Kisah para mahasiswa yang kaya raya mengejar cinta


Flashback ke jaman 80an dengan tayangan komedi ala Warkop DKI.

Ada Paijo, anak orang kaya juragan minyak. Mulai minyak bumi sampai minyak telon.

Ada Sarwani, anak juragan bengkel. Setiap hari gonta-ganti mobil meski dempulan sana-sini.

Ada Mas Ngabei Slamet Condrodimuko Ekomangkuprojo Lalijiwo Sastrowijoyo Notokusumo. Anak juragan tembakau yang paling kaya.... di desanya.

Ketiga tokoh di atas saling berlomba memperebutkan hati seorang mahasiswi cantik bernama Rita. Dan itulah yang menjadi konflik panjang film lawas ini.

Disini, masih menggunakan nickname masing-masing. Berbeda dengan yang agak baru, film Warkop memakai nama asli mereka.

Alur ceritanya ringan. Lebih sebagai kritik sosial seputar potret ibukota yang "kejam". Mahasiswa harus punya mobil bila ingin bercinta dan memang benar, begitu Mas Ngabei beli mobil, Rita langsung melunak.

Cinta itu harta, orang dari desa kalah bersaing, ibukota kota keras kalah bersaing akan digilas. Tak pamer harta jangan harap bahagia.

Rasa komedinya biasa. Yang menjadi bulan-bulanan disini adalah tokoh Ngabei Slamet karena berasal dari desa.

Di film ini lebih terasa suasana musikal banyak menampilkan adegan bermain lagu-lagu, mengingat faktor lawan main Warkop adalah seorang pedangdut cantik, Camelia Malik.

**Menyimak film ini yang muncul adalah pikiran bahwa segala sesuatu pada saat itu bila diukur dengan ekonomi sekarang, sangat murah. Bayangkan saja, Slamet bisa beli mobil dengan uang dua juta saja... Dan, soal fashion, memang unik pada jaman tersebut.

Gengsi Dong (1980) - 6/10