Skip to main content

Hukum bisa jadi terasa cacat, tapi tanpa hukum bisa jadi kiamat

Kali ini Movielitas berkesempatan menikmati sajian film drama (bisa dikatakan demikian), dicampur aroma aksi laga, thriller psikologi. Istilah-istilah itu versi Movielitas sendiri.

Sebenarnya film ini merupakan urutan ketiga dari film perdana The Purge. Untuk The Purge sendiri, Movielitas sudah menonton. Sedangkan seri kedua, Anarchy, belum Movielitas dapatkan, justru mendapatkan yang seri ketiga ini.

Di bagian awal, memang ada kesan keterkaitan antara seri ini dengan sebelumnya. Tapi, bagi Movielitas tidak terlalu berpengaruh banyak alias, tanpa menonton seri kedua, tidak kehilangan storyline.

Dari judulnya, tentu ada sangkut paut dengan drama politik. Election yang artinya pemilihan. Storyline utama, masih sama dengan gaya The Purge, dimana mengisahkan sebuah hari atau lebih tepatnya malam hari yang ditetapkan secara nasional sebagai "hari pembersihan". Di malam hari tersebut, orang-orang bebas "menghakimi" siapapun dengan cara apapun.

Inti cerita tersebut menjadi poros horor sekaligus psikologis untuk penontonnya, karena seperti mengajak berpikir bahwa bagaimana bila hukum tidak ada lagi. Yang ada chaos. Kesemerawutan dimana-mana. Ketakutan, kecemasan, kebrutalan, dan pembantaian massal.

Movielitas sendiri menyukai ide cerita dari The Purge ini. Ide ceritanya kreatif. Menciptakan horor bukan dengan gaya menampilkan makhluk dunia lain, tapi menyerang sisi psikologi penontonnya untuk membayangkan bila berada di posisi kehidupan satu malam tanpa hukum berlaku.

Dan, bila memilih yang lebih menarik, tentunya Movielitas cenderung memilih versi "asli" yaitu The Purge. Karena seperti yang diatas, film ini memakai gaya storyline yang kurang lebih sama alurnya. Hanya beda para pendukung film-nya.

Pesan moral dari film ini versi Movielitas adalah bisa jadi hukum seringkali "terasa" cacat, akan tetapi bila tanpa hukum sedikitpun mungkin akan jadi kiamat.

The Purge : Election Year (2016) - 6/10

Popular posts from this blog

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10