Badai yang tak hanya meluluhlantakkan tapi juga menyatukan


Back to the past. Meromantiskan suasana kembali mengingat masa Sekolah Menengah Pertama dulu dengan film ini. Bahkan dulu sempat punya kaset album soundtracknya dan yang disuka hanya Human Being nya Metalica.

Setelah sekian puluhan tahun kembali menyimak film ini dengan latar belakang serta kondisi usia berbeda, tentu saja sajian film ini terasa lain.

Penulis kurang sreg dengan selipan masalah perceraian ataupun kisah cinta di dalam film ini. Tapi, memang begitu adanya. Sebab film ini bukanlah film dokumenter murni ala National Geographic atau BBC Earth. Tentu saja, harus ada pemanis selain tema sejuta topan badai. Kurang lebih tema film ini menjadi badai tak hanya merusak tapi juga menyatukan cinta.

Selain masalah percintaan, film ini juga mencoba "menyegarkan suasana" dengan kondisi "tidak tahu apa-apa" dengan karakter Melissa yang hanya bisa kaget-tertegun-melongo melihat kegilaan Jo atau Dusty dkk dalam mengejar dan dikejar topan badai. Tetap saja, garing. Kurang renyah. Kaku.

Grafik disaster yang ditampilkan memang menanjak sesuai dengan jumlah Dorothy-nya. Ukuran topan badai juga dibuat meningkat. Dari yang kecil dan beberapa detik, meningkat ke badai kembar, dan klimaks. Dan memang itulah yang paling menonjol bagi penulis. Penggarapan efek disaster-nya cukup lumayan. Apalagi untuk ukuran tahun 1990-an. Mulai dari sapi, menanjak ke truk tangki, hingga rumah.

At least, she's so beautiful....Helen Hunt.

Twister (1996) - 6/10