Jejak berdarah Michael Myers yang masih mencari sang adik


Film ini terasa justru seperti "menjatuhkan" reputasi seri yang pertama. Beberapa poin yang melemahkan daya pikat kisah Michael Myers disini adalah dimulai dari beranda film. Disitu tak ada lagi Daeg Faerch yang bermain apik di seri pertama garapan Rob Zombie. Dan "dipaksa" dengan pemeran lainnya yang akhirnya "kurang" pas dan malah terlihat ramah, hanya menang asal gondrong.

Lalu, di dalam cerita, dimasukkan unsur mistis. Kehadiran seorang wanita berjubah putih bersih dengan daya efek mengkilat layaknya malaikat dari langit menuntun kuda yang juga putih. Wanita ini sebagai mantan ibu Michael yang menutun jiwa Michael dan menyertai kemanapun Michael beraksi. Penulis kurang suka pada segmen tambahan ini karena dipaksakan untuk menyambungkan cerita ke seri sebelumnya. Sedangkan, tanpa aroma mistispun di seri pertama sudah cukup menarik.

Kekerasan. Bicara soal kekerasan, disini sedikit lebih vulgar dan sadis dibandingkan dengan seri pertama. Dan, memang terasa bahwa di sini hanya menjual histeria, kejutan, dan kekerasan.

Topeng. Di seri sebelumnya, ketika menjadi dewasa, sosok Michael Myers selalu dilindungi oleh topengnya. Meski bertopeng, justru menambah kekuatan karakter Michael Myers. Disini, justru dengan "entengnya" beberapa segmen memperlihatkan wajah Michael yang kini semakin menua dengan janggut lebatnya.

Konsep alur ceritanya masih sama dengan sebelumnya. Di beberapa bagian ditambahkan momen tipuan yang ternyata hanya mimpi. Konfliknya dipaksakan ke dalam suasana Halloween dan masih seputar jejak Michael mengejar sang adik, Laurie.

Dibandingkan yang sebelumnya, kualitas cerita, drama, konflik maupun ketegangannya, disini masih jauh di bawah. Akhirnya, seri kedua ini hanya terasa memaksa untuk mengulangi kesuksesan seri perdananya.

Halloween II (2009) - 5/10