Lebih baik mati merdeka daripada hidup diperbudak


Bukan rahasia film satu ini merupakan sekuel dari film 300.

Jika dibandingkan dengan film 300 dengan Gerald Butler, film ini buat penulis kurang bisa mengimbangi kualitas ceritanya.

Disini, konsep ceritanya masih sama. Tone warna film masih sama. Lawan utamanya masih tetap sama adalah Xerxes. Ada persaudaraan di dalam prajurit Athena sama dengan tim Leonidas dulu. Ada bapak-anak di dalam pasukan Themistocles, juga sama dengan pasukan yang dipimpin Leonidas.

Hanya alur ceritanya tidak fokus seperti di 300 perdana. Ditambahi oleh "pemandangan indah" Eva Green sebagai sekutu Xerxes.

Banyak flashback yang sedikit membingungkan. Antara mengenang keberanian prajurit Spartan (istri Leonidas sedang bercerita) atau terjadi saat bersamaan antara Spartan dan Athena melawan Persia.

Kualitas gaya perangnya masih dijaga. Tetap menarik dan menjadi ciri khas 300. Juga dengan pamer body-body prajurit kekar nan six pack yang membuat iri. Masih tetap memakai gaya cepat-slow mo-cepat-slow mo.

Yang kurang nyaman disini adalah terlalu memaksa 3D. Terlihat menonjolkan muncratan darah secara masive dan kental ke arah kamera. Belum lagi jualan sadis penggal kepala yang doyan sekali dilakukan oleh karakter Artemisia.

Konsep pertempuran dengan kapal mengingatkan penulis pada gaya Red Cliff. Dan, tak habis pikir mengapa Athena melawan Persia tidak menggunakan panah saja daripada harus terbang bebas dari jebakan tebing? Atau daripada menabrakkan kapal sendiri ke kapal Persia, menggunakan panah akan lebih efektif. Terbukti dengan panah, Themistocles mampu memanah mati Raja Darius dari jarak jauh.

Keseluruhan, dari segi aksi perang-nya masih menarik dengan permainan komputerisasinya. Kalau dari template cerita, 300 lebih sederhana dan memiliki efek yang lebih menarik.

300 : Rise Of An Empire (2014) - 6/10