Alice in Lilian



Ada dua kisah besar yang diangkat di film karya JJ Abrams ini. Satu, tentang kisah cinta bocah yang malu-malu kucing. Dua, tentang bad thing.
Di antara keduanya, penulis paling suka dengan tema pertama. Kisah cinta sepasang bocah. Luar biasa manis. Chemistry akting yang dibangun karakter Joe Lamb dan Alice Dainard sangat terasa. Mengingatkan penulis dengan mantan yang juga dulu malu-malu kucing. Namun minus acara kunjungan tengah malam lewat jendela kamar (sial, Alice memang sukses membuat iri).

Dan, Elle Fanning, adalah kesegaran utama film ini. Cantik. Kecantikan mudanya sangat sadis. Tajam. (Entah dulu dikasih makan apa hingga menjadi cantik sekali seperti ini) Mirip mantan dulu (mimpi). Biarpun didandani ala zombie sekalipun, Elle masih cantik dan memikat (sudilah tuk digigitnya). Joel Courtney, he's so so lucky.

Penampilan Elle memang membuat betah menonton film ini. Momen paling manis adalah momen ketika para sineas cilik melakukan shooting di stasiun kereta. Disitulah dimulai "percikan" butir-butir cinta Joe kepada Alice. Manis. Tak lama kemudian production valuee!!! Kisah cinta dua insan disapu badai kereta api yang lepas kendali. Badai kereta api keluar lajurnya ditampilkan dengan megah dan mantap. Production value!

Tema lain, tentang bad thing. Awalnya, sanggup menarik rasa penasaran. Penampilan bad things dikelola secara sembunyi-sembunyi lalu meningkat. Bagus. Misteri yang dibangun bisa tertangkap baik. 

Namun sayangnya, semakin ke dalam, tema bad thing terasa kalah "menarik" dibandingkan dengan konflik hati Joe-Alice. Apalagi, semakin ke dalam terasa datar. Terasa "hanya begitu saja..."

Super 8 (2011) - 6/10