Malam Natal berapi di puncak kemewahan Sky Tower


Awalnya, terasa seperti drama komedi romantis. Berkisah tentang sebuah gedung apartemen mewah menjulang ke angkasa. Sekilas teringat gaya "angkuh" ambisi manusia dalam Titanic.

Drama cinta, drama keluarga, pemadam kebakaran, semua diaduk jadi satu. Sedangkan di gedung apartemen (hotel?) Atau mall? Kurang dimengerti. Tak lupa aroma komedi ikut dalam adonan cerita. Sedangkan di dalam gedung tinggi tersebut, banyak departemen yang akhirnya alur cerita film pun kemudian berjalan terpecah ke berbagai cerita banyak karakter dan konfliknya masing-masing.

Kemudian konflik utama mulai digulirkan. Dan, "mirip" Titanic, dimana konflik utama tercetus akibat kesombongan manusia melawan alam. Akibatnya adalah disaster. Drama komedi romantis di awal berubah menjadi drama ledak api di sana-sini. Meski begitu, alur cerita tetap dipecah ke berbagai karakter namun masih satu nasib yaitu menyelamatkan diri.

Kesan yang diperoleh dari film Korea kali ini adalah sedikit berlebihan dalam mendramatisirkan bencana. Beberapa kali, dalam suasana genting masih disempatkan selipan dialog penuh kebijakan. Beberapa momen dramatis pancingan air mata haru pun disebar dalam adegan "nyaris" atau tangisan haru histeris. Semakin ke dalam semakin terasa alur cerita semakin membelit rumit dan kepanjangan. Bahkan adegan penyelamatan pamungkas mengingatkan pada gaya heroik Bruce Willis di Armageddon.

Drama tragedinya diolah cukup megah. Lumayan. Namun karena begitu kuatnya arus dramatis yang akhirnya menjadi "terlalu" di dramatis, film menjadi kurang begitu menarik.

The Tower (2012) - 5/10