We Still Only Imagine

Dari judul film-nya tentu sudah bisa diterka apa bahasan utama film ini. Tapi mungkin bagi generasi sekarang, Lennon (mungkin) bisa jadi kurang akrab. Namun, karya abadinya masih relevan dan akrab dengan jaman sekarang.

John Lennon ditembak di depan kediamannya tanggal 08 Desember 1980. Tragedi tersebut telah diketahui dunia dan tetap dikenang hingga saat ini. Movielitas sendiri hanya mengenal karya-karya Lennon, dan untuk tragedi penembakan tersebut mungkin juga bagi sebagian orang hanya sebuah tragedi.

Apa yang diulas di film ini bukan pada kasus penembakannya, melainkan pada sekitar yang terlibat setelah tragedi tersebut. Cerita tentang tarik ulur berita duka dan misteri apa yang terjadi sesaat setelah tragedi penembakan.

Yang jelas, bagi Movielitas, film ini tidak "bernada" mencari siapa yang benar siapa yang bersalah. Karena memang sudah terjadi. Film ini secara tidak langsung kembali mengajak pemirsa untuk merenungkan pemikiran seorang John Lennon. **Ironisnya, menurut sebuah sumber, latar belakang dari tragedi John Lennon pun berkaitan ketersinggungan dengan sentimen sebuah kepercayaan.**

Imagine there's no countries. It isn't hard to do. Nothing to kill or die for. And no religions too. Imagine all the people, living life in peace....

Lagunya simple. Kunci dan not pun sederhana sekali. Tapi bermakna dalam. Dan, hanya orang yang "terpilih" yang bisa membuat karya sederhana namun "indah" isinya.

Bayangkan bila tidak ada negara. Tidak ada perang yang banyak makan biaya, andaikan saja dana perang buat diriku...(Pesawat Tempur by Iwan Fals). Bayangkan bila tak ada agama. Mungkin tidak akan ada yang berseteru atau "terkotak-kotak an" atas nama agama. Tidak perlu ada yang membunuh ataupun terbunuh atas dasar negara, agama, suku, ataupun ras. Dan, sepertinya hingga saat ini pun, dunia (masih) terus membayangkan saja...

Semoga damai terus menyertai semua.

The Lennon Report (2016) - 7/10