Skip to main content

Jangan percaya siapapun bahkan pada diri sendiri


Disini baru bisa paham horor psikologi. Yaitu menempatkan diri pada posisi karakter utama yang mengalami kejadian horor di luar logika manusia.

Bagaimana bisa terjadi di hari pernikahan kemudian mempelai wanita terjun bebas? Tentu saja momen ini terasa "sakit". Kemudian, dilanjutkan dengan semua yang berada di sekitar karakter utama, termasuk teman bahkan keluarga sendiri, berusaha membunuh? Itu juga termasuk momen "sakit" bagi sisi psikis. Mengerikan sekali bila berada pada posisi karakter utama.

Sayangnya, konflik film ini kurang menarik ketika masuk ke dalam. Terlalu melebar dengan hanya mengandalkan sosok pria cool yang ternyata merupakan pusat "provokator horor". Dan, bagi penulis twist dalam film ini kurang powerfull. Biasa saja.

Someone Behind You (2007) - 6/10

Popular posts from this blog

Dibalik obat Ridocaine

Sajian kali ini berkisah tentang seorang ibu yang hidup dengan anak perempuannya. Sang anak menderita sebuah penyakit kelumpuhan dan harus hidup di atas kursi roda. Konflik terjadi karena pola pendidikan sang ibu yang terlalu "sayang" kepada sang anak hingga membatasi sang anak dari dunia luar. Hingga sang anak mulai beranjak dewasa dan mulai kritis terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Alur plot ceritanya lumayan. Seperti judulnya hanya terdiri 3 huruf, Movielitas menyukai gaya minimalis cerita, konflik dan pemainnya. Tidak perlu melebar kemana-mana. Gaya thriller-nya soft saja, tidak yang penuh emosional. Dari segi akting, chemistry antar duo aktris sebagai ibu-anak, Sarah Paulson-Kiera Allen, cukup bagus. Mungkin, versi Movielitas, film ini mengangkat realita yang kadang memang ada, dimana gaya didikan orang tua ada yang terlalu protektif dengan alasan kasih sayang. Di satu sisi baik, tapi di sisi lain, juga bisa "melumpuhkan" sang anak itu sendiri. Overall, ba

Kisah Dua Anak Manusia Yang Terdampar Indah

Film ini penulis dengar gaungnya karena disebut-sebut kontroversial (pada jamannya). Sejauh apa kontroversialnya. Ide ceritanya lumayan. Sebuah kapal besar dengan penumpang bangsawan mengalami kerusakan di tengah laut. Di antara yang selamat adalah sepasang saudara laki-perempuan yang masih anak-anak, Richard-Emmeline, ditemani oleh seorang dewasa, Bapak Button. Mereka bertiga kemudian terdampar di sebuah pulau kecil terpencil tanpa signal apapun. Kurang lebih seperti Castaway. Dan, tak lama berselang, Bapak Button meninggal. Jadilah Richard-Emmeline hidup sendirian di pulau itu. Beranjak dewasa....inilah fokus ceritanya. Kontroversialnya mungkin terletak di poin ini. Di satu sisi, "menarik" sekali. Brooke Shield pada saat itu masih cantik,imut,menggairahkan. Film ini seolah mengajak ikut berfantasi, bagaimana jadinya bila terdampar berdua.. ( dengan catatan kalau dengan mirip Brooke Shield versi muda ini! ) pasti asyik... Lain cerita kalau ternyata pasang

Pertumbuhan fisik yang menjadi bencana

Alasan utama memilih film garapan sutradara Brad Peyton untuk dijadikan tontonan malam ini adalah karena nama Dwayne Johnson. Movielitas menyukai gaya akting Dwayne Johnson yang sebelumnya dikenal dengan nama The Rock ini. Kali ini Dwayne Johnson berperan sebagai Davis Okoye seorang pemerhati sekaligus pengasuh primata gorila albino yang dinamai George. Dikarenakan sebuah penelitian yang berakhir fatal mengakibatkan sebuah "bencana" di kawasan tempat habitat binatang liar berkumpul. Bencana yang terjadi sebuat saja bencana genetika dimana para tiga binatang liar yang terkenal buas menjadi bertumbuh tak terkendalikan. Jujur saja, menonton film ini jatuhnya sangat jauh di bawah ekspektasi. Konflik besarnya sangat sederhana tapi dengan alur cerita dan penempatan akting yang sangat kurang menarik bagi Movielitas. Penampilan Dwayne disini sendiri sebenarnya sudah sangat umum sekali sama dengan di film-film Dwayne lainnya, tapi sering terasa kurang pas dengan adegan yang ditampilka

