Senyaman-nyamannya hidup di istana orang lain, lebih nyaman tinggal di rumah sendiri


Film ini mengangkat tema yang cukup sensitif, yaitu tentang kehidupan sepasang lelaki yang menikah (sesama jenis).

Sebatas yang penulis tahu, selama ini yang sering beredar di media sosial internet, seorang atau komunitas yang "mengaku" penyuka sesama jenis, biasanya memasang foto atau gambar lelaki berotot atau six pack. Dan, ada juga akun-akun profil atau grup yang mengusung tema "suka sejenis" ini memanaskan diri dengan gambar atau video vulgar (dewasa).

Tapi disini, semua itu akan terbalik. Drama yang diangkat cukup halus. Tidak ada kesan seperti memuja hubungan sejenis secara berlebihan. Tidak ada karakter muda yang berotot kemudian memamerkan body gempal atau dijejali dengan adegan-adegan vulgar sesama jenis.

Yang membuat kesan film berlatar belakang percintaan sesama pria ini menjadi "lembut" salah satunya karena yang diceritakan adalah karakter pasangan yang bisa dikatakan sudah manula. Lainnya yang menarik adalah konfliknya yang tak hanya berbicara soal percintaan unik.

Pesan moral film ini bagi penulis adalah tentang "seindah-indahnya atau senyaman-nyaman nya tinggal di istana orang lain, akan jauh lebih nyaman tinggal di rumah sendiri." Bagi yang menumpang tinggal menjadi beban mental, begitu juga bagi yang ditumpangi. Dan, konflik beban mental karena harus hidup menumpang ini disampaikan dengan akting dan alur cerita yang menarik.

Konflik serba salah karena hidup menumpang ini disampaikan dengan akting berkualitas dari John Lithgow sebagai Ben yang merupakan pasangan George. Selain John Lithgow, akting yang menonjol menurut penulis adalah Charlie Tahan sebagai Joey.

Keseluruhan, film ini menarik. Temanya mungkin sensitif hanya saja disajikan melalui drama kehidupan yang lembut dan alur cerita yang menarik.

Love Is Strange (2014) - 7/10