The final goal of revolution isn't death but to change fate


Film ini seperti mendengarkan lagu yang tidak dalam kapasitas easy listening namun bagus. Hanya perlu lebih dari dua kali untuk "mendapatkan" inti-nya.

Dalam film sejarah kali ini ada dua sisi yang timbul, yaitu berat dan ringan. Karena menikmati film yang berdasarkan sejarah kejadian nyata, sepertinya akan lebih mudah mencerna bila meresapi sisi sejarahnya terlebih dahulu. Selain itu yang memberatkan di film ini adalah banyak sekali karakter yang dimunculkan hingga seperti yang awam ini agak kesulitan "mengejar" jalan cerita.

Disini penulis mengambil sudut yang mudah yang sebisanya penulis tangkap. Film ini menggambarkan suasana revolusi rakyat China atas sistem kerajaan selama ini. Dan pada saat revolusi terjadi, kerajaan saat itu adalah dinasti Qing. Dari pihak revolusioner ada dua karakter yang cukup berpengaruh namun memiliki fungsi yang berbeda dalam upaya melawan kolonialisme kerajaan Qing, yaitu Sun Yat Sen dan Keqiang.

Sun Yat Sen, berjuang dari sisi diplomasi di luar negeri. Gerakan Yat Sen adalah mencari dukungan dunia luar dan memberitakan tentang perjuangan rakyat China yang "mencari" kemerdekaannya sendiri dengan perjuangan mendirikan sebuah negara republik. Sedangkan di lapangan, bergerak seorang Keqiang yang memimpin peperangan senjata.

Dari film ini ada sebuah wawasan, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dari film ini kita jadi tahu bahwa kerajaan Cina dulunya "digulingkan" oleh rakyatnya sendiri. Sun Yat Sen akhirnya menjadi presiden terpilih di masa pertama berdirinya Republik China. Dan, film ini dibuat untuk memperingati satu abad peristiwa revolusioner rakyat Cina.

Dari film ini setidaknya bisa meraba bahwa perjuangan tak selalu identik dengan senjata, Yat Sen memberi gambaran bahwa perjuangan bisa melalui jalan kepandaian mediasi diplomasi.

Dari film ini, penulis jadi tahu mana yang Cina "lama" dan Cina revolusioner dari kostum, dan gaya rambut. Gaya Cina lama dengan memanjangkan rambut untuk pria, sedangkan sisi revolusioner memakai gaya rambut "modern". Begitu pula dari kostum karakter bisa dilihat jelas.

Film drama sejarah ini menampilkan Jackie Chan. Dimana, Jackie hanya bermain akrobatik bela dirinya dalam hitungan detik saja. Sisanya penampilan Jackie adalah drama. Tak ada aksi laga, tak ada juga komedi khas Jackie. Dan, bagi penulis, ini adalah film kedua Jackie yang bernuansa drama minus akrobatik laga beladiri khas setelah Shinjuku Incident. Namun, jika dibandingkan dengan Shinjuku, baik konsep alur cerita maupun peran Jackie, Shinjuku terasa lebih mudah dinikmati dan peran Jackie masih terasa.

Film ini kurang lebih hampir sama dengan konsep Karate Kid, dimana posisi Jackie hanya sebagai karakter penunjang karakter utama. Di samping itu, kedua film juga hanya menampilkan porsi akrobatik Jackie secara minimalis sekali. Hanya saja, tambahan di Karate Kid masih ada sisi humor, musikal yang easy listening, dan lebih gampang alur ceritanya.

1911 (2011) - 6/10