Skip to main content

Misteri sang bintang yang diredupkan

Kali ini mencoba sajian dokumenter Netflix yang memang di beberapa kesempatan sejauh yang Movielitas bisa simak hingga saat ini, dokumenter versi Netflix agak sedikit berbeda. Lumayan bagus ulasannya. Seperti dokumenter satu ini, yaitu tentang mega bintang era tahun 1950-1960an.

Movielitas sendiri hanya mendengar nama besar Marylin Monroe. Tidak besar di era kejayaan sang mega bintang tersebut. Sejauh yang Movielitas tentang nama besar Marylin Monroe adalah aktris cantik, sexy, super hot, sensual, dan "panas". Singkatnya, aktris yang meraih simbol seks pada era-nya. Dan kelirunya adalah Movielitas awalnya mengira Marilyn Monroe ini adalah mega bintang bidang tarik vokal alias penyanyi. 

Selama ini Movielitas sendiri belum pernah menonton dokumenter apapun tentang Marylin Monroe. Dan, baru kali ini berkesempatan menyimak sebuah dokumenter garapan sutradara Emma Cooper. Sudut pandang yang dipakai dalam dokumenter ini adalah hasil investigasi dari seorang penulis buku asal Iralndia, Anthony Summers. Hasil investigasi itu berupa rekaman interview dengan klaim-nya sebanyak seribu narasumber untuk memecahkan kasus kematian sang mega bintang yang dianggap misteri.

Dokumenter ini lebih fokus pada sepak terjang Marylin Monroe di dunia hiburan, bukan cerita tentang perjuangan beliau masuk ke dunia hiburan. Lika-liku sepak terjang Marylin tidak hanya di dunia hiburan tapi jauh melampaui itu bahkan merambah dunia politik yang menurut kisah di dokumenter ini memiliki dampak "hebat" sekali hingga ke ranah diplomatik.

Yang menjadi sorotan media adalah kisah hubungan "percintaan" Marylin, dengan olahragawan, insan hiburan, hingga ke orang nomor satu di Amerika saat itu. Tentunya hal ini yang mungkin membuat nama Marylin Monroe begitu populer di samping karya dan sepak terjang juga prestasi-nya di dunia hiburan.

Overall, film dokumenter ini cukup kontroversial versi Movielitas sendiri. Terutama pada bagian ranah plotik nya. Tidak pernah menyangka. Atau faktor lainnya, Movielitas yang memag kurang update sejarah. Tanpa unsur menghakimi siapa benar atau salah, mungkin juga sebagian besar tokoh-tokoh yang disebutkan dalam film dokumenter ini sudah tidak ada atau berpulang, bagaimanapun juga semua manusia pada akhirnya akan meninggalkan dua sisi kenangan, hitam dan putih.

The Mystery of Marilyn Monroe : The Unheard Tape (2022) - 7/10

Comments

Popular posts from this blog

Sebelum melangkah ke Barat mencari Kitab Suci

Seekor kera terpuruk terpenjara di dalam goa, di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa... Kurang lebih liriknya begitu, bila tidak salah. Lagu di atas adalah lagu rap intro pembukaan serial televisi tahun 90an yaitu Kera Sakti. Kala itu, serial ini menjadi salah satu serial favorit penulis. Begitu juga dengan karakter Sun Go Kong-nya yang lincah dan usil. Yang jelas, tidak ada lagu milik Sindikat 31 di opening film ini. Begitu pula dengan kisahnya, tidak sama dengan versi serialnya terdahulu. Disini kurang lebih menceritakan sebab musabab Sun Go Kong "terpuruk terpenjara di dalam goa..." Atau sebelum Sun Go Kong menjalankan misi ke barat mencari kitab suci... Yang kurang menarik dari film Raja Kera ini adalah terlalu eksklusif. Terlalu mahal. Terlalu fantasi. Terlalu ber-animasi komputerisasi. Mengapa demikian? Karena sepanjang film terasa seperti bercerita tentang suasana khayangan dengan segala macam bentuk tatanan dan pertempuran makhluk ala T

