereka ada karakter penari erotis yang juga ikut ambil bagian dalam kisah ingin kaya. Dibilang rumit juga tidak, dibilang simple juga tidak. Biasa saja. Tidak terlalu serius juga tidak terlalu komedi. Komedinya sedikit konyol namun tidak berlebihan. Sebuah hiburan yang biasa saja. Kurang lebih sama dengan gaya film Jesse di Adventureland . Datar-datar saja daya tarik irama ceritanya. 30 Minutes Or Less (2011) - 6/10

Keep it down fellaz...

Komedi yang berkisah tentang "pertarungan" tetangga. Yang satu perkumpulan remaja ala perkumpulan. Yang satu old school , sebuah keluarga kecil terdiri ayah,ibu, dan bayi cantik. Yang muda yang "bergejolak" dengan party dan riuh. Yang tua yang berkeluarga, adem ayem. Keep it down... Seth Rogen. Kebanyakan film Seth Rogen yang penulis tahu genre nya komedi seksi. Jadi ada komedi yang dicampur dengan hal-hal seksi yang "menjurus" dan terkadang vulgar. Simple. Konfliknya juga ringan. Komedinya menghibur. Yang lumayan asyik adalah musik-musik hip-hop pengiring cerita party-nya. Neighbors (2014) - 6/10

Pertempuran antara dunia rasional dan irasional di atas pengadilan manusia

Kesimpulan setelah menonton film ini adalah menarik karena berdasarkan kisah nyata - genre favorit, Jennifer Carpenter, dan kisah Emily Rose itu sendiri. Alur cerita dalam film ini konsepnya maju-mundur. Maju berarti di jaman kini di ruang persidangan, mundur berarti asal muasal adanya persidangan. Meski berjalan ke dua arah, film ini tidak kehilangan daya tarik cerita. Masih menarik dan masih dapat diikuti. Konsep horornya dibangun dengan baik meski sudah umum seperti film pengusiran setan lainnya. Tidak banyak make-up menakutkan, justru film ini sudah bisa membentuk horor dari suasananya. Seperti keterangan Bapa Moore yang mengatakan bahwa jam 3 pagi adalah jam kemunculan... Pesan yang terkandung disini tentu saja ada pada babak pembacaan surat wasiat dari Emily, yaitu ada dunia yang mungkin percaya tidak percaya memang ada yaitu dunia irasional, dunia di luar logika. Dan, pesan dari Bapa Moore, bahwa pengadilan di dunia adalah pengadilan dari manusia oleh manusia da

Pukul 3 pagi...

Gaya filmnya seperti 4bia . Berhubung judulnya 3 A.M (pukul 3 pagi) maka yang ada hanya 3 cerita yang dihubungkan dengan tali horor pada kisaran pukul 3 pagi yang dipercaya waktu dmana kekuatan "lain" sedang bergentayangan, dan keterangan tersebut diperkuat oleh film Emily Rose. Film pertama. Judulnya Wig. Suasana horornya karena alasan geografis, memang terasa mirip dan "dekat" dengan gaya lokal. Temanya seputar toko penyedia wig (rambut palsu). *pengalaman pribadi....oow, makanya dulu pas potong rambut panjang sepunggung penulis disisihkan tersendiri, ternyata...* . Dari segi horornya awalnya menarik dipadu dengan konflik drama 2 saudari cantik. Tapi semakin ke dalam semakin jenuh. Seputar kejut-kejutan kaget-kagetan saja. Biasa. Tapi....di bagian ending, ada twist manis yang cerdas. Good. *7 Kedua. Judulnya mayat pengantin. Kalau yang ini, jatuhnya horor klasik biasa. Menjaga mayat sepasang pengantin (yang entah kenapa harus dijaga dan tidak dikubu

