Tak hanya sekedar meniru bintang rock


Film musikal dan dari judulnya sudah akan bisa ditebak genre musik apa yang menjadi hiasan utama di film ini. Namun film ini bukanlah tentang jatuh bangun menjadi bintang rock melainkan dilema kehidupan bersama band rock.

Yang kurang menggigit dari film ini adalah alur ceritanya. Terdapat lompatan-lompatan masa, seperti dari band peniru kemudian dipecat lalu direkrut band yang tersohor, berjalan begitu cepat, lalu tenar dipuja-puja. Jika dibandingkan dengan film jenis "perjuangan jatuh bangun" rasanya masih lebih menarik film perjuangan jatuh bangun.

Konflik seputar keterkejutan karakter Izzy dan kekasih manajernya,Emily, dalam gemerlap dunia rock, narkoba-seks, rock n roll baby. Konflik tersebut kurang kuat diterjemahkan dalam alur ceritanya. Terlalu umum dengan progesi kord tiga kunci. Senang-senang hura-hura di atas, konflik salah paham, sadar, jatuh dan terlahir baru.

Endingnya, meninggalkan band di saat masih menyanyikan lagu? Menggelikan. Terlalu didramatisir. Kurang menarik dan kurang kuat dalam memberi terobosan warna cerita baru.

Lainnya, gaya rambut semua karakter dipaksa gondrong rasanya seperti memaksa "dunia" rock bisa hadir dalam atmosfir film. Penulis pun terkecoh saat pertama menyimak film dengan gaya rambut, teriakan melengking tinggi, dandanan, dan mic yang dililitkan sebuah selendang. Mengingatkan pada gaya Steve Tyler dan Aerosmith-nya. Namun, ternyata film ini bukan tentang Steve maupun Aerosmith.

Rock Star (2001) - 6/10