The last man standing at Ground Zero


Setelah menyimak London dan kota matinya, sekarang giliran New York yang "dibuat" mati. Sepi. Sunyi. Senyap. Berantakan. Dramatis. Ironis. Samar-samar terdengar....don't worry bout the things, every little things gonna be alright...#BobMarley

Setiap menyimak film satu ini selalu terpana. Selalu terpikirkan bagaimana caranya bisa membuat film seperti ini. Harus berapa banyak dollar untuk menghentikan arus lalu-lintas sekedar untuk sebuah adegan. Harus berapa banyak klakson dibunyikan karena kemacetan yang dibuat oleh film ini. Berapa banyak time is money dari kota New York yang dikorbankan untuk sebuah film. Atau harus berapa mahal teknologi yang dibutuhkan untuk membuat keadaan New York menjadi tertidur. Takjub tersendiri. Kagum. Salut untuk sebuah karya dengan sentuhan kreatifitas tingkat tinggi. #bermain golf di atas kapal induk

Kisahnya sendiri hampir senada dengan 28 Days Later. Virus menyebar. Hanya beda lokasi dan survivalnya. Ada tiga babak besar disini. Robert dan keluarga. Robert - Sam dan Robert - Anna Ethan plus survive scene.

Penulis lebih menyukai chemistry sekaligus bagian Robert dan Sam. Lebih terasa dramatisnya. Meski hanya separuh babak, namun terasa emosional. Terutama saat di pangkuan.

Jika dibandingkan dengan 28 Days Later, garapan Francis Lawrence ini lebih kuat dan menarik. Lebih sedikit karakter di dalamnya. Lebih emosional dalam cerita. Lebih ringkas dan fokus.

I Am Legend (2007) - 8/10