Kenangan sekaleng Coca Cola yang terlalu indah untuk dilupakan

Dimulai dari sekaleng Coca Cola.... Ada lahir sebuah genre fantasi romantis manis. Mengapa fantasi ? Karena menceritakan hal percintaan yang mustahil di jaman sekarang setidaknya di negara ini. Antara gadis kaya raya mencintai anak buah bapaknya. Kaya cinta miskin.#langka Romantis? Pasti. Film ini cocok untuk para penggemar film genre drama. Khususnya Korea. Kisahnya manis. Mengharu biru. Dan memang, sayatan ceritanya seolah memaksa keras memeras air mata semata-matanya. Mungkin hal wajib yang harus ada kala menonton film ini adalah tisue... Menikmati sepotong roti tawar yang di dalamnya ada rasa manis coklat lembut akan menyenangkan. Tapi disini, ya disini, sepotong coklat disuguhkan dengan isi rasa pahit di dalamnya Konfliknya, tentu saja drama Korea seolah mampu membuat kisah dengan hook manis di bagian tengah. Di tengah kisah cinta yang bahagia harus ada kenyataan pahit. Dan, sepertinya momen termanis bagi penulis adalah momen saat Su-Jin menunggu Chul-S

In twelve hours, three of you are gonna be kaput

Kali ini sebuah film "unik" dihadirkan. Lagi-lagi, sepanjang yang penulis tahu, aliran film yang menjadi "pilihan" Michael Pitt punya gaya beda dari film berkonsep umum. Seperti disini. Kualitas akting dari Naomi Watts bertempur dengan kualitas akting Michael Pitt yang berperan sebagai pemuda "yang entah darimana dan apa maksudnya" melakukan teror pada saat keluarga George sedang berlibur. Alur ceritanya biasa. Daya tarik terornya juga biasa, tidak terlalu berkesan teror sadis. Diakhiri dengan ending yang tidak biasa. Bahkan sebelum ending juga ada selipan rewind unik untuk menghapus "kesalahan" pemusnahan karakter Tubby. Momen unik diselipkan selama cerita dimana karakter Paul seperti sedang berkomunikasi dengan penonton sendiri. Funny Games (2007) - 6/10

Tak hanya dipecat tapi juga diburu

Film ini berjalan menarik. Tema Farmasi Denning dan Harcourt memang agak rumit dicerna. Penulis hanya mengambil sisi simple-nya saja, ada seorang pembunuh bayaran yang berkeliaran di kantor saat malam hari dan sasaran yang dituju adalah ruang data. Sampai pada tema misteri mengapa ada pembunuh yang berkeliaran di area kantor, ini menarik. Pelarian Tom menyelamatkan diri (tanpa tema farmasi) sebenarnya sudah menarik. Cerita menjadi kurang daya tariknya ketika sang pembunuh menemukan Emmerich yang sedang ada tamu di ruang kerjanya (sedangkan sedari tadi sang pembunuh berkeliaran). Ini menjadi kurang menarik. Bahkan bisa ditebak sebenarnya jalan cerita kemudian. Menurut penulis, akan lebih menarik bila garis misteri keberadaan pembunuh diperpanjang sedikit hingga akhir dengan tema latar belakang yang lebih merakyat. Not Safe For Work (2014) - 6/10

Ghost Protocol

Disini baru lebih terasa mantab. Dibandingkan dengan seri ketiganya sebelumnya, disini aroma aksi lebih tercium. Aksi-aksi Ethan Hunt lebih mendebarkan. Terutama di hotel Dubai yang sampai-sampai ikut merasakan merinding berada di ketinggian. Di tangan sutradara yang lagi-lagi berbeda, kali ini di tangani Brad Bird, setidaknya Misi Mustahil ini ada beberapa momen yang memorable . Di bagian belakang layar, sudah tidak ada nama Wagner lagi. Hanya Cruise. Di bagian depan, Kremlin yang diluluhlantakkan. Di seri keempat ini, permainan animasi komputernya lebih halus dan menambah kekuatan aksi laga Ethan Hunt. Di bagian tim, nama Luther yang bertahan di seri pertama hingga ketiga, disini sudah tidak dimunculkan. Ada Benji, yang penulis tahu di seri ketiga. Disini karakter Benji dimunculkan untuk memberi aroma komedi. Lumayan menghibur. Lalu, ada nama Jeremy Renner yang cukup menghibur sebagai analyst gadungan. Aksi laga Jeremy yang ternyata tak kalah dengan Cruise.

