Antara cerita, sejarah, dan realita dibalik tembok museum sejarah


Film ini cukup berkesan. Bukan dari kisah di dalamnya melainkan dari "sejarah" dan realitanya. Berkisah tentang drama penyanderaan yang terjadi di Museum of Natural History. Yang bermain di dalamnya ada Dustin Hoffman, John Travolta, dan Alan Alda.

Menarik. Sebelum Museum of Natural History terkena krisis kunjungan di Night At The Museum, ternyata penulis baru temukan sejarah berulang. Karena di film ini museum tersebut sudah diceritakan krisis keuangan.

*Satu line dialog menarik, "ketika anak-anak malas mengunjungi museum kini bahkan mereka harus menginap (disandera) di dalamnya."

Lagi. Jauh sebelum bertemu sebagai besan di Meet The Focker, rupanya, Hoffman dan Blythe Danner sudah bertemu di sini lebih dulu.

Lagi sejarah berulang. Kali ini untuk Travolta. Sebelum menjadi penyandera yang emosional di Taking Pelham, rupanya Travolta pernah "belajar" disini.

Konflik film ini sebenarnya cukup menarik. Tumpang tindih namun berkaitan memainkan sisi manusiawi. Dimulai dari sebuah drama orang awam yang hilang kesabarannya, Sam Baily, melakukan tindakan menyandera sebuah museum sekaligus pengunjung dan kuratornya. Kejadian nasional tersebut akhirnya menjadi punggung tunggangan bagi Max Breckett yang haus rating bagi stasiun televisi tempat Max bekerja sebagai wartawan senior. Akhirnya, drama penyanderaan tersebut menjadi konsumsi sekaligus alat untuk menaikkan rating.

Tak berhenti disitu, film ini juga menawarkan realita kecil seputar berita live yang sering kita temui di layar kaca pertelevisian nasional. Bisnis. Ada bisnis di balik sebuah layar kaca. Bisnis itu uang. Bisnis itu keuntungan. Di atas penderitaan orang lain atau tragedi, ada pihak yang sedang berlari mengejar untuk kemudian menari riang di atasnya.

Namun, sayangnya, kesan thriller yang dikabarkan wiki, sepertinya kurang tepat. Melihat gaya "tenang" Max keluar-masuk ke lokasi TKP museum, sepertinya terlalu ringan dan ramah untuk sebuah thriller. Kesan garang Travolta yang ditampilkan di Pelham, sama sekali tak terlihat disini. Bahkan disini karakter Travolta sangat lugu dan polos hampir tak ada kesan emosional apalagi garang, mungkin masih baru pertama kali menyandera.

Yang membuat kurang menarik dari sisi cerita film ini adalah chemistry yang dibangun Hoffman dan Travolta. Keduanya bermain bagus namun alur cerita yang kemudian menjadi partner in crime di dalam museum, kurang begitu pas. Akhirnya memang terjadi kesan bahwa penyandera sebenarnya adalah karakter Max, yang berusaha memanjangkan penyanderaan dalam museum demi rating stasiun televisinya sendiri. Akhirnya alur cerita berasa seperti sebuah drama yang ditarik-panjangkan dengan konflik beragam.

Mad City (1997) - 6/10