Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2017

Selalu ada jalan lain

Nostalgia kembali ke salah satu film Disney yang fenomenal yaitu Finding Nemo . Disini yang dibahas bukan lagi si Nemo yang masih ditampilkan, melainkan Dory. Kalau bagi Movielitas, bobot cerita Finding Dory ini lebih berat di storyline ketimbang mencari Nemo terdahulu. Meski demikian, tetap Disney memiliki ciri khas di setiap produksi filmnya. Tak sekedar menghibur dengan visual cantik nan elegan tapi juga mengandung pesan kehidupan yang indah. Pesan moral yang terbungkus di dalam kisah "mencari ikan" ini masih tetap sama kualitasnya dengan versi Nemo. Bila di Nemo, menyampaikan pesan moral tentang kisah cinta ayah-anak, disini lebih universal tentang keajaiban yang bakal ada bila kita pantang menyerah dan yang terpenting adalah tetap percaya. Lewat perjuangan Dory, penonton akan disajikan inspirasi untuk direnungkan. Meskipun Dory memiliki kelemahan namun keajaiban tidak memilih untuk dialami. Perjuangan Dory dengan "kelupaannya" adalah simbol man

Fenomena menghentikan nafas kehidupan sendiri

Entah kenapa film ini sebenarnya biasa saja malah cenderung kalem ceritanya. Tidak ada yang istimewa dari kisah di dalamnya. Hanya saja secara tidak direncana sebelumnya, Movielitas menonton film ini setelah tragedi kehilangan idola yang kurang lebih memakai gaya di film ini. Film ini menceritakan tentang seorang gadis, yang hidup bersama sang ayah, lebih tepatnya seperti kembali ke kota Bridgend County. Sepenangkapan Movielitas dari dialog seperti "kembali" ke kota Bridgend County setelah sekian waktu yang lama. Baru tapi lama - kurang lebih begitu istilahnya. Konflik utamanya adalah pergaulan anak muda di Bridgend yang "kurang sehat". Pergaulan kurang sehat tersebut akhirnya melahirkan sebuah fenomena yang tidak masuk akal. Dan, gadis baru ini, Sara, ikut hanyut dalam pusaran fenomena tersebut. Filmnya biasa saja. Bahkan cenderung "boring", karena Movielitas harus sedikit berjuang menghabiskan film ini hingga akhir. Beberapa kali itu sem

Hukum bisa jadi terasa cacat, tapi tanpa hukum bisa jadi kiamat

Kali ini Movielitas berkesempatan menikmati sajian film drama (bisa dikatakan demikian), dicampur aroma aksi laga, thriller psikologi. Istilah-istilah itu versi Movielitas sendiri. Sebenarnya film ini merupakan urutan ketiga dari film perdana The Purge . Untuk The Purge sendiri, Movielitas sudah menonton. Sedangkan seri kedua, Anarchy , belum Movielitas dapatkan, justru mendapatkan yang seri ketiga ini. Di bagian awal, memang ada kesan keterkaitan antara seri ini dengan sebelumnya. Tapi, bagi Movielitas tidak terlalu berpengaruh banyak alias, tanpa menonton seri kedua, tidak kehilangan storyline . Dari judulnya, tentu ada sangkut paut dengan drama politik. Election yang artinya pemilihan. Storyline utama, masih sama dengan gaya The Purge, dimana mengisahkan sebuah hari atau lebih tepatnya malam hari yang ditetapkan secara nasional sebagai "hari pembersihan". Di malam hari tersebut, orang-orang bebas "menghakimi" siapapun dengan cara apapun. Inti

Jangan pernah mencuri

Wow....this is cool movie . Dan, Movielitas pun terkecoh. Awalnya mengira akan ada sajian horor (dunia lain) standard namun ternyata di luar dugaan. Tidak heran ketika menyaksikan hingga detik tamat cerita, ada nama Sam Riami di balik layar. Film ini "hanya" menampilkan kisah pencurian oleh dua pria dan satu wanita. Keputusan untuk merampok rumah sasaran adalah karena tidak ada "kehidupan" di sekitar rumah target dan sang pemilik rumah adalah "hanya" seorang lelaki tua dan buta yang tinggal bersama anjingnya. Yang terjadi berikutnya adalah ketegangan demi ketegangan. Dan disitulah poin menariknya. Film ini ternyata bernada seperti horor-thriller standard Hollywood yang umunya bermain simple. Karakter lelaki tua yang harusnya menjadi korban pencurian malah secara mengejutkan berubah menjadi poros teror. Keseluruhan, film ini berbeda. Meski alur ceritanya bisa dibilang sangat sangat sederhana sekali namun punya kesegaran dalam menampilkan