Cerita tentang film The Last Mohicans

Sajian klasik seeputar kisah pada jaman pra-modern. Mungkin karena faktor perbedaan jaman, film ini terasa kaku pada gaya battle -nya. Yang bisa Movielitas tangkap inti ceritanya adalah konflik antara Inggris Raya melawan Perancis yang terjadi di tanah Amerika. Konflik kerajaan tersebut disusupi oleh kepentingan balas dendam oleh suku Huron. Penampilan suku Huron ini mengingatkan penulis pada penampilan suku pedalaman di Apocalypto. Entah sama atau tidak, Movielitas juga kurang begitu memahami. Judul The Last Mohicans sendiri merujuk pada tiga orang suku Mohawk yang ikut terlibat di pertempuran antara Inggris dan Perancis, yang sejatinya lebih dikarenakan oleh kisah cinta pria-wanita lintas ras. Dari segi konflik, cukup bagus. Tidak datar dengan satu konflik saja. Hanya soal gaya battle yang sedikit kelihatan kaku. Ada satu yang memorable dari film ini yaitu theme song -nya yang easy listening dan megah. The Last Mohicans (1992) - 6/10

Misteri perumahan Ladda Land

Film ini sebenarnya berkesan. Dulu, dulu sekali, pernah membaca sekilas info film ini, beberapa review juga menyebutkan film ini cukup bagus dalam kategori horor. Penulis pun mulai hunting film Thailand ini. Namun, beberapa kali browsing mencari info, gambar poster yang penulis dapat berbanding terbalik dengan tema horor. Poster yang muncul adalah berwarna "cerah" bahagia happy family . Lalu, dimana horornya? Atau jangan-jangan horor komedi? Ternyata, memang posternya sedikit menipu. Dan film yang bisa "menipu" entah dengan tampilan awal atau kesan poster atau pun dengan jalan cerita, biasanya, umumnya menarik. Termasuk film ini. Beberapa poin fresh yang penulis dapat dari film ini antara lain, penampilan Nan. Cantik euy . Manis. Imut. Nama aslinya? Rumit. Lalu, dari sisi adegan horor, penulis suka gaya teknologi Magic Eye yang memiliki sensor gerak mengikuti keberadaan manusia. Kesan horor yang dibangun terasa kena. Lainnya, ide kalung kamera di lehe

Perjuangan di dalam nafsu

Kesan pertama usai menyimak adalah memuaskan. Durasinya panjang. Jalan cerita berliku dengan hook di luar dugaan. Bagus menarik. Ang Lee, Tony Leung, dan Tang Wei adalah bintangnya disini. Dalam satu film jalan cerita selain berliku juga padat. Karena banyak tema yang terpancar. Cinta, ada cinta tak sampai dan cinta terlarang. Memburu pengkhianat atas nama negara, ini pun harus dijalankan dalam dua kali misi. Mr. Yee diketahui sebagai sekutu Jepang dan dicap pengkhianat oleh kaum pelajar China. Adalah Kuang Yumin sang "sutradara" yang menyusun rencana membunuh pengkhianat negara dengan menyusupkan Wong Chia Chi ke dalam kehidupan pribadi Mr.Yee. Tema diatas kemudian diolah dengan durasi hampir 160 menit atau 2 setengah jam dengan alur yang menarik tidak membosankan. Apalagi tentunya dengan "hiburan" panas Tony Leung - Tang Wei. Akting tentu memegang peran vital. Paling berkesan adalah gaya serta gestur Tony Leung disini. Tak banyak aksi, tapi d

