Cinta dan perang sang domba tersesat yang (sangat) terlatih


Sepertinya memang Tony Scott adalah pasangan serasi Denzel Washinton dalam melahirkan karya berkualitas tinggi.

Meksiko. Disini bercerita tentang seorang bodyguard yang bertugas menjaga seorang putri kaya raya dari incaran tangan penculik. Lupita Ramos diceritakan meski terlahir dalam kondisi keluarga kaya raya namun miskin perhatian orang tua. Kontras inilah yang kemudian diisi oleh karakter Creasy, sang bodyguard.

Chemistry akting berkualitas ditunjukkan oleh Denzel Washington dan Dakota Fanning. Meski singkat namun sudah sangat terasa kasih sayang layaknya ayah dan anak. Dan ini yang menjadi kekuatan sentral film ini yang lalu dipoles dengan one man war action.

Gaya opening scene dan beberapa lagi di dalamnya sepertinya memang ciri khas film Tony Scott. Penulis juga teringat gaya Unstoppable juga Taking Pelham. Ada suara klakson kereta samar-samar. Dilengkapi dengan gaya visual yang juga khas, rapat-beku dan slow-mo. Scoring nya yang indah juga digunakan pas dengan emosi cerita semakin memudahkan penulis menerima feel-nya.

Konsep cerita diolah dengan 3 kunci. Pertama dengan sesi konflik Creasy-Pita yang kemudian menjadi kasih sayang mesra. Kedua, konflik kriminal. Dan diakhiri, revenge. Tidak terjebak hanya pada aksi tembak-ledakan, tapi justru kisah revenge diolah dengan sangat pelan seolah karakter Creasy sedang menikmati aksinya. Bahkan penulis merasa justru sesi vital film ini ada pada drama dalam sesi balas dendam ini ketika satu-persatu rahasia dibongkar paksa secara menyakitkan.

Internal link story disini sangat cerdas. Setidaknya penulis menangkap dua link. Pelajaran tembakan latihan berenang menjadi clue bagi tembakan saat penculikan. Dan, peluru. Peluru tidak akan berbohong. Ketika Creasy gagal bunuh diri menjadi clue bagi Ramos ketika rahasianya terbongkar.

Penulis suka dengan quote (penulis menerjemahkan bebas) Rayburn disini, bila pelukis menyalurkan seninya melalui media kanvas maka Creasy menyalurkan seninya dalam media membunuh. Seni perang ala Creasy ini menjadi best part bagi penulis. Diolah secara lamban namun dengan grafik tensi yang meningkat. Pelan namun menyakitkan.

Man Of Fire (2004) - 8/10