Tebusan berhadiah

Film klasik yang membuat Movielitas cukup penasaran karena unsur Mel Gibson-nya. Selain itu juga memiliki rating kolektif di IMDB cukup bagus. Dan, memang kesan pertama film ini menarik. Unsur misteri drama penculikan anak seorang jutawan, dikelola dengan baik. Meskipun pihak penculik sudah dimunculkan tapi tidak kehilangan citarasa misterinya karena yang menjadi persoalan bukan siapa yang menculik, melainkan alasan penculikan dan hubungan di balik penculik dan korban. Skema ceritanya tidak berat atau mudah diikuti karena porsi konflik utama yaitu penculikan tidak dicampur aduk dengan konflik lain. Lapisan konflik bila dibuat grafik, seperti membentuk kurva U. Dari titik awal kemudian berlarut-larut menjadi rumit lalu pelan-pelan menemui titik terang klimaks. Keseluruhan, Movielitas menyukai pola cerita seperti drama kriminal di sini. Simple tapi mampu menjaga rasa penasaran untuk menonton hingga akhir. Jadi meskipun klasik tapi masih tetap menarik. Ransom (1996) - 7

Hutan minta tumbal

Sebenarnya film garapan Lou Simon ini cukup menarik bila disimak melalui ide dasar cerita. Seolah mengajak pemirsa-nya untuk membayangkan tentang acara reuni yang diisi dengan aktifitas hiking di sebuah hutan. Tanpa disadari, hutan, yang seharusnya menjadi kenangan acara reuni berubah menjadi mimpi buruk, ternyata meminta tumbal nyawa pengunjungnya. Sedangkan yang berhasil selamat, harus kembali dengan tumbal baru....? Sayangnya kualitas akting, storyline , dan efek visual-nya kurang begitu menarik. Kaku untuk ukuran sebuah film. Contohnya, mati tertumpuk daun? Mungkin Movielitas sempat missing story dengan momen mati tertumpuk daun kering. Momen beruang. Menurut Movielitas, ekspektasinya adalah memunculkan beruang dewasa, tapi jika dilihat sepertinya anak beruang dan pengambilan gambarnya aneh. Otomatis, suasana horor yang ditampilkan pun jadi kurang maksimal. All Girls Weekend (2016) - 4/10

You. Will. Get. Rich.

Opening scene-nya keren. Melissa McCarthy. Movielitas suka dengan gaya aktris satu ini. Penampilannya dan gaya komedinya memang khas. Segar. Dan, gaya Melissa memang cocok dengan gaya film drama komedi ringan semacam ini. Ringan dan menghibur. Dan film ini dapat dikatakan proyek "keluarga" karena disutradarai oleh suami Mellisa yaitu Ben Falcone. Alur ceritanya simple. Mudah diikuti. Konfliknya seputar sepak terjang seorang wanita bernama Michelle Darnell yang kaya dan sukses berwirausaha. Kemudian, jatuh terpuruk dipenjara karena saling sikut di dunia bisnis. Jadi, bila di-grafik-kan, sukses-jatuh-merintis-sukses-jatuh-sukses. Kisah Darnell ini juga mungkin sekaligus bisa menjadi cerita motivasi bagi semangat wirausaha. Dimana selalu ada kesempatan di setiap momen kehidupan. Meskipun hanya sekedar film, tapi paling tidak bisa diserap sedikit inspirasi dari kisah Michelle Darnell ini. Movielitas sendiri suka dengan gaya film seperti ini. Ringan. Fresh. Dan

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10

Tribute To Chester Bennington

And you're angry, and you should be, it's not fair. Just 'cause you can't see it, doesn't mean it isn't there Who cares if one more light goes out In the sky of a million stars? I do. One More Lights by Linkin Park

Kembali ke hutan

Sisi yang membuat film ini penasaran untuk disimak adalah Tarzan. Karena nama Tarzan ini adalah karakter legenda yang lintas generasi. Movielitas ingat bahwa dulu juga pernah ada versi lokal. Di era digital saat ini tentu saja ingin tahu bagaimana karakter cerita jaman yang sudah ada di jaman sebelum internet ini disajikan. Sedikit bisa menebak dan benar yaitu film ini bermain canggih dengan teknik komputerisasinya. Dari segi cerita, bagian awalnya yang "sulit" untuk Movielitas. Terlalu tinggi bahasannya. Kalau dulu ada tema Tarzan masuk kota, ini tinggal dibalik dengan Tarzan balik ke hutan. Bagi Movielitas pribadi, film ini masih "kurang" citarasa Tarzan. Karena konotasi Tarzan bagi Movielitas harusnya menonjolkan sisi atmosfir hutan rimba dan "kelebihan" Tarzan dalam ber-sosialisasi dengan para hewan di dalamnya. Sedangkan disini memang ada porsi cerita dalam hutan rimba, tapi lebih besar porsi sisi drama Tarzan dengan manusia. Dan,

