Skip to main content

Posts

Perang yang lucu di atas kapal pesiar Fujimaru

Kalau dilihat dari tahun produksi dan tayang nya, Movielitas masih pada jaman sekolah waktu itu. Yang bisa Movielitas ingat kala itu, film ini jadi perbincangan di antar pertemanan, sudah pasti karena unsur "komedi seksi" nya. Setelah sekian tahun, baru bisa mendapat kesempatan menonton film ini di saluran Netflix.  Pilihan jatuh sudah pastinya karena faktor Jackie Chan. Tapi entah mungkin karena faktor teknologi atau memang karena based on comic, film ini terasa "garing". Jika dibandingkan dengan karya aksi-komedi Jackie Chan era modern, kualitas sinematografinya jelas berbeda. Alur ceritanya disini juga kaku, mungkin jatuhnya genre komedi slapstik. Setiap scene seperti dipaksakan harus ada unsur komedi. Mirip komik. Mengikuti jalan cerita serta memahami konflik film, sangat mudah. Ringan. Tidak perlu berpikir berat mencerna petualangan seksi karakter Ryo Saeba. Di jaman 90an mungkin film City Hunter ini bisa jadi box office, tapi mungkin karena perkembangan jaman,

Ketika bumi tidak berputar

Satu lagi film yang berkisah "menuju kiamat". Dan kali ini, kiamat justru dikarenakan dari dalam inti bumi, kalau biasanya dari luar bumi. Film garapan sutradara Jon Amiel ini berkisah tentang penemuan peristiwa alam yang aneh di berbagai negara secara bersamaan. Diketahui kemudian peristiwa aneh tersebut disebabkan oleh gangguan pada gelombang elektromagnetik bumi. Mungkin bagi yang memahami geofisika atau ilmu sejenis lebih bisa memahami konflik utama dalam film ini. Film ini memakai plot template alur cerita kurang lebih sama dengan Armageddon. Dan, yang telah Movielitas tonton rata-rata plot cerita dan alur cerita kurang lebih sama. Dan soal teknologi, masih wajar kalah dengan teknologi era sekarang. Disini masih terlihat beberapa visual efeknya terasa "belum modern". Alur ceritanya secara garis besar bisa dipahami hanya sedikit berlebihan dalam dramatisasi nya. The Core (2003) - 5/10

Footage dari Jackass Forever

Warning! Film ini khusus untuk penonton berusia 25 tahun ke atas. Dan bukan untuk tontonan bersama keluarga. Entah benar atau tidak, seri Jackass dengan tambahan "point" disini ( 4 point 5) seperti menampilkan sisi footage dari film utamanya ( Jackass 4 atau Jackass Forever). Ada beberapa seri Jackass yang Movielitas tonton. Dan memang kesan pertama, ngilu. Berisi sekumpulan aktor yang saling melempar tantangan demi tantangan berhubungan dengan fisik. Mayoritas dilakukan oleh aktor pria. Bukan untuk keperluan stunt-man atau adegan pengganti melainkan untuk having fun.  Tidak hanya sesi challenge, tapi juga berisi aneka kejahilan para pria dewasa. Dan, sangat sangat amat vulgar membuat ngilu. Tentunya adegan-adegan di film ini hanya boleh dilakukan oleh para profesional dan dengan keamanan yang memadai. Sekali lagi, ini bukan untuk tontonan bagi para jiwa labil yang gemar meniru adegan film. Bukan sebuah tontonan untuk anak kecil. Juga bukan untuk tontonan bagi keluarga besa

Pengadilan pasca kerusuhan Chicago 1968

Genre favorit dari Movielitas adalah based on true story . Meski kadang true story -nya sendiri juga tidak tahu persis. Hanya saja penilaian Movielitas bagus tidaknya film bergenre based on true story dari seberapa kuat bisa memberi bayangan tentang apa yang terjadi saat kejadian meski tidak berada atau tahu kondisi dan latar belakang kejadian. Intinya bisa ikut merasakan. Bila film itu bisa menyampaikan atmosfir kejadian real -nya, berarti itu film bagus. Film ini bergenre based on true story. Tergolong lumayan bagus. Meski Movielitas belum lahir di era yang menjadi tema besar film ini. Film garapan sutradara Aaron Sorkin ini mengangkat kejadian riot atau kerusuhan yang terjadi di Chicago tahun 1968. Di bagian awal film dijelaskan sedikit latar belakang konflik utama dalam film ini yaitu tentang wajib militer untuk para pemuda di Amerika saat era 60an. Wajib militer diadakan untuk kemudian diterbangkan di daerah konflik Vietnam. Namun, seperti yang terjadi dimana-mana, kebijakan pol

