Memburu matador tanpa banteng

Usia bisa jadi bukan halangan bagi seorang seniman kelas dunia Jackie Chan untuk tetap terus melahirkan karya sinema. Kali ini Jackie Chan berkarya dengan sebuah film yang disutradarai oleh Renny Harlin. Dan gaya ceritanya kurang lebih mirip dengan gaya film-film Jackie yang diproduksi Hollywood sebelumnya yaitu berduet dengan aktor Hollywood (sebelumnya antara lain dengan Owen Wilson atau Chris Rock). Disini yang didapuk menjadi duet Jackie adalah Johny Knoxville yang terkenal lewat aksi-aksi nekatnya di Jackass.

Nama Renny Harlin sendiri ternyata bukanlah nama baru di dunia sinema Hollywood, dan salah satu karya besar dari sutradara Renny Harlin ini adalah Die Hard 2.

Bagi Movielitas, arah film ini lebih ke genre travel-action-comedy. Untuk genre action, memang tidak perlu dibuat penasaran, karena umumnya film dengan memakai Jackie Chan sebagai bintang utama adalah genre aksi laga yang dicampur dengan unsur komedi.

Bila pernah menyimak film Rush Hour, sepertinya tidak akan terlalu sulit mengikuti cerita film ini. Karena kurang lebih sama baik gaya maupun storyline-nya. Ringan menghibur.

Dari sisi aksi laga, Movielitas menilai ada pengaruh usia yang membuat aksi laga Jackie Chan tidak "selincah" masa muda-nya. Dan, ada salah satu momen adegan disini yang memperlihatkan fisik Jackie Chan sudah tidak lagi berotot seperti di Rumble In The Bronx.

Selain sisi aksi laga yang tidak "seramai" karya Jackie terdahulu, dalam beberapa perpindahan adegan satu ke berikutnya juga kadang terasa kaku. Akting dan chemistry antara Jackie-Johnny juga demikian. Tapi, disisi lain patut diapresiasi bahwa di usia yang tak lagi muda, keberanian Jackie Chan melakukan atraksi dalam aksi laga masih belum luntur.

Yang menarik dari karya Jackie ini adalah misi budaya-nya yang terasa kental sekali. Seperti genre travelling, film ini mengajak penonton untuk berjalan-jalan dari Hongkong, Rusia, Mongolia, dan China. Pengenalan budaya khususnya Asia mulai terasa sejak cerita memasuki perjalanan area Mongolia. Selain budaya, juga ditampilkan spot daerah yang cukup indah dipandang mata. Mulai dari padang gurun, perbukitan, gunung, sawah, hingga sedikit tradisi penduduk. Dan, terakhir selain budaya juga lokasi pariwisata, lewat karya Hollywood ini juga dipopulerkan pepatah Cina, always in every crisis there is an opportunity...

Salah satu yang menarik untuk Movielitas adalah "alat transportasi" yang digunakan oleh salah penduduk tradisional di dataran China yaitu seutas tali yang menghubungkan dua bukit. Dan, metode pengenalan budaya dan keindahan alam Asia lewat karya film dengan produksi Hollywood seperti ini memang sangat positif. Terasa sekali bahwa seorang Jackie Chan tidak hanya memikirkan soal reputasi atau karir semata tetapi juga misi budaya untuk Asia. Great actor.

Keseluruhan, Movielitas menilai dari segi film, terasa standard saja. Hiburan khas ala Jackie Chan yang sudah umum. Tapi, dari segi misi dan dedikasi, Movielitas mengakui bahwa seorang Jackie Chan adalah salah satu seniman terhebat yang pernah dimiliki oleh budaya timur.

Skiptrace (2016) - 6/10