Dibalik obat Ridocaine

Sajian kali ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup dengan anak perempuannya. Sang anak menderita sebuah penyakit kelumpuhan dan harus hidup di atas kursi roda. Konflik terjadi karena pola pendidikan sang ibu yang terlalu "sayang" kepada sang anak hingga membatasi sang anak dari dunia luar. Hingga sang anak mulai beranjak dewasa dan mulai kritis terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Alur plot ceritanya lumayan. Seperti judulnya hanya terdiri 3 huruf, Movielitas menyukai gaya minimalis cerita, konflik dan pemainnya. Tidak perlu melebar kemana-mana. Gaya thriller-nya soft saja, tidak yang penuh emosional. Dari segi akting, chemistry antar duo aktris sebagai ibu-anak, Sarah Paulson-Kiera Allen, cukup bagus. Mungkin, versi Movielitas, film ini mengangkat realita yang kadang memang ada, dimana gaya didikan orang tua ada yang terlalu protektif dengan alasan kasih sayang. Di satu sisi baik, tapi di sisi lain, juga bisa "melumpuhkan" sang anak itu sendiri. Overall, ba

Tiger Wong versi layar lebar

Begitu Nicolas Tse menyebut nama karakternya ... Tiger Wong, baru semuanya jelas. Ternyata film ini merupakan adaptasi dari komik lawas yang fenomenal (setidaknya bagi jaman penulis Sekolah Dasar dulu) yang berjudul Tiger Wong. Alur ceritanya sendiri, kurang begitu menancap baik. Karena sibuk mencocokkan karakter yang ada di film dengan memori penulis tentang komik Tiger Wong. Dan, ternyata memang berbeda. Yang penulis kenal dari komik Tiger Wong, adalah petualangan duo Tiger Wong dan Gold Dragon. Disini ada karakter Dragon Wong (kakak dari Tiger Wong) yang di komik karakternya "terlewatkan" dan diceritakan telah meninggal. Lebih pas bila karakter Tiger Wong dibawakan Donnie, pendapat penulis. Karakter Tiger Wong disini minus jurus Sembilan Matahari. Gold Dragon. Disini justru bernama Turbo. Sama, menggunakan Nunchaku. Sama, andalan jurus Baju Besi Emas dengan simbol Lonceng Besi. Minus karakter Guy si Tapak Budha. Disini ada karakter 4 sahabat, namun

Kisah Dua Anak Manusia Yang Terdampar Indah

Film ini penulis dengar gaungnya karena disebut-sebut kontroversial (pada jamannya). Sejauh apa kontroversialnya. Ide ceritanya lumayan. Sebuah kapal besar dengan penumpang bangsawan mengalami kerusakan di tengah laut. Di antara yang selamat adalah sepasang saudara laki-perempuan yang masih anak-anak, Richard-Emmeline, ditemani oleh seorang dewasa, Bapak Button. Mereka bertiga kemudian terdampar di sebuah pulau kecil terpencil tanpa signal apapun. Kurang lebih seperti Castaway. Dan, tak lama berselang, Bapak Button meninggal. Jadilah Richard-Emmeline hidup sendirian di pulau itu. Beranjak dewasa....inilah fokus ceritanya. Kontroversialnya mungkin terletak di poin ini. Di satu sisi, "menarik" sekali. Brooke Shield pada saat itu masih cantik,imut,menggairahkan. Film ini seolah mengajak ikut berfantasi, bagaimana jadinya bila terdampar berdua.. ( dengan catatan kalau dengan mirip Brooke Shield versi muda ini! ) pasti asyik... Lain cerita kalau ternyata pasang

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10

Gairah hidup Lucia

Mungkin memang dasarnya sedang false on mood dan diperparah dengan keberadaan subtitle serta bahasa yang dipakai, penulis kurang bisa menikmati drama eksotis ini. Yang bisa penulis resapi adalah film ini berkisah tentang seorang wanita cantik yang jatuh hati kepada seorang penulis. Sejak itu, cerita menjadi rangkaian pecahan demi pecahan yang tersebar dan harus dipungut kemudian dipasangkan. Sulit. Penulis mulai "ketinggalan" laju cerita, antara kisah cinta Lucia dan Lorenzo, kemudian berlanjut ke drama Lucia yang ditinggal pergi. Flashback ke masa-masa erotis Lucia bersama Lorenzo, semakin sulit diikuti terlebih lagi memasuki babak drama depresi Lorenzo yang membangun kisah roman dalam tulisannya. Kalau dari sisi erotisnya, cukup membakar gairah dan bukan untuk kalangan bocah. Namun kalau dari sisi dramanya meski direspon positif oleh banyak pihak, bagi penulis masih kurang bisa dinikmati secara ringan. Perlu ekstra mengikuti serta meresapi. Tinggal pilih

Senyaman-nyamannya hidup di istana orang lain, lebih nyaman tinggal di rumah sendiri