Terus memukul demi hari esok

Film olahraga yang diangkat dari komik manga Jepang. Tentang seorang Yabuki Joe yang memiliki bakat di dunia tinju. Plot ceritanya tidak berat. Bisa diikuti meski tidak mengenal animenya. Contohnya penulis yang buta soal komik manga. Tapi, masih bisa mengikuti jalannya cerita Yabuka Joe yang mengembangkan diri lewat tinju. Akan tetapi, bagi yang pernah mengenal atau membaca apalagi menyukai komik manga-nya, pasti akan lebih mudah masuk ke dalam plot cerita. Fokus film ada pada dua karakter utama yaitu Yabuka Joe dan Rikiishi Tooru. Ada beberapa hal yang menarik perhatian penulis sepanjang film ini, yaitu akting dari Tomohisa Yamashita. Dari akting cemerlang Tomohisa ini paling tidak penulis bisa meraba karakter Joe di versi komik. Dan, memang penampilan akting Tomohisa sukses terlihat sangat cuek dan menyebalkan dengan gaya jagoannya. Hanya saja ada sisi minus dari penampilan Tomohisa disini, masih "kurang" terlihat sebagai petinju. Fisiknya kurang be

Tiger Wong versi layar lebar

Begitu Nicolas Tse menyebut nama karakternya ... Tiger Wong, baru semuanya jelas. Ternyata film ini merupakan adaptasi dari komik lawas yang fenomenal (setidaknya bagi jaman penulis Sekolah Dasar dulu) yang berjudul Tiger Wong. Alur ceritanya sendiri, kurang begitu menancap baik. Karena sibuk mencocokkan karakter yang ada di film dengan memori penulis tentang komik Tiger Wong. Dan, ternyata memang berbeda. Yang penulis kenal dari komik Tiger Wong, adalah petualangan duo Tiger Wong dan Gold Dragon. Disini ada karakter Dragon Wong (kakak dari Tiger Wong) yang di komik karakternya "terlewatkan" dan diceritakan telah meninggal. Lebih pas bila karakter Tiger Wong dibawakan Donnie, pendapat penulis. Karakter Tiger Wong disini minus jurus Sembilan Matahari. Gold Dragon. Disini justru bernama Turbo. Sama, menggunakan Nunchaku. Sama, andalan jurus Baju Besi Emas dengan simbol Lonceng Besi. Minus karakter Guy si Tapak Budha. Disini ada karakter 4 sahabat, namun

Cerita tentang film Lethal Weapon 2

Masih seperti yang pertama , film ini mengandalkan sedikit aksi laga, drama berliku, dan rasa komedi. Sisi dramanya berkisah seputar kejahatan cuci uang yang dilakukan oleh konsulat. Komedinya masih seputar duo partner berbeda kontras dalam gaya. Yang satu malu-malu formal, satu lagi rock n roll . Ditambahi dengan Joe Pesci yang banyak bicara. Tidak terlalu serius juga tak terlalu konyol. Mungkin karena faktor rilisnya tahun 90an, alur cerita dan gaya film ini masih terasa kaku belum tersentuh oleh teknologi modern. Lethal Weapon 2 (1989) - 6/10  

Woodstock '99 : Peace, Love, Music, Riots, Rages, and Chaos.

Nama besar Woodstock baru Movielitas ketahui di era 1999-2000an. Saat itu ada sebuah majalah lokal kenamaan era itu yang menerbitkan sebuah edisi khusus membahas even Woodstock '99. Movielitas sendiri agak kurang ingat betul pembahasan di majalah edisi khusus Woodstock '99 tersebut, karena yang Movielitas incar saat itu adalah halaman chord dan notasi dari lagu-lagu dari beberapa band yang ditampilkan di even Woodstock 1999. Maklum baru bisa memainkan gitar saat itu. 20 tahun lebih kemudian, Movielitas berkesempatan menyaksikan dokumentasi seputar even Woodstock '99. Dan, miris ternyata. Seperti yang diatas bahwa Movielitas tidak ingat apa yang dibahas seputar Woodstock '99 dalam majalah edisi khusus tersebut, selama ini Movielitas menganggap even Woodstock '99 merupakan even musik yang sukses. Ternyata keliru. Woodstock '99 chaos. Dokumentasi ini cukup menarik bagi Movielitas. Irama cerita seperti dibawa naik secara dinamis dan perlahan-lahan. Menceritakan tent