Cerita tentang film Happy End


Warning 18+! Sebuah drama yang sebenarnya meleset dari berbagai ekspektasi. Konfliknya lumayan dalam berliku. Namun, sedikit kecewa pada ending-nya yang memprotes pada judul filmnya sendiri.

Mungkin sisi "lawan" kata dari judul dan isi cerita inilah yang dijual oleh film ini. Awalnya mendengar Happy End gambaran penulis adalah sebuah drama keluarga atau drama cinta ala Korea yang manis rasanya, tapi meleset. Tak semanis judulnya malahan.

Di opening, sebuah kompor erotis panas dinyalakan. Dan memang selanjutnya ada beberapa momen erotis kecil sebagai pemanis cerita. Tidak penuh.

Konflik yang dihadirkan lumayan. Sebuah dilema digulirkan dengan cerita cinta segitiga yang dialami sebuah keluarga muda. Sang suami pengangguran, dan sang istri bekerja sebagai kepala sekolah. Sang istri menjalin affair dengan rekan kerja dan sebenarnya diketahui oleh sang suami.

Babak paling menarik adalah ketika kesabaran sang suami ini tak terbendung. Menurut versi penulis, alur cerita menggambarkan kesabaran sang suami "menerima" kondisi sang istri yang memiliki simpanan. Disini, sang suami seperti memiliki prinsip selama pria idaman lain tersebut tidak masuk ke rumahnya dan bercumbu dengan istrinya, takkan ada masalah. Tetapi, ketika pria idaman lain tersebut memaksa masuk ke dalam rumah, akhirnya menimbulkan konflik baru.

Konflik menjadi menarik setelah "kesabaran" sang suami menipis dan nekat melakukan kriminalisasi. Sayangnya, setelah momen tersebut, film menjadi datar dengan ending yang biasa-biasa saja.

Happy End (1999) - 6/10