Jendela jiwa dari pola bola mata


Bagi penulis aktor Michael Pitt memiliki ciri khas dalam setiap film yang dibintanginya. Film-film yang "dipilih" oleh Pitt beberapa kali memiliki konflik yang tidak umum. Kadang bisa menarik tapi kadang bisa juga berat. Ada kalanya juga unik. Seperti sajian kali ini.

Disini karakter yang dibawakan oleh Pitt adalah seorang ilmuwan yang memiliki ketertarikan pada misteri mata. Lewat bola mata, karakter dokter Ian Gray menemukan cinta dari seorang model cantik. Di momen jatuh cinta ini, seakan-akan film ini bernada kisah cinta biasa dengan konflik cemburu dan sejenisnya. Tapi, keliru.

Kisah cinta dokter Ian Gray dipotong secara mendadak dan nuansa film sejenak muram. Cerita berlanjut dengan kehidupan baru Ian Gray menikah dengan rekan ilmuwan dan memiliki seorang bayi laki-laki. Di momen ini, kembali disajikan konflik baru. Kali ini konflik dari misteri dari bola mata. Bayi yang merupakan anak dari dokter Ian Gray ini ditengarai memiliki pola mata yang mirip dengan seorang laki-laki yang tinggal jauh di kota kecil. Konflik baru yang dimunculkan adalah membongkar siapakah Paul Edgar Diary, tapi masih keliru.

Konflik utama film ini adalah ketika darah ilmuwan Ian Gray mencoba mencari tahu bagaimana mungkin manusia memiliki "pola" bola mata yang sama. Mengapa penting? Karena mata berhubungan dengan syaraf otak dan mata adalah jendela jiwa.

Film ini akhirnya mengajak kita untuk menyelami dunia misteri tentang reinkarnasi. Dimana seperti yang dialami Ian Gray, ternyata ada seorang gadis di India yang memiliki pola bola mata sama seperti yang dimiliki oleh kekasihnya yang telah mati. Dan, setelah melakukan tes kecil, hasilnya 44% memiliki kesamaan kepribadian. Percaya tak percaya.

Menarik dari film ini adalah ketika menghadirkan scene tambahan setelah credit scene, beberapa foto dari orang berpengaruh di jamannya termasuk Presiden JFK, Hitler, aktris, semua di eye-scan kemudian dicocokkan dengan database bola mata. Beberapa di antaranya ternyata memiliki "kembaran" di jaman sekarang.

Pertanyaannya, percayakah kita pada sebuah teori terlahir kembali?

I Origins (2014) - 7/10