Keinginan kembali yang tersingkirkan

Sajian film drama yang berkisah tentang seorang Walter. Baru saja menjalani hukuman dan berusaha kembali normal dalam kehidupan sebagai warga bebas. Apa yang menjadi latar belakang Walter hingga harus dihukum penjara, menjadi inti cerita dalam film ini. Sebenarnya menikmati film, pastinya akan kembali ke selera. Film ini berjalan dengan irama pelan dan lembut. Murni drama biasa. Tidak ada letupan emosi berlebihan. Dan paling menonjol dari film ini adalah peran Kevin Bacon yang bermain apik menguasai panggung dengan kualitas aktingnya sebagai Walter yang memiliki kelainan. Keseluruhan, semua kembali ke selera masing-masing. Bagi Movielitas film ini merupakan panggung drama aktor Kevin Bacon yang menarik (kurang lebih berirama sama dengan film Kevin Bacon dalam Taking Chance ) dalam membawakan peran seorang yang ingin kembali normal dan memiliki kehidupan lebih baik pasca menjalani hukuman. The Woodsman (2004) - 6/10

Kenangan pahit untuk dikenang pada acara terakhir di udara

Film Korea kali ini cukup fresh dengan ide ceritanya. Dan, Movielitas menyukai tema film Korea ini. Bagaimana rasanya bila ada seseorang yang tidak dikenali tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan dan mengetahui semua masa lalu kita yang bahkan kita sendiripun mungkin lupa? Lalu, bagaimana rasanya bila seseorang tersebut masuk ke dalam kehidupan secara tiba-tiba dengan cara kekerasan? Setidaknya itu gambaran psikologis yang disajikan lewat film drama kriminal ini. Dan, tentunya dengan gaya cerita ala Korea selalu khas mengolah emosi penonton. Keseluruhan, film drama kriminal yang fresh dan menarik untuk diikuti hingga akhir. Midnight FM (2010) - 7/10

Death in Dead City

Film ini sebenarnya menarik. Tema ceritanya unik. Beberapa cerita pendek digabung menjadi satu. Bila di 4Bia setiap ceritanya tidak berkaitan, disini dibuat per episode menyambung dan berputar. Dimulai dengan bagian 1 terus berjalan hingga ke bagian 5 yang saling menyambung dan akhirnya berputar kembali ke bagian 1. Alur ceritanya mudah, berkisah tentang pendatang yang terjebak dalam keanehan sebuah kota dengan para penduduknya yang misterius mencurigakan. Bagian yang membuat film ini menjadi kurang menarik adalah pada bagian kekerasannya yang sadis memperlihatkan adegan muncrat-muncrat an darah dan kawan-kawannya. Lalu, penggunaan mahkluk jadi-jadian yang awalnya menarik, tapi setelah beberapa kali kemunculan terasa aneh. Sebenarnya cerita misteri sebuah kota kecil dan penduduknya, itu sudah cukup tanpa harus dibumbui misterius mahkluk jadi-jadian. Southbound (2015) - 6/10

Woman without government

Avery adalah seorang fotografer di medan konflik. Hasil karyanya pun menyabet penghargaan. Satu kesempatan lagi untuk Avery berkarya di bidang fotografi dengan terjun langsung ke medan hutan di Kolombia. Alur ceritanya kurang begitu menarik. Sesuai dengan clue awal dan gerak-gerik para karakter dalam cerita, konflik utamanya sudah dapat ditebak akan kemana arahnya. Film ini juga dicampur dengan sedikit gaya mistis lalu juga dengan genre backsong yang masih asing. Yang masih membingungkan untuk Movielitas adalah saat-saat akhir dimana Avery bertemu karakter yang "sepertinya" sudah dimatikan. Entahlah. Keseluruhan, film ini kurang menarik. Camino (2015) - 5/10

