Sepanjang jalan menuju Dublin


Sebuah film yang umum dan biasa. Umum karena konflik-nya sudah umum. Alur cerita sekaligus beserta konflik cinta yang dihadirkan tidak ada istimewanya.

Tentang seorang wanita. Cantik. Berkelas. High Class. Eksekutif. Tas nya bernama Louis Vuitton. Bertunangan dengan pria yang super kaya raya.

Karena mendapat pasangan yang kaya dan raya, wanita ini memiliki impian untuk memberi kejutan sang pria kekasihnya yang kaya raya itu. Dari Amerika "rela" melewati ribuan mil ke Irlandia. Namun, sayangnya kondisi cuaca membuat wanita berkelas ini terdampar di sebuah desa terpencil Dingle.

Nah, konflik pun dimulai. Di desa tersebut hiduplah seorang pria yang sangat sederhana dan jauh dari kaya raya. "They will kill each other", gaya cerita pun masih memakai gaya saling salah kepahaman, tidak cocok satu sama lain, beda pendapat, pokoknya dibuat se-beda mungkin untuk memancing komedi. Akhirnya? Bisa ditebak.

Sisi komedinya, kurang berarti. Kurang mantab. Biasa-biasa saja.

Tapi, ada satu yang menonjol buat penulis dari film ini, yaitu view. Pemandangan di Irlandia itu ternyata luuuarr biasaa indahnya. Sempurna. Desa kecil, ada danau, ada bukit, ada pantai padang rumput menghampar hijau menyejukkan mata. Ingin sekali kelak menginjakkan kaki di sana...

Leap Year (2010) - 6/10