Menjadi sutradara sendiri. Edisi uang seribu.

Lanjutan dari film khayalan. Terinspirasi dari Contagion. Tapi penulis kurang sreg dengan tema flu yang tersebar.

Penulis suka tema uang berjalan. Dari sebuah bank, uang lembaran nominal seribu dikeluarkan. Bersih. Mengkilap. Halus. Teksturnya lembut. Aroma khas. Lurus kencang tanpa lekukan bekas dompet atau celana.

Seorang ibu dengan 3 anaknya sedang antri di loket bank untuk menukarkan uang baru. Uang seribuan kode 1125DNF001 berpindah tangan.

Pulang dari bank, sang ibu membawa motor matic, membonceng 3 anak kecil. Satu di depan, 2 belakang. Berjalan kecepatan rendah-sedang-cukup tinggi. Lika liku bergaya Rossi. Ambil kanan kiri tanpa perlu lihat spion. Tancap gas hajar rem. Ngawur habis-habisan. Tapi sang ibu tak peduli. Tak berhenti disitu, sesekali sang ibu melawan arah. Jalan pintas. Hemat bensin. Demi hemat bensin. Siapa yang salah?

Sesampai di rumah, sang ibu bersiap membuka warung dagangnya. Sang suami belum pulang sejak dua hari lalu. Entah kemana dengan siapa sedang apa.

Datang pembeli dengan motor modifikasi. Knalpot menggelegar. Digeber keras. Lalu berhenti untuk membeli sebungkus rokok. Uang seribuan kode 1125DNF001 kembali berpindah. Sebagai uang kembalian ke tangan seorang murid SMA yang terkenal gaul.