Mengejar impian dalam mendung kelabu

Kali ini menikmati sajian dari Turki. Dan, yang paling menggelitik untuk menonton film ini adalah judulnya. " Journey " dan " Hope ". Ekspektasinya bakal ada sajian inspirasional tentang sebuah perjalanan dan harapan. Akan tetapi itu salah. Bila film sesuai ekspektasi bisa jadi berkesan dan mungkin "biasa". Namun, bisa jadi lebih berkesan bila di luar ekspektasi. Seperti film ini. Berkisah tentang seorang pria, Haydar, yang memiliki istri dan tujuh orang anak hidup di pelosok negara Turki. Impiannya sederhana, yaitu ingin pindah ke negara Swiss "hanya" karena melihat gambar kartu pos. Semua ternak telah dijual demi mendapatkan "tiket emas" menuju Swiss. Konfliknya pastinya tentang perjuangan Haydar menuju Swiss yang berliku dari Turki. Tapi, yang menarik dari film ini ada konflik lain yaitu seorang anak Haydar yang "terpaksa" harus ikut perjalanan penuh perjuangan serta sebagai syarat agar sang istri, Maryam, b

11 September di Tahun 2012

Yang menarik dari film ini adalah based on true event dan Michael Bay. Sama hal nya dengan karakter para anggota G.R.S disini, agak berat memang menentukan siapa kawan siapa lawan pada saat kejadian karena begitu kacaunya suasana. Senjata api dijual bebas dan mudah. Semua yang terlibat pertempuran menggunakan pakaian sipil. Dari sisi cerita, sebenarnya sederhana saja. Mempertahankan diplomasi dan diplomat di negara yang sedang mengalami kekacauan birokrasi setelah jatuhnya rezim penguasa lama. Apa yang menjadi penyebab utama konflik juga samar. Apakah faktor 9/11 atau video online kontroversial yang ramai dibicarakan saat itu atau faktor lainnya. Terlepas dari akurasi tidaknya kejadian sebenarnya, tentunya sudah ada template dramatisirnya. Tapi film ini setidaknya mampu menyajikan suasana chaos dan ketegangan baku tembak yang sengit dan bergelombang. Dari sisi aksi laganya, lumayan. Nama besar Michael Bay bisa menjadi faktor utama bagaimana sekiranya memoles cerit

We Still Only Imagine

Dari judul film-nya tentu sudah bisa diterka apa bahasan utama film ini. Tapi mungkin bagi generasi sekarang, Lennon (mungkin) bisa jadi kurang akrab. Namun, karya abadinya masih relevan dan akrab dengan jaman sekarang. John Lennon ditembak di depan kediamannya tanggal 08 Desember 1980. Tragedi tersebut telah diketahui dunia dan tetap dikenang hingga saat ini. Movielitas sendiri hanya mengenal karya-karya Lennon, dan untuk tragedi penembakan tersebut mungkin juga bagi sebagian orang hanya sebuah tragedi. Apa yang diulas di film ini bukan pada kasus penembakannya, melainkan pada sekitar yang terlibat setelah tragedi tersebut. Cerita tentang tarik ulur berita duka dan misteri apa yang terjadi sesaat setelah tragedi penembakan. Yang jelas, bagi Movielitas, film ini tidak "bernada" mencari siapa yang benar siapa yang bersalah. Karena memang sudah terjadi. Film ini secara tidak langsung kembali mengajak pemirsa untuk merenungkan pemikiran seorang John Lennon. **Iro

Indahnya kedamaian dalam hukum rimba di rumah Mowgli

Speechless dengan film Disney ini. Keren luar biasa. Salute untuk Disney dan Jon Favreau. Ceritanya menarik, aktor ciliknya menggemaskan dan berakting top, visual efeknya (entah hewan yang digunakan sungguhan atau dibangun dengan program komputer) luar biasa, dan pesan moral nya khas Disney sangat gampang ditangkap. Namanya juga The Jungle Book . Bagi Movielitas dari judul itu sudah tersirat seperti apa film ini. Negeri Dongeng. Dan memang demikian, segalanya bernyawa (kecuali tumbuhan yang disini terlihat "diam"). Tidak hanya bernyawa, hewan pun berbicara, bahkan bernyanyi. Seperti layaknya dongeng umumnya, kisah dongeng memang seharusnya tidak sulit dicerna. Begitu juga alur cerita sekaligus konflik film ini, mudah sekali ditangkap. Dan, seperti dongeng juga, kisahnya seharusnya punya pesan moral yang dibungkus dengan kisah fantasi. Movielitas menangkap pesan moral yang indah dari film ini. Khas Disney. Yaitu indahnya kedamaian. Movielitas masih juga ti

Cinta mobil atau cinta lawan?

