Mematahkan ambisi mantan biksu yang keliru

Dulu, sebelum jaman internet seperti saat ini, hiburan paling menyenangkan adalah televisi yang saluran stasiun hanya satu saja. Lalu, pelan demi pelan, pihak swasta bermunculan mendirikan stasiun televisi baru.

Film ini termasuk hiburan mewah pada jamannya. Begitu pula untuk Movielitas yang pada saat film ini tayang (merujuk pada tahun produksi-nya), saat itu Movielitas masih ingat bagaimana bahagianya bisa "mencuri" ikut saluran parabola orang lain (tetangga) dan stasiun televisi swasta yang saat itu masih free sinetron, bisa tampil di layar televisi secara jernih.

Kalau salah ingat, film ini dulu juga pernah ditayangkan saat era televisi swasta masih "sulit" dinikmati selain dengan parabola. Dan, berkesempatan menikmati film kungfu klasik ini menjadi momen nostalgia sejenak untuk Movielitas.

Pesan moral film ini menurut Movielitas adalah tentang materi dan ambisi. Hidup akan terasa damai bila tidak mengukur segala sesuatu dengan materi, setidaknya demikian.

Bila mendengar kata Biksu, secara awam, sekilas pertama kali akan terbayang tentang sosok manusia yang mendalami ilmu agama dengan melepaskan diri dari hawa nafsu ke-duniawi-an. Di samping mendalami kehidupan di dunia tanpa hal duniawi, Biksu (mungkin berlaku terutama untuk di daratan Cina, - opini) juga mendalami ilmu beladiri yang disebut kungfu. Dari film ini, sekilas Movielitas menyimpulkan bahwa salah satu prinsip dasar Biksu adalah hidup damai dengan keadaan,alam, dan makhluk hidup.

Diceritakan disini bagaimana materi akhirnya bisa menumbuhkan ambisi yang begitu "liar" dan menjauhi kedamaian. Yang dulunya bersaudara bisa saling melukai demi ambisi dan materi. Bunuh membunuh, pengkhianatan, melupakan ajaran agama, semua berakar dari ambisi demi materi.

Dan, "sayangnya" tema film ini masih relevan hingga saat ini. Ambisi demi materi.

Dari sisi aktor, Movielitas mempunyai catatan tersendiri. Satu hal yang Movielitas amati dari gaya Jet Li yang saat di film ini masih muda dan powerfull dengan jurus kungfu-nya adalah anti pamer otot. Kostum yang dikenakan selalu tertutup, bahkan hingga ujung pergelangan tangan. Seringkali, sosok Jet Li dalam film-nya terlihat "kecil" salah satunya karena faktor kostum. Namun, meskipun begitu, tidak perlu diragukan soal tenaga pukulannya dan kelincahannya dalam memainkan jurus-jurus beladiri Cina.

Keseluruhan, film ini menampilkan pesan cerita yang menarik digabungkan dengan gaya aksi laga klasik khas Jet Li yang masih asyik dinikmati saat ini.

Tai Chi Master (1993) - 6/10