Setiap mimpi punya harga


Film klasik yang (sebenarnya) menarik untuk disimak. Sejauh yang bisa penulis raba, dunia saham dan seluk beluknya adalah materi yang ada ilmunya. Sama halnya dengan dunia internet yang ada sebuatan hacker, dalam dunia saham pun demikian.

Selama ini, penulis hanya bermain di area dangkal kolam saham. Bermain kecil-kecilan. Retail. Tapi, tak dipungkiri ada area dalam dalam kolam saham yang diperuntukkan bagi mereka yang telah mahir menyelam.

Disinilah letak sisi "berat" film ini. Bahasa saham yang digunakan terlalu tinggi buat penulis. Mungkin mereka yang merupakan pelaku pasar atau berkecimpung dengan dunia saham secara mendalam, akan lebih mudah berseluncur dalam alur cerita film ini. Sejauh yang bisa penulis rasakan, alur cerita film ini seperti chart saham siklus hidup karakter Bud Fox, dimana pergerakannya terkadang naik hingga titik tertinggi kemudian meluncur ke bawah akibat profit taking atau sell force.

Film ini menceritakan dunia saham yang levelnya jutaan dollar. Ribuan lot. Kelas kakap. Dan dari pergerakan satu poin harga lembar saham, bila memiliki ribuan bahkan puluhan ribu lot, maka akan menghasilkan uang banyak sekali, dan pergerakan tersebut bisa terjadi dalam hitungan detik saja. High Risk High Gain.

Bagi penulis, tema konflik film ini terlalu berat karena penulis hanya pelaku retail. Hanya meski begitu banyak juga yang menarik dari film ini. Antara lain, Michael Douglas. Aktingnya cukup bagus, memerankan seorang milyuner yang jenius. Akting dan gayanya cukup mumpuni memerankan seorang milyuner Gekko.

Buat penulis sendiri baru kali ini menyaksikan, ayah-anak dipertemukan dalam sebuah film dan beradu akting dangan baik. Hebatnya lagi, ayah dan anak ini juga berperan sebagai ayah dan anak. Martin-Charlie Sheen. Keduanya bahkan beradu akting beradu argumen panas dalam sebuah moment.

* Money never sleep, pals... * kata Gekko.

* Uang kadang bisa membuatmu melakukan hal yang tak ingin kau lakukan. * Terjemahannya.

Wall Street (1987) - 6/10