Belakang panggung profesi mengajar

Film yang bercerita seputar dunia pendidikan. Kacau juga melihat sekolah yang dipenuhi dengan anak-anak bermasalah. Setidaknya itu yang dialami para guru di sekolah dalam film ini. Seperti dalam film ini yang dialami oleh karakter Barthes dimana hidup sendiri dan kosong. Pagi bertemu murid bermasalah, malam berjumpa dengan remaja bermasalah. Konflik dalam film ini seperti ingin menunjukkan sisi manusiawi dari profesi guru. Bahwa di belakang panggung mengajar, seorang juga manusia biasa yang kerap masih belajar memecahkan masalah. Alur cerita film ini seperti dipengaruhi oleh kualitas akting Adrien Brody yang tampil sendu, kelam, dan kosong. Empty inside . Jalan ceritanya pelan mendetail. Bagian paling emosional dalam film ini bagi penulis adalah momen suicidal-nya Meredith. Memang momen Meredith yang terlanjur jatuh hati pada gurunya sendiri meninggalkan kesan dalam tak berkutik serba salah. Di satu sisi merasa bangga dan senang disukai oleh murid, di sisi lain

Yang terasa sebagai kebenaran belum tentu benar

Lumayan.  Deretan pemainnya pun cukup menarik, Sean Connery, Laurence Fishburne, lalu ada Ed Harris juga.  Irama ceritanya biasa saja.  Konfliknya berlapis. Tidak dangkal.  Ada lapisan luar untuk membungkus twist. Namun, kurang begitu kuat.  Twist sedikit diumbar bukan pada pamungkas, jadi kurang terasa mengejutkan. Cuma posisi Ed Harris yang terasa "menggantung" disini karena tanpa karakter Blair sepertinya kisah sudah bisa berjalan sendiri. + Ternyata ada Scarlett Johansson yang masih kanak-kanak berakting disini. Just Cause (1995) - 6/10

Menikmati alam bersama mayat hidup

Lebih mirip film tentang backpacker jalan-jalan daripada horor. Rasa horornya sama sekali tidak "muncul". Kesan apocalypse yang dimunculkan tentu saja mendukung karena di tengah hutan. Sepanjang film bukan berada di tengah kota layaknya I Am Legend atau 28 Days . Penampilan zombie-nya pun kurang meyakinkan. Kurang menarik. Yang menarik, mobilnya keren. Cocok buat traveling jarak pendek, kursi dilipat bisa jadi alas tidur. The Battery (2012) - 5/10

Misteri pesan sebelum tragedi

Tema dasar film ini mengingatkan pada gaya Final Destination . Perbedaannya, disini berdasarkan pada kisah yang benar terjadi. Dan, alur cerita film ini lebih dewasa dibandingkan gaya horor Final Destination yang lebih ke gaya muda-mudi gaoolll . Percaya tidak percaya. Terlepas dari percaya atau tidak, yang pasti penulis suka film ini. Selain karena berdasarkan tragedi nyata, horornya juga asyik dinikmati. Tidak memakai gaya horor dengan penampilan menakutkan melainkan dengan gaya konflik misteri yang ringan diikuti. The Mothman Prophecies (2002) - 7/10

Menyelamatkan kehidupan

Film yang berat. Konfliknya datar seputar kehidupan seorang petugas kesehatan yang selalu siap siaga di jalanan pada malam hari. Lokasi cerita kebanyakan di mobil ambulans, dan rumah sakit dan terus mobile mencari korban yang perlu pertolongan medis. Gaya akting Nicholas Cage membawa peran karakter Frank yang sedang meng-galau berat. Merasa tertekan dengan pekerjaannya yang menuntut kesabaran. Kehidupan cintanya yang tidak jelas. Alur ceritanya datar. Konflik datar. Tensi emosi cerita jadinya ikut melandai datar-datar saja. Yang bisa dipetik dari film ini adalah cerita tentang ironis dunia. Di satu sisi ada manusia bekerja demi kehidupan orang lain, di sisi sudut sana banyak yang menyia-nyiakan hidup mereka dengan obat-obatan dan ada juga yang ingin bunuh diri. Lainnya, berkaca dari karakter Frank, ada ironis juga. Ketika Frank harus bekerja menyelematkan nyawa yang lain, sebenarnya Frank sendiri juga perlu "pertolongan" dalam jiwanya. Bringing Out

