Skip to main content

Posts

Mengawal ibu dan anak

Entah ini film maksudnya bagaimana kurang begitu jelas. Sekilas di awal terasa seperti film tentang pembalasan dendam seorang Joshua karena istri dan anaknya terbunuh karena bom. Tapi tidak ada pembalasan hingga akhir. Yang ada justru adegan yang cukup sensitif. Kemudian cerita berganti ke suasana perang, ekspektasinya bakal ada kisah perang, tapi ternyata keliru lagi. Malah yang ada adalah kisah pembelotan dan hubungan Joshua bersama seorang ibu dan bayi. Kurang begitu menarik tema yang diangkat disini. Apalagi ending-nya terlalu gampang dan aneh. Jalan ceritanya hambar, beberapa adegan terasa kaku dan tidak ada grafik emosi naik turun, datar saja. Savior (1998) - 5/10

Kadang memang uang adalah segalanya

Ada sebuah kalimat umum, " uang bukanlah segalanya " atau " uang tak dapat membeli kebahagiaan " dan film ini mencoba mematahkan kalimat tersebut. Disini menceritakan tentang perjuangan serta pengorbanan seorang ibu yang terjepit dalam keterpurukan ekonomi. Salah satunya adalah there's nothing under the tree (tidak ada apa-apa di bawah pohon - Natal) untuk 2 anaknya dan Ray (ibu tersebut) melakukan sebuah tindakan melanggar hukum untuk mencari uang. Film ini versi penulis sangat sehari-hari. Dekat dengan kenyataan. Untuk mendapatkan kebahagiaan (kadang) memang harus ada biaya untuk mendapatkannya. Dan hal tersebut yang membuat karakter Ray disini dapat dimaafkan. Dan sepak terjang Ray juga sangat manusiawi, berjuang meski salah demi mendapatkan uang untuk kehidupan, serta berkorban untuk partner in crime- nya, Lila. Meski atmosfir film terasa suram sendu dan sedih, namun diolah dengan kental dan masuk. Paling emosional disini ketika Ray dan L

Menjadi orang tua muda

Kesan yang muncul setelah menonton film ini adalah bagus di beberapa menit opening saja. Terasa bakal ada tontonan kocak ala Korea. Namun, setelah masuk lebih dalam lebih terasa atmosfir ala sinetron lokal. Bintang film yang diplot muda dan mudi belia, blink-blink , yang nakal yang idola, yang melawan peraturan yang idola. Tidak ada kekonyolan. Komedinya datar saja. Nakal, jantan tapi beberapa kali menangis. Tak lama teriak-teriak penuh emosi. Menangis lagi. Sangat di-dramatis-kan. Apalagi tambahan baby voice yang seolah bisa berbicara layaknya orang dewasa. Baby and I (2008) - 6/10

Hit hit hit and kick, control your breath

Konsep yang dipakai disini standar saja. Pernah ada. Contohnya Karate Kid milik Jackie dan Jaden. Ada pendatang. New boy in the school . Di bully . Lalu, fall in love ma cewek manis. Latihan. Tanding. Lalu, dari segi audio juga memasang banyak background lagu-lagu rock alternative dinamis seperti film-film ala romantic comedy . Paling menonjol adalah penampilan Djimon Hounsou sebagai suhu. Kalem tapi sangat powerfull. Lalu, ada jenis beladiri yang bagi penulis belum banyak ditemui (setidaknya bagi penulis) dalam media film. Mungkin jenis beladiri ini pernah dipakai di film Thailand. Never Back Down (2008) - 6/10

Streaming berdarah dari pulau antara Indonesia dan New Guinea

Spontan langsung teringat gaya film Death Race . Para napi diadu domba, saling sikut, disiarkan untuk keperluan bisnis tontonan publik. Dengan alasan karena publik menyukai tontonan bloody fight secara live. Alur ceritanya biasa. Para napi dibuat seolah-olah dari seluruh dunia. Ada Amerika, ada Eropa, Latin, dan Asia. Peraturannya, saling bunuh hingga tersisa satu. Aksi laganya biasa. Tidak ada yang istimewa. Adu pukul para pria berotot dan sedikit pemanis tampilan wanita-wanita pemberani sekaligus berani hot seksi. Standar tinggal mengikuti jalan cerita serta baku hantam serta menebak siapa kira-kira hero nya. Meski mau tak mau sudah bisa ditebak. Akhirnya memang film ini terasa hanya menjual nama aktornya saja. Adalah nama Steve Austin dan bertemu dengan Vinnie Jones. Dari ring Smackdown bertemu lapangan bola. The Condemned (2011) - 6/10

Rumble In The Jungle 1974

Film dokumenter yang ternyata menarik serta menambah wawasan. Seperti kata Spike Lee yang menjadi pembicara disini bahwa generasi muda saat ini harusnya melihat sejarah dan kejadian para tokoh besar masa lalu, Malcolm X, John F.Kennedy, Jackie Robinson, dan Ali. Sejarah ring tinju mencatat salah satu pertandingan terbesar yang pernah ada antara 2 raksasa, Muhammad Ali vs George Foreman yang diadakan di Zaire (Congo) 30 Oktober 1974. Dokumenter ini mengangkat seputar persiapan serta pertandingan 8 ronde tersebut. Dari kecil, penulis hanya tahu julukan Si Mulut Besar Muhammad Ali, pada waktu kecil penulis kurang bisa mengartikan arti kata Mulut Besar Ali. Mungkin, memang posisi bibirnya besar. Tapi, dari film dokumenter ini akhirnya penulis tahu makna Mulut Besar tersebut. Dan yang membuat menarik film ini adalah dokumenter asli. Memang terlihat kepercayaan diri Ali sangat sangat tinggi. Perang kata-kata komentar melalui media dan wawancara memang bernada sombong.

Cemetery Junction

Film ini sebenarnya bagus. Menarik. Menyinggung kehidupan umum. Sayang, terasa "lembek". Kurang powerfull . Tentang persahabatan dan kelas ekonomi yang terjadi di sebuah daerah Cemetery Junction. Sebenarnya, tidak hanya di sana, melainkan dimana-mana pasti ada "jurang" atau gap kelas ekonomi. Kaya-miskin. Tiga karakter utama dalam film ini mencerminkan kegalauan para pemudia usia 20an di saat harus memilih dan mulai memikirkan langkah ke depan hidup. Freddie, adalah sosok pemuda yang sadar akan pentingnya masa depan. Mulai bekerja sebagai sales asuransi jiwa. Namun, seperti kenyataan, dunia kerja (disini asuransi), akan banyak menemukan kecocokan dengan di film ini. Yang senior yang menjual banyak policy karena mereka bekerja lebih dulu, akan merasa sombong dan sangat sombong. Berdiri di ujung kemakmuran tanpa pernah peduli produk apalagi jiwa kliennya yang penting adalah komisi. Ironis, sales asuransi, menjual produk penggantian kehilangan nyaw