Liburan yang menghilangkan umur panjang

Film yang digarap oleh sutradara M. Night Shyamalan sepanjang yang Movielitas tahu menonjol terutama di sisi plot twist-nya. Beberapa karya beliau punya twist cerita yang cukup bagus. Dan, Movielitas penasaran dengan karya-nya kali ini. Berkisah tentang sekelompok turis yang berlibur di sebuah resort. Resort tersebut menawarkan sebuah petualangan liburan ke sebuah pantai. Dengan berbagai macam background, para turis dipertemukan di sebuah pulau dengan pantai yang indah dikelilingi tebing batu. Dan, konflik pun dimulai dengan tumbangnya satu per satu dari turis-turis tersebut. Sepanjang yang Movielitas pernah tonton karya M. Night Shyamalan, terutama pada gaya akting para pemeran di dalam cerita memiliki ciri khas di setiap film-film nya. Gaya dialognya pun berciri khas. Unik dan seperti bermakna. Di film kali ini sayangnya, entah Movielitas yang terlewatkan, seperti hilang ciri khas plot twist. Keseluruhan, Movielitas menilai karya M. Night Shyamalan kali ini di bawah ekspektasi. Secar

Berawal dari ingin belajar mencium

Tema film ini memang tentang petualangan anak-anak tapi sepertinya tidak cocok untuk anak-anak juga. Banyak visual dan hal-hal verbal dewasa yang dipasangkan. Dan, kalau dilihat di belakang layar memang ada nama Seth Rogen yang mungkin sudah dikenal dengan gaya komedinya. Berkisah tentang tiga sekawan anak-anak yang mencoba untuk menjadi keren. Max, Lucas, dan Thor. Demi mengikuti undangan pesta dari teman sekolah mereka yang tergolong kategori murid populer,  mereka bertiga akhirnya harus terlibat masalah. Pesta anak kecil jaman sekarang tidak main-main, ada sesi first kiss segala. Dari segi konflik, untuk ukuran film "anak-anak" tergolong kompleks. Dari tiga pemain utama, masing-masing membawakan konflik sendiri-sendiri. Konflik ayah-ibu yang bercerai, konflik impian menjadi penyanyi, dan konflik ingin punya pacar. Bagi Movielitas, konflik demi konflik di sini tidak berat. Bisa diikuti. Alur cerita juga tidak rumit. Dari sisi akting, khas anak-anak, meski ada ke-kaku-an tap

Realita kelam di balik atraksi megah sang raksasa hitam

Sebuah sajian film dokumenter lawas tahun 2013 tentang realita di balik kemeriahan pertunjukan atraksi binatang laut. Pertunjukan binatang laut memang dulu menjadi tontonan yang menyenangkan apalagi bagi dunia anak-anak. Semakin dewasa dimana era informasi kian gencar, masyarakat mulai disuguhkan edukasi penyeimbang tentang dunia hiburan yang menampilkan hewan. Bagaimana atraksi yang dipertunjukkan di muka publik, atau apa saja tragedi di balik pertunjukan atraksi yang menampilkan killer whale atau paus hitam, mungkin bisa dicari di area youtube. Karena disitu akan lumayan banyak video yang dipublikasikan. Yang diceritakan disini adalah sudut pandang dari para pendamping ikan paus sirkus dan sejumlah saksi mata.Salah satu tragedi yang diangkat di film ini adalah tragedi yang dialami oleh Dawn Brancheau. Dawn Bracheau adalah seorang pelatih ikan paus senior sekaligus bintang pertunjukan yang harus meregang nyawa oleh ikan paus didikannya sendiri.Tragedi yang dialami Dawn Bracheau ini m