Skip to main content

Posts

Pengadilan panjang untuk Medgar Evers

Sebenarnya ini adalah film salah "sasaran". Sebelumnya judul yang penulis cari adalah dengan kata Burning, tapi yang didapat adalah Ghost. Well, tapi ternyata tidak kalah menarik. Tema masih sama. Seputar rasisme yang pernah terjadi di negara bagian Mississippi, Amerika. Film dan jalan cerita tidak ada yang menonjol. Biasa saja. Konfliknya juga biasa. Tapi kisah di dalamnya adalah yang luar biasa. The story is true . Kisahnya adalah kisah nyata. Kejadian itu terjadi sekitar tahun 1963. Sebuah pembunuhan terjadi pada Medgar Evers yang notabene adalah kulit hitam. Dan pembunuhan tersebut terjadi saat rasis masih kuat terhadap kaum kulit hitam di Amerika. Pelaku (disini tanpa tertutup misteri) Byron De La Beckwith. Pada saat itu, tentu saja bebas merdeka tanpa syarat. Selang 27 tahun kemudian , 1990 , seorang pengacara muda berkulit putih, Bobby DeLaughter, dengan segala keberaniannya membuka kembali kasus Beckwith untuk meluruskan keadilan yang terlupakan. Membuk

Penantian panjang di padang gurun

Sebuah film yang bagus. Tentang memori Swofford selama bertugas menjadi marinir. Dari awal cerita sudah terasa feel "salah alamat" yang dialami oleh Swoford. Beban psikologis semakin terasa ketika Swofford bertemu dengan Sersan Skyes yang dimainkan apik oleh Jamie Foxx. Tekanan mental yang dialami oleh marinir selama bertugas menjaga daerah kilang minyak di Kuwait secara sempurna dimunculkan. Stres dan frustasi dimunculkan melalui akting yang kuat dari para aktor disini. Visualisasi panas padang gurun semakin mewakili kondisi mental para prajurit. Gersang tandus kosong. Emosi film semakin naik ketika Swofford mendapati kekasihnya pergi. Mendapati dirinya mengaduk hadiah atasan yang tak terlalu keras tak terlalu lunak. Kesan bahwa militerisasi telah merampas hidupnya dipentaskan melalui akting cemerlang Jake Gyllenhaal. Keseluruhan film garapan Sam Mendes ini sangat baik dalam memunculkan emosi drama nya. Dapat terasa dan kena. Penantian lama di padang gurun serta kerasnya

Apa yang tidak ada di Wall Street?

Yang membuat seri ketiga ini lebih menarik adalah kedalaman cerita. Jika di seri pertama dan kedua hampir senada dengan konteks accidentally be there . Kebetulan sedang mengunjungi tempat kerja istrinya, lalu kebetulan sedang di bandara menjemput istri. Tidak kali ini tidak di seri ini. Meski ada sisipan drama tapi tetap saja kualitas Die Hard terletak pada aksi hancur-hancurannya. Terbukti pada awal-awal memasuki film, sebuah ledakan keras terjadi di jantung keramaian kota New York. Aksi menyetir gila-gilaan khas McClane di tengah taman kota. Sebuah kereta bawah tanah dibuat keluar jalur dengan ledakan keras. Sebuah kapal juga ikut diledakkan ikut meramaikan suasana aksi film. Dari sisi jalan cerita dibuat lebih dalam. Mengapa harus McClane? Teka teki itu dibungkus rapi hingga separuh durasi film dengan grafik alur cerita yang meningkat hingga hampir kota New York menjadi chaos oleh karena polisi berkonsentrasi mencari bom yang ditanam pada salah satu gedung sekolah. S

Hack Heaven

Penulis suka dengan film ini. Berdasarkan kisah nyata. Sebuah drama tentang wartawan Stephen Glass yang menulis artikel untuk majalah penerbangan Air Force One, The New Republic. Ceritanya tertata rapi sangat menyentuh, alur yang fokus, dan disajikan dengan grafik cerita yang beruntun naik diakhiri konflik editor-jurnalis yang mengejutkan. Sangat menonjol adalah duet akting Hayden Christensen dan Peter Sarsgaard. Mereka lah yang membuat kisah ini menjadi hidup. Terutama untuk Hayden, karena penulis awalnya tidak familiar dengan nama Stephen Glass, aktingnya membuat penulis bisa sedikit meraba karakter Stephen Glass. Paling memorable dalam film ini adalah scene interview terbuka antara Steve dan Chuck Lane dari The New Republic dengan Adam Panenberg dari Forbes Digital. Shattered Glass (2003) - 7/10