Film ini mengangkat tema yang cukup sensitif, yaitu tentang kehidupan sepasang lelaki yang menikah (sesama jenis). Sebatas yang penulis tahu, selama ini yang sering beredar di media sosial internet, seorang atau komunitas yang "mengaku" penyuka sesama jenis, biasanya memasang foto atau gambar lelaki berotot atau six pack . Dan, ada juga akun-akun profil atau grup yang mengusung tema "suka sejenis" ini memanaskan diri dengan gambar atau video vulgar (dewasa). Tapi disini, semua itu akan terbalik. Drama yang diangkat cukup halus. Tidak ada kesan seperti memuja hubungan sejenis secara berlebihan. Tidak ada karakter muda yang berotot kemudian memamerkan body gempal atau dijejali dengan adegan-adegan vulgar sesama jenis. Yang membuat kesan film berlatar belakang percintaan sesama pria ini menjadi "lembut" salah satunya karena yang diceritakan adalah karakter pasangan yang bisa dikatakan sudah manula. Lainnya yang menarik adalah konfliknya yang

Asmara di dalam kelas yang terlarang

Drama dari Swedia. Temanya tentang hubungan asmara antara guru dan muridnya. Tema kontroversial seperti ini biasanya memiliki sisi membuat penasaran. Bagi penulis, hanya sebagian saja yang menarik. Terutama saat berfokus pada manisnya asmara guru dan murid. Masih malu-malu. Kemudian berkembang menjadi intim. Alur cerita menjadi tak menentu ketika plot asmara antara karakter guru, Viola, dan muridnya, Stig, perlahan mulai menghilang panasnya. Irama film tidak lagi berfokus pada dua karakter utama, melainkan mulai memasukkan porsi karakter lain yang kurang berpengaruh banyak. Karakter Stig bahkan bersahabat dengan suami gurunya. Stig juga secara tiba-tiba punya kekasih yang sebaya. Keseluruhan, menarik pada plot kisah asmara guru dan murid. Plot pengembangannya, kurang begitu menarik. All Things Fair (1995) - 6/10  

Memburu jejak emas batangan bermotif penari Bali

Dulu, seingat penulis film ini cukup fenomenal pada jamannya. Terutama pada penggunaan mini cooper. Meskipun sebenarnya Mr.Bean sudah lama memakai di serial televisi. Kini, ada kesempatan kembali menikmati sajian film yang disutradarai F.Gary Gray. Dan, yang baru bisa penulis sadari adalah jajaran cast -nya yang ternyata cukup mantab. Mark Wahlberg, Jason Statham, Mos Def, Donald Sutherland, Edward Norton, tak ketinggalan pemanis yang seksi Charlize Theron. Kalau dari template ceritanya, kurang lebih mirip gaya Ocean Eleven . Satu tim dengan gaya santai berusaha "merampok" barang curian jutaan dollar. Banyak bintang tenar yang kemudian diletakkan sebagai tim dengan keahlian. Disini minus anggota dari daratan Asia. Tidak perlu memikirkan caranya atau berapa biayanya. Baik antara tim Ocean maupun tim Charlie disini memiliki kesamaan, semua serba sudah tersedia. Tugas mereka hanya menyajikan hiburan apik aksi pencurian kelas atas. The Italian

Anak ayam turun sepuluh pergi satu tinggal sembilan

Teringat pada lirik anak ayam turun sepuluh mati satu tinggal sembilan. Ada mantan artis dan supirnya, ada satu keluarga terdiri bapak,ibu, dan anak. Lalu ada wanita cantik pulang kampung, ada sepasang kekasih tak bahagia. Kemudian, muncul sepasang polisi bertampang penjahat dan penjahat yang memang bertampang penjahat. Terakhir, penjaga motel. Bila dijumlah, maka ada 10 karakter. Menariknya sekaligus unik, adalah proses alur ceritanya. Maju mundur dan pecah-pecah. Bisa jadi membingungkan namun juga memunculkan gaya baru. Kebingungan yang menarik. Kemudian satu per satu diulang untuk dibuka kaitan menjadi satu kesatuan dan ditemukan oleh kecelakaan dan cuaca buruk di sebuah motel. Konflik, menjadi hal yang menarik di film ini. Pertama, tercium aroma nama Malcolm River sebagai "buron" yang masih berkeliaran. Kedua, 10 karakter di atas satu per satu dimatikan dengan teka-teki aneh. Apakah Malcolm yang membunuh? Bisa jadi. Atau orang lain? Bisa juga. Apa