Membangunkan kota yang tak pernah tidur


Ada tiga film yang menurut penulis masih "sedarah" dengan film ini. Jauh sebelum New York diserang oleh makhluk raksasa ala lizard di Cloverfield ternyata New York telah berpengalaman diserang oleh raksasa lainnya yaitu Gojira.

Opening film ini mengingatkan pada gaya Hills Have The Eye, bedanya kalau di Hills Have The Eye, radiasi nuklir meninggalkan mutant separuh manusia, disini radiasi menyerang binatang.

Terakhir, film ini mengingatkan pada Jurrasic Park yang juga memunculkan karakter binatang raksasa.

Seperti hal-nya Jurrasic, andalan film ini adalah visual efeknya. Menciptakan animasi raksasa yang memporakporandakan The City Never Sleep. Untuk sisi visual efeknya disini masih lumayan.

Alur cerita film ini memakai pola N. Ada 4 titik belokan cerita, pertama Godzilla dimunculkan dengan beragam animasi kota hancur, lalu Godzilla ini dimatikan. Namun ternyata belum selesai konfliknya. Berikutnya, ada anak-anak Godzilla yang juga membuat kekacauan. Berhasil diatasi, namun ternyata masih belum menyelesaikan masalah, karena Godzilla ternyata datang kembali menjemput anak-anaknya. Polanya kurang lebih seperti itu.

Konflik dalam film ini terasa seperti "memaksa" atau sedikit berlebihan. Seperti memasukkan unsur percintaan, atau unsur komedi kecil yang kurang pas. Bagian endingnya sedikit mengecewakan, karena hanya cukup dengan 3 pesawat tempur, bila memang hanya dengan 3 pesawat tempur bisa mengatasi seekor Godzilla, mengapa tidak sedari awal atau pada saat momen memberi makan ikan di Fifth Avenue, lebih menghemat durasi.

Godzilla (1998) - 5/10