Digitalisasi Perekonomian

Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) pada periode Maret 2016 mencatat bahwa angka kemiskinan di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2015. Tentu saja membanggakan sekaligus berdampak pada kepuasan publik terhadap pemerintah yang semakin meningkat.

Kemiskinan secara bebas dapat diartikan sebagai keadaan dimana tidak terpenuhinya kebutuhan pokok secara layak. Beberapa faktor yang memberi pengaruh pada kondisi kemiskinan antara lain: faktor pendidikan dan lapangan kerja nyata.

Grafik: Garis Kemisikinan 2013-2016
Garis Kemisikinan 2013-2016
Untuk menciptakan prestasi yang lebih baik lagi dalam bidang mengentas kemiskinan, pemerintah pun terus bekerja keras dalam berbagai sektor. Salah satu yang menjadi sorotan adalah memperbaiki pelayanan, kemudahan, serta kualitas pendidikan dalam negeri.

Menurut data statistik yang dikutip dari Databoks.co.id, menyebutkan bahwa dana anggaran pendidikan memang setiap tahunnya terjadi peningkatan, namun ternyata masih belum dibarengi dengan perbaikan kualitas atau masih kurang tepat sasaran. Meningkatnya dana anggaran ini ditujukan untuk memperbaiki infrastruktur pendidikan, memeratakan sistem pendidikan, maupun meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajar.

source : http://katadata.co.id/infografik/2016/10/10/anggaran-tinggi-sekolah-tak-terurus
Diharapkan dari pemerataan kualitas pelayanan serta sistem pendidikan ini nantinya akan menghasilkan sumber daya manusia dengan kualitas terdidik yang lebih baik untuk kesejahteraan yang lebih merata.

Di saat sumber daya manusia telah banyak bahkan berbekal ijazah pendidikan tinggi masih terbentur pada persoalan baru yaitu ketatnya kompetisi mendapatkan pekerjaan yang didambakan serta jumlah lapangan kerja yang terbatas.

Grafik: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan

Untuk menekan angka jumlah pengangguran yang meningkat, tidak dapat menggantungkan pada upaya pemerintah saja. Pemerintah telah berupaya dengan mendukung semangat kewirausahaan, salah satunya dengan fasilitas modal dan prioritas bagi perusahaan pemula sekaligus melakukan deregulasi untuk mendukung industri e-commerce.

source : http://katadata.co.id/infografik/2016/11/30/efisiensi-industri-telekomunikasi-untuk-pengembangan-ekonomi-digital/3
Di sisi lain, dengan berkembangnya dunia teknologi digital dan semakin banyak pengguna smartphone yang kian mudah mengakses internet, kini terbuka kesempatan bagi usaha kelas menengah untuk dapat lebih berkembang lewat industri e-commerce. Dengan memanfaatkan teknologi internet sebuah bisnis (apapun kelasnya) memiliki kesempatan sama untuk dapat menjangkau pasar yang lebih luas, lebih praktis, dan lebih cepat dibandingkan dengan kegiatan pemasaran offline.

Pada bagian lain, tidak sedikit mulai bermunculan individu-individu kreatif baik di bidang seni, hiburan, juga bisnis yang mengolah teknologi berbasis online untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Setiap individu bisa menggunakan ilmunya ataupun passion-nya di suatu bidang untuk kemudian dipublikasikan ke masyarakat. Dan ketika masyarakat memberi respon, maka tidak menutup kemungkinan kegiatan tersebut akan menjadi sumber penghasilan baru.

katadata.co.id
Salah satu contoh industri berbasis online yang kemudian menjadi fenomenal adalah industri transportasi online. Melihat kebutuhan di masyarakat, memanfaatkan teknologi yang ada, kemudian diwujudkan dengan sebuah tindakan akhirnya menjadi sebuah lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang skalanya cukup besar. Langsung tidak langsung, industri berbasis online memberi angin positif untuk ekonomi negara. Jadi, menciptakan peluang wirausaha untuk perekonomian lebih baik bukanlah tanggung jawab pemerintah semata tetapi juga masing-masing individu.

Diperkirakan bahwa ekonomi digital dalam negeri akan terus meningkat pesat. Salah satu faktor pendorong adalah penetrasi smartphone di kalangan masyarakat yang memunculkan peluang bagi penggunanya untuk membeli ataupun menjual produk dan jasa hanya dengan sentuhan di layar telepon.

Grafik: Transaksi E-Commerce Indonesia (2014-2018)
Transaksi E-Commerce Indonesia (2014-2018)
Statistik Indonesia mencatat pada tahun 2016 sebanyak 8,6 juta orang melakukan transaksi berbasis online. Menandakan bahwa kebiasaan bisnis konvensional mulai dilengkapi dengan bisnis modern yang praktis, mudah, dan cepat. Peralihan jaman ini harus terus didorong dan didukung demi kemajuan perekonomian yang diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan lebih baik.