Film kali ini mengusung tema drama pop khas remaja yang up to date dengan dunia sosial media kekinian. Alur ceritanya simple, pernak-pernik cerita juga standard dengan memasang wajah-wajah pemeran yang muda, dan rupawan. Begitu pula dengan konflik yang diangkat tak terlalu berat sekaligus mudah ditebak arahnya. Awalnya musuhan antara laki dan wanita kemudian fall in love. Bicara soal konflik cerita, Movielitas kembali teringat pada kontes jaman dulu yang pernah ada. Entah sekarang masih ada atau sudah dibekukan. Yaitu kontes Touch The Car . Dimana kontes ini diikuti beberapa peserta dewasa yang berjuang meraih hadiah sebuah mobil baru dengan cara bertahan paling lama memegang mobil tersebut. Seru juga, namun dulu pas tayang di salah satu televisi swasta, Movielitas kurang begitu suka mengikuti. Yang menarik adalah sisipan kritik sosial dan pesan moral yang disampaikan. Film ini menyindir perilaku muda-mudi sekarang yang mengukur kehidupan dari sosial media atau disebut

Unboxing Film The Vanishing (1993)

Ternyata film ini merupakan remake dari film berjudul sama hanya beda negara. Dan, memang faktor film di-remake karena ada unsur spesialnya. Movielitas tertarik saat film ini mulai masuk lebih dalam dengan konflik penculikan yang bahkan menjadi misteri hingga tahunan. Sayangnya, ada titik film ini menjadi kurang menarik. Yaitu pada momen Barney secara sukarela menampakkan diri. Ekspektasi akan ada kisah misteri hingga akhir sedikit demi sedikit sirna karena semua kartu sudah dibuka. Yang lebih "aneh" lagi, antara penculik dan pencari korban penculikan, bisa semobil bersama sambil diskusi ringan. Ini merupakan bagian paling aneh dan menurunkan mood. Meskipun demikian ada hal menarik dari film ini. Jauh sebelum konsep film Buried ada, ternyata film ini sudah "membuatnya". Meski bukan menjadi bagian vital dari film atau hanya sekilas tapi gaya scene-nya mirip dengan gaya di film Buried . Yang kedua, Movielitas suka dengan penjelasan dibalik nama ka

Dark Diana

Sajian horor dari Warner Bros. Gayanya standard. Alur ceritanya minim drama, setiap berapa menit durasi langsung dihajar dentuman keras musik dan scene kejutan. Tema horor nya sudah cocok dengan judulnya yang mau tidak mau bermain di area minim penerangan. Konfliknya dibuat misterius dengan clue Diana. Sayangnya "terlalu dini" membuka kartu tentang Diana ini. Jadi, setelah kartu terbuka, tinggal "menunggu waktu" kapan klimaks. Keseluruhan, horor standard yang umum di jaman sekarang. Lights Out (2016) - 6/10

Mahalnya data di dunia internet

Yang pertama kali menarik perhatian Movielitas adalah pastinya tag # basedontruestory . Tidak ada yang lain. Bukan cuma sekedar hacker peretas website besar atau penipuan kelas atas, melainkan "pencuri" data rahasia negara yang kemudian dipublikasikan. Dan, alasannya sangat sederhana menurut Movielitas, yaitu ingin tahu tentang pacar. Ada yang menarik lagi dari sini, yang juga mungkin menjadi salah satu pesan moral, yaitu tentang keamanan. Khususnya tentang keamanan data di dunia internet. Ada satu kutipan dialog yang diterjemahkan bebas " ada sesuatu yang tidak didapatkan dari mesin pencari seperti Google ". Dan, pemerintah Amerika memiliki "sesuatu" itu dimana "sesuatu" itu bisa menembus data email, bukan sekedar alamat email melainkan isi email, data kontak ponsel, lalu yang paling "mengerikan" adalah meng-aktifkan webcam sekalipun PC atau laptop dalam kondisi off. Wowww.... Dan, menurut versi film garapan Oliver Ston

Saat uang membuat logika menghilang

Kali ini Movielitas membahas sebuah film dari Inggris. Tapi sebelumnya harap diperhatikan bahwa sajian film kali ini bukan untuk jiwa labil di bawah umur yang masih gemar meniru. * warning!! * Film ini berkisah tentang keinginan sederhana juga mungkin menjadi pesan moral yang ingin disampaikan. Bahwa saat uang sudah di-dewa-kan atau disembah maka akan menghilangkan akal sehat sehilang-hilangnya. Sederhananya disini menceritakan dua karakter yang seharusnya berteman. Vernon dan Harry. Vernon punya ide tapi yang malah "sukses" adalah Harry. Konfliknya sederhana tapi biasa saja penyajiannya. Menurut Movielitas, tak ada yang istimewa kecuali ide ceritanya. Paling tidak film ini bisa memberi sedikit pembelajaran bahwa ketika butuh uang mbok ya jangan segitunya.... Traders (2016) - 6/10