Kisah dewasa sebuah Plasa

Yang menjadi daya tarik paling besar dari film ini adalah Joe Hahn. DJ-nya Linkin Park. Linkin park is my favourite band . Dan, untuk Joe Hahn, penulis suka gayanya di atas panggung serta tentu saja skill dj-ing nya yang berbaur dengan musik cadas LP. That's all . Tak pelak beberapa nama dari member LP ikut ambil bagian, Chester, Phoenix, and Mike Shinoda. Tentu saja bagian mereka adalah di bagian musikalnya. Dari segi film memang kurang kuat. Tak seperti karya musik mereka. Film ini kurang sinkron antara judul dan alur ceritanya. Judulnya Mall, dari posternya terlihat suasana sebuah mall didatangi oleh seorang yang memanggul senjata. Perkiraan awal ini adalah kisah cerita pembajakan. Setelah bergulir, ternyata tak seperti yang dibayangkan. Memang ada karakter bernama Mal -dari Malcolm-, namun bukan menjadi kisah utama. Lokasi memang di mall, namun tidak bisa menjadi sentral rasa film. Film ini seperti menebar karakter kemudian berjalan sendiri-sendiri. Mungk

Tradisi terdampar Lestrange versi jaman DVD

Ternyata masih ada satu lagi generasi penerus tradisi "terdampar indah" ala Lestrange. Namanya Blue Lagoon The Awakening. Terasa lucu karena jaman telah berubah. Plot cerita memang terasa "diarahkan" agar menyamai versi asli Blue Lagoon. Bagaimana membuat kisah terdamparnya, terasa lemah karena terlihat seperti versi studio. Lalu, atmosfir film ini terasa seperti romantis-remaja ala sinetron lokal. Kaku. Mudah ditebak. Plot ceritanya selaras dengan versi asli . Terdampar berdua. Hanya kini dilengkapi teknologi laptop dan handphone yang tak banyak membantu karena no coverage area . Perlengkapan yang dibawa pistol SOS, sunblock, lotion, tas, lebih modern ketimbang yang dibawa oleh Brooke Shields ataupun Mila Jovovich. Penyelamatan versi kali ini juga lebih maju menggunakan helikopter. Dan, kalau sebelumnya drama Lestrange terdampar tak banyak yang tahu, kini kisah terdampar di seri ini sudah bisa diliput media televisi. Yang masih dipertahankan adalah

Mengasuh monster memakan tuan

Durasinya kurang lebih 2 jam-an. Awalnya, atau 50% cerita depan, terasa membosankan arahnya. Unik sebenarnya. Karena kalau cerita seorang manusia dibesarkan oleh binatang hutan maka dinamakan Tarzan, itu sudah biasa. Disini agak berbeda. Seorang anak dibesarkan oleh sekumpulan penjahat yang kemudian menjadi para ayah. Perlu kesabaran sedikit untuk kemudian menikmati hook manis ala drama Korea. Awal yang berbelit berbuah manis ketika memasuki 50% cerita kedua. Menonjok. Tak terduga. Konfliknya berlipat kemudian bercabang. Menikmati bukaan rahasia satu demi satu terkuak terangkai menjadi cerita balas dendam. Namun bagian kelompok Park Ji Won yang kurang bisa dimengerti. Tanpa konflik kontraktor, hanya konflik antara Hwayi dan para ayahnya, film ini sudah cukup bagus menurut penulis. Hwayi : A Monster Boy (2013) - 7/10

Cerita usia 21 tahun

Film yang arahnya mirip dengan gaya Walk Of Shame . Sebenarnya intinya simple, namun dibuat rumit. Maksud hati ingin hangout, namun apa daya lupa jalan kembali pulang. Untuk dibuat sebuah kerumitan, maka dibuatlah sang empunya pemilik rumah menjadi mabok dan tidak bisa ditanya. Komedinya tidak terlalu konyol, alasan dasar susah pulang karena mabok rasanya sudah cukup konyol. Gaya film ini seperti film remaja biasa, party sana-sini, seksi sana-sini, tapi tetap kurang begitu lucu. Biasa saja. 21 & Over (2013) - 6/10

Setiap mimpi punya harga

Film klasik yang (sebenarnya) menarik untuk disimak. Sejauh yang bisa penulis raba, dunia saham dan seluk beluknya adalah materi yang ada ilmunya. Sama halnya dengan dunia internet yang ada sebuatan hacker , dalam dunia saham pun demikian. Selama ini, penulis hanya bermain di area dangkal kolam saham. Bermain kecil-kecilan. Retail. Tapi, tak dipungkiri ada area dalam dalam kolam saham yang diperuntukkan bagi mereka yang telah mahir menyelam. Disinilah letak sisi "berat" film ini. Bahasa saham yang digunakan terlalu tinggi buat penulis. Mungkin mereka yang merupakan pelaku pasar atau berkecimpung dengan dunia saham secara mendalam, akan lebih mudah berseluncur dalam alur cerita film ini. Sejauh yang bisa penulis rasakan, alur cerita film ini seperti chart saham siklus hidup karakter Bud Fox, dimana pergerakannya terkadang naik hingga titik tertinggi kemudian meluncur ke bawah akibat profit taking atau sell force. Film ini menceritakan dunia saham yang levelnya jutaan

Bandit yang menginap

Genre yang diusung campur-campur. Ada rasa partner in crime , ada aroma komedi, ada bau romantisme. Crime nya tidak terlalu serius malah terkesan santai. Komedi nya ringan. Romantisme biasa saja. Alur ceritanya saja yang terasa bertele-tele lambat dengan konflik percintaan segitiga antar buronan napi. Kurang daya pikat. Yang paling menonjol hanya penampilan Bruce Willis yang "berbeda" dengan gaya rambut gondrongnya. Soal aktingnya, masih bagus dipadukan dengan Billy Bob. Bandits (2001) - 6/10

Terdampar di hutan penelitian

Pertama melihat film ini, kesannya seperti gabungan banyak gaya. Found footage -nya mengingatkan pada gaya antara Paranormal Activity dan Blair Witch tetapi minus tersesat karena 4 karakter utama yang ada di dalamnya sedang berlibur. Cerita kemudian bergulir dengan aroma depan gaya film slasher yang umum menampilkan moment seksi bermesraan untuk awal cerita. Kemudian, kesan horor dimulai dengan suara-suara aneh di dalam hutan. Sampai di situ sebenarnya sudah menarik, namun jalur horor terasa berbeda dengan munculnya sosok menyerupai bigfoot . Mulai kurang menarik lagi. Kesan horor seperti di Blair Witch mulai tergeser. Kesan horor semakin terkikis oleh hadirnya tema lain oleh munculnya karakter lain dan lokasi baru yang menyerupai tempat penelitian. Lalu, tak ketinggalan bermunculan zombie-zombie yang membuat film ini positif tak menarik lagi sebagai film horor gaya baru. Sebenarnya film bergaya seperti ini akan terasa menarik bila ada tema baru yang fresh dan f

Membuka luka lama lewat tombol shutter

Kesan pertama, masih bagus. Meski sudah bisa " menebak " arah film, tapi polesan Hollywood tidak buruk. Garis besar alur cerita memang sama, ada beberapa inovasi cerita yang dibedakan dengan versi original-nya . Hollywood menambah sedikit rasa pada film ini. Seperti ada unsur seksi, pemeran utama wanita tidak lagi kuliah dan keberadaan "kelebat arwah" bukan di gedung kampus, karakter Megumi hidup tanpa orang tua, ada karakter seksi imut Seiko yang menghubungkan ke redaksi majalah ghostfake , ada karakter Murase yang ahli melihat dunia lain. Tapi tetap memakai Polaroid dan konsep pegal linu di area leher dan pundak. Shutter (2008) - 7/10

Once more into the fray...

Sekilas teringat pada konsep Alive . Sama-sama beramai-ramai naik pesawat. Sama-sama berkisah tentang perjuangan hidup para korban kecelakaan pesawat. Bedanya, Alive didasarkan pada kisah nyata survival tim rugby. Disini berdasarkan kisah para penambang (sepertinya tidak nyata). Bedanya lagi, di Alive sudut survival nya menghadirkan sisi konflik dengan cuaca. Disini sisi konfliknya adalah hawa dingin, seteru rekan kerja, dan serigala. Ada sedikit aroma thriller animal attack . Daya tarik cerita kedua film sama-sama berimbang. Sama-sama menarik. Sama-sama memiliki konsep konflik dan warna cerita sendiri-sendiri yang bisa menarik minat menonton dengan tetap menjaga garis irama tema, "bagaimanakah klimaksnya?". The Grey (2011) - 6/10

Chicago gangsta

Sedikit mengecewakan. Pilihan utama pada film klasik ini adalah nama Sylvester Stallone, yang ternyata cuma mendapat porsi "kecil". Mungkin, memang pada saat itu nama Stallone belum sebesar saat memegang peran Rocky atau Rambo. Jalan ceritanya mengenai sepak terjang ke-mafia-an Al Capone. Namun, sayang cerita sepak terjang Al Capone kurang begitu terasa, karena alur cerita hanya sepotong demi sepotong dengan cepat. Tiba-tiba Al Capone sudah "menjadi" besar. Tak ada cerita bagaimana "perjuangan" Al Capone dari bukan siapa-siapa menjadi siapa. Intrik konfliknya kurang begitu terangkat. Kurang menarik. Gerak cerita film ini (mungkin) faktor klasik, juga terasa kaku. Beberapa segmen dialog, juga masih kaku. Aksi baku tembak maupun adu jotos-nya masih belum semutakhir sekarang. Capone (1975) - 5/10

Tradisi Lestrange terdampar di Lost Paradise

Kisah Lost Paradise disini melanjutkan sesi akhir di episode pertamanya. Dimana Richard-Emmeline bersama anaknya terseret arus laut di atas sebuah sampan kecil. Disini, ternyata sang anak masih bisa selamat. Yang kemudian, diselamatkan oleh bangsawan, lalu sayangnya Richard Junior mengalami pengalaman yang sama dengan Richard Senior di Blue Lagoon . Tak hanya itu, lokasi nya pun sama di pulau dan rumah yang dibangun Richard Senior. Film ini berjalan dengan plot yang kurang lebih sama dengan episode sebelumnya. Konfliknya pun tak jauh berbeda. Seputar 2 anak kecil laki-perempuan terdampar bersama seorang dewasa - kali ini wanita - di sebuah pulau. Yang dewasa kemudian meninggal, lalu 2 anak kecil ini tumbuh bersama minus pakaian. Konflik seputar biologis dan percintaan masih jadi andalan. Hanya disini adegan berenang bersama dalam telanjang - yang sering muncul di Blue Lagoon - hampir tidak ada. Ada tapi tidak "semeriah" di Blue Lagoon. Lalu ada tambahan konfl

Kereta hotdog yang menjadi titik balik kehidupan

Film drama yang menarik dan sepertinya berdasarkan kisah nyata. Banyak bintang ikut hadir disini, Brad Pitt-Brad Renfro-Robert De Niro-Dustin Hoffman. Tentang persahabatan masa kecil yang dibawa hingga dewasa. Kenakalan anak-anak membuat 4 sahabat itu harus menikmati aroma penjara anak nakal dan mengubah hidup mereka ketika dewasa. Alur ceritanya sedikit berat jika "lengah" sedikit. Konflik yang dihadirkan seputar pengadilan dan hukum. Namun, bisa ditarik intinya saja, "membohongi" hukum demi kejahatan yang tersembunyi di balik tembok penjara. Sweet revenge . Kualitas akting mendukung jalan cerita menjadi kualitas drama menarik, tentu saja tak diragukan. Paling asyik melihat gaya "datar" Dustin Hoffman. Pesan moral film ini, jangan meremehkan anak kecil karena kelak mungkin saja anak tersebut jauh melebihi diatas kita. Sleepers (1996) - 7/10

Beradu balap demi sang adik

Satu ini lagi dari Jackie Chan. Disini gaya Jackie masih powerfull . Masih tetap memakai konsep cerita ringan mudah diikuti. Gaya cerita serius dibumbui aksi hancur-hancuran laga kemudian diselipkan aroma komedi. Gaya Jackie tersebut masih menarik dan menghibur. Hiburan khas Jackie selain balapan, konflik penculikan, komedi, juga pastinya atraksi bela diri yang tak hanya memukau tapi juga masih meninggalkan kekaguman tersendiri. Terakhir, behind the scene -nya yang menampilkan totalitas sang superstar berdedikasi di dunia hiburan film. Luar biasa. Thunderbolt (1995) - 7/10

Kutukan dari gigitan

Wes Craven. Entah mungkin ciri khas, gaya film ini memang punya gaya tersendiri. Mirip Scream. Alur ceritanya biasa. Bintang-bintangnya lumayan "segar", Christina Ricci-Joshua Jackson- dan ada Jesse Eisenberg. Kadar horor-nya bukan horor dunia lain, melainkan karakter yang nyata yang menyebarkan "kutukan" berupa gigit-menggigit. Kemudian, skema cerita yang dipakai juga sama dengan skema Scream seperti mencari siapa biang sesungguhnya sampai akhir hayat film... Cursed (2005) - 6/10

Hilangnya Cody Martin

Film ini memberi harapan sebuah tontonan menarik dengan dua nama besar sebagai pemain utama, Julianne Moore dan Samuel L.Jackson. Mungkin film ini akan jauh lebih menarik bila fokus pada konflik misteri hilangnya Cody Martin. Itu saja cukup. Diolah dengan bungkusan misteri yang mengajak penonton untuk menebak siapa dalang semua ini. Yang kurang menarik dari film ini versi penulis, gaya karakter Brenda yang seolah sedang "melayang". Apa yang di-dialog-kan terasa berat. Begitu juga konflik film ini terasa kurang simple. Melebar dan berat. Hilangnya seorang bocah Cody Martin ditambahi bumbu konflik keluarga meningkat menjadi konflik lingkungan yang akhirnya mengaburkan kisah hilangnya seorang bocah. Freedomland (2006) - 6/10

Pembunuh dalam bayangan

Kesan pertama saat menyimak film ini adalah jualan darah. Setiap moment sebagian besar dihiasi dengan semburat darah atau minimal berdarah. Dan, dari sisi kekerasannya juga terasa menonjol. Mulai tersayat, tertusuk, hingga terbelah lengkap dengan semburat darah lagi. Konsep cerita dan konfliknya biasa saja. Hanya yang menarik tentu saja gaya Rain yang memang pas dengan karakter Raizo ini. Fisik Rain terlihat mantab, gaya "ninja" Rain juga keren, dan keahlian beladirinya cukup mumpuni. Penampilan Rain di kancah Hollywood paling tidak memberi angin segar, apalagi Rain berasal dari Korea, bagi generasi baru Asia menembus Hollywood. Semoga kehadiran Rain selanjutnya bisa menciptakan gaya baru khas selain gaya babyface killer Chow Yun Fat, wushu Jet Lee, atau Jackie Chan yang khas dengan laga akrobatik-nya. Ninja Assasin (2009) - 6/10

Suara kecil Chava

Film ini bukanlah karya milik tanah Hollywood namun kualitasnya tak kalah dengan Hollywood. Kisah dalam film ini adalah drama yang difokuskan pada petualangan suka-duka si kecil Chava yang harus terlahir di negara yang sedang berkecamuk dengan perang saudara. Yang paling menonjol ketika menyimak film ini adalah suasana yang terbangun sangat natural. Baik akting para pemainnya juga setting lokasinya. Terutama untuk aktor cilik pemeran Chava, aktingnya luar biasa. Hebatnya, menurut penulis, kisah yang diangkat bukanlah "kisah kasihan" yang menjual rasa kasihan menderita miskin dalam peperangan. Film ini tidak berusaha keras menarik rasa haru penonton untuk menangis ria. Film ini juga seperti mendobrak kebiasaan menampilkan dramatisir kemiskinan. Miskin di tanah merdeka berbeda dengan miskin di tanah terjajah perang. Film bercerita seputar keluarga kecil yang hidup di antara perang saudara. Chava hidup bersama ibu dan adik-adiknya. Tak hanya bersama ibu dan saudaran

Ingin dipenjara atau pulang ke rumah?

Bagus. Film yang sangat menarik. Antoine Fuqua. Unik dan berkesan. Penampilan antagonis Denzel Washington bertemu dengan gaya lugu "hijau" Ethan Hawke membuat film ini sangat kuat dalam cerita dan konfliknya. Tak heran mereka berdua juga "diganjar" dengan penghargaan bergengsi dari film ini. Menariknya lagi, konsep cerita dibuat ringan dalam rentang cerita satu hari. One day story . Training Day (2001) - 8/10

Rubah Malam mencoba bermain cerdik dengan tim Ocean

Sebenarnya film seri kedua dari regu Ocean ini cukup menarik, namun buat penulis lemah di pembukaan dasar cerita saja. Alasan gerakan tim Ocean ini yang cukup "berat". Ada Terry Benedict yang di seri pertama habis-habisan dikerjai oleh tim Ocean, muncul dan minta ganti uang yang dicuri Ocean dkk. Tapi, ada juga Rubah Malam ( Night Fox ) yang berposisi sebagai musuh tim Ocean. Lika-likunya kurang semenarik yang pertama karena, faktor alasan dasar cerita masih belum bisa dicerna. Tapi....soal kejutan dan tema santai tim Ocean ini, masih terlihat mantab. Sebut saja ada si cantik Catherine Zeta Jones sebagai kekasih Rusty, lalu Julia Robert yang berakting peran sebagai Julia Robert, lalu... Bruce Willis!!! Bruce benar-benar "mencairkan" suasana di sini, kehadiran Bruce meski sebentar namun cukup asyik. Momen kejutan lainnya yang asyik tentu saja di bagian Linus yang didatangi oleh ibunya... Keseluruhan, jika dibandingkan yang pertama, disini sedikit

Smooth criminal ala Ocean's Team

Kalau disimak, antara Expendables , Fast Furious , dan Ocean ini punya satu garis kesamaan. Yaitu film yang mengandalkan kerjasama tim. Bermain di area banyak bintang yang ditaburkan, kemudian diolah dengan citarasa dinamis. Posisi George Clooney, kurang lebih seperti Stallone di Expendables. Lalu posisi Brad Pitt disini setara dengan Walker di Fast Furious sebagai second person atau Statham di Expendables. Dalam satu ditabur bintang dari berbagai ras dan warna kulit berbeda, untuk menunjukkan sisi unity. Misal, dari Asia disini di plot karakter sirkus, Yen. Kalau di tim Stallone ada Jet Li. Dalam ketiga film ini sama-sama mengandalkan banyak nama besar, juga sekaligus bintang-bintang tamu yang menghibur dan sama-sama diletakkan di luar tim utama. Contohnya disini, di luar tim ada Julia Robert, ada Andy Garcia, Joshua Jackson sebagai cameo . Kalau di Expendables, menggabungkan kerjasama tim dengan aksi laga, begitu juga di Fast Furious, disini adalah versi soft ny

Membangunkan kota yang tak pernah tidur

Ada tiga film yang menurut penulis masih "sedarah" dengan film ini. Jauh sebelum New York diserang oleh makhluk raksasa ala lizard di Cloverfield ternyata New York telah berpengalaman diserang oleh raksasa lainnya yaitu Gojira. Opening film ini mengingatkan pada gaya Hills Have The Eye , bedanya kalau di Hills Have The Eye, radiasi nuklir meninggalkan mutant separuh manusia, disini radiasi menyerang binatang. Terakhir, film ini mengingatkan pada Jurrasic Park yang juga memunculkan karakter binatang raksasa. Seperti hal-nya Jurrasic, andalan film ini adalah visual efeknya. Menciptakan animasi raksasa yang memporakporandakan The City Never Sleep . Untuk sisi visual efeknya disini masih lumayan. Alur cerita film ini memakai pola N. Ada 4 titik belokan cerita, pertama Godzilla dimunculkan dengan beragam animasi kota hancur, lalu Godzilla ini dimatikan. Namun ternyata belum selesai konfliknya. Berikutnya, ada anak-anak Godzilla yang juga membuat kekacauan.

KIsah Dua Anak Manusia Yang Terdampar Indah

  Film ini penulis dengar gaungnya karena disebut-sebut kontroversial (pada jamannya). Sejauh apa kontroversialnya. Ide ceritanya lumayan. Sebuah kapal besar dengan penumpang bangsawan mengalami kerusakan di tengah laut. Di antara yang selamat adalah sepasang saudara laki-perempuan yang masih anak-anak, Richard-Emmeline, ditemani oleh seorang dewasa, Bapak Button. Mereka bertiga kemudian terdampar di sebuah pulau kecil terpencil tanpa signal apapun. Kurang lebih seperti Castaway. Dan, tak lama berselang, Bapak Button meninggal. Jadilah Richard-Emmeline hidup sendirian di pulau itu. Beranjak dewasa....inilah fokus ceritanya. Kontroversialnya mungkin terletak di poin ini. Di satu sisi, "menarik" sekali. Brooke Shield pada saat itu masih cantik,imut,menggairahkan. Film ini seolah mengajak ikut berfantasi, bagaimana jadinya bila terdampar berdua.. ( dengan catatan kalau dengan mirip Brooke Shield versi muda ini! ) pasti asyik... Lain cerita